
udara serasa sejuk untuk dihirup, senja yang menyelimuti udara gemuruh pantai dengan pasir putih penghias bagi siapapun yang melihat dan melangkah kan kakinya disana.
satu tahun sudah Zahra meninggal, Aria teringat akan kenang kenangan yang telah ia lalui bersama saat dipantai, saat Aria menginjakkan kaki nya dipantau ia merasa seolah olah kenang kenangan nya bersama Zahra terulang kembali, meskipun masih terasa setengah bayngan, ia sangat menginginkan nya kembali terulanh, masih terasa suara canda riuh Zahra dengan azan, dan masih tercinta bayang bayang bersamanya, Aria kini lebih menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian, disela sela waktu kerjanya, ia segera menyelesaikan masalah masalah penting di perusahaan nya agar dapat lebih hikmat mengikuti pengajian.
sekarang Andrean semakin memahami apa itu islam, ia memiliki wajah yang begitu bersinar, selama setahun lebih ini tak pernah ia main main dalam agamanya yang ia pelajari, bahkan sangkin menginginkannya agama yang dalam, ia hanya dapat tidur beberapa jam saja dalam sehari, baginya nanti juga ia akan tertidur untuk selama lamanya jadi sekarang tidak boleh menyia nyiakan waktu yang ada, begitu juga dengan Tini dan Yeni mereka hijrah mengenakan jilbab sar'i meskipun awal awal mereka hanya mengenakan hijab biasa dengan celana jins namun sekarang mereka sudah terbiasa menggunakan gamis besar dan kerudung yang besar pula, mereka juga lebih sering mendatangi pengajian disela sela kuliahnya, meskipun tak sepasih anak pesantren namun mereka berusaha sebisa mungkin untuk bisa lebih mengenal agama.
setahun berlalu, kini dua tahun sudah Zahra pergi meninggalkan orang orang yang disayang.. Aria telah membangun pesantren dan juga panti asuhan yang diberi nama "azan Al-akbar," serta masjid yang diberi nama "Az-Zahra,"
Yeni dan Tini kini sedang merayakan kelulusannya, Tini kini telah bertunangan dengan seorang pilot dan akan menikah minggu depan.
Tini dan Yeni kini berada dirumah masing masing, mereka telah kembali kekediaman mereka karena kuliah mereka yang telah usai, mereka kini sudah merasa cukup untuk pendidikan dunia mereka sedangkan untuk akhirat mereka merasa masih begitu kurang.
Tini sedang berkunjung kerumah Yeni, kini mereka sedang membantu ibu Yeni untuk memasak didapur, ditengah tengah canda gurau mereka, terdengar suara ketukan pintu, dan Tini membuka pintu tersebut.
"assalamualaikum, "
"waalaikummussalam!!, tuan Andrean, " Tini terkejut dengan siapa yang sedang datang untuk berkunjung
"Yeni nya ada?,"
"ada tuan, silahkan masuk,"
....
"Yeni ada tuan Andrean datang, cepat temui dia, dia mencarimu," Tini menghampiri Yeni yang sedang berada di dapur bersama ibu nya
"ah??," Yeni terheran sedangkan ibu Yeni tidak tau apa apa dan siapa itu Andrean?
....
Tini menyuguhkan teh dan kopi ke meja sembari melihat kecanggungan antara ibu Yeni, Yeni serta Andrean dan kedua orang tua Andrean.
"maaf sebelumnya tanpa izin kami telah datang kemari, dan masalah alamat rumah anda saya tau dari bawahan saya,"
"maaf tuan Andrean ada apa ya kemari," sahut Tini
"begini nak, em maaf sebelumnya siapa yang bernama Yeni,"kata ibu Andrean
__ADS_1
"saya nyonya, dan ini ibu saya," sahut Yeni
"begini bu, saya suami saya dan anak saya kemari ingin melamar anak anda, Yeni, " ucap mama Andrean
deg
"mm maaf sebelumnya dengan alasan apa anda sehingga dengan begitu yakin ingin melamar saya," tanya Yeni ragu
"karena anda yang muncul dalam mimpi saya setelah saya shalat istikharah nona," sahut Andrean. Yeni begitu tersentuh atas apa yang di ucapkan oleh Andrean.
keheningan terjadi beberapa saat hingga ayah Andrean angkat bicara.
"begini nak Yeni, anak saya in shaa allah telah mampu membina rumah tangga meskipun agamanya belum cukup, namun percayalah sunnah rasul itu juga menikah, dan agar tidak ada fitnah dan bisa mendapati pahala yang besar mengapa tidak, tapi jika berkenan nak Yeni bisa ta'aruf agar lebih yakin lagi," ucap ayah Andrean merangkul Andrean..
"tunggu dulu tapi kita bahkan tidak pernah bertemu ataukah pernah tapi jarang?" tanya Yeni yang mencoba memutar ingatannya kembali.
"Anda mungkin tidak terlalu mengetahui saya tapi saya masih sangat jelas mengenal wajah nona, saya mengetahui nona saat hari meninggalnya Zahra," Andrean menunduk mengungkapkan kebenaran nya.
"ah, jadi begitu," Yeni pun akhirnya mengingat Andrean pada saat itu
"saya mengaku saya tidak sebaik.." ucap Andrean terhenti oleh kalimat Yeni.
"alhamdulillah " ucap semua org disana.
sebulan berlalu yeni Andrean , dan Tini telah usai dengan pernikahan mereka. Aria datang mengunjungi kekediaman Andrean dan Yeni.
"maaf mengganggu waktu kalian,"
"iya Kak Aria ada apa?," sahut Andrean yang kini telah didampingi Yeni setelah Yeni menyuguhkan teh hangat untuk Aria.
"aku ingin menyerahkan aset perusahaan padamu, aku ingin melepas semua tugasku, "
"tapi.. "
"aku mohon, usia ku sudah tua aku merasa lelah, dan selama ini juga aku belum dekat dengan Allah,sedangkan kamu sempat di pesantren selama dua tahun, dan tetap dapat menuju pesantren untuk menimba ilmu atau sekadar membagi ilmu, aku pun ingin seperti itu, aku menyisakan sedikit tabungan untuk biaya makanku nanti,"
"hmmh baiklah jika itu keputusan kakak, semoga sukses, jika perlu sesuatu hubungi saja aku,"
__ADS_1
"terimakasih banyak Andrean, " Aria memeluk Andrean dan berpamitan.
....
Aria memandangi suasana pondok yang dimana hanya ada lelaki disana, dewasa remaja ataupun anak anak, bercampur baur dengan sesama jenis, dengan tekunnya mengaji, belajar mandiri melaksanakan sunnah rasulullah dan bersodaqah.
satu tahun berlalu Aria semakin memahami agama sesekali Tari datang menjenguk Aria memberinya uang untuk berbelanja namun Aria malah memberi uang itu kepada orang yang lebih membutuhkan dan juga memasukkan nya ke kotak amal, dengan niat untuk ibunda tersayangnya karena baginya uang tabungannya masih cukup untuk makan sehari hari, Aria semakin rajin salat sunnah dan melaksanakan ibadah, kini ia berpamitan untuk berlibur selama beberapa hari dirumahnya ia sangat merindukan ibunya.
"ya allah nak kamu kurus sekali," ucap Tari memeluk Aria.
"tidak apa apa bu, apa ibu sudah makan, boleh minta disuapi ibu?," ucap Aria lirih
"iya tentu saja nak kenapa tidak, ibu akan menyuapi mu tunggu sebentar ya ibu ambilkan makanan"
....
kini pukul 03.00 WIB aria terbangun untuk shalat tahajud, setelah shalat tahajud dan witir ia merasa lelah sehingga memutuskan untuk tertidur, tidak seperti biasanya ia menunggu shalat subuh dan shalat duha baru tertidur saat sudah jam sebelas siang. ia tertidur dengan wajah tersenyum ia melihat Zahra dimimpinya.
"mas lihatlah anak kita kembar, dan azan sekarang sudah besar," kata Zahra yang disambut senyuman oleh Aria..
"mas hanya diam? tidak rindukah padaku? tidak ingin memelukku?, "
"bolehkah?, " tanya Aria lalu Zahra melebarkan tangannya yang saat itu pula dipeluk Aria.
Aria kini tengah tertidur dipangkuan Zahra.
"terimakasih banyak mas telah lebih dekat dengan allah, sehingga aku masih bisa bertemu denganmu," belai lembut Zahra pada rambut Aria, lalu Aria membenamkan wajahnya di perunt Zahra memeluk erat tubuh Zahra dengan penuh senyuman.
Dan semenjak saat itu Aria tertidur tidak untuk terbangun, Aria pergi dengan senyuman, dan wajah yang bercahaya.
Tari hanya bisa menangisi anaknya, dan memeluk jasad anaknya yang ia temui dikasur saat hendak mengajaknya untuk shalat subuh bersama, ia melihat senyuman yang begitu bahagia diwajah Aria yang membuat tari juga ikut bahagia dalam sedihnya..
tamat...
hay semua, maaf ya kalau ceritanya kurang berkenan, sampai jumpa dikaryaku yang selanjutnya bye bye...
__ADS_1