
perasaan bahagia kini ada dalam diri Rahman, rasa yang sangat bahagia karena Zahra telah sadarkan diri. dokter datang dengan segera untuk memeriksa keadaan Zahra, setelah diperiksa Zahra mendapati hasil yang positif, dengan peredaran darah yang baik detak jantung yang baik juga. serta kesadaran yang normal.
"tapi nona aku harap nona jangan terlalu banyak berpikir, istirahatlah yang tenang kami akan melakukan lanjutan pengobatannya, baik kalau begitu selamat istirahat ya nanti kami akan kembali," ucap sang dokter kepada Zahra.
"Ya ampun Ya Allah aku tuh seneng banget akhirnya kamu bisa sadar, kamu nggak tahu berapa hari ini kamu itu membuat kita itu sangat khawatir banget tahu sama kamu," ucap Rahman menangis bahagia. Rahman memeluk erat tubuh Zahra namun Zahra hanya diam dan memandang lurus kedepan.
"kak Zahra, hmmh mungkin kak Zahra lelah kak," ucap Meimei yang bertanya kepada Rahman.
"oh iya bener tunggu beberapa saat dulu ya biar kamu boleh meminum air putih," Zahra masih diam tidak mengeluarkan suara apapun termasuk sepatah katapun tidak dikeluarkannya, yang membuat suasana menjadi canggung.
"tidak apa-apa mungkin kamu lelah makanya kamu tidak berbicara," ucap Rahman dengan canggung nya dan merapikan selimut Zahra.
"sebentar kak apakah ini efeknya operasi atau kah kayak trauma dan lain sebagainya? yang menyebabkan seorang pasien setelah sadar dari komanya dia akan mengalami lupa ingatan atau gangguan mental yang membuat dirinya itu sangat berat atau merasa terkunci itu yang bisa menyebabkan dia nggak bisa bicara," ucap Meimei yang merasa ada kejanggalan dalam diri Zahra.
"nggak, nggak mungkin kan dia baru aja sadar mungkin dia kecapean, aku nggak mau berpikiran yang aneh-aneh," ucap Rahman kepada Meimei dan Zahra langsung melirik ke arah Rahman.
"ra coba kamu berbicara satu kata aja gak usah kalimat, kata aja yang bisa meyakinkan aku kalau kamu itu masih bisa bicara, aku khawatir sama kamu, atau paling nggak cukup satu huruf aja satu huruf yang penting ada konfirmasi ke aku kalau kamu tuh bisa bicara" ucap Rahman memohon kepada Zahra sambil mendekati wajah Zahra dan mengelus wajah Zahra serta kepalanya.
"mana kerudung aku," ucap Zahra mengeluarkan suara.
"tuh kan dia bisa bicara," ucap Rahman lega.
"iya bentar bentar aku cariin kerudung kamu dulu," Rahman mengambilkan kerudung ke Zahra dan memakaikannya dengan perlahan.
"apakah aku tidak mengenakan kerudung?," ucap Zahra bertanya dengan nada datar.
"ah, jadi gini kamu kan di koperasi setelah kamu udah operasi kamu dibawa ke sini, nah kan kamu udah operasi tuh jadi kamu nggak pakai kerudung," ucap Rahman menjelaskan dengan perlahan mencoba untuk tidak menyinggung Zahra.
"lain kali apapun itu tolong usahakan aku berkerudung, meskipun saat itu hanyalah mayatku yang tersisa, jika masih ada orang lain selain mahramku yang melihatku tolong usahakan aku untuk berkerudung, karena meskipun mati jika rambutku masih dilihat oleh orang lain maka aku juga tetap mendapatkan dosa," ucap Zahra lalu membuang mukanya dan menutup matanya.
"mmh baiklah mungkin kamu lelah jadi istirahat lah, nanti aku kan beritahu ibu kalau kamu sudah sadar," ucap Rahman aluminium motif Zahra dan Zahra pun tertidur meskipun sesungguhnya ia tidak ingin tidur.
"kak," gumam Meimei yang merasa heran dengan sikap, Memei memanggil Rahman dengan suara yang lirih.
"sudah kita istirahat dulu ya," ucap Rahman membawa Meimei.
beberapa saat kemudian....
Zahra terbangun dan mengambil posisi terduduk, lalu melihat ke arah Rahman dan Meimei, karena ini sudah malam jadi Meimei sudah tertidur, Memey tertidur di sofa sedangkan Rahman masih terjaga di dekat Memei.
"kenapa kamu nggak tidur?," tanya Zahra kepada Rahman.
__ADS_1
"ahh ternyata kamu sudah bangun, ini sudah larut malam loh kamu istirahat lagi ya," ucap Rahman menawarkan Zahra karena sepertinya Zahra lelah karena efek obat yang membutuhkan agar Zahra beristirahat lebih.
"enggak aku enggak lelah, aku ingin minum bisa minta tolong," ucap Zahra lalu Rahman pun dengan sigap mengambilkan air minum untuk Zahra.
"terima kasih banyak," kucing bicara dengan tersenyum dan mengambil air minum itu dari tangan Rahman.
"apakah kamu lapar? aku bisa menyuruh bibit kurma untuk memasakan bubur untuk sekarang juga dan menyuruh sopir untuk membawakan makanannya kamu sekarang," ucap Rahman yang dijawab anggukan oleh Zahra.
"oke baiklah aku akan menelpon bibi di rumah sekarang tunggu sebentar ya," ucap Rahman lalu bergegas mengambil ponselnya dan menyuruh bibi serta sopirnya untuk melakukan tugas yang diperintahkan.
setelah beberapa saat Zahra terlihat seperti tidak merasa nyaman, atau Zahra terlihat seperti ingin melakukan sesuatu dan matanya terus memandang ke arah kamar mandi, terlihat Zahra kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya dan sepertinya ia ingin buang air di kamar mandi.
"mmh kalau mau ke kamar mandi tunggu sebentar ya, sini aku bantu," Rahman menaruh ponselnya lalu menggendong Zahra dan membawa Zahra menuju ke kamar mandi. Yah seperti itulah suami yang sangat menyayangi istrinya jika memang istri perlu maka suami pun akan ikut masuk ke dalam kamar mandi, meskipun sedikit malu tetapi Rahman berusaha untuk bersikap netral agar Zahra bisa nyaman, Rahman pun berusaha untuk tidak melihat Zahra saat melakukan aktivitasnya.
"baiklah tunggu dulu sebentar pasti sebentar lagi supir akan datang," ucap Rahman saat telah mendudukkan Zahra di kasurnya.
"kamu tunggu dulu aja duduk yang nyaman, jangan khawatir pasti bibi akan segera datang," ucap Rahman
"kak?," Zahra memanggil Rahman.
"mmh," sahut Rahman saat hendak duduk.
"boleh aku minta bibi untuk memasakan sup rumput laut untukku juga?," ucap Zahra bertanya.
"iya memangnya kenapa?, Zara rasa kalau cuma rumput laut ya nggak apa-apa, kan itu juga enggak berbumbu keras itu cuma sayur bening doang," ucap Zahra dengan sedikit manja.
"hahaha iya iya baiklah aku telepon bibi lagi ya," Rahman menyempatkan diri untuk membeli wajah Zahra terlebih dahulu sebelum menelpon bibi yang ada di rumah.
setelah beberapa saat kemudian makanan Zahra pun datang, lalu Rahman bersiap untuk menyikapi Zahra meskipun saat akan menolak Rahman berkali-kali karena Zahra merasa bisa menyuapi dirinya, namun Rahman juga tidak kalah dengan keras kepalanya Zahra, Rahman memaksa dengan keras bahwa ia yang akan menyuapi Zahra Zahra Zahra baru saya sadar dan tenaganya masih belum pulih, Rahma juga menyimpulkan tidak baik untuk mengeluh dan berpikir yang terlalu berlebihan untuk orang yang sedang sakit, yang membuat Zahra pun luluh hatinya dan membiarkan Rahman untuk menyuapi dirinya.
"gimana enak gak? ini sesuai seperti apa yang kamu minta kan? aku berharap kamu puas," ucap Rahman sambil menyuapi Zahra dengan lembut, dan sarapan menganggukkan apa yang dikatakan Rahman juga menyempatkan dirinya untuk tersenyum.
dan ya sebenarnya yang membuat mereka canggung adalah, setelah Zahra baru tersadar kan dari komanya pun, mereka tidak terlupa dengan perceraian mereka, serta mereka pun masih memikirkannya hingga sekarang dan berharap bahwa bisa memperbaikinya atau menyelesaikannya dengan baik-baik, terutama Rahman agar Zahra ini dibujuk dan tidak berpikiran macam-macam.
setelah selesai makan beberapa saat kemudian ia pun kembali tertidur pulas dan beristirahat, Rahman mencium kening Zahra sesaat sebelum ia juga ikut beristirahat lalu ia tertidur dengan posisi duduk berada di dekat Zahra.
"tidur yang nyenyak sayang dan mimpi indah, lupakan semua masalah yang sering kita hadapi, percayakan kepada Allah insya Allah, Allah akan membantu kita, serahkan semua kepada Nya sayang jangan menyerah karena aku yakin kamu adalah wanita kuat yang Allah titipkan untukku," ucap Rahman bergumam lirih sambil membelai rambut Zahra yang berbalutkan dengan kerudung.
keesokan harinya keluarga berkumpul untuk mengunjungi Zahra, awalnya tidak boleh berkunjung ramai ramai karena pasien sedang kurang sehat Namun karena, Zahra kini telah sadar dari komanya jadi diberikan keringanan dengan memberi kesempatan kepada keluarga untuk berkumpul menjadi satu dengan mengizinkannya bertemu dengan Zahra, bukan hanya ayah dan ibu serta kakak adik kandung dari Zahra dan Rahman, akan tetapi Riska Alfi dan juga Yusuf ikut datang.
"Wah Yusuf sudah besar ya sekarang, sudah lama nggak bertemu Yusuf, tata Zahra rindu sama Yusuf," ucap Zahra tersenyum dengan memegangi tangannya Yusuf.
__ADS_1
"Mama tuh khawatir tahu mama seneng banget akhirnya kamu tuh bisa sadar," ucap Tini yang sangat senang dan bahagia karena Zahra kini telah sadar, terlebih lagi ia juga menangis bahagia karena melihat kondisi sekarang sudah semakin membaik.
"iya kamu itu bikin panik sekeluarga tahu, Mama sama kakak iparmu itu sampai nggak tenang setiap menit setiap jam setiap detik tuh pengen nyariin kamu doang, huuuu mereka tidak mengingat aku sebagai anak tertampan mereka," ucap Raditya dengan membuat sedikit lelucon serta bersikap manja.
"ih apaan sih kamu ini malu-maluin tahu, itu adik kamu sendiri masa iya kamu ngomong kayak begitu," ucap Nisa menepuk pelan lengan Raditya.
"hahaha kalian berdua ini ada-ada saja," ucap Andrean dan Yeni yang melihat tingkah keduanya.
"apaan sih berisik tau orang kak aku lagi istirahat," ucap Ramadhani yang nyerocos dengan celetuknya.
"mulai dah ni anak, jangan ikut-ikut dingin kayak Rahman ya sama kak arnius, orang cuma bercanda doang biar enak," ucap Meimei yang menyahuti kata-kata Ramadhani.
"ih apaan kanak-kanakan tahu," celetuk Ramadhani yang duduk di samping Zahra.
"kau pikir ini kekanak-kanakan ini itu dewasa cuma penuh kasih sayang kamunya aja yang enggak tahu," ya akhirnya kucing garong dan tikus pun berkelahi.
"sudah-sudah kalian berdua ini ada-ada saja, kasihan tahu lihat tuh kak Zahra nya dia capek," ucap Yeni yang menasehati Ramadhani dan juga Meimei.
"sayang kamu kenapa nggak kasih tahu kami sih kalau kamu itu sakit kan kita jadinya biasa hadapi bersama-sama kalau kita tahu," ucap Yeni mendekati Zahra dan membelai kepala Zahra.
"iya kamu nggak usah sungkan sama kita-kita kan orang tua kamu, jadi apapun masalah kamu tolong cerita jadi gampang kita itu menghadapinya sama-sama, bagaimanapun juga kamu adalah bagian keluarga kami jadi kamu nggak boleh untuk menghadapi masalah sendiri," ucap Andrean menyahuti kata Yeni.
"iya sayang kamu kan adalah menantu keluarga kami, jadi kamu juga adalah anak kami kamu adalah tanggung jawab kami, Mama enggak mau ya sampai nggak bertanggung jawab gara-gara Mama itu nggak perhatikan kesehatan kamu," imbuh Yeni.
"iya maaf ma Zahra salah,"
"iya nggak apa-apa kok sayang, iya kan kata dokter nanti setelah melihat keadaan kamu dia akan melakukan pengobatan yang selanjutnya jadi kamu mau ya, kita kemoterapi dan sepertinya sih ada operasi lagi," ucap Yeni.
"maaf ma Zahra mau kayak begini aja, Zahra nggak mau operasi udah cokup kayak begini aja saya udah bahagia," Jawab Zahra.
deg
"tapi sayang ini semua juga kan demi kebaikan kamu," ucap Tini yang langsung menghampiri Zahra dan memegang tangan Zahra.
"maaf ma Ayah kakak sama adik bahkan sahabatku, apapun yang telah menjadi keputusan awalku dan apapun yang terjadi sekarang aku nggak akan pernah merubahnya dan aku rasa keputusan awal aku itu udah benar dan aku tidak ingin hal yang terjadi kepadaku malah mengalihkan diriku, serta mengalihkan pikiranku untuk mengubah keputusanku," ucap Zahra dengan menundukkan kepalanya.
"maaf aku berharap kalian semua mengerti,"
"hmmmh," hening, sunyi, sepi kini terciptakan
bersambung......
__ADS_1
hai guys jangan lupa like comment favorit dan vote ya, dukungan kalian sangat berarti untukku bye bye see you next episode