Cinta Zahra

Cinta Zahra
Pesan papah


__ADS_3

Dari kejauhan ada seseorang yang melihat dengan geram dan menggenggam tangannya, tiada lain adalah dalang di balik semua ini yakni Angel.


"si*h, kenapa bisa anak itu tidak ikut sih!! ah lebih baik aku pergi sekarang," Angel pergi meninggalkan tempat kejadian dengan kesal karena Zahra ternyata tidak ikut menaiki mobil Marko.


Saat itu kebetulan Rahman sedang menuju rumah Zahra untuk memberikan keperluan Zahra seperti biasanya pada setiap bulan nya.


Zahra dan juga Raditya begitu juga dengan Ramadhani yang langsung menuju luar rumah karena mendengar teriakan Tini.


Ambulance dan polisi datang, Tini yang ingin mendekat di larang oleh polisi, Tini menangis sejadi jadinya ia melihat darah yang bercucuran di tubuh Marko, terlihat Marko melihat Tini dengan setengah membuka matanya. Kini Marko sedang diangkat ke dalam mobil ambulance.


"pak saya istrinya pak biarkan saya ikut," Ucap Tini dengan se segukan dalam tangisnya.


"maaf didalam akan langsung di urus oleh dokter jadi ikut saja dengan mobil polisi jika ibu berkenan," tawar pak polisi, karena tidak memperbolehkan nya satu kendaraan dengan korban kecelakaan.


"Papah!! kenapa ini bisa terjadi, papah!," Zahra berteriak keras, dipeluk oleh Raditya agar Zahra tak lepas kendali, begitu juga dengan Ramadhani yang dipegang oleh tangan Raditya yang sebelahnya lagi, karena Ramadhani sudah ingin berlari menuju Marko ingin menerobos polisi.


"ikut dengan mobil ku saja," Rahman datang dan langsung menawari tumpangan karena ia telah mengetahui keadaan yang terjadi.


Dan akhirnya mereka pergi bersama dengan kendaraan yang dibawa oleh Rahman.


Zahra yang sedang memeluk Ramadhani sama sama menangis membayangkan wajah Marko yang penuh dengan darah, begitu juga dengan Tini yang sedang dipeluk oleh Raditya. Baru saja ia menebarkan senyuman, baru saja semalam ia bercanda gurau mengulang masa mudanya, baru saja pekan lalu ia berlibur bersama, baru saja ia melepas pelukan sang suami tapi kini semua terasa mimpi. Itulah yang ada di dalam benak Tini saat ini, mengapa semua ini harus terjadi? sedangkan setahunya Marko tidak pernah menggunakan kendaraan secara oleng.


"Papah papah yang kuat ya!," Tini berteriak saat menuruni mobil dan berlari menuju Marko yang sedang didorong menggunakan kasur dorong, yang lainnya pun ikut menghampiri.


Marko tersenyum pelan, ia melihat ke arah istri, anak anaknya dan Rahman satu persatu, lalu ia memegang tangan Rahman dan mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berbicara. Ia juga memegang tangan istrinya sempat memandangnya sejenak.


"Nak, aku percayakan keluarga ku padamu, uhuk, terutama jagalah putriku dengan baik, uhuk aku ingin kamu berjanji untuk menikahinya, aku mohon," ucap Marko dengan nada suara yang rendah kepada Rahman.


"Maaf anda tidak boleh ikut masuk," Ucap salah seorang suster yang akan membawa Marko ruang gawat darurat. Namun Marko masih memegang tangan Tini dan Rahman dengan erat, seolah olah tatapannya berkata ia tak akan tenang sebelum Rahman berjanji untuk bersedia menjaga keluarganya dan menikahi Zahra.


"Iya pak saya berjanji," Saat itu Marko tersenyum mulai melemaskan tangannya sehingga mempermudah suster untuk membawanya masuk kedalam ruangan.


Zahra terdiam melihat Rahman.


"apakah Kaka bercanda huh?! apa Kaka fikir di saat seperti ini adalah waktu untuk bercanda?, jangan pernah membuat janji yang akan kamu ingkari!," Zahra geram dan terkejut dengan keputusan yang di dengarnya.


"De" Raditya memegang pundak Zahra lembut ingin menenangkan.


"jangan ribut, kasihan ibu, dan lagi pula juga itu keinginan papah, apakah kamu ngak mau membuat papah tenang hmh?," Raditya melihat Tini dengan tatapan sendu, Begitu juga dengan Zahra, ia meyakinkan dirinya bahwa papahnya tidak akan kemana mana.


"iya aku serius, aku berjanji dan akan aku tepati, meskipun pak Marko akan pergi atau tetap bertahan, aku akan menepati janjiku padanya," ucap Rahman dengan penuh keyakinan. Zahra berbalik dan terduduk didekat Tini yang sedang memeluk Ramadhani.


"Tenang mah papah ngak akan kemana mana dia tidak akan meninggalkan kita, dia sayang pada kita," ucap Zahra yang juga kini memeluk Tini.


Rahman terduduk di depan Zahra melihat Zahra dengan penuh rasa khawatir, ia juga tidak menginginkan semua ini berakhir.


Lalu ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"batalkan rapatnya aku tidak bisa datang, aku juga sudah menghubungi ayah," Perintah Rahman pada seseorang di sebrang telepon.


"tapi tuan, ini tidak bisa begitu saja," ucap seseorang diserang dengan gemetar


"kalau begitu, jalankan tanpa aku, masa tidak bisa? kalau ngak mau pusing udah batalkan saja bilang aku sedang dalam keadaan kurang baik," Ucap Rahman lalu mengakhiri telepon nya.

__ADS_1


Berjam jam sudah mereka menunggu di depan ruangan, hingga Zahra tertidur di pangkuan Raditya namun tidaklah nyenyak, saat ia baru mulai terlelap ia akan langsung terbangun dan melihat ke arah dalam ruangan.


"Mari shalat dulu, sudah Adzan Zuhur." Ajak Rahman pada yang lainnya.


"kita bergantian, Zahra diam disini ya Kaka , Dhani sama ka Rahman mau pergi shalat dulu, nanti kamu nyusul sama mamah ya?," Raditya memberikan usul kepada Zahra dan yang lainnya. Yang diberikan anggukan oleh Zahra.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka bergantian.


Kini sudah menunjukkan pukul 13:00 siang..


masih belum ada kabar meskipun dari tadi banyak dokter dan suster yang keluar masuk, namun masih belum ada yang memberikan kabar, terjadi kegelisahan di antara mereka, Zahra tiba tiba merasa sedih dan kesepian, saat itu juga dokter keluar dari ruangan, dan kali ini melepas masker dan menghela nafas panjang.


"kami sempat mendapatkan harapan tadi dan menunggu reaksi yang positif pada pasien, oleh karena itu kami memakan waktu yang lama tadi," ucap seorang dokter pada Raditya dan Rahman.


jangan, ku mohon jangan katakan sesuatu yang yang tidak ingin ku dengar, aku mohon. Ucap Zahra memohon dalam sambil memegang dadanya dan memejamkan matanya.


"Tetapi mohon maaf kami telah berusaha sebisa kami, tetapi kami tidak bisa menyelematkan nyawanya, terlalu banyak patah tulang dan saraf sarafnya putus serta pendarahan yang banyak," imbuh sang dokter.


Yang saat itu juga Zahra membuka matanya dan membulatkan matanya ia tak percaya dengan apa yang didengarnya, ia melihat samar samar Tini yang terjatuh pingsan, lalu ia juga merasa oleng dan tak kuat menahan dirinya, lalu dunia pun menjadi gelap.


Zahra terbangun ia melihat tubuhnya telah di atas kasur, dan ia melihat disebelahnya Tini telah terduduk dan menaruh wajahnya disebelah seseorang yang tertutup kain. Lalu Zahra berjalan perlahan dengan menutup mulutnya, menahan air matanya dan membuka perlahan tutup kepala orang itu.


"AAAA!!," Zahra terkejut ia kini telah membuktikan dirinya sendiri bahwa Marko memang telah pergi, ia melihat sendiri wajah Marko yang telah pucat dan tertutup kain. Kini telah siap dibawa pulang untuk segera melaksanakan acara pemakaman.


***


"Laa Ila ha ilallah, laa ila ha ilallah, laa ila hailallah..," pemandangan kini menjadi satu, setiap orang yang hadir berpakaian serba hitam, menuju ketempat tanah yang begitu lapang namun bukan tempat sebuah rumah sementara melainkan tempat peristirahatan terakhir bagi setiap insan yang pernah hidup di dunia ini.


Zahra berjalan dengan memeluk Ramadhani, begitupun dengan Tini dan Raditya, disana juga ada seorang wanita yang niatnya akan dinikahi oleh Raditya setelah setahun ia bekerja, namun Raditya membatalkan niatnya karena keadaan nya, ia harus menjadi punggung keluarga seutuhnya kali ini.


"Hari ini kedatangan saya dan keluarga saya, berniat untuk melamar nak Zahra," Ucap Andrean.


Zahra hanya terdiam mendengar Andrean melamarnya, dengan tatapan kosong ia mengingat pesan terakhir Marko yang menginginkan Rahman untuk menjaganya dan keluarganya, begitu percayanya Marko pada Rahman dan keluarga, tapi Zahra masih merasa berat untuk menerima kehadiran lelaki lain di hatinya sedangkan ia masih memiliki sedikit luka, dan baru saja mengalami duka.


" hmmh," Zahra menarik nafas dalam, menggenggam tangan nya dan menjawab meyakinkan dirinya.


"Saya bersedia untuk menikah dengan ka Rahman, tapi saya ingin meminta waktu, biarkan saya menenangkan diri saya dulu dengan apa yang terjadi, jadi tolong jangan terburu buru untuk melaksanakan pernikahan, jika bisa saya ingin melanjutkan kuliah selama tahun dulu baru menikah," jawab Zahra.


"baiklah, jika itu keinginan kamu, aku akan menunggu, kapanpun kamu butuh aku tolong kabari aku," sahut Rahman yang mendengar Zahra memberi jawaban dengan tatapan kosong. Ia mengerti Zahra sedang begitu tertekan ia memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengobati sedikit luka di hatinya.


......


Kini Zahra sedang berada di kampusnya, dengan tatapan yang kosong, tubuh yang lemas dan menyandarkan kepalanya pada tembok. Riska yang melihat keadaan Zahra lalu menghampiri Zahra dan memeluknya, Zahra melihat kearah Riska kalau tersenyum perlahan dan menangis pelan menutupi wajahnya.


"menangis lah, menangis lah gua ngerti apa yang Lo rasakan, jangan putus asa ya, semangat lah Ra, Lo itu kuat gua percaya sama Lo," Riska membelai lembut punggung Zahra.


"kenapa kesini emang lagi ngak ada kelas?," Zahra bertanya pada Riska karena seharusnya saat ini mereka berada di kelas yang berbeda.


"hehe, biasa," ucap Riska malu malu karena sikap nakalnya tak bisa hilang


" aku takut untuk pulang Riska, disana terlalu banyak kenang kenangan aku dengan papah, baru saja aku akan masuk, rasanya ia seperti masih hidup tapi kenyataannya ia sudah tiada, dan itu membuatku sangat merindukannya hingga terasa dadaku begitu sesak," ucap Zahra mencurhatkan isi hatinya.


"ya udah nginep dirumah gua aja gimana?," Tawar Riska ingin memberikan sedikit ketenangan pada Zahra.

__ADS_1


"ngak Ris, aku kasihan sama mamah saat ini dia yang paling merasakan kehilangan, mama butuh kami semua di dekatnya Ris."


....


Kini waktu malam telah tiba Zahra kembali mengingat bagaimana Marko memanjakan, Zahra memegang kasurnya mengingat bagaimana biasanya Marko menyelimuti tubuhnya bersama Tini saat Zahra ketakutan dan juga bersedih, ia juga teringat Marko yang paling sering menggendongnya untuk memindahkannya ke tempat tidur jika ia tertidur di sofa kamarnya, Zahra juga meraba Sofa yang biasanya ia tempat ia suka tertidur sehingga Marko begitu memanjakannya.


Zahra berbaring di sofa itu sambil menangis memeluk dirinya sendiri mengingat semua itu terjadi, dan tak menyangka kini hanya akan menjadi kenangan, perlahan Zahra tertidur di sofa.


hmmh papah, seperti biasa papah selalu memindahkan ku jika aku tertidur di sofa. Gumam Zahra dalam hati yang merasakan tubuhnya sedang diangkat oleh seseorang, lalu ia membuka matanya sedikit dan melihat samar samar bayangan seorang lelaki yang begitu mirip dengan Marko, lalu tersenyum.


Lelaki itu membaringkan tubuh Zahra dikasur lalu menyelimuti Zahra, membelai kepala Zahra dan mencium kening Zahra. Saat lelaki itu akan pergi Zahra terbangun membulatkan matanya, ia teringat bahwa Marko sudah tidak ada di dunia ini, lalu Zahra terduduk dan meraih tangan lelaki itu.


"kenapa sayang," lelaki itu berbalik dan ternyata adalah Raditya, Zahra merasa sedikit kecewa memang benar wajah Raditya lah yang paling mirip dengan wajah Marko. Zahra melepaskan tangannya dan menundukkan kepalanya, lalu menidurkan kembali tumbuhnya


"Hm, semangat lah sayang masih ada Kaka yang akan berusaha untuk menjaga kalian," ucap Raditya membelai pelan pundak Zahra, lalu pergi meninggalkan Zahra keluar kamar.


Setelah beberapa saat Zahra masih belum bisa tertidur, lalu ia memutuskan untuk bangun dan pergi menuju kamar Tini.


"mah?," panggil Zahra yang mendapati Yeni sedang meraba raba kasur yang biasanya ditempati oleh Marko untuk tertidur di sebelahnya.


Tini melihat Zahra dengan mata yang begitu bengkak karena menangis. Zahra berlari kecil meraih Tini dan memeluknya, tapi tetap saja Tini berusaha untuk tetap terlihat tegar didepan anak anaknya. Tini melepaskan pelukan Zahra dan memandang wajah putri satu satunya itu seperti menaruh harapan besar kepadanya.


"ada apa nak?," ucap Tini menanyakan kedatangan Zahra ke kamarnya di tengah malam seperti ini.


"Mah, Zahra ngak bisa tidur bolehkah malam ini Zahra tidur disini?," pinta Zahra, yang diberi anggukan oleh Tini, merekapun tidur bersama di malam itu, mengeluarkan semua isi hati diantara ibu dan anak tersebut.


****


Satu Minggu berlalu Zahra mendatangi rumah Riska untuk meminta bantuan Riska agar membantu Zahra untuk menjadikan Zahra pegawai reseller ibunya, karena Zahra benar benar membutuhkan pekerjaan Zahra yakin tabungan Tini tak sebanyak itu sehingga mampu membiayai keluarga selama lamanya sendirian. Terlebih lagi Raditya baru saja akan mulai untuk bekerja belum lagi gajinya tidak terlalu banyak. Zahra dan keluarga tidak ingin mengeluh ataupun memberitahukan kepada Rahman tentang ke adaan nya karena tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain.


Beberapa bulan berlalu..


Jualan Zahra tidak terlalu laris namun masih bisa memberikan sedikit bantuan untuk keluarga.


Saat Zahra pulang kerumah ia melihat Tini yang sedang terduduk di sofa dengan raut wajah yang sedih, di depan Tini ada Ramadhani yang sedang terduduk bersedih karena sedang dimarahi oleh Raditya. Ternyata Raditya memarahi Ramadhani karena bekerja terlalu keras menjadi kuli bangunan dan yang lainnya untuk membantu keluarga, mungkin memang ia berniat baik tetapi tetap saja ia tidak ingin pelajaran untuk Ramdhani jadi terhambat karena hal ini, Raditya meminta agar Ramadhani fokus saja untuk belajar dan mempercayakan semuanya pada Raditya.


Zahra menyalami Tini dan juga Raditya yang sedang marah, lalu Raditya pergi menuju dapur, Zahra duduk di samping Ramadhani dan memegang tangan Ramadhani.


"jangan tersinggung, Kaka mendukung kamu ko, niat kamu baik Kaka salut sama pemikiran kamu yang bertanggung jawab dan penuh kasih, tapi yang dikatakan kak Raditya juga benar, lebih baik kamu fokus belajar yah, kejar cita cita kamu jadilah orang yang sukses dan sewaktu nanti bisa membuat keuangan kita kembali normal,"


Semenjak Marko meninggal kini memang keluarga mereka mendapati masalah keuangan karena mereka bukan termasuk keluarga yang terlalu kaya. Hingga saat kepala rumah tangga meninggal mereka harus berusaha sendiri agar bisa bertahan hidup, bahkan sekarang sudah tidak ada satpam lagi dirumah Zahra karena keuangan yang harus semakin di hemat.


tok tok tok


terdengar suara seseorang yang meminta untuk di izinkan masuk, dan Zahra pun membuka pintunya.


"eh Tante," ternyata yang datang adalah saudara Tini, Zahra lalu menyalaminya dan memeprsilahkan masuk .


"Maaf ya ka ya sebelumnya," ucap Tante Zahra.


"ini sudah lama, jadi Kaka harus bayar hutang sekarang, kalau ngak sanggup salah satu mobil Kaka bisa digunakan untuk membayar," imbuh Tante dengan wajah menyeringai.


."HUTANG?!!"

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2