Cinta Zahra

Cinta Zahra
kasih sayang


__ADS_3

Zahra kini sudah sampai di kekediaman barunya bersama Rahman. Tak terasa sudah beberapa bulan berlalu ia di rumah baru mereka.


"Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," Ucap Zahra saat satpam membuka kan pintu untuk Zahra.


"ka Rahman sudah pulang pak?," Tanya Zahra pada satpam.


"belum nona,"


"baiklah pak kalau begitu terima kasih banyak ya,"


Zahra memasuki rumahnya, dan mengganti pakaian nya setelah membersihkan tubuhnya, Zahra kali ini hanya mengenakan tunik selutut nya yang berbahan kaos, karena ia merasa gerah dan lelah, terlebih lagi berhubung Rahman belum pulang jadi Zahra bebas berpakaian seperti apapun itu.


"hmh, aku udah kenyang tadi, tapi ka Rahman udah makan belum ya, bibi masam apa ya? biar aku lihat aja deh ke bawah, aman kok ya lagian kan lelaki selain ka Rahman ga boleh masuk kerumah utama mereka cuma berjaga jaga di sekitar rumah aja kan," ucap Zahra bergumam yang ingin turun untuk memasak namun ragu ragu.


Dan akhirnya Zahra memutuskan turun kebawah dengan berpakaian seperti itu dan tanpa berkerudung.


"bibi.. bibi masak apa?," panggil Zahra pada bibik seraya menuju ke dapur, bibik langsung berlari menghampiri Zahra saat terdengar Zahra memanggil nya. Bibi yang sempat mengingat melihat Zahra karena berpakaian yang cukup terbuka tidak seperti biasanya, langsung menundukkan kepalanya, tidak ingin mendapatkan masalah apa apa.


"iya nona," sahut bibi dengan sopan dan menundukkan kepalanya.


"bibi jangan terlalu begitu, Zahra jadi ga enak, ga perlu menunduk bi, biasa aja sama Zahra ya," ucap Zahra memegang pundak bibi.


"oh iya bibi masak apa?," Zahra membuka lemari makanan.


"maaf nona tadi bibi ketiduran," bibi memang tidak sengaja tertidur karena ia mencuci dan menyetrika pakaian bahkan ber beres beres.


"ga apa apa bi, ya udah Zahra masak ya," ucap Zahra lalu membuka kulkas dan mencari sesuatu yang dapat di masak.


"jangan nona biar bibi aja,"


"ga apa apa bibi ka Rahman kayaknya rindu sama masakan Zahra," ucap Zahra tersenyum.


"ih, kalau begitu biar bibi bantu,"


"jangan bi, Zahra mau sendiri aja boleh? bibi istirahat aja ya," ucap Zahra sambil mengeluarkan bahan bahan dari kulkas.


"tapi nona,"


"bibi, ga usah khawatir, ini Zahra yang mau ko," dan akhirnya bibi pun membiarkan Zahra sendiri, meskipun bibi merasa takut kalau ia akan dimarahi.


Zahra sedang memulai memasak ia membuat ayam geprek dan juga soto daging.


"Assalammualaikum," ucap Rahman yang menghampiri Zahra ke dapur, dan tersenyum melihat penampilan Zahra.


"waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh ka,"


"lagi masak? emang bisa?," ledek Rahman pada Zahra


"ya Allah serah dah serah!," kesal Zahra pada Rahman yang suka menggodanya.


"kan biasanya di bantu mamah, sekarang sendiri emang enak nanti?," Rahman masih menggoda Zahra baginya dengan meledek istri tercintanya bisa menghilangkan rasa lelahnya dari kerjanya seharian di kantor.


Tetapi Zahra yang malas meladeni Rahman hanya diam tidak menjawab Rahman.


"entar aku sakit perut gimana?," masih diam tidak menjawab.


"aku masih belum mau sakit perut loh ya". Masih diam tidak menjawab Rahman


"emm ngomong ngomong, pakaian kamu hari ini boleh juga," akhirnya Rahman menggoda tepat sasaran.


"!!! apaan sih, sana mandi sana, orang baru pulang kerja juga heish," Zahra malu dan baru teringat kalau ia tidak mengenakan pakaian hingga mata kakinya, entah celana atau apapun itu. Zahra pun membelakangi Rahman dengan kesal, ia sengaja mulai memasak dengan membelakangi Rahman untuk menyembunyikan raut wajahnya.

__ADS_1


"sayang,"


deg


Rahman berbisik tepat di telinga Zahra dengan memeluk tubuh Zahra dari belakang.


"!! apa?!!," Zahra berusaha melepaskan pelukan Rahman.


"Diam lah aku hanya membutuhkan kehangatan," ucap Rahman lirih lalu membenamkan kepalanya, dan memejamkan matanya, membiarkan apapun yang Zahra lakukan asalkan ia dibiarkan untuk memeluk Zahra.


Yah tidak apa apa, lagi pula dia suamiku, mungkin dia sangat lelah sehingga bersikap seperti ini. Zahra bergumam dalam hati dan membiarkan Rahman.


"Ra," Panggil Rahman lirih.


"mmh?," Zahra masih fokus pada masakannya.


Lalu Rahman memegang wajah Zahra sehingga membuatnya mengecup pipi Zahra.


"!!," Zahra terkejut, ia berfikir apakah Rahman memang menyukainya ataukah hanya kebiasaan sesaat karena suka meledeknya.


Melihat Zahra yang terdiam, Rahman memandang Zahra dan mengelus kepala Zahra pelan yang tidak terbalut kan kerudung lalu mengecup kepala Zahra dan melepaskan pelukannya pada Zahra.


"gerah nih, ya udah aku mandi dulu istriku yang cantik, masak yang enak ya," Rahman meledek Zahra yang sudah diam mematung ditempat. Rahman pun tertawa merasa puas dengan reaksi Zahra


"hah!," Zahra akhirnya bisa bernafas dengan bebas saat Rahman pergi dari tempatnya memasak.


"tuh kan aku lupa apa saja yang belum aku masukkan," Zahra menggerutu kesal.


Setelah beberapa saat akhirnya Zahra selesai memasak, ia menaruhkan hidangan nya di atas meja, dan menyiapkan nasi di atas piring untuk Rahman.


"kaak, makanannya sudah siap, ayok makan," Zahra setengah berteriak dari bawah.


Sesampainya dibawah Rahman langsung terduduk manis di depan meja makan, dan melihat masakan Zahra.


"ko cuma satu piring nya kamu ga makan?," tanya Rahman.


"ga, aku cuma nemenin Kaka aja, soalnya aku udah makan sama ka Raditya tadi," ucap Zahra.


"hmmh," Sahut Rahman lalu mencicipi soto daging buatan Zahra, dia sedikit tersenyum dan mulai memakan lagi sesuap soto daging itu terlihat Rahman menyukainya, lalu ia mulai mencoba memakan ayam geprek buatan Zahra, dan kembali tersenyum.


"gimana? enak ga?," Zahra dengan penasaran dan penuh antusias menanyai Rahman.


"enak ko," jawab Rahman


"coba suapi aku, nanti aku suapi kamu,"


"ah ga Kaka aja aku udah kenyang," ucap Zahra.


"ga, ga apa apa aku cuma pengen di suapi kamu dan kamu suapi aku, nih ayam geprek ini ya suapi aku aaa," Rahman membuka mulutnya, dan Zahra pun mencuci tangannya lagi mematuhi ke inginkan Rahman lalu menyuapi Rahman, begitu juga sebaliknya Rahman menyuapi Zahra.


"mm!! Astaghfirullah ko asin banget sih," ucap Zahra menggerutu, lalu Rahman tersenyum dengan reaksi Zahra.


"mm maaf ya ka, jangan di makan udah biarin aja," ucap Zahra yang ingin mengambil ayam itu kembali, namun di cegah Rahman.


"ga apa apa ini enak ko, tinggal pake nasi aja terus ga jadi asin deh, gampang kan," ucap Rahman meskipun tidak terlihat senyum yang tulus, tetapi begitu terlihat Rahman tidak ingin menyinggung perasaan Zahra sedikitpun.


"hmmh Kaka," ucap Zahra lalu ikut makan ayam geprek dengan nasi dengan piring yang sama dengan Rahman.


"gimana? ga asin kan?," tanya Rahman karena Zahra ikut makan dengan piring yang sama dengannya.


"mmh," angguk Zahra dengan tersenyum.

__ADS_1


apanya yang ga asin?, orang ini masih sangat asin, tapi terima kasih banyak ya ka, karena Kaka sudah menghargai buatan ku. Zahra tersenyum karena Rahman menikmati masakan Zahra tanpa merubah mimik wajahnya sedikitpun menjadi seseorang yang tidak menyukai sesuatu.


......


"jangan lupa, diminum susu nya ya, terus juga nyemil pake buah buahan yang aku beri tuh, harus habis besok, mokoknya setiap hari aku cek, jadi setiap hari harus habis," Ucap Alfie pada Riska yang sedang memasukkan buah buahan kedalam lemari es Riska.


"iya ka iya!, hmmh nanti ibuk sama bapak juga membantu makan ko hahaha," jawab Riska.


"iya dia sudah ada buah khusus untuk mereka disini, jangan ngeyel ini semua demi kebaikan kamu dan janin kamu," ucap Alfie lalu memegang perut Riska, dan terduduk di depan Riska memegangi perut Riska dan juga menciumnya.


"haha apa sih ka," Riska terharu dan malu karena sikap Alfie yang begitu memperhatikan nya.


"nanti kalau sudah besar main sama papah Alfie ya sayang, kita main masak masakan, kamu harus jadi wanita yang sejati jangan kaya mamah mu dia setengah lelaki," ucap Alfi pada perut Riska.


"haha ga lah," sahut Riska.


"wah dia nendang loh, waah keras sekali tendangan nya, lihat lah dia sangat aktif, woah kamu sangat sehat ya nak ya," Alfie membelai perut Riska dengan senang dan semangat. Begitu juga sebaliknya Riska merasa senang karena dia bisa merasakan ada sebuah nyawa di dalam dirinya selain nyawanya sendiri. Riska meneteskan air matanya, air mata yang membahagiakan dirinya karena menjadi seorang wanita.


"eh lihatlah mamah mu sudah menangis karena terharu, mamah mu sekarang sensitif selalu ingin menangis, sedikit dikit ia menangis," ucap Alfie pada perut Riska. Memang semenjak Riska hamil ia menjadi lebih sensitif, susah mengatur emosinya terutama air matanya. Riska akan cepat menangis jika menemukan sesuatu yang membuatnya terharu atau teringat akan kesalahannya, tapi juga bahagia karena ia masih bisa mempertahankan seorang anak di perutnya.


"terima kasih banyak ya nak Alfie karena sudah sangat perhatian kepada putri kami," ucap ibuk Riska.


""ah iya Bu hah tidak usah sungkan, oh iya kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, sudah sore saya harus pulang takutnya nanti ayah bunda nyariin," ucap Alfie, yang mengungkapkan dirinya masih dilihat seperti anak anak oleh kedua orang tuanya.


"oh haha iya ga apa apa nak Alfie, hati hati dijalan,"


"iya Bu, kirim salam sama bapak ya Bu, Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh,"


"waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh,"


......


"eh Ra, lusa kan pertunjukan teater kampus kita ya,?"


"iya Ris, kenapa kamu mau nonton?," tanya Zahra balik.


"pengen banget sih, tapi apa ga jadi perhatian orang ya?,"


"ga apa apa kita akan menyaksikannya bersama, ada aku ko jadi kamu ga usah khawatir ya," Ucap Zahra menenangkan Riska serta meyakinkannya. Dan tak jauh dari mereka Arnius memperhatikan Zahra dan Riska, dengan penampilannya seperti biasa menggunakan switer dan menutupi kepala serta wajahnya.


....


Kini hari pertunjukan teater telah tiba, bukan hanya warga kampus saja yang hadir namun juga orang luar yang di undang kerabat atau sahabat mereka yang berada di kampus, bahkan para pejabat pun juga ikut hadir. Belum lagi ternyata Reza dan ibu nya hadir di acara teater itu yang membuat Riska terbesit luka lagi di dalam hatinya dan memegang perutnya dengan erat seperti menjaga sesuatu yang sudah menjadi incaran seseorang karena Reza juga memperhatikan perut Riska terus menerus.


"duduk di belakang yah," ajak Riska karena tidak nyaman.


"baiklah, kita kebelakang, ingat ya sekarang aku yang jagain kamu," ucap Zahra dengan tegas karena tidak ingin Riska sungkan pada nya.


saat kamu mulai hamil, kamu menjadi lebih lembut, sabar dan sensitif, jarang melihat sisi pria lagi dari dirimu, jadi kali ini adalah tugasku yang menjagamu dengan baik. Gumam Zahra dalam hati.


"baiklah mari kita mulai teater utama kita dari perwakilan seluruh mahasiswa dan mahasiswi di sini, berikan tepuk meriahnya!," ucap sang MC dengan mic nya.


prok prok prok


suara tepuk tangan yang sangat ramai untuk menyambut pertunjukan teater nya.


"selamat pagi, dan salam sejahtera," ucap perwakilan teater yang memberi salam.


"pada hari ini kami akan menunjukkan sebuah teater yang berjudul -Gadis tomboy serta sahabatnya tak sepolos yang terlihat-,"


DEG

__ADS_1


__ADS_2