
" leela ini sarapan, tadi aku beli bubur ayam dijalan, aku juga laper sarapan bareng yuk," Tawar Zahra yang memang sering memikirkan Leela karena ia sangat berterima kasih kepada Leela yang sangat baik kepada nya.
"iya, terimakasih bnyak ya, wa jadi ngerepotin nih, mmh aroma nya enak banget," jawab Leela dengan tulus, dan penuh senyuman.
" ngak ngerepotin ko justru aku mau minta maaf karena aku yang udah ngerepotin kamu, maaf ya La, udah ngerepotin kamu pasti semalam kamu tidur ngak nyenyak," ucap Zahra lirih tak enak hati.
" siapa bilang aku nggak tidur nyenyak? orang aku tertidur pulas malahan semalam bahkan nyenyak banget loh, aku hanya terbangun beberapa kali kemarin malam, Azan anaknya penurut ngak begitu merepotkan jadi tenang aja ngak usah sungkan okeh," jawab Leela yang ikut merasa tak enak hati, ia juga memandang Azan merasa prihatin dengan keadaan Azan.
sabar ya di usia kamu yang masih bayi harus mendapatkan cobaan begini, aku yakin pasti saat kamu dewasa kamu akan menjadi orang yang begitu kuat. Gumam Leela dalam hati yang memerhatikan Azan sedang tertidur.
"oh iya maaf ya leela uang tip semalam aku habisin buat biaya azan, tapi ia shaa allah tip malam ini aku kasih sebagian buat kamu," kata Zahra yang merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya pada Leela untuk membagi sebagian penghasilan nya malam itu.
"iya gapapa kamu ngak usah sungkan, " Ucap Leela dengan tulus ia juga mengerti dengan keadaan Zahra, ya begitu berat yang di alami Zahra bahkan pasti begitu sulit bagi seorang wanita yang begitu mendalami agamanya justru malah harus mendekati hal yang dilarang agamanya.
Zahra dan Leela sarapan bersama dengan tenang, dan memang kini telah tertampak sedikit ketenangan diwajah Zahra.
" maaf Ra jangan tersinggung aku cuma mau bertanya, ra kamu lepas hijab?," ingin sekali Leela bertanya sedari tadi namun ia tak berani, tapi dari pada rasa penasaran yang akan selalu menghantui diri Leela , akhirnya Leela mengumpulkan keberaniannya dan bertanya.
"iya, aku malu sama hijab ku, nanti dikira aku ngak hormati hijab, aku ngak mau klau hijab ku nanti malah jadi bahan omongan orang,"bejawab Zahra dengan kepala tertunduk
" iya sih banyak yang bilang tegur orangnya bukan hijabnya," sahut Leela sembari menyuap bubur ditangan nya.
"tau gak sih Leela, sebenarnya gak ada yang negur hijabnya, mereka hanya bilang, 'padahal pake hijab tapi ko gitu amat kelakuannya'.
Aku rasa mereka gak sepenuh nya salah, karena seorang yang menggunakan hijab atau peci memang seharusnya berperilaku baik, karena menghormati hijab, bukan malah semena mena merasa sudah cukup dengan hijab atau peci sehingga membelakangi adab nya,". jelas Zahra yang merasa memang kurang cocok jika aurat saja yang tertutup tapi pengamalan amal ibadah nya di abaikan.
"iya kadang aku juga bertanya tanya sih ra, kata ustadz aku kalo orang pake peci, yang tadinya mau rayu cewe eh gak jadi karena malu sama pecinya, begitu juga sebaliknya tentang hijab,"
__ADS_1
" iya, tapi memang baik juga mereka yang mendahulukan menutup aurat, tapi cobalah berubah ke yang lebih baik lagi, berubah sekaligus seratus persen itu susah, jadi sedikit sedikit saja, mulai dari tutup aurat dulu, lalu istiqomah kan, yang tadinya gak pernah shalat, belajarlah shalat sekali sehari, lalu tingkatkan terus tiap hari, dan begitu juga dengan yang lainnya, in shaa allah pasti akan membaik, pelan pelan saja rasul saja saat akan mengajak kaum yang non Islam untuk masuk Islam ia memberikan waktu yang cukup lama pada kaum tersebut, namun karena kaum tersebut merasa rasul itu baik dan ajarannya benar jadilah kaum itu menjadi hamba Allah pada hari itu juga,"
Jelas Zahra menceramahi leela, ia berharap agar tidak ada orang yang bernasib seperti dia lagi.
***
Hari yang cerah Zahra bersama seorang pria, ia merasa dirinya telah menikah, hanya saja buram tak jelas wajah suaminya, Zahra merasa sangat dicintai, shalat berjamaah ngaji bersama, lantunan ayat alquran yang begitu merdu.
"hah!!," terkejut Zahra yang langsung membuka matanya
huuh ternyata mimpi, rasanya begitu nyata, tapi siapa itu,?
Zahra tersenyum kecut karena menyadari pada akhirnya semua itu hanya sekedar mimpi, lagi pula dalam benaknya siapa yang akan menikahi wanita seperti dia, Zahra terbangun dari tidurnya dikamar Azan dirawat, Azan hanya bisa menyusu lewat dot karena selang yang menghalangi berbagai aktivitas nya.
"sabar ya nak ya, semua pasti berlalu, Azan adalah anak yang kuat, Azan harus kuat ya nak ya, mamah sayang Azan. Azan juga sayang mamah kan? jadi azan harus bertahan ya sayang sayang, mamah berjuang untuk kamu nak, maaf karena Mash tidak dapat menjagamu dengan baik sehingga kamu pun harus seperti ini nak," gumam Zahra perlahan sembari menjatuhkan buliran buliran air matanya membayangkan kembali apa yang telah terjadi dan seharusnya tak terjadi.
***
"bu aku pinjam pakaian lagi ya,karena tip yang kemarin terpakai untuk biaya Azan jadi tidak ada untuk membeli pakaian, tapi in shaa allah nanti saya akan beli pakaian sendiri Bu,"
"iya pakai saja dulu," jawab Octa dengan lemah lembutnya.
***
Zahra kini berjalan menuju ruangan, sudah terpenuhi dengan aroma minuman keras, ia kini dipanggil untuk menemani tamu minum terlebih dahulu.
"wah wah lihat, wanita itu cantik juga, sini cantik kemarilah, aku baru melihatmu, dan kini aku menginginkan mu," goda salah satu lelaki tua yang ternyata adalah seorang produser genit.
__ADS_1
"tidak kamu kesini sayang aku akan membayar mu lebih mahal," kata temannya yang satu lagi
entah kenapa aku jijik dengan mereka, muda tua sama saja.batin Zahra
Tiba tiba ada yang merangkul Zahra dari belakang, Zahra terkejut pria tampan dengan tampang dewasa dan berkelas, tiba tiba muncul begitu saja.
"hei nona manis, sudah jangan dengarkan para tua Bangka, mari duduk bersamaku," dia adalah Andrean Adiwijaya, adik sepupu aria Adiwijaya.
kini zahra tengah duduk disamping Andrean, ia menuangkan minuman ke gelas Andrean,sambil menyimak percakapan politik yang sedang berlangsung.
apakah ini tempat biasa mereka berdiskusi, berkelas tapi nampak tak bermoral...
Zahra kini hanya pasrah diciumi Andrean dari pipi, kendingnya, kepalanya hingga berkali kali, kini Andrean memainkan rambut Zahra dan menciumnya.
"nona manis siapa namamu, kau tak begitu cantik tapi entah mengapa aku merasa, aura cahayamu itu begitu memikat," goda Andrean dengan ciri has lelaki mata keranjang.
"tu tuan saya, pa panggil saja saya Elsa, " Zahra berbohong karena ia malu menyebut nama aslinya
"hmmh Elia, mengapa kau sangat gugup," kini Andrean memeluk pinggang mungil milik Zahra
"beli lah pakaian baru, ini tip untukmu, besok malam aku akan berkunjung kesini lagi, dan kau lah yang sudah kupesan, malam ini aku tak berselera, cukup temani aku minum, tapi besok aku ingin melihatmu khusus untuk ku," Andrean yang sudah menyelipkan sebuah tip ke dalam dada Zahra, Zahra yang terkejut tak dapat berbuat apa apa.
"oh kakak sepupuku Aria Adiwijaya, kemarilah bergabung dengan kami, kemana saja kau kenapa baru datang," panggil Andrean setengah berteriak ketika menemui Aria yang baru saja datang.
*deg
bersambung*
__ADS_1