
Hari pertemuan telah tiba, Zahra sedang membantu Tini memasak makanan yang akan ia hidangkan untuk kedatangan Reza dan ibunya jujur sebenarnya Zahra sudah tidak sabar dengan kedatangan Reza dan orang tuanya karena itu sebagai pembuktian bahwa Reza emang benar-benar serius kepada Zahra karena sampai menemui kedua orang tuanya tidak seperti kebanyakan lelaki lain di luar sana yang hanya menganggap enteng seorang wanita dan akan mempermainkannya seolah-olah itu adalah sebuah barang.
"Mana dia Ra?," Tanya Marko yang melihat jam di tangannya, apa lagi saat itu sudah memasuki waktu Zuhur dan seingatnya Marco memberikan waktu kurang dari hal tersebut dan seharusnya Reza datang lebih pagi dengan ibunya saat itu.
"Bentar pah, Zahra telepon dulu," sahut Zahra yang juga sudah khawatir melihat Marco yang sudah gelisah dan sudah berpikir hal yang tidak-tidak mengenai Reza dalam benaknya
hmmh Kaka mana sih?, jangan sampai berbohong ya, kalau berbohong aku akan benar benar marah. ucap Zahra dalam hatinya dan berharap bahwa hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, karena ia benar-benar takut dan tidak menginginkan bila samapai hal buruk terjadi.
"sudahlah jangan ditunggu tunggu lagi, Dhani, Raditya ayo kita shalat," Marko merasa kesal karena ia tidak suka dengan seseorang yang menyia nyiakan kesempatan apalagi seseorang yang membuang-buang waktu, karena bagi Marco 1 detik 1 menit bahkan 0,001 detik itu sangat berharga, dan kesempatan sangat mahal harganya untuk manusia dan jarang ada kesempatan kedua yang akan didapatkan oleh manusia. sehingga pada Akhirnya merekapun sepakat untuk Shalat berjamaah.
ya Allah udah jam segini ka Reza kemana sih?, aku udah minta izin sama orang tua, udah berharap banget kenapa harus seperti ini, aku bener-bener nggak enak sama mama sama papa yang udah nungguin kak Reza dari tadi pagi Mama sampai masa banyak banget lagi buat ka Reza, belum lagi papa yang biasanya sulit untuk meluangkan waktu untuk orang lain dan kini malah relauntuk bersedia menyediakan waktu untuk kak Reza itu semua demi keinginan aku yang ingin terpenuhi. Zahra bingung karena Reza tidak bisa dihubungi dan ia juga masih belum datang, Zahra hampir tak dapat menahan air matanya. Seusai mereka shalat berjamaah, Zahra menggenggam erat ponselnya. Ia berharap akan ada kabar dari Reza hingga saat ini, Ia tetap saja berharap agar Reza segera datang meskipun talas tidak nyeri setelah datang karena membuktikan kesungguhan Nya kepada kedua orangtuanya, bukan karena tidak khawatir dengan keadaan Reza tapi ini adalah tentang perasaan seorang wanita yang pernah berkecamuk.
Zahra memandang lekat ke arah pintu dan juga meja makan yang telah penuh dengan hidangan. Pandangan Zahra penuh dengan kesedihan, Raditya dan Ramadhani yang melihat Zahra merasa kasihan, dan menghela nafas mereka mengerti bagaimana Zahra mengharapkan kehadiran Reza dan mereka juga sebenarnya berharap agar Reza menjadi lelaki yang dipercayai yang dapat membimbing menuju ke jalan yang benar dan menjaga amanah, bukan lelaki yang lalai dan juga suka menghabiskan waktu seperti ini itu adalah hal yang dibenci oleh 1 belah pihak keluarga jika sangat melakukan hal yang salah.
Pukul 13:15 WIB.. Zahra sudah tidak tahan lagi untuk menunggu, dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya, dan berlari menuju tempat tidurnya, ia menangis memeluk bantal dan menyelimuti dirinya dingin? iya sangat terasa dingin, panas? iya sama terasa panas di dadanya, ada rasa malu dan kecewa di hatinya sekarang. Malu karena sudah membuat orang tua kandungnya sendiri menunggu, dan kecewa karena kepercayaan dan kesempatan nya telah di sia sia kan, Zahra yang sedari tadi berusaha untuk berpikir positif namun kini hilang sudah karena pikirannya semua bercampur aduk dan menjadi negatif.
"lihat saja aku tidak akan pernah ingin melihatnya lagi, aku akan menyingkirkan dia dari pikiran ku lagi!, jika memang dia lalai aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan nya dia telah mempermalukan aku dan keluargaku, aku yang telah memberikannya kesempatan dan keluargaku yang telah berusaha untuk mempercayainya serta Mama yang dari awal udah ngedukung semua keputusan aku sekarang malah jadi seperti ini aku nggak mau terjadi, semoga saja kamu punya alasan yang baik kak yang bisa membuat aku untuk merubah pikiranku tentang dirimu yang negatif ini" Zahra semakin menangis dan membenamkan dalam wajahnya pada bantal yang ada di depannya itu karena ia tidak memeluk sesuatu selain bantal saat itu.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Zahra namun Zahra tidak menghiraukan karena Zahra masih dalam tangisnya dan masih merasa kecewa dan tidak habis pikir atas apa yang terjadi dan sudah benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"nak?," Panggil Tini yang masih belum di buka kan pintu oleh Zahra.
"iya ma," Zahra menjawab Tini dengan sekuat tenaga agr tak terdengar sedang menangis. Namun Zahra Masih belum membukakan pintu untuk Tini, karena ia takut sampai dilihat menangis oleh kedua orang tuanya, ia tidak ingin jika sampai keluarga kembali khawatir akan dirinya
"Turun yok kita makan nak," ajak Tini kepada Zahra dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang selalu berharap sesuatu yang terbaik akan terjadi kepada anaknya kepada putri semata wayangnya, dan selalu berharap agar air mata Zahra tidak jatuh karena kesedihan namun jatuh karena kebahagiaan, Tini selalu menginginkan yang terbaik untukku Zahra karena setiap ia membelai kepala Zahra ya kan selalu teringat kepada almarhumah sahabatnya yaitu Zahra, Zahra mendiang sahabat yang tidak akan pernah ia lupakan.
"mamah duluan aja Zahra mau istirahat," jawab Zahra dengan setengah berteriak dari dalam kamar karena ia masih dalam suasana yang kurang baik.
" Ya udah mamah duluan ya, saran mamah kamu juga harus turun sekarang, nak Reza udah datang tuh di bawah lagi sama papah," ucap Tini sebelum beranjak pergi dari luar kamar Zahra. Tini lalu meninggalkan Kamar Zahra dengan suara Lirih dan berharap Zahra akan segera turun, dan sempat sedikit tertawa karena ia sudah menduga pasti Zahra akan segera turun jika mengetahuinya sama seperti reaksinya dulu saat masih muda.
"!!!" Zahra terkejut ia merasa tak percaya tapi sepertinya Tini memang tidaklah berbohong. setelah mendengar itu dari Tini dan setelah Zahra benar-benar merasa yakin dengan apa yang telah dikatakan oleh ibunya Zahra bergegas untuk mencuci mukanya, lalu menepuk kan sedikit bedak di wajahnya serta memakai lipstik yang warnanya menyatu dengan kulit bibirnya, dan menutupi matanya yang bengkak karena menangis, serta menggunakan sedikit polesan pada wajahnya dan bersiap-siap agar ia bisa turun dengan sempurna dengan penampilannya memang biasa diajarkan oleh ibunya.
Reza melihat Zahra yang baru saja datang ke ruang makan, ia menebarkan senyuman tulusnya pada Zahra, Zahra membalas dengan sedikit senyuman, masih ada rasa kesal di hati Zahra karena Reza datang setelat itu, namun secara masih berusaha untuk berpikir positif dan berharap agar Reza memberikan alasan yang baik saat ia berbicara dengan kedua orang tuanya sehingga membuat Zara memikirkan kembali tentang di Reza yang telah bernilai negatif pada pemikirannya.
"maaf sebelumnya jika saya dan anak saya terlambat untuk datang," Ibu Reza menyapa Marko dan yang lainnya dengan lembut dan tertunduk serta sedikit malu Ibu Reza benar-benar mengucapkan maaf dari dalam hatinya yang begitu sangat tulus dan itu bisa terlihat dari tatapan matanya dan terdengar dari suaranya sehingga membuat Marco dan Tini yang mendengarnya menjadi luluh begitupun dengan Ramadhani dan juga Raditya yang kini sudah berusaha untuk mencoba untuk berpikir lebih positif lagi tentang mereka seperti apa yang telah Zahra coba untuk lakukan terhadap dirinya sendiri.
"oh iya tidak apa apa," jawab Tini dengan menyahut penuh dengan senang hati dan juga rendah hati agar Reza dan ibunya merasa nyaman di rumah Tini dan Marco saat itu lainnya seperti tamu yang menjadi seorang raja yang sedang dilayani oleh sang pemilik rumah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.
"maaf sebelumnya bolehkah saya mengetahui mengapa anda bisa datang terlambat?," Marko berbicara dengan wajah sangarnya meskipun sebenarnya hatinya lembut namun marko tetap harus menyikapi diri yang tegas agar seseorang tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa lebih menghormati sesamanya atau orang lain, lebih bisa mendisiplinkan waktu jadi Marco tidak ingin menjadi seseorang yang habis dengan basa-basi namun tidak gentlemen kan itu bukanlah jiwa sejatinya seorang lelaki.
Zahra tau papah dan saudara lelakinya akan memasang wajah masam jika dengan seseorang yang kurang di sukai nya, terlebih lagi pada saingan calon menantunya, itu pasti sudah tergambar jelas pada diri Zahra terhadap pandangannya kepada wajah Marco dan para saudara lelakinya itu karena yang memiliki wajah kebal terhadap wajah masam hanyalah Zahra dan Tini yang berada di rumah itu. Zahra akui bahwa papah dan para saudara lelakinya itu memang akan agak susah ditaklukan jika hanya dengan harta dan penampilan namun tidak terkecuali jika dengan tanggung jawab yang melekat sangat pekat dalam diri seseorang.
__ADS_1
"hmh maaf sebelumnya alasan saya yaitu karena saya harus kepemakaman almarhum suami saya dulu tadi, karena kemarin tidak sempat dan kebetulan kemarin adalah waktu yang tepat untuk meminta izin kepada suami saya untuk datang kemarin namun sayang kemarin tidak sempat jadi saya berusaha untuk meluangkan hari ini untuk meminta izin dan datang ke pemakaman beliau. Dan karena tadi kebetulan Adzan zuhur sudah berkumandang jadi saya dan Reza ke masjid dulu untuk shalat sebentar. Mohon maaf kan saya dan anak saya," Ibu Reza menjawab dengan lirih dan menundukkan kepalanya.
Seketika itu Marko langsung merasa bersalah ia merasa bahwa ibunya Reza tidak lah berbohong.
"Ah? tidak apa apa ko, ya kan lah ya? hehe," Tini merasa tidak aneh hati berusaha untuk mencairkan suasana.
"Baiklah, mari silahkan dicicipi dulu hidangannya," Raditya menawarkan hidangan pada Reza dan ibunya.
"terima kasih banyak," Reza berterima kasih karena Raditya menyerahkan hidangan agar lebih dekat dengan piring Reza.
Setelah beberapa saat makanan telah selesai di hidangkan.
"sebelumnya saya sangat berterima kasih banyak kepada semua karena telah mengizinkan saya dan putra saya untuk berkunjung kekediaman keluarga,"
ucap ibu Reza yang didengar dengan cermat oleh Marko dan yang lainnya.
"begini maksud saya kesini ingin mengutarakan keinginan anak saya, dia sangat menyukai Zahra, dia bahkan banyak berubah dia mulai mendalami agamanya. Mungkin kami dari keluarga yang sederhana tapi selama dua tahun ini ia telah berhasil menabung hasil kerjanya meskipun tidak begitu banyak. Dan sebentar lagi ia akan pergi kuliah, saya sangat bersyukur mungkin kesungguh sungguhan nya inilah yang membuatnya memiliki peluang besar untuk memperjuangkan nak Zahra," jelas Ibu Reza.
"mungkin memang belum saat nya saya datang untuk melamar nak Zahra, namun di dalam pertemuan ini saya hanya berharap agar kita bisa menjalin hubungan yang lebih dekat seperti bersahabat misalnya, agar tidak ada kesalah pahaman dan menjalin kepercayaan dan keterbukaan. Jodoh memang hanya di tangan Allah, tapi dalam pertemuan ini saya ingin meminta izin agar anak saya di beri kesempatan untuk memperjuangkan nak Zahra," Imbuh ibu Reza
a yang kini tangannya di genggam oleh Reza.
Marko terlihat menghela nafasnya dan sempat mengangguk menunjukkan bahwa dirinya telah mengerti apa yang ingin di utarakan oleh ibu Reza.
"tapi ada yang saya ingin tahu juga dari nak Reza, tapi saya ingin berbicara empat mata dengannya, boleh?," imbuh Marko
"iya pak,"
Marko membawa Reza ke ruang depan dimana hanya ada Marko dan Reza, sedangkan Tini sedang mengajak Ibunya Reza berbincang bincang agar tidak ada kecanggungan.
"maaf ya Bu, suami saya memang begitu tapi hatinya baik ko," Tini membuka percakapan
"iya tidak apa apa, saya juga mengerti, sebagai orang tua saya juga pasti menginginkan yang terbaik untuk anak saya,"
"Mari cicipi cemilannya Zahra membuatnya sendiri loh Bu,"
"wah benarkah pasti lezat kan?," puji ibu Reza.
"haha tidak terlalu enak ko," Zahra menjawab dengan sedikit malu, ditambah dengan perasaan nya saat ini sedang mengkhawatirkan Reza, berfikir apakah mereka baik baik saja.
......
"kamu anak yang tidak banyak bicara ya?," Tanya Marko.
__ADS_1
"haha tidak, saya sebenarnya anak yang paling banyak berbicara," jawab Reza dengan berusaha menenangkan diri.
"haih lalu mengapa kamu merasa pantas untuk anakku," celetuk Marko.
"tentu saja karena dia cantik," jawab tak mau kalah. Dan akhirnya mereka tertawa karena merasa ada yang lucu.
"mengapa kamu tidak berbicara tadi dan hanya ibumu yang berbicara?," Marko mulai bertanya dengan serius.
"Karen ia tau semuanya, dan beliau tau apa yang seharusnya dilakukan lebih dari saya karena restu ibu adalah restu Allah,"
"aku ingin tahu mengapa kamu menyukai anakku,"
"jujur awalnya saya adalah lelaki yang suka mempermainkan wanita, banyak wanita yang mengejar ngejar saya, bahkan ada yang ingin memberikan sayapun yang saya mau,"
"huh PD sekali kamu ya," Marko sedikit kesal
aku benci untuk mengakuinya tapi kamu memang terlihat tampan, tapi hanya sedikit aku dan putraku masih jauh lebih tampan. gumam Marko dalam hati.
"haha sepetinya begitu, saya tidak pernah tertarik dengan serius pada wanita, bagi saya mereka menyedihkan," Ada sedikit rasa marah pada diri Marko mendengar kembali pengakuan Reza tapi ia memilih untuk mendengarkan kelanjutan nya.
"tapi, semenjak saya bertemu dengan Zahra, saya seperti merasa ada cahaya, saya sering memperhatikan dia yang pergi ke mushalla untuk shalat, saya yang awalnya mengabaikan shalat kini tergerak ingin shalat, dua tahun saya ke mushalla untuk shalat hanya agar dapat melihat Zahra, saya fikir ketika ia tidak hadir saya juga tidak akan shalat, tapi ternyata saya sudah terbiasa dengan shalat sejak saat itu.
saya bahkan mulai shalat walaupun sedang diluar. Mungkin saya belum bisa untuk melakukan banyak Sunnah Sunnah Rasul, tetapi saya sedang memantapkan diri dan berjuang. Dari situ saya melihat wanita bukanlah makhluk yang menyedihkan melainkan mereka adalah makhluk yang paling berharga yang Allah ciptakan, makhluk paling indah, hanya saja mereka sendirilah yang menentukan nilai dirinya sendiri," ucap Reza dengan penuh ingatan tentang sejumlah wanita yang ia temui
"dan sayangnya banyak dari mereka yang menurunkan nilai dari harga diri mereka. mereka mengira bahwa harga hanya berkaitan dengan harta, tapi Zahra mengajarkanku bahwa kehormatan dan nilai wanita terletak dari sikap nya yang memiliki rasa malu. Malu terhadap Allah untuk melakukan dosa, dan Malu terhadap dunia karena tidak ada tempatnya yang tepat kecuali tanah." imbuh Reza.
Marko mendengarkan Reza dengan seksama tanpa berkata sedikitpun, ia seperti ingin memberikan harapan meski hanya sedikit pada Reza.
.....
"baiklah hari sudah sore, saya akan pamit," Pamit ibu nya Reza dan Reza.
" iya, dan.. berjuanglah nak, aku ingin melihat sejauh mana perjuanganmu untuk anakku, jangan menyerah karena ada saingan mu bisa jadi kamulah yang Allah pilih untuk anakku," kata kata itu keluar dari mulut Marko yang membuat Reza sangat senang. Marko bangga pada anak remaja seusianya bisa memberanikan diri untuk menemui orang tua si gadis, dari pada harus menemui si gadis seorang diri layaknya seseorang yang tak sanggup bertanggung jawab.
"terima kasih banyak terimakasih!," Reza berterima kasih berkali kali pada Marko. begitu juga dengan ibu Reza yang sangat senang mendengar keputusan Marko, meskipun ia masih harus bersanding dengan orang lain.
sementara itu Tini dan Zahra saling berpegangan tangan, mereka juga ikut senang dengan keputusan Marko, karena setidaknya Reza telah diberikan satu kesempatan oleh Marko
"ingat nak, tidak kesempatan kedua untukmu jika kamu sampai mengecewakan nya," Imbuh Marko yang di beri jawaban Ya oleh Reza.
"ih papah ni apa apaan sih," lirih Ramadhani yang menahan amarahnya penuh dengan kekesalan nya.
."sudah sudah kamu tidak tau apa yang terjadi bukan, jangan begitu kita tidak tau siapa yang terbaik, ingat sekenario Allah itu tidak pernah salah," sahut Raditya yang menekan rambut Ramadhani dan mengacak ngacakinya.
__ADS_1
bersambung....