
Senyum bahagia kini nampak jelas di wajah Riska dan Alfie karena setelah sekian lama penantian panjang yang telah menantinya bertahun-tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu dan pada akhirnya hari ini mereka bisa bertemu dan itu adalah suatu hal yang biasa terasa seperti mimpi dalam suatu khayalan yang tak bisa diwujudkan, mungkin memang bisa diwujudkan namun itu bukan hal yang mudah atau bisa dimasukkan dengan kategori mustahil tapi masih bisa dilakukan, Riska berlari sekuat tenaganya lalu ia memeluk Alfie. Alfie membalas pelukan Riska bahkan menciumi kepala dan rambut Riska lalu berbisik.
"i Miss u, really really Miss u so much," bisik Alfie dan mulai meneteskan air matanya karena ia sudah benar-benar merindukan Riska.
"i Miss u too," Riska membalas berbisik di telinga Alfie, ia sangat merindukan sahabat masa kecilnya itu 5 tahun sudah mereka tidak berjumpa, dan saat berjumpa sama sama sudah menjadi seorang gadis dan Pria dan tidak terbayang sudah bagaimana jadinya jika mereka tumbuh bersama dan bahagia bersama, mungkin hubungan mereka akan jauh lebih rendah yang sekarang.
"Woah masih sama aja style cowok, haha," Alfie menyandarkan kepala Riska di lengan nya, saat di dalam Taksi, lalu ia membelai lembut kepala Riska meskipun setengah mengejek Riska namun Alfie yang benar-benar menyayangi Riska merindukan kekesalan Riska dan Riska, entah kenapa mungkin para lelaki semua yang memang benar-benar menyayangi wanita yang di sayangnya ia selalu mengharapkan sifat wanita yang suka main jangan ngambek dan kesal namun menggemaskan, itu seolah-olah selalu memandang dirinya untuk membuat orang yang disayangi itu agar selalu kesal terhadapnya.
"hmmh setidaknya gua masih bisa merasakan empuknya lengan Lo kak yang bisa di jadikan bantal," ucap Riska dengan ketus dan Riska semakin menyandarkan kepalanya dalam tanpa memperdulikan perkataan Alfi karena ia memang benar-benar sudah merindukan sosok seorang kakak karena pada hakekatnya Riska tidak memiliki kakak kandung laki-laki, dan Alfi adalah satu-satunya seorang lelaki yang sukses membuat Riska berdasarkan saudara kandung lelaki dan dua Ayah karena Alfi sudah seperti ayahnya dan ayah kandungnya yang satu lagi di rumah.
"Lo?, gua?," Alfie terheran dengan membulatkan matanya dan sedikit menjauhkan kepalanya dari kepala Riska ia sungguh tak percaya dengan perubahan Riska sejauh ini tanpa dirinya, memanglah perkembangan zaman begitu cepat sehingga Riska yang polos pun tubuh seperti ini itulah pikirnya Alfi dalam benaknya saat ini.
"woah pergaulan kamu luas juga ya, udah bisa bilang Lo gua, ni ya aku itu di dunia bisnis ngak boleh bilang Lo gua, dasar," imbuh Alfie yang menyentil pelan kening Riska, niatnya Alfi yang ingin membuat Riska kesal tapi malah sebaliknya Riska lah yang membuat Alfi kesal dengan sikapnya yang blak-blakan kepada Alfi tapi jujur itu tak bisa dipungkiri bahwa Alfi memang benar-benar menyayangi Riska sampai saat ini, karena bagaimanapun perilaku Riska asalkan Riska masih selalu berkata jujur pada Alfi, Alfi akan selalu ada untuk Riska dan akan selalu menyayangi Riska sampai kapanpun itu juga.
"hehehehe, kan beda ka, Riska bukan dunia bisnis, bahkan ngak tau nanti mau jadi apa,?" ucap Riska dengan ceplas-ceplos nya dan juga Riska mengangkat bahunya karena ia juga berfikir sebenarnya cita cita nya itu apa? ia bahkan tidak tahu? karena selama ini ia tidak memiliki tujuan hidup yang pasti, hanya mengikuti jejak temannya yang selalu sekolah memperjuangkan sekolahnya dan mengincar ijazah, sudah itu saja tidak lebih selagi sahabatnya Zahra masih bahagia.
"oh my God, really? sekarang gini aku tanya Riska suka ngelakuin apa? yaa kaya hal hal yang bermanfaat gitu?," Tanya Alfie yang langsung membangunkan Riska dari sandarannya karena Alfi sungguh-sungguh tidak percaya dengan Riska yang benar-benar tidak memiliki tujuan hidup selain bersenang-senang.
"game, ngerumpi, kerjain temen," celetuk Riska dengan nada polosnya meskipun sebenarnya Riska tidak polos.
"what? huh! mulai sekarang aku akan bantu istriku ini untuk menemukan cita citanya, kalau kerja di kantor mau ngak? aku bisa ajarin Riska sedikit sedikit, terus latihan jadi karyawan magang di perusahaan aku mau?, dan tenang saja masalah komputer aku bisa mencarikan kamu guru privat yang bisa mengajari kamu secara cepat bagaimana belajar komputer dengan baik dan benar dan apapun itu asalkan kamu sudah memulai magang pasti kamu akan cepat dan pintar dalam melakukan pekerjaan aku tidak pernah meragukan sekitarmu Riska, karena aku percaya kepada istriku ini pasti dia memiliki kemampuan yang sangat hebat" Tawar Alfie dengan antusias.
"what serius!!," tanya Riska dengan semangat yang membuat Alfi senang.
"gak mau!," Riska membulatkan mata dan menggeleng kan kepala, yang membuat Alfie langsung kecewa kala itu juga.
"ya udah terus apa?,"
"gimana kalau gangster atau mafia di Jepang? bagus kan?," tawar Riska
"e bocah, seriusan!!," Alfi kesal dan menyentil kening Riska keras
"aww!! sakit tau!!,"
.......
"Zahra Tante boleh minta tolong ngk?," Yeni sekarang sedang berada di rumah Tini, ia berniat untuk berkunjung, hanya sekedar mampir tanpa ada keperluan yang khusus.
"iya ada apa tante?,"
"tolong ya belikan tante barang barang ini di supermarket, ya?," Yeni memberi selembar kertas yang berisikan daftar belanjaan.
"oh iya Tante,"
"tapi jangan pake Taksi, sama kak Rahman nya aja ya,"
"!!, Zahra bisa sendiri kok Tante hehe,"
"nak gapapa biar kamu bisa lebih aman juga kan?," Tini mengerti akan maksud Yeni yang ingin mendekatkan Zahra dan Rahman.
"tapi Tante bukan kah ka Rahman kerja ya? hehe," Zahra mencoba untuk mencari cari alasan agar bisa menghindar dari alasan para ibu ibu yang menginginkan dua sejoli ini bersama.
"ah itu....," ucap Yeni yang terpotong
"assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh, ma? Tante?," tiba tiba Rahman datang, dirumah Zahra ia datang diwaktu yang tepat bagi Yeni dan Tini.
"nah itu dia nak Rahman datang," Tini menyalami Rahman dengan perasaan gembira dan penuh dengan senyuman.
"ish," ketus Zahra kesal lalu membuang muka.
"memang kakak ngak kerja?," tanya Zahra yang langsung diberikan jadwal rapat yang telah selesai oleh Rahman melalui ponselnya.
"ya udah ayok ah," gerutu Zahra lalu pergi terlebih dulu ke luar. Rahman yang melihat kedua ibu ibu yang suka menjodohkan putra dan putrinya, memberi senyuman yang tak menyangka karena membiarkan putri tercinta marah hingga seperti itu
Zahra yang sudah menunggu di depan mobil, merasa begitu kesal mencaci maki mobil mahal yang berwarna hitam polos itu.
"hey! kenapa mobil harus polos begini sih warnanya hah? mau aku Pilok mau aku warnai huh?! kamu ngak lihat apa orang orang itu pake mobil warna warni ngak polos kek kamu," Zahra menunjuk nunjuk mobil Rahman lalu melihat ke arah jalan raya di luar gerbang.
"aaah, ternyata warna mobil memang polos semua," Zahra merendahkan suaranya karena ia merasa ia memang sudah berlebihan.
Rahman melihat Zahra yang sedang memasang mimik kesal, membuatnya geleng geleng kepala terlebih lagi ia heran melihat Zahra menunjuk nunjuk mobil kesayangan nya.
"ada ada aja," Rahman bergumam sembari berjalan mendekat pada Zahra.
__ADS_1
"sedang apa kamu? seperti ini, melakukan ini," Rahman meniru gaya Zahra yang menunjuk nunjuk mobil nya.
"!!!," Zahra menelan ludah, membulatkan matanya ia bertanya tanya sejak kapan Rahman datang dan melihat nya.
"apa lagi? jangan mikir yang macam macam, cepat naik," Rahman pergi menaiki mobilnya lebih dulu. Di dalam mobil Zahra menutup wajahnya berkali kali ia merasa sangat malu membayangkan bagaimana tingkahnya tadi saat Rahman belum datang.
"gimana hubungan kamu sama dia," Rahman membuka percakapan.
"ah?," Zahra ter bingung tak mengerti apa yang di maksudkan. Kenapa tiba tiba mengarah ke pertanyaan yang seperti itu
"huh! terlihat jelas dari wajahmu yang berjerawat, jerawat mu tumbuh tuh," Rahman tertawa sinis, terlihat jelas Rahman marah atau kesal, pada intinya ia tidak suka.
Zahra memasang wajah tanpa ekspresi, ia juga sama kesal nya dengan apa yang ia dengar barusan.
hmmh lalu apa masalahnya dengan mu hah, apa hak mu berbicara seperti, lihat lihat bahkan ekspresi mu saat ini sangat mengesalkan kau itu tuan Adiwijaya, jangan sok tampan. Zahra marah dalam hatinya, ia merasa sayang sekali karena ia tidak bisa mengeluarkan kata kata yang ada di dalam hatinya langsung untuk memarahi Rahman.
lihat lihat dengan ekspresi tanpa mimik seperti itu kamu bahkan terlihat sangat lucu, lalu bagaimana mereka tidak menyukaimu heish. Rahman memuji dengan kesal di dalam hatinya.
.....
beberapa saat kemudian...
Rahman sedang mendorong kereta belanjaan sedangkan Zahra sedang mencari cari bahan yang di tuliskan oleh Yeni, beberapa kali Zahra melihat barang barang yang ia inginkan namun ia teringat kembali bahwa ia terlupa membawa tas dan dompet nya karena pergi dengan kesal tadi.
"aaaaa cemilan rumput laut terbaru,"
" woah ini cemilan yang dingin di mulut itu kan ketika digigit kayak gulanya itu meleleh," Zahra berkali kali bergumam pelan namun menaruh kembali cemilan yang ia pegang.
"aaa body lotion selembut bayi ya Allah kenapa sampai terlupa siih," Rahman hanya terheran mendengar Zahra bergumam seperti itu yang diinginkan Zahra namun Zahra kembali meletakkan nya.
"aaa lipcream terbaru warna bibir nya menyatu banget kek warna bibir bayi," dan akhirnya Zahra hanya melihat saja. Rahman geram melihat Zahra yang terpukau dengan suatu barang namun Zahra bahkan tidak mengambil satu barang pun yang membuatnya tertarik. Rahman berfikir apakah ini cara wanita berbelanja? memilih lama lama sampai hatinya puas? atau takut nanti ada yang lebih baik?, kesal Rahman akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"hei kenapa sih?," Rahman mengagetkan Zahra yang sedang melihat lihat barang.
"apa?," tanya Zahra kesal karena terkejut.
"emang ngak boleh?, lagi pula juga dompet aku tu ketinggalan kalau ngak ketinggalan mah udah aku beli dari tadi," celetuk Zahra kesal. Rahman kemudian terdiam ia mengerti mungkin hal itu membuat Zahra merasa malu karena setelah itu Zahra lebih diam dan memilih untuk fokus pada apa yang disuruh kepada nya bahkan setelah Zahra selesai memilih barang barang ia langsung menuju mobil. Terdiam di depan mobil karena Rahman yang membawa kunci mobil, Rahman menerobos antrean dengan sebagai gantinya akan membayari siapa saja yang antreannya di terobos bahkan ia sampa mengeluarkan kartu kreditnya dan mendiamkannya di kasir sampai yang lain selesai dibayarkan.
Rahman menerobos antrean karena tidak ingin Zahra lama menunggu diluar mobil.
"masuk," Rahman membuka kunci mobil lalu memasukkan barang barang, dan saat itu juga Zahra masuk untuk duduk.
"tunggu bentar disini," pinta Rahman pada Zahra
"mau kemana?,"
"ambil kartu kredit," jawab Rahman lalu langsung pergi.
"jangan lama lama," Zahra setengah berteriak agar Rahman mendengar.
beberapa saat kemudian...
"ini," Rahman menyerahkan beberapa kantong plastik pada Zahra.
"apa ini?," tanya Zahra pada Rahman yang sudah mulai fokus menyetir
"periksa aja, tadi aku agak lupa barang mana aja yang kamu pegang," jawab Rahman tanpa melihat.
"!!," Zahra terkejut karena ia melihat semua cemilan dan perawatan yang ia inginkan lengkap bukan hanya satu tapi sampai lima bahkan ada barang barang lain yang tak pernah dipegang Zahra tadi mungkin karena Rahman ragu jadi ia membeli yang lainnya juga, belum lagi banyak ice cream vanila yang bermacam macam varian rasanya, Rahman ingat Zahra sangat menyukai ice cream vanilla oleh karena itu ia sekalian membelikannya untuk Zahra.
"kenapa banyak sekali?,"
"apa? ice cream? bisa ditaruh di kulkas kan nanti sisanya, sekarang makan aja dulu apa yang kamu mau biar ngak bosen sisanya taruh kulkas," Rahman masih fokus menyetir.
"bukan tapi tapi kosmetik perawatan," Zahra memperlihatkan lipcream dan lipstik pada Rahman.
"kenapa? ada yang ngak kamu suka? mana yang kamu suka pakai aja, yang ngak kamu suka tinggal buang, aku kurang tau soalnya,"
"ih main buang aja, mubazir tau,"
"ya udah kasih orang aja, gampang kan," saran Rahman yang langsung membuat Zahra kesal
__ADS_1
"heish lagian kenapa ngak bilang bilang sih sama aku biar Kaka tau yang mana yang mau dibeli,"
"emang kamu mau kalau aku tawarin?," pertanyaan Rahman membuat Zahra terdiam karena sejujurnya ia akan menolak jika ditawari untuk di berikan sesuatu oleh orang lain selain keluarga utama dan sahabatnya.
"ngak kan? ya udah terima aja kalau begitu," imbuh Rahman yang melihat Zahra hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Rahman.
.....
di rumah Zahra bertemu dengan memei yang baru saja datang kerumah Zahra. Memei melihat barang barang bahkan camilan yang dibawa Zahra.
"woaah memei mana kak?," memei melihat lipcream dan body lotion yang dibawa Zahra.
"kamu bisa beli sendiri kamu juga ada kartu kredit yang di kasih ayah," celetuk Rahman.
"tapi itu terbatas kak, mamah bisa bisa marah nanti," memei melihat ke arah Yeni yang sedang berbicara dengan Tini, seketika itu juga Tini melihat kearah Memei yang dibalas cengiran oleh Memei.
"ambil punya Kaka aja de, itu juga banyak lebih dari cukup lah," tawar Zahra bahkan ia merasa tidak enak karena menghabiskan banyak uang Rahman, apa lagi kalau ia mengingat nota belanjaan yang berjuta juta jumlahnya.
"woah beneran ka, enak nih kalau punya Kaka kayak begini," Memei senang dan Zahra tersenyum, Memei langsung memilih milih lipcream dan lipstik yang ia inginkan.
"eh ga ada ga ada ngak boleh,"
"yah kenapa orang ka Zahra aja ngijin,"
"ni nih, kamu beli pake kartu kredit Kaka, beli apa aja yang kamu mau," Rahman mengeluarkan salah satu kartu kreditnya
"woaah serius?,"
"iya, tapi minta Ramadhani untuk menemani kamu, ngak baik anak gadis pergi sendirian,"
"siap," jawab Memei sigap.
"Dhani temenin yuk, kita shopping, nanti apa yang Dhani mau dibayarin kak Rahman," Memei setengah berteriak pada Dhani yang sedang fokus mengerjakan tugas dengan laptop diruang tamu.
"woah serius? kuy lah ka," Dhani langsung meninggalkan tugasnya dan bergegas pergi dengan Memei, Zahra yang melihat tingkah adiknya itu hanya tertawa geli. Bahkan Yeni dan Tini juga ikut tertawa melihat tingkah laku anak mereka masing masing.
***
"kak kok bisa balik Indonesia dengan begitu cepet ?, bukannya belum waktunya ya," tanya Riska pada Alfie, Riska kini sedang berada di apartemen Alfie untuk membantu Alfie beres beres.
"ngak apa apa sih aku kan Rindu sama istriku,"
"heish Kaka ini hahaha," Riska tertawa karena mendengar perkataan Alfie yang selalu menyebutnya sebagai istriku.
"sangking rindunya aku pengen cium Riska boleh?," tanya Alfie.
"woahh pertanyaan macam apa itu? Kaka kan emang udah biasa cium kepala Riska, tadi aja rambut Riska ciumin hahaha," mendengar perkataan Riska Alfie ikut tertawa ternyata apa yang dikatakan Riska benar juga, padahal ia memang sudah terbiasa melakukan itu pada Riska dari kecil.
"Riska umur berapa?,"
"17 tahun,"
"aku 23 tahun, cuma beda 6, tahun ngak apa apa dong yah kalau Riska nikah sama aku, biar jadi istri beneran," Alfie tertawa kecil mengeluarkan kata kata nya itu.
"hahaha apaan sih, oh iya ini apa, kok kaya baju cewek," tanpa menghiraukan perkataan Alfie Riska menunjukan sebuah tas yang berisikan pakaian wanita yang terkesan begitu mewah, anggun dan mahal, bahkan ada beberapa aksesoris dan high hills.
"itu untuk kamu, aku beli di butik ternama di Amerika bagus kan, kamu jarang nemuin kaya begini di Indonesia, harus impor dulu," ucap Alfie sambil menunjukkan label butik yang tertera.
"woah pasti mahal, ya kan?," Riska bertanya dan dijawab dengan anggukan oleh Alfie.
"tapi aku ngak suka pake pakaian wanita kak hehe maaf ya Kaka simpan sendiri aja,"
"eh ngak bisa, kamu ngak kasihan apa masa iya aku cowok nyimpen beginian, lagi pula kan bentar lagi acara perpisahan kelas XII di sekolah kamu, biasanya kan mengadakan pesta kecil kecilan, nah bisa pake untuk kesana tuh,"
" males tapi tau kak," Riska cemberut dengan melihat lihat pakaian itu kembali.
"tapi gapapa deh, boleh di coba," imbuh Riska karena ia juga ingin berpenampilan seperti wanita. Riska tersenyum membayangkan dirinya mengenakan pakaian real wanita untuk pertama kalinya.
"Riska?," panggil Alfie
"iya.." Riska melihat kearah Alfie lalu terkejut karena Alfie mengecup pipi Riska, hingga hidungnya pun bisa menyentuh pipi Alfie
bersambung....
__ADS_1