Cinta Zahra

Cinta Zahra
Zahra


__ADS_3

Kini suram gelap gulita, Zahra kini sedang berada di atas kasur kasur dorong. Rahman yang mendapati Zahra terjatuh pingsan di depan pengadilan langsung membawanya ke rumah sakit bukan hanya Rahman begitupun juga dengan Raditya mengetahui keadaan Zahra sangat cemas dan juga mengkhawatirkan.


dokter memasuki Zahra ke dalam ruang pemeriksaan Rahman dan Aditya menunggu di luar dengan perasaan cemas dan khawatir. Rahman bertanya-tanya dalam dirinya apa yang terjadi pada Zahra kenapa bisa sampai seperti itu. Rahman melihat kearah Raditya dengan penuh pertanyaan yang sangat jelas dan menatap Raditya dengan tatapan tajam.


"Raditya kamu adalah kakak iparku meskipun aku 2 tahun lebih tua daripada kamu, aku harap kamu mengerti apa yang aku maksud, tolong jangan sampai kamu menyembunyikan apapun dariku, tolong kasih tahu aku apa sebenarnya yang terjadi," ucapan teman dengan menatap tajam Raditya karena ia sudah merasakan hal yang tidak wajar sedari awal semenjak Zahra ingin bercerai dengan nya.


namun saat Raditya mencoba untuk menjelaskan dokter keluar dari ruangan yang langsung dihampiri oleh Raditya dan Rahman.


"dokter bagaimana keadaan adek saya dok?" bocah praditya yang menghampiri dokter dan langsung bertanya kepadanya.


"istri saya bagaimana dok dia tidak apa-apa kan?," tanya Rahman juga dipenuhi dengan rasa khawatirnya.


"kami harus segera melakukan operasi kepada pasien, namun keselamatannya lebih kecil kemungkinannya dari pada kegagalan yang mungkin akan diperoleh dari hasil operasi ini apakah anda bersedia?," ucap sang dokter dengan memberikan penjelasan yang kepada Raditya dan juga Rahman.


"berapa kemungkinan Zahra bisa selamat dok?," tanya Raditya.


" sedikitnya mungkin 26%," jawab dokter.


"Apa?," Raditya terkejut, begitupun dengan Rahman, Rahman sempat terdiam sementara, ia berfikir mencoba menjernihkan fikiran nya, dan pada akhirnya ia pun memutuskan.


" lakukan dok saya adalah suaminya saya ingin dokter melakukan semua yang terbaik," ucap Rahman memberi keputusan.


" Ra Rahman," Raditya terkejut dengan keputusan Rahman yang begitu cepat.


"baiklah kalau begitu, mari tanda tangani surat persetujuan nya," ucap Dokter.


"dokter!!, lakukan saja dengan segera! apa kau tidak percaya denganku! dia istriku, Istri Rahman Adiwijaya, aku tidak akan kabur, dan aku bisa membayar berapapun kamu mau!," Rahman sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya, yang bercampur dengan rasa khawatirnya.


" A Adiwijaya!," ucap sang dokter yang terkejut.


pantas saja penampilannya berbeda dengan yang lain, sudah ku duga dia bukan orang yang sembarangan. Ucap sang dokter di dalam hati.


"apakah seluruh dokter di Indonesia seperti itu! haruskah aku berhentikan dokter sepertimu satu persatu di Indonesia ini! apakah kalian tidak berperasaan, lebih mementingkan biaya daripada nyawa seseorang?! huh!," Teriak Rahman yang ingin memukul dokter lalu di cegah oleh Raditya.


" sabar ka Rahman jika dokter itu kenapa-napa, lalu siapa yang akan membantu pengoperasian pada Zahra?," ucap Raditya menenangkan Rahman.


"Aku bisa mencarikan dokter yang terbaik, bahkan dokter dari Amerika pun bisa aku datangkan!" Ucap Rahman yang seketika membuat dokter itu langsung menelan ludahnya.


"Tapi itu akan membuang waktu, fikirkan Zahra dia sangat membutuhkan pertolongan pertama saat ini," Ucap Raditya dengan setengah berteriak.


"aaaa!!!," Rahman mengacak Rambutnya tidak tau harus apa lagi.


"Cepat lakukan yang terbaik untuk Zahra, jika masih ingin kau dan keluargamu hidup dengan damai maka lakukanlah," Ucap Rahman yang penuh dengan penekanan.


Dokter itu langsung menunduk dan pergi menyiapkan peralatan.


"Aku terheran jika mereka tidak mengetahui statusku dan mempercayai ke uangan ku mungkin saja Zahra tidak akan diberikan penanganan yang terbaik saat ini," Ucap Rahman dengan geram.


"kenapa harus ke RS sini si! kenapa hanya ini RS yang terdekat dengan pengadilan, mereka sama sekali tidak becus.. Berbeda dengan dokter Ridwan," Rahman teringat akan dokter yang menangani Arnius, Karena kala itu Arnius di urus oleh dokter Ridwan, semenjak Arnius belum bertemu dengan Rahman.


kerinduan adalah anak yang bertanggung jawab dan penuh dengan ketulusan dia berani bertanggung jawab dalam segala hal yang ia lakukan dekatnya tidak pernah memandang rendah setiap pasiennya, baginya prioritas utama adalah keselamatan dan nyawa lebih berarti daripada harta.


Itulah seorang dokter sangat di idamkan oleh Rahman, namun semenjak Rahman dewasa dokter Ridwan telah hilang kabar, ia entah kemana, menghilang tanpa adanya ucapan perpisahan sekalipun.


" dokter di indonesia memang kebanyakan seperti itu kak mereka terkadang lebih mementingkan harta, daripada nyawa seseorang," ucap Raditya.


" salah satu contohnya seperti tadi, bahkan para rakyat kalangan menengah ke bawah merasa sangat kesusahan saat iya harus mengurus keuangan terlebih dahulu baru dirinya atau keluarganya bisa mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit, mereka sampai harus terburu-buru mengangkat utang, hanya demi perawatan yang akan didapatkan," Ucap Raditya juga yang merenungi generasi yang terjadi di Indonesia.


"Tapi Raditya kamu telah berbohong kepadaku," Ucap Rahman yang langsung membuyarkan pikiran Raditya.


"!!," Raditya terkejut.


"Apa yang terjadi pada Zahra? jika kamu masih membohongi ku maka aku juga tidak akan segan kepadamu!," ucap Rahman yang semakin kejam.


"hmmh dia," Ucap Raditya dengan menundukkan pandangannya, dan dengan bersedih mulai bercerita.


"Zahra mengidap penyakit kanker otak.....(cerita pun berlangsung)," Raditya meneskan air matanya.


"apa!!," ucap Rahman dengan terkejut.


"kenapa kalian tidak memberi tahuku!," Rahman menarik kerah baju Raditya.


" aku aku bahkan sampai mengira bahwa Zahra memang benar-benar tidak mencintaiku aku, bahkan sampai berfikir apa kesalahan ku sehingga Zahra begitu membenciku dan ingin bercerai denganku," ucap Rahman mengeraskan cengkeramannya.


"Dia sangat mencintaimu,"


"Tapi aku hampir saja akan berpisah dengannya!," Ucap Rahman dengan geram.


"Rahman tenanglah!," Andrean datang dan menghampiri Rahman begitu juga dengan keluarga yang lainnya.


"bagaimana aku bisa tenang ayah!," Ucap Rahman berteriak, Andrean mencoba untuk melepaskan tangan Rahman dari kerah baju Raditya.

__ADS_1


"Tapi ini semua juga bukan kesalahan dari Raditya!," ucap Andrean meneriaki Rahman yang sudah kalang kabut, Rahman pun tersadarkan dan mulai melepaskan cengkraman nya.


"Kenapa? kenapa kalian semua tidak memberitahuku!," ucap Rahman dengan geram.


"ini semua karena keinginan Zahra nak, mama pun tidak ingin melihat kalian berpisah," Ucap Tini.


"ini semua keinginan ka Zahra, dia ingin agar ka Rahman menikah lagi, dia tidak ingin kalau ka Rahman akan tidak bahagia karena dirinya," ucap Ramadhani yang juga ikut mengangkat suara nya.


"bagaimana? bagaimana aku bisa tidak bahagia, jika bersamanya," ucap Rahman yang mulai menangis.


"coba Kaka fikirkan, kalau Kaka mengetahuinya Kaka akan seperti sekarang, Kaka akan jadi lebih khawatir dan tidak bisa berfikir dengan jernih, Kaka akan lebih kurus karena memikirkan keadaan ka Zahra, bahkan Kaka akan jauh tidak tenang dengan keadaan ka Zahra," ucap Raditya.


"tapi kita bisa berjuang, setidaknya kita bisa berjuang, aku bahkan bisa membawanya berobat keluar negri kapanpun aku mau!," ucap Rahman dengan geram.


"ka," Ramadhani memegang pundak Rahman.


"bahkan dokter terhebat sekalipun, jika Allah berkehendak ia tidak akan bisa menyelamatkan nyawa seseorang," imbuh Ramadhani.


"tapi setidaknya kita telah berjuang, jika berjuang pasti Allah akan memberkahi kita,"


"memang, Kaka memang benar, Kaka tidak salah, tapi jika seandainya ka Zahra tidak terselamatkan..," Ramadhani mulai berbicara lagi, namun saat kata kata tentang Zahra keluar Rahman langsung memberikan tatapan tajam pada Ramadhani.


"ka Zahra sangat mencintai Kaka," imbuh Ramadhani melepaskan sentuhannya pada Rahman.


"apakah Kaka mau menikah lagi? dan mencari kebahagiaan yang lain lagi? terlebih lagi melihat sifat Kaka yang keras kepala apakah Kaka mau?, ga kan?," Ucap Ramadhani yang membuat Rahman semakin berfikir.


"jika bukan karena mencintai Kaka, Ka Zahra tidak akan menyembunyikan hal tersebut, ia tidak akan perduli dengan keadaan ka Rahman kedepannya, dia sangat mencintai Kaka, jika tidak dia tidak akan menahan penderitaannya seperti itu," ucap Ramadhani yang mengepalkan tangannya.


"dia hanya tidak ingin Kaka terbebani karena keadaannya jadi tolong mengertilah, dan tolong atur emosi Kaka saat ini," imbuh Ramadhani yang memutuskan untuk mengambil air wudhu nya.


......


"cepat lakukan yang terbaik, kota tidak boleh bermain main, nyawa seseorang sedang dalam bahaya," ucap salah seorang dokter yang bernama Marzuki kepada para perawat yang yang ada.


"baik," jawab para perawat itu dengan serempak.


"ini juga adalah pasien Adiwijaya," ucap dokter Bima.


"jangan pandang status orang terlebih dulu tapi lihatlah nyawanya," ucap Marzuki kepada yang lain.


Mereka pulai melakukan operasi.


"denyut nadi,".


"baik!,"


"baik!,"


~


"Ya Allah hamba mohon lindungilah istri hamba, jangan lah engkau memanggilnya terlalu cepat wahai Allah Tuhan semesta Alam hamba mohon berilah kebahagiaan hamba bersama nya hingga akhir hayat hamba," ucap Rahman dalam do'a nya saat melakukan shalat Sunnah meminta pertolongan.


"Ya Allah selamatkan lah anak hamba, berilah ia umur yang panjang," ucap Tini dan Yeni.


~


"gunting, Kontrol aliran darah,"


"baik, dokter gawat," ucap salah satu perawat.


"!!,"


"cepat kantung darah,"


"sudah,"


"jahitan dalam,"


"baik,"


~


"Ya Allah selamatkan lah Kaka hamba ya Allah, janganlah engkau ambil nyawanya secepat ini ya Allah, ya Allah engkau maha segala galannya hanya dengan Kun fayakun mu maka terjadilah sesuatu yang engkau kehendaki," Mohon Ramadhani pada sang maha menciptakan.


~


tuut tuut tuuuut


"pecah!," darah muncrat ke pakaian serta wajah dokter dan perawat.


"cepat jangan sampai lengah,"

__ADS_1


dag dig dug


bukan hanya mereka yang menanti yang penuh dengan rasa kekhawatiran namun, semua dokter dan para perawat, karena kali ini ada sedikit kesalahan yang dilakukan oleh dokter Bima dalam melakukan pengoperasian.


gawat!!. Dokte Bima


"dokter jangan melamun! minggir biar aku yang tangani ini," ucap dokter Marzuki.


~


"Ya Allah dia adalah adik ku tersayang, dia memang sedikit keras kepala namun mohon ampunilah segala kesalahannya nya, ku serahkan segalanya kepadamu wahai Allah, engkaulah yang maha mengetahui dan lagi maha bijaksana jika kepergiannya ke padamu yang terbaik hamba akan mencoba untuk ikhlas, namun jika engkau mengizinkan mohon selamatkan lah adik hamba wahai Allah," ucap Raditya didalam do'anya.


~


tuuutttt


"dokter!," ucap perawat itu dengan terkejut melihat kearah dokter.


"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, fiuh," ucap dokter Marzuki mengepalkan tangannya menarik nafas panjang, menundukkan kepalanya.


"mari kita jahit kembali luka bedahnya, namun selesaikan dulu pengoperasiannya jangan sampai ada kesalahan pada jasat pasien,"


"baik dokter," ucap para perawat.


"tetapi dokter bagaimana dengan Adiwijaya dan juga keluarga pasien,"


"kita akan berusaha menjelaskannya, apa boleh buat kita telah berusaha sebisa mungkin, tidak ada yang bisa kita lakukan melainkan ini, selebihnya mari kita serahkan kepada yang maha kuasa," ucap dokter Marzuki dengan penuh penjelasan nya.


"dokter tapi," ucap suster itu melihat ke arah dokter Bima yang telah memasang wajah panik.


"dokter Bima apa yang akan kamu lakukan!," ucap Dokter Marzuki yang melihat dokter Bima memegang gunting dan pisau bedah dengan membulatkan matanya, seperti ingin melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan.


"aku, aku harus bisa menyelamatkan nya.," dokter Bima terlihat seperti menggila.


"dokter jangan gegabah," Cegah Marzuki.


"dokter mau membuat semuanya menjadi berantakan, dokter ingin menghancurkan tubuh pasien huh!," ucap Marzuki meneriaki Bima yang sudah kalang kabut.


"jika tidak hidup ku dan keluargaku bisa dalam bahaya!," teriak dokter Bima.


"perawat tolong jahit luka bedahnya," ucap Marzuki meminta pada perawat.


"baik Dok," ucap para perawat, sedangkan Marzuki sedang menahan Bima yang sudah kalang kabut yang fikiran nya entah kemana.


"tenang dokter sekarang bukan saatnya dokter menjadi seperti ini!," ucap Marzuki.


"kamu tidak tau se berkuasa apa Adiwijaya," teriak Bima.


"tapi semua ada ditangan tuhan! jika Allah berkehendak lalu kita bisa apa!, kamu tidak punya hak untuk mengacak ngacak tubuh pasien, kamu malah akan semakin merusaknya saja! kamu fikir dengan memperlakukan tubuh pasien sesukamu maka Adiwijaya akan senang? begitu? huh! jangan bodoh dokter!," Teriak Marzuki yang membuat tubuh Bima terkulai lemas.


"dokter aku rasa, dokter harus belajar agar bisa menjadi lebih bersungguh sungguh lagi, agar dokter bisa lebih ikhlas dan melakukan semua ini karena Allah Lillahitaala, jangan kamu melakukan ini hanya karena ulah manusia sahaja," ceramah dokter Marzuki yang berusaha menyadarkan Fikiran Bima.


"sudah dok," ucap Suster.


"baik kita balut lukanya," ucap Marzuki


"kamu lebih baik diam saja dokter, jangan melakukan apapun saat ini, karena darahmu sedang tidak stabil saat ini," imbuh Marzuki.


~


"mengapa perasaanku ingin menangis, kenapa ada kesedihan kenapa semua serasa menjadi suram," ucap Rahman.


"huh! kenapa dadaku serasa desah, aah! sakit sekali, ada apa dengan Zahra, aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada anakku, aku merasa ingin menangis, aku merasa sangat sangat merindukannya," ucap Tini yang memegangi dadanya, dan merasakan rasa yang begitu sesak di dadanya yang membuatnya ingin menangis tersedu sedu, dan membuatnya sulit untuk bernafas.


~


"wahai Allah apa yang terjadi dengan perasaanku," ucap Raditya.


"ZAHRA!!," kini firasat mereka semua menjadi satu, firasat yang sangat tidak baik kepada Zahra. Mereka semua memutuskan untuk segera pergi dari Mushalla dan bergegas menuju ruangan dimana Zahra sedang melakukan operasi.


"hmmh," semua orang gelisah dan tidak ada yang merasa tenang, semuanya merasakan ketidak nyamanan mereka, mereka saling memandang satu sama lain menunggu kabar dari dokter yang akan keluar dari ruangan operasi.


"Ya Allah hamba mohon janganlah engkau membenarkan firasat hamba yang buruk ini," ucap Riska dengan lirih, lalu keluarlah seorang dokter dari ruangan Zahra di operasi.


"bagaimana Dokter?," tanya Andrean langsung menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan.


"maaf kami telah berusaha sebisa mungkin, nyawanya telah hilang saat sedang melakukan operasi," keringat dokter Marzuki keluar bercucuran karena khawatir dan kecemasan.


"aaaaa tidak!," teriak tini, setelah beberapa saat keluarlah suster yang menyusul Marzuki dan berteriak pada Marzuki.


"dokter!!"

__ADS_1


"!!," dokter terkejut melihat ke arah dalam dimana jasad Zahra telah dirapikan.


bersambung.....


__ADS_2