Cinta Zahra

Cinta Zahra
orang tua ku


__ADS_3

Tari begitu bahagia mendengar perkataan Aria ia memeluk aria seketika menyeka air matanya, merasa bahwa inilah pilihan yang begitu tepat saat ini.


kamu tidak akan menyesal ibu yakin kamu tidak akan menyesalinya karena ia sanggup menjadi istri yang baik seperti yang di harapkan oleh almarhum Ayahmu ia adalah wanita yang mendekati kata sempurna nak, yakinlah pada ibu dan bersyukurlah pada keputusan mu nak. Gumam Tari dengan penuh keyakinan.


satu minggu berlalu keadaan Tari sudah membaik kini mereka memutuskan untuk pergi menemui orang tua Zahra untuk menepati janji Tari pada Zahra, sesuai keinginannya ingin memohon restu pada kedua orang tuanya, karena memang hal tersebut seharusnya dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tua nya sendiri . sepanjang perjalanan Tari menceritakan begitu banyak tentang Aria kepada Zahra mulai dari hal hal konyol yang pernah Aria lakukan, hal hal yang tidak disukai Aria, prestasi apa saja yang pernah di raihnya sampai se manja apa dulu Aria terhadap Ayahnya sehingga ia memiliki hubungan yang begitu erat dan kental. Aria mendengar beberapa perkataan Tari lalu ia terkekeh geli mendengar ibunya dengan penuh semangat bercerita pada Zahra seolah olah seperti seorang sahabat dikala mereka bertemu.


"nak, sebenarnya Aria anak yang baik, kami keluarga Adiwijaya beragama islam kami semua di didik tentang agama juga, hanya saja masalah bisnis lebih dipentingkan, agama hanya dipelajari hanya sekadar saja, tapi berbeda dengan ayah nya Aria dia mementingkan agama jauh lebih besar dari apapun, dia selalu berkata, mungkin dia jauh pada tuhannya tapi berharap anaknya dapat lebih dekat dengan tuhannya dan anaknya lah yang menjadi jembatan menuju jalan yang benar," Zahra mendengar dengan cermat cerita Tari, ia tak menyangka ternyata ayahnya menginginkan suatu hal yang begitu berharga untuk Aria.


"bahkan Aria diusia 15 tahun sudah bisa menghafalkan alquran beberapa juz dan ibu sering mendengar ia melantunkan surah ar rahman, tapi berjalannya waktu ibu tidak pernah mendengar nya lagi, bahkan ia mulai jarang menjalankan kewajiban sebagai hamba sang pencipta, " lanjut Tari.


"mengapa bu?, apa yang terjadi?," tanya Zahra terheran. Dan tanpa ada yang menyadari Aria diam diam mendengarkan mereka dari kursi yang tak jauh dari mereka, Aria menundukkan kepala nya, merasa bersalah bahkan menyadari bahwa telah ada banyak kesalahan yang terjadi pada dirinya selama ini.


"saat Aria menginjak usia 16 tahun, ayahnya mengalami kecelakaan mobil, keluarga kita terpuruk, keluarga Adiwijaya diurus oleh lima ahli waris mulai dari anak yang tertua hingga seterusnya, jadi kekayaan dimiliki bersama namun karena Aria anak tertua dan cucu dari anak yang tertua juga jadi pemilik terbesar adalah aria dan Andrean berhubung Andrean juga tak beda jauh umur nya dengan Aria, namun saat itu karena ayah Aria meninggal Aria harus belajar lebih giat 3 kali lipat dari anak seusianya, jika tidak kami tidak akan mendapat warisan apapun dan saat itu juga aku masih belum cukup mampu untuk mengembangkan bisnis dan membangun perusahaan sendiri, lalu di karena kemampuan aria yang kurang mengenal dunia bisnis sebab ayahnya lebih mengajarkannya pada agama jadi ia harus belajar lebih giat lagi tentang bisnis di dunia ini, dan yah kamu bisa menebak jalan cerita selanjutnya, " Tari mulai menunjukkan kesedihan nha


"jadi tuan Aria bekerja begitu keras selama ini untuk melampaui semuanya, sehingga ia mendapatkan karirnya diusia yang 20 tahun bahkan bisa mendapat gelar sarjana lebih cepat, karena pendidikan nya yang begitu dipercepat, namun dengan begitu ilmu agamanya pun terbelakang?, " tanya Zahra agar lebih jelas lagi. Aria yang masih mendengarkan hatinya ikut tergerak sedih, merasa ada sesuatu yang kosong dan begitu kesepian.


" iya kurang lebih seperti itu," jawab Tari singkat dalam menyimpulkan .


mungkin memang ini wanita yang ayah pikirkan, mungkin ibu benar aku masih belum mengetahui apa apa tentang wanita ini, semoga saja pilihan ibu menang betul betul benar, dan dia dapat memahami aku nantinya, dan juga bisa mengerti aku jika aku tidak dapat mencintainya, karena di hatiku ini masih ada angel yang begitu ku sayangi. Aria berkata kata dalam hati, mungkin inilah memang keputusan yang tepat.

__ADS_1


tak terasa waktu berjalan sudah sangat lama, dengan perbincangan yang begitu banyak. Kini zahra berada di bandara xx di kota tempat ia berasal, ia menghirup udara di sana merasakan udara yang sudah lama tak ia kunjungi tempatnya, di bandara itu Zahra disambut gembira oleh Yeni dan Tini yang sudah menunggu sedari tadi.


" zahraaaaa!!, " teriak tini dan Yeni sembari memeluk Zahra, ia mendapat kabar dari Zahra bahwa Zahra akan datang dan seperti biasa Zahra menceritakan kisahnya kepada sahabat nya itu, karena sudah cukup lama ia menyembunyikan ceritanya itu pada para sahabat Ter kasihnya.


" yen, tin nanti jangan cerita tentang kisah kelamku pada ayah dan ibuk ya," pinta Zahra


"iya ra,"


"uuu sayang sini tante yang gendong, " Yeni yang kini menggendong Azan, dengan canda tawa nya.


Zahra memang sudah mengenakan hijab nya lagi semenjak Aria menyetujui pernikahan tersebut, sudah lama Zahra menunggu masa masa kembali pada hijab nya lagi, rindunya terjajah hijab nya benar benar sudah tak tertahankan.


"kalian dulu sekolah dimana?," tanya Tari diperjalanan.


"yaaah tapi begitulah tante suaranya kalo nyanyi paspasan masih bisa didengar lah, maklum tan, Zahra gak suka terlalu modern," Ejek tina


"tapi kalo masalah ngaji beeehhh mantap tan," sambung Yeni.


"sudah sudah," Zahra yang sudah tak enak hati, ia memerhatikan mobil yang ditumpangi Aria, mereka mengenakan dua mobil, dan beberapa mobil pengawal yang mengikuti. "yen kenapa kita kayak menuju jalan RS kota?," tanya Zahra penasaran karena ia masih mengenali jalan tersebut.

__ADS_1


"ra sebenarnya ayah kamu sudah sakit sakitan semenjak beberapa bulan ini, keadaannya semakin memburuk," cemas yeni memberi tahu Zahra.


"kok kalian ngak ngasih tau aku sih?,"


"kami hanya gak mau menambah beban buat kamu, kami tau bagaimana keadaan kamu disana,"


Zahra hanya bisa terdiam merasa tidak ada gunanya menyalahkan siapapun saat ini.


Kini sampailah Zahra pada RS kota ia melangkah mengikuti tini dan Yeni. sampailah mereka didepan kamar ayah Zahra dirawat.


tak terasa buliran air mata deras menjatuhi pipi Zahra.


sudah satu tahun lamanya, aku merindukan kalian, aku menanyakan tentang kalian, ingin bercerita, bercanda gurau, kepergianku mengharap kebahagiaan kalian bukan hal ini. batin Zahra


"ra,?" tini yang menyadarkan Zahra dari lamunannya.


Zahra pun dengan perlahan melangkahkan kakaknya masuk, ia mendapati Ningsih yang sedang bersiap untuk menyuapi Bayu dengan bubur ditangannya, dengan suara gemetar ia memanggil ibu nya.


"i ibu,"

__ADS_1


*deg


bersambung*..


__ADS_2