
Zahra sekarang sedang berada di tempat tidur nya, ia membuka matanya dengan perlahan dan dilihat nya didekatnya sudah ada orang tua dan saudara nya yang menemani, seperti menunggu kesadaran akan dirinya itu
"ka, jangan khawatir Dhani akan carikan Kaka yang lebih baik bahkan yang bisa membuat Kaka langsung move on dalam sekejap jadi jangan khawatir ka, Dhani adalah tipe lelaki yang sejati jadi pasti akan berteman dengan yang sejati juga," Ramadhani berusaha untuk menghibur Zahra, bahkan ia menggenggam tangan Zahra yang terasa dingin, dhani meskipun memiliki wajah yang seperti kakak dan ayahnya, bahkan diantara mereka bertiga dan wilayah yang memiliki wajah yang paling dingin namun jujur dia adalah orang yang paling bertanggung jawab dan kami punya yang di antara mereka, karena dari kecil dani telah menanamkan rasa tanggung jawab terhadap dirinya terhadap kasih sayang yang tulus kepada keluarganya dan tidak pernah memainkan perasaan orang yang ia sayang, dari kecil akan selalu berubah lagi banyak orang yang biasanya apapun itu harta makanan apapun itu baginya keluarganya adalah nomor satu dan setelah keluarga baru yang lainnya.
sebenarnya Zahra tidak enak hati karena telah membuat keluarganya merasa khawatir kepadanya, Zahra selalu ingin menjadi sosok yang sangat kuat di hadapan keluarganya terutama, lalu di hadapan sahabat dan orang-orang yang ia sayang, namun apalah daya jika saat ini Zahra tidak bisa menjadi orang yang kuat tidak bisa memunculkan sosok dirinya yang kuat, hanya kerana dirinya telah terluka oleh janji seorang insan yang tiada sempurna adanya, dan dia sangat terluka sehingga menunjukkan sisi dirinya yang sangat lemah di hadapan keluarganya saat itu dan Zahra benci itu.
"ma," Zahra dengan lirih menjulurkan tangannya pada Tini sangat membutuhkan kasih sayang dan pelukan yang hangat dari seorang ibu apalagi tidak ada seorang wanita seseorang yang paling mengerti dirinya terutama dialah yang melahirkan Zahra melalui rahimnya sendiri bagaimanapun orang lain mengerti dirinya namun kasih sayang Tini sepanjang masa dan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya meskipun ayahnya berusaha untuk menyayangi nya namun tetap saja dia adalah sosok seorang wanita yang sangat kuat dan tangguh yang berhasil mendidik Zahraa hingga sebesar ini se dewasa ini sehingga Zahra selalu embutuhkan pelukan yang hangat dari Tini di saat masa masa tersulit ya itu. Tini yang mengerti mengapa Zahra menjulurkan tangannya dengan lemah dan lesu langsung meraih tangan Zahra, yang kala itu Zahra berusaha untuk terbangun dan memeluk Tini.
Saat itu juga tangis Zahra pecah sejadi jadinya di dalam pelukan Tini. Ya sekarang yang paling dibutuhkan Zahra adalah kehangatan seorang ibu, Zahra benar-benar tidak bisa menahan tangisnya, ia benar-benar merasa terluka merasa ter khianati, di saat pertama kali ia mencoba untuk memberanikan dirinya membuka hatinya untuk lelaki namun apalah daya ternyata lelaki itu mengkhianati nya saat mereka sedang berjuang bersama-sama meskipun dalam jarak yang jauh. kecewa? pasti siapa yang tidak akan kecewa setelah mendengar semua kabar yang meretakan hatinya berkeping-keping dengan melihat sejuta kenangan, yang kini harus lagi ngapain juga hancur berkeping-keping karena hanya akan membuat rasa sedih pada diri Zahra, seolah-olah sebuah memori yang telah jatuh di robek digunting dipatahkan berkeping-keping dan tidak bisa kembali utuh namun masih akan tetap ada dalam memori tersebut semua hal-hal yang telah direkam dalam sebuah nomor itu hanya saja rekaman itu sudah hancur bersama dengan memorinya.
Marko mengerti bagaimana perasaan putrinya saat ini, hal itulah yang ia takutkan oleh karenanya ia tak ingin melihat Zahra terlalu dekat dengan seorang lelaki karena untuk berani jatuh cinta harus siap dengan rasanya putus cinta atau patah hati. Marko membelai pelan kepala putrinya dan pergi keluar memberikan ruang untuk Zahra dan Tini, diikuti oleh kedua putra yang pergi meninggalkan ibu dan anak itu berdua saja.
dalam lubuk hati yang terdalam nya Marco tidaklah tega melihat anaknya seperti itu ia adalah lelaki yang rendah hati dan tidak akan kuat, untuk melihat putri semata wayangnya menangis tersedu-sedu seperti itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Marco melihat putrinya menangis seperti itu menangis yang sangat histeris, bahkan seingatnya saat Zahra masih kecil dan Tini meninggalkannya untuk pergi ke pasar sebentar Zahra tidak menangis se histeris itu dan itu benar-benar membuat hatimu terluka.
"mah?," Zahra memanggil Tini lirih dengan suara gemetar dan masih dalam pelukan Tini tubuhnya sungguh bergemetar di juga lemas mungkin jika berdiri maka akan oleng dan terjatuh.
"iya sayang," Tini mengelus kepala Zahra dengan pelan dan penuh kasih sayang seolah memberikan kekuatan dan kepercayaan kepada Zahra bahwa masih ada orang yang begitu menyayanginya dan sanggup memberikannya kekuatan di belakangnya.
"aku salah ma," ucap Zahra lirih kepada Tini yang mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"salah karena apa sayang?," tanya Tini yang mencoba untuk meredakan tangis Zahra karena sudah cukup lelah Zahra mengeluarkan air matanya begitu banyak sehingga dirinya pun begitu lelah dan lemas
"Zahra salah sama Allah, Zahra terlalu berharap kepada seorang insan yang Zahra bahkan belum tau bagaimana dia sebenarnya. Zahra telah membuat Allah cemburu mah, Zahra membuat Allah merasa sakit hati sehingga Zahra juga pantas merasakan sakit hati ini," ucap Zahra yang Masih dalam suara gemetar Zahra mengeluarkan isi pikiran nya. Ia mengingat ngingat bagaimana kenang kenangan yang pernah ia lalui, bagaimana perjuangan Reza yang begitu bersungguh sungguh hingga mampu membuat hati Zahra luluh kepadanya, mendengar perkataan Zahra sontak Tini merasa sangat sedih, ia tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan anaknya saat itu, pasti sakit dan kecewa karena telah menaruh tanaman harapan yang begitu dalam pada seseorang namun dicabut secara paksa.
"ngak apa apa sayang ini bukan sepenuhnya salah Zahra," Tini menciumi kepala Zahra pelan dan membelai Zahra mencoba untuk menanamkan Zahra agar suara tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri, Dan Tini pun berfikir apakah ini juga yang dirasakan oleh Zahra almarhum sahabatnya dulu? dia yang selalu menangis dan merasakan kesedihan yang selalu menyalahkan dirinya sendiri padahal bukan hadiah yang salah.
"ma, Zahra minta waktu untuk sendiri boleh?," Zahra melepaskan pelukannya dan memberikan tatapan sendu kepada tim tambah lagi matanya sudah sangat membengkak memandangi Tini dengan sangat dalam, ia merasa tenang jika tini berada di sisinya namun ia juga merasa membutuhkan waktu untuk sendiri.
"iya sayang tentu saja, yang semangat ya sayang, Allah tau yang terbaik skenario Allah itu tidak pernah salah ingat kata kata mamah ya sayang," Tini membelai kepala Zahra dan mencium kening Zahra.
"iya ma, Zahra pasti ingat," Tini pun pergi meninggalkan Zahra seorang diri, ia mengerti bahwa mungkin saat ini Zahra membutuhkan waktu untuk menjernihkan fikiran nya.
Tini menemui Marko yang sedang duduk di ruang tengah. Sedangkan Raditya dan Dhani sedang berada di ruang belajar.
"pah," Tini memegang pundak Marko.
"iya sayang, aku khawatir pada putri kita," Marko menarik Tini untuk duduk di dekatnya, dan Marko menyandarkan kepalanya lalu memeluk pinggang Tini.
Didepan orang orang Marko terlihat gagah dan perkasa namun di hadapan anak anaknya ia menjadi seorang ayah yang penuh dengan candaan seperti seorang sahabat, bahkan berbicara pun selalu asal asalkan selagi bahasa yang digunakan masih sopan.
Terlebih lagi jika di depan Tini istri tercintanya, ia selalu menunjukkan sisi lemahnya, hatinya begitu lembut dan rentan terhadap wanita, Marko tidak bisa melihat istri ataupun anak nya menangis maka ia juga akan tergetar hatinya untuk menangis bersedih, juga berfikir untuk membalas perbuatan yang telah membuat anak istrinya mengeluarkan air mata, hanya Zahra dan Tini berkali kali mengingatkan bahwa balasan Allah itu lebih kejam dan perih rasanya.
"Zahra kuat ko pah, dia anak kita," Tini memeluk leher Marko dan membelai Marko, yang badan nya serasa panas tak tahan mengetahui keadaan putri tersayang nya.
....
"tuh kan aku bilang apa Ka! yang ada sekarang ka Zahra malah terluka kan?," Dhani merasa kesal se kesal kesal nya.
__ADS_1
"udah udah kamu itu masih anak kelas satu SMA ngerti apa kamu, belajar dulu aja yang rajin, Minggu depan kamu ujian akhir semester kan?," Raditya memukul pelan kepala Ramadhani karena geram dengan celetukan adik nya itu.
"sebentar lagi umurku tujuh belas tahun ka, jadi aku bisa dengan sempurna menjaga ka Zahra!, memang Kaka ngak marah apa?, meskipun ka Zahra suka marah marah dan suka sekali memukul ku, tapi aku tau itu karena dia sayang dan bagaimana pun juga aku sangat menyayangi dia, tidak ada yang boleh membuatnya menangis." Ramadhani mengepalkan tangannya geram, Raditya yang melihat itu berfikir sebenarnya Ramadhani terlalu mengikuti sifat Tini yang bila benar benar marah maka akan sangat menyeramkan, itulah ikatan darah antara ibu dan anak, bagaikan buah tak jatuh jauh dari pohonnya.
"ya marah lah tapi mau gimana lagi? mau mukul sekarang juga ngak bisa mengembalikan keadaan iya kan," Raditya melihat Ramadhani yang semakin mengepalkan tangannya.
"de kita harus sabar, dan bersyukur masih untung Allah tunjukan itu sekarang, berarti Allah ngak mau Zahra menikah dengan orang yang salah. Pikirkan baik baik, bagaimana kalau seandainya mereka sudah menikah baru hal itu terjadi kan lebih parah jadinya," jelas Raditya yang berhasil membuat Ramadhani mengendorkan kepalan tangan nya bertanda Ramadhani sudah bis menyerap hikmah nya.
....
Di dalam kamar Zahra memeluk lutut nya, menghadap jendela, melihat bagaimana matahari ternyata sudah terbenam, dan dia malah belum bersiap untuk melaksanakan shalat magrib.
Zahra berputus asa ingin rasanya menyalahkan takdir dan kehidupan namun ia sadar, bahwa yang salah adalah dirinya karena jelas jelas Allah sudah memberikan peringatan melalui firman-nya dan sabda Rasulullah tapi Zahra malah ingkar. Mungkin mereka tidak pernah bersentuhan langsung, tapi dengan berharap lebih dan memberikan kedekatan yang berlebihan adalah sesuatu yang salah, dan sudah berdosa. Ditambah lagi oleh karena hal itu Zahra jadi tidak menundukkan pandangan nya dari seorang pria.
Zahra sadar akan kesalahannya lalu bergegas mengambil air wudhu nya, menyembah tuhan yang maha esa dan meminta maaf yang sebesar besarnya atas kesalahan yang telah ia lakukan hingga mendapatkan peringatan berharga seperti ini.
"Ya Allah hamba sungguh sungguh minta maaf lain kali hamba akan menjalani ta'aruf untuk lebih mengenal seorang insan mu ya Allah, maaf karena tidak melaksanakan istikharah mu terlebih dahulu karena hamba berfikir ini masih belum waktunya. Dan ternyata hamba salah ya Allah maafkan hamba, hamba khilaf," Zahra mengangkat tangan nya tinggi tinggi dan menangis sesegukan menyesali apa yang terjadi ia kembali teringat bagaimana semuanya bisa ia lalui begitu saja.
Dua Minggu berlalu Ramadhani sudah melewati ujian akhir semester nya, dan Raditya juga sedang mempersiapkan surat surat untuk melamar pekerjaan, karena ia telah lulus menjadi sarjana dua, dan memiliki cukup pengalaman bekerja.
"woah Zahra sebentar lagi akan kuliah, anak ku yang paling besar sudah akan bekerja menjadi sebuah karyawan, semangat sedikit demi sedikit yang penting lancar," Marko memberi semangat pada Raditya.
"dan putraku yang paling kecil, dia sudah naik kelas dua SMA aku tidak menyangka anak anakku sudah besar semua dan mengingat kan aku yang sudah tua ya, hahaha," Marko merangkul Ramadhani yang fokus dengan game di tangannya.
Tini yang mendengar Marko berkata demikian, jadi tersenyum lebar. Sedangkan Zahra masih terlihat lemas, ia hanya menunduk dan sesekali tersenyum namun tidak seceria biasanya.
"woah tentu saja hehe karena usiaku yang tua jadi aku tidak terlalu bekerja yang berat hehe rasanya sebentar lagi aku akan pensiun," Marko menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu mengingat umur.
"haha papah ada ada aja, siapa sih yang mengira papah tersayang ini tua ha? papa tetap terlihat muda ko," Tini menggoda Marko didepan anak anaknya, membuat Ramadhani dan Raditya merasa jijik, sedangkan Zahra tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu.
***
"woaahh!! segar sekali udaranya!!," Marko membuka tangannya lebar lebar menikmati udara yang masuk kedalam tubuhnya.
"AA!!! , aku bebas!!," Zahra berteriak dipinggir pantai sambil berlari saling kejar dengan ombak di pinggiran pantai.
Marko dan Tini dan Raditya juga Ramadhani terkejut mendengar Zahra berteriak begitu kencang, mereka kembali berbahagia karena melihat Zahra kembali ceria, Marko bersyukur karena ternyata keputusan untuk berlibur adalah keputusan yang tepat.
iya benar, aku harus seperti air ombak, tidak menyerah sampai kapanpun itu akan terus berlari mengikuti arus tidak boleh terjebak pada satu masalah, harus bisa menemukan jati diri sendiri dan tetap semangat. Berjuang untuk menggapai kesuksesan. Bukan hanya kesuksesan dengan meraih cita cita tapi bisa memberi kebahagian kepada orang tua dan keluarga melalui kebahagiaan yang di dapat sendiri. Zahra tertawa masih berlari saling mengejar dengan air ombak yang datang dan pergi menghilang tapi dapat dipastikan air itu akan selalu datang karena ia pergi bukan untuk selamanya melainkan untuk memberi peluang bagi orang orang untuk mengejarnya.
Hari sudah petang mereka kini sudah bersiap siap untuk pulang. Didalam perjalan banyak yang tertidur karena kelelahan terutama Zahra, mungkin karena beban hati Zahra yang terpendam belakangan ini, karena ia sering menangis? ataupun karena ia telah merasa bebas seperti apa yang ia teriakan di pantai? tidak ada yang tau. Hanya Zahra dan Allah lah yang paling tau pasti.
Dua Minggu berlalu. Sudah saatnya bagi Zahra untuk datang ke kampus untuk menjalankan masa pengenalan lingkungan
Saat malam tiba, Marko begitu merindukan Tini ia memeluk Tini di balkon kamarnya, mereka sama sama memandang ke arah langit, dengan mencurahkan hati mereka.
"Malam ini terlihat begitu cerah ya ma," tangan Marko mulai nakal.
__ADS_1
"haha kenapa pa?,"
"Ma bagaimana kalau kita memiliki satu anak perempuan lagi?,"
"ah??,"
Marko mengangkat Tini yang berbadan kecil menuju tempat tidur.
"ah? aaa ahahaha,"
Malam itu terasa sangat panjang bagi suami istri ini dengan kebahagiaan yang bertaburan dirumah mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka penjagaan dirumahnya saat itu sedang renggang, mereka memiliki dua satpam, namun saat salah satu satpam sedang keliling satpam yang satunya pergi ke kamar mandi karena sakit perut. Disaat itulah Angel dapat memasuki rumah mereka. Tini merusak rem mobil Marko karena ia mengetahui bahwa Zahra biasa diantarkan oleh Marko, dan karena hanya ada sedikit waktu yang dimiliki jadinya Angel hanya berhasil merusak rem mobil Marko, tidak dengan rem mobil Raditya.
"kita lihat besok saja gadis kecil apakah kamu masih bisa bertahan dengan kejadian ini, nikmatilah kebahagiaanmu malam ini karena esok pagi kamu akan pergi menemui tuhanmu," Angel bergumam karena telah berhasil keluar dari rumah Zahra setelah merusak rem mobil Marko.
keesokan paginya...
"Zahra kamu ke kampus hari ini ya nak?," Tanya Marko pada Zahra.
"iya pah memang kenapa," jawab Zahra yang mulai menyantap sarapan paginya.
"begini sayang kamu diantar sama ka Raditya ya, papah buru buru soalnya ada jadwal penerbangan pagi hari ini yang ditugaskan untuk papah gapapa ya sayang,"
"iya papah gapapa,"
"kamu ngak buru buru kan Raditya?" tanya Marko.
"tenang komandan, ketenangan dan kenyamanan anda adalah prioritas nomor satu untuk kami," jawab Raditya yang membuat seisi rumah penuh dengan tertawa.
Marko bergegas ingin pergi ia mencium kening anak anaknya satu persatu juga mencium dan memeluk Tini, saat Marko sampai pintu ia sempat kembali lagi hanya untuk menciumi dan memeluk anak anak serta isinya.
"kenapa pah tumben banget," ucap Tini yang dipeluk sangat lama dan sangat erat oleh Marko.
"iya nih pah, tumben banget gerah tau," ketus Ramdhani dengan dingin namun hatinya sayang. Mendengar Ramadhani kesal Marko jadi tertawa dan semakin memeluk Ramadhani karena ia semakin tertarik untuk membuat anaknya kesal.
"ooo cucucu papah hanya sangat merindukan kalian, ya sudah nanti ngak kelar nih. Assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh," Pamit Marko yang diantar hingga depan oleh Tini. Tini melambaikan tangannya pada Marko dan tersenyum lebar.
Tini lalu berbalik dan berniat untuk masuk kedalam rumah.
BRAKK
Tini terkejut dengan suara rem mendadak dan seperti suara tabrakan yang sangat keras. Tini segera berlari kecil melihat ke arah suara itu berasal, dan ia melihat mobil Marko menabrak sebuah truk pasir.
"PAPAH!!,"
Bersambung....
__ADS_1