Cinta Zahra

Cinta Zahra
Rumah impian


__ADS_3

arius tersenyum kecut, yang merasa bahagia sekaligus bersedih karena mengingat masa lalu yang begitu mengesankan dalam dirinya.


setelah mentari pergi aku mengira bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan sesosok anak perempuan sepertinya lagi, tetapi ternyata setelah beberapa saat setelah hanya Allah mengabulkan doaku dengan memberikan aku sesak adik perempuan seperti meysyarah. jika bukan karena ka Rahman yang mengajarkanku apa itu agama mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini,. ucapan Arnius dalam hati yang tersenyum.


"kenapa apakah masakan ku begitu sangat enak sehingga kakak sampai tersenyum seperti itu?," tanya Meimei dengan senang hati yang melihat ekspresi arnius tersenyum.


"hooam," Rahman menggeliat karena ia terbangun dari tidurnya.


"mmmh Kaka sudah bangun, mari makan aku sedang memasak untuk kalian loh," ucap Meimei dengan senang hati.


"wah benarkah apakah adikku sekarang sudah bisa memasak?," ucap Rahman yang langsung menghampiri Memey dan arnius dan mencicipi masakan meimei.


"uhuk uhuk," Rahman terbatuk-batuk setelah mencicipi masakan meimei, ia mencoba mengecap mengecap masakan memei yang kini berada di lidah nya.


"kenapa kak apakah tidak enak?," tanya Memei yang tersadar bahwa ia tidak pernah mencicipi masakan sendiri, saat itu juga kami mencicipi masakannya.


"uhuk uhuk," Meimei juga langsung terbatuk saat memakan masakannya sendiri.


"Ya ampun Ya Allah astaghfirullah!," Meimei membelai dadanya dan langsung meminum air putih.


"ini siapa yang masak? ini masakan aku? kok kaya beda gitu loh? masa iya aku masak kayak begini?," ucap Meimei dengan memegang kepalanya, lalu ia langsung menatap ke arah arnius, serta membulatkan matanya bulat bulat seperti bola pingpong.


"ka Arnius sudah jangan dimakan lagi!," ucap meme yang langsung mengambil sendok di tangan arnius. Arnius heran dengan sikap Memei karena tiba-tiba mengambil makanan serta sendok yang baru saja akan disuap nya.


"kakak enggak merasakan rasa asin gitu di masakan ini? huh! udah pedasnya langsung ke tenggorokan lagi, ini kaya bukan pedas cabai ini tuh kayak pedes apa sih yang bobok bobok itu loh merica merica kalau nggak salah itu namanya," ucap meimei mencoba untuk mengingat-ingat apa saja bumbu yang telah ia masukkan ke dalam makanan yang ia masak.

__ADS_1


"kamu enggak berniat untuk ngeracunin kita kan dek?!," ucap Rahman yang mulai meledek adiknya, dan tentu saja langsung terlihat ekspresi imut dan kesal dari wajah Meimei saat itu, ia menatap Rahman dengan kesal juga memasang wajah yang imut.


"ih kakak jahat! masa iya gitu meimei mau ngeracunin kalian semua, orang Meimei udah capek-capek belajar masak sama mama, itu sepenuh hati tahu!," kesal Memei, Arnius pun dengan tidak menghiraukan pertengkaran antara adik dan kakak itu, dia mengambil sendok kembali dan melanjutkan makannya.


setelah ia merasa kenyang dan cukup, Arnius terbangun dan meminta izin kepada Rahman untuk pergi sebentar.


"maaf saya ingin meminta izin untuk pergi keluar," ucap arnius meminta izin.


"oh iya baiklah, mmh ini kartu kredit ku ambil dan pakai saja, lihat apa yang kamu mau ini tanpa batas," ucapan Ramadhan memberikan sebuah kartu kepada arnius.


"terima kasih banyak tuan, tapi kartu yang anda beri masih terlalu banyak di saku saya," ucap arnius sambil membungkukkan tubuhnya.


"de? aku kakakmu jadi jangan takut dan sungkan kepadaku, selain di kantor kamu tidak boleh memanggil ku dengan sebutan tuan, melainkan kamu harus memanggilku dengan sebutan kakak," ucap Rahman namun, Arnius hanya diam dan tidak menggubris.


"ini perintah, tidak boleh dibantah kamu mengerti?," ucap Rahman yang penuh penekanan terhadap Arnius.


"baiklah kamu boleh pergi," ucap Rahman memberi izin terhadap arnius.


"gitu kek dari tadi, langsung nurut kan enak nggak ada debat Ya ampun!," gumam Rahman dengan suara pelan nya namun Masih sempat didengar oleh seseorang di sekitarnya. Dengan izin yang telah diberikan arnius pun memutuskan untuk berjalan keluar menuju ke tempat yang akan ia tuju.


"hati-hati ka Arnius, bye bye," memei melambaikan tangannya kepada Arnius.


"tunggu dulu aku masih bingung kenapa aku bisa memasak seburuk ini?, seingat aku nggak kayak begini kok, kalau Mama yang masak kan enak gitu kalau aku yang masak kok kayak begini kayak racun benar emang rasanya, kok jadi kesel gitu sama bakat sendiri," ucap meme yang memandang makanannya sendiri sambil terheran-heran.


"hahaha ini ya kamu sebut bakat? seriusan? aduh dek masa iya ini kamu sebut bakat? kakaknya sampai nggak percaya loh," ucap Rahman dengan menggoda.

__ADS_1


"ih kakak mah suka begitu! kesel tau memei," ucap Memei dengan kesal.


tanpa mereka sadari sebenarnya Zahra telah menggerakkan jari-jarinya, namun tidak ada yang mengetahuinya termaksud Rahman dan MeiMei sekaligus, karena mereka sebagai pembicara satu sama lain kala itu, sedangkan Zahra yang dalam kondisi tubuh yang setengah sadar nya, iya hanya bisa mendengar dan menggerakan sedikit jarinya dengan sekuat tenaganya yang telah dikumpulkan, namun ia masih belum bisa untuk melakukan hal yang lainnya termasuk membuka matanya begitu lemah untuk melakukan hal-hal tersebut, terlebih lagi tubuhnya yang baru saja menjalani operasi.


"Ya udah, udah udah, kakak mau pergi dulu terus salat Sunnah sama ngaji buat kakak ipar kamu, kamu tunggu di sini sebentar ya habis itu kalau kamu mau ikut gabung ngaji sama kakak, kamu nyusul belakangan oke, kakak dulu ya ngambil air wudhunya baru kamu," ucap Rahman yang langsung bergegas.


"siap 86 oke bos!," ucap Meimei sambil memberi posisi hormat kepada Rahman.


.....


arnius kini telah sampai di tempat tujuannya, iya berada di sebuah tempat rumah yang lumayan mewah dan luas, di sana terdapat beberapa orang tua yang paruh baya anak-anak dan juga remaja.


" kakak!!," teriak anak-anak yang melihat kedatangan arnius, mereka berlari menghampiri arnius dengan penuh kesenangan dan keceriaan di wajah mereka masing-masing seperti seorang anak yang menunggu ayahnya pulang dari bekerjanya.


ya inilah dia, ini adalah rumah ya kita mimpikan dek, ini adalah rumah yang sejak dari dulu ingin kamu bangun ingin kamu miliki, ingin kamu berikan kepada orang orang yang kurang mampu, kini mereka dapat menikmati ini semua dek, semoga kamu bisa melihat ini semua dari alam sana, mereka bahagia setiap bulan kakak sudah bisa memberikan mereka uang untuk makan dan belanja ,bahkan kakak yang membiayakan mereka sekolah, dan mereka bisa hidup di dalam satu rumah ini. ucap arnius dalam hatinya yang melihat kedatangan para anak-anak kepadanya dan langsung memeluk erat tubuhnya.


"oke baiklah sekarang mari masuk kakak bawa banyak oleh-oleh buat kalian, ada mainan dan makanan bahkan berbagai macam cemilan buat kalian, kakak juga bawa pakaian loh dia juga alat-alat untuk kalian sekolah, gimana suka kan?," ucapan Nias dengan ramah dan menggendong beberapa anak-anak di sana lalu membawa mereka masuk ke dalam.


inilah jiwa Arnius, iya bisa bersikap baik ramah tamah dan lembut Di mana tempat yang memang ia harus bersikap seperti itu, namun ia bisa menjadi seseorang yang sangat dingin sangar garang dan pemberani juga sangat keras, jika ia berada di dalam dunia politik yang merasa melindungi rajanya adalah kewajibannya, dan Jawa rajanya adalah Jawanya yang harus di dijaga sampai seumur hidupnya. karena bagi arius tidak ada yang berarti lagi selain Rahman yang sangat penting dalam dirinya dan juga dengan keluarga baru yang diberikan oleh Rahman.


namun tetap saja Arnius adalah Arnius, bisa berubah kapan saja untuk menjadi seseorang yang begitu dikit lagi seperti awal mulanya dia, itu juga seperti saat ia menemukan beberapa anak anak yang cukup menyimpang.


beginilah kehidupan arnius yang dianggapnya begitu bahagia, dan sebagai tanda kasih sayangnya kepada Rahman, ia rela akan menjadi seorang perjaka asalkan Jawa Rahman tetap terjaga.


bersambung...

__ADS_1


hai semua itulah tadi jiwa arnius yang sebanarnya, gimana gimana? lembut juga kan orangnya dibalik sifat cool nya.. uwuwwww, idaman banget gak wkwk. hahaha oke simak terus kelanjutannya ya, dan sampai lupa dan selamat bekerja. 😒🤣


__ADS_2