Cinta Zahra

Cinta Zahra
persahabatan


__ADS_3

Aria kini telah di perbolehkan untuk kembali kerumahnya, dan ini adalah saat pertama kalinya bagi Zahra yang masuk ke dalam kamar Aria itupun dikarena Aria yang sedang sakit, ia harus mengurus Aria yang masih kurang sehat, awalnya Aria menolak karena harus di urusi oleh Zahra namun dengan berbagai macam alasan akhirnya Tari dapat meyakinkan Aria agar Aria mau untuk di urusi oleh Zahra.


"tapi Zahra, kenapa kamu tidak tidur sekamar dengan Aria?,"Tari bertanya tanya karena sedari tadi Zahra melihat barang barang Zahra dan Azan berada di ruangan yang berbeda dengan Aria. Dengan rasa bingung Zahra melihat kearah Aria menunggu instruksi namun dengan sikap Aria yang acuh tak acuh seperti tidak ada masalah, akhirnya Zahra pun memutuskan untuk menjawab sendiri, dia lalu memandang tari dengan penuh senyuman.


"aku sengaja buk, Azan terlalu cerewet, dia kan masih terlalu aktif, dan mas Aria sedang sakit aku takut yang ada Azan malah mengganggu mas Aria, besok kalo mas Aria sudah pulih, kami juga akan sekamar lagi ko bu," jawab Zahra dengan penuh ketenangan dan kelembutan


ternyata kamu tidak membocorkan nya pada ibu, apakah ternyata citra suami itu sangat penting bagimu, sehingga harus menutup nutupi kesalahan suamimu, ingat aku sudah memiliki wanita yang kucintai aku tak bisa mencintaimu , tak akan bisa. Aria melirik Zahra yang masih tersenyum dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang keluar dari mulut Tari


"ohh jadi begitu," Tari mengangguk, ia mengerti mungkin ini memang akan membuat Aria yang sedang sakit sedikit terganggu, namun tari masih saja merasa khawatir karena sikap Aria di RS tadi.


Tari takut bahwa selama ini ternyata Aria tidak memperlakukan Zahra dengan baik, ke khawatiran itu bisa ter nampak jelas dari bagaimana cara Aria memperlakukan angel di rumah Sakit saat bertemu.


***


"hah! baiklah nak Zahra," Tari menarik nafas panjang." aku tidak tau harus berkata apa lagi untuk kalian dan memang banyak yang merasuki pikiranku tentang kalian, tapi aku percayakan semua ini padamu nak aku percaya bahwa kamu pasti sanggup menangani semua nya, kalau ada apa apa tolong hubungi ibuu ya, maaf karena aku tak bisa berlama lama disini, masih ada sesuatu yang harus di urus dan memang itu begitu penting," jelas Tari


"iya ibu tidak apa apa, jangan khawatir Zahra akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjaga kepercayaan ibu," Zahra menjawab masih dengan senyumannya yang lebar


"mungkin seharusnya seorang ibu dari anak perempuan lah yang mengatakan ini, tapi kali ini seorang ibu dari anak lelaki yang akan mengatakan ini," Tari mulai serius lebih serius dari biasanya.


"tolong jaga anak ku ya, jaga dia dari dunia akhirat nya, apapun yang terjadi kumohon bersabarlah dan bertahanlah jangan pernah tinggalkan anakku," genggam Tari pada tangan Zahra


"iya bu, aku mengerti aku tidak akan pergi kecuali maut yang memisahkan kita dan jika mas Aria yang memang berkeinginan untuk meninggalkan ku,"


Tari pun pergi meninggalkan Zahra dengan penuh ketenangan.


****


Zahra kini berada dikamar Aria membawakan bubur untuk Aria.

__ADS_1


"mas mari makan dulu,"


Aria pun terbangun dan mengambil posisi duduk di pinggir kasur.


"aku suapi ya?," tawar Zahra


"iya boleh," jawab aria dengan mengangguk tak merasa keberatan.


setelah beberapa suap Aria melihat Zahra yang tersenyum.


"kenapa?," tanya aria,


"ah gapapa,"


Aria pun membuang muka, tak puas dengan jawaban Zahra.


"baiklah, ekhem aku bukan salah paham kenapa mas mau disuapi jadi mas juga jangan salah paham" jawab Zahra. Aria pun menoleh kearah Zahra.


"hmmh boleh juga," jawab aria tersenyum, mereka pun tertawa bersama. meskipun kamar mereka masih terpisah namun hubungan yang mereka jalin kini semakin dekat.


satu bulan berlalu..


Aria dan Zahra kini benar benar menjadi seorang teman sudah tiada kecanggungan lagi diantara mereka. Aria kini sedang bekerja dengan leptop nya di sofa, di ruangan tengah pada tempat yang sama dengan Azan dan Zahra yang sedang bermain dilantai.


"uhhh anak mamah haha dibilang panggil ibu tapi manggilnya mamah, lebih gampang bilang mamah ya sayang,ucucuu," Zahra menciumi azan dan mengelitikinya, mereka tertawa terbahak bahak, tak jarang canda gurau Zahra dan Azan menarik perhatian Aria sehingga mampu membuat Aria untuk ikut tersenyum melihatnya.


Zahra mengajari Azan berjalan dengan perlahan lahan dan akhirnya azan bisa melangkah kan kakinya sendiri.


"aaaa anak mamah sayang bisa jalan, sini nak,!" teriak Zahra yang begitu senang meminta Azan untuk berjalan menuju Zahra pada langkah langkah pertama nya itu, Aria yang mendengar bahwa Azan sudah bisa berjalan melihatnya, dan ikut bahagia. Azan berbalik arah yang awalnya pada Zahra menuju pada Aria, Aria terkejut.

__ADS_1


"ah jangan kesini, sanah ke ibumu saja," lambai Aria namun Azan malah semakin tertawa, azan terjatuh Aria bergegas ingin mengambilnya namun niat nya diundurkan saat Azan berusaha sendiri untuk terbangun, Aria pun membuka tangan lebar lebar untuk azan, azan dengan tertawa menuju Aria dan dipeluk lah Azan oleh Aria. Zahra yang menyaksikan hal itu merasa sangat bahagia.


Aria menggendong Azan kesekeliling rumah meskipun sudah malam, namun Aria begitu ingin membawa Azan berbelanja disekitar dan membawanya berjalan jalan, entah hati Aria saat ini begitu menginginkan Azan untuk terus tertawa padanya atau apa intinya ia ingin agar Azan tetap seperti ini ke pada dirinya. Zahra yang membiarkan Aria dengan Azan pergi untuk berberes sementara mereka berdua pergi.


Azan menginginkan mobil mobilan yang ada remotnya yang dijual di sebuah mall, saat mereka memasuki mall


"ah azan mau ini ya nak?, kita beli satu ya untuk azan, azan mau apa lagi?," Aria memegang main mainan tersebut sembari menggendong Azan, pegawai yang menyaksikannya begitu tertarik dan tersenyum berkali kali


"saya beli mainan ini," ucap Aria pada pegawai disana, pegawai itu dengan sigap melayani Aria, Aria kini sedang di kasir ingin membayar.


"ini barang anda tuan totalnya Xx, ah ini anak tuan ya maaf saya lancang, tapi anaknya begitu imut sama seperti tuan," kata pegawai kasir sembari memberi kembaliannya


"ah haha iya dia memang anak ku, baik azan sekarang kita mau kemana,?" seru Aria merasa bahagia, sudah lama ia tak merasa seperti itu.


setelah beberapa lama berbelanja, Aria mengajak azan bermain dikamar Aria, dan tertidur aria pun menggendong Azan dan menidurkannya dikasurnya, ia tersenyum memandang wajah azan, dibelainya kepala azan,


tok tok tok


suara ketukan pintu kamar Aria


"masuk," kata Aria saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya dan masuklah Zahra kedalam. ia melihat azan yang tertidur pulas dikasurnya Aria.


"ah maaf merepotkan mu, sepertinya azan tertidur aku akan memindahkan nya," ucap Zahra kikuk.


"tidak, biarkan saja dia tertidur,"


"ah kalau begitu besok pagi aku akan memindahkan nya,"


"tidak usah mulai sekarang kamu dan azan tidur dikamar ku," ucap arian memandang zahra, Zahra tersenyum dan mengangguk

__ADS_1


"i iya baik," meskipun sebenarnya Zahra merasa sedikit terkejut sebenarnya ia senang dan menutupi perasaannya itu


bersambung....


__ADS_2