
Rahman mulai menyadari kesalahannya ia ingin memperbaiki segalanya, meskipun kata orang dia telah melakukan yang terbaik dari dalam dirinya namun tetap saja Rahman rasa masih terlalu banyak sesuatu yang kurang baik yang ia lakukan, dan ia ingin menjadi seseorang yang lebih hangat lagi dan bisa menjadi seseorang yang lebih mengerti lagi dan ingin menjadi seseorang yang bisa lebih diandalkan lagi dan dapat menghargai orang lain.
"Ferius aku mau kamu mu untuk memerintahkan kepada seluruh pegawai kita, khususnya yang perempuan dilarang menggunakan high heels yang terlalu tinggi, jika ingin menggunakan high heels maksimal tinggi high heels-nya 3 centi, aku mau agar mereka rutin libur 1 kali seminggu," ucap Rahman
"jika tidak ada yang terlalu mementingkan mereka tidak boleh lembur mereka harus pulang tepat waktu agar mereka dapat menjaga kesehatan mereka, namun mereka juga harus bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, mereka harus bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaannya sehingga bisa menyelesaikannya tepat waktu, tetapi kita juga tidak boleh membebankan mereka dengan memberikan mereka tugas yang terlalu berat, yang melebihi dari kapasitas kemampuan mereka," imbuh Rahman
"a dan satu lagi setiap 3 bulan sekali mereka sebagian besarnya diperbolehkan untuk cuti 3 hari dan 3 bulan berikutnya sebagian yang belum mendapatkan cuti baru diberikan cuti selama tiga hari juga dan begitupun seterusnya setiap 3 bulan sekali 50% dari pegawai kita harus mendapatkan cuti selama 3 hari, dan bagi siapa yang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar bahkan melebihi dari target maka akan diberikan bonus 10% dari gaji yang biasa ia terima, dan khusus untuk malam ini aku berikan mereka gaji bonus untuk mereka dan keluarga mereka agar bisa bersama lebih lama," ucap Rahman penuh dengan penekanan.
"baik tuan akan segera dilaksanakan," jawab ferius dengan sigap. Lalu telepon pun berakhir. Rahman kini kembali memfokuskan dirinya dengan memandang Zahra, ya jangan melihat ke arah Arnius yang kini sedang bersiap siaga selalu di tempat nya.
"Arnius? graha telah mari kita makan," ucap Rahman mengajak Arnius, namun Arnius hanya siap siaga.
__ADS_1
" hei apakah kamu tega kepadaku? huh! tega sekali kamu," ucap Rahman sedikit membentak namun Arnius.
" heish kamu ini benar benar, kamu fikir kamu aja yang lapar? aku juga lapar tahu makanya mengajak kamu agar bisa memberikan aku makanan lalu kita makan bersama, memang nya kamu pikir kamu saja apa yang aku suruh makan tapi aku juga mau makan!," Rahman sudah geram dengan Arnius yg terkadang keras kepala.
Arnius yang mendengar Rahman lapar, langsung bergegas dengan gesit, ia pergi membeli makanan untuk Rahman. dan jangan perlu diragukan lagi, karena tidak perlu membutuhkan waktu yang lama hanya butuh waktu beberapa menit saja Arnius telah kembali dengan membawa makanannya.
"wah gesit sekali kamu ya haha," goda Rahman dengan sengaja, Arnius hanya terduduk menyiapkan makanan serta mempersilahkan Rahman untuk segera memakan makanannya, bersama dengan Arnius.
"ini," Rahman memberikan tas dompet yang berisikan kartu ATM kredit dan yang lainnya.
"hei dasar kamu tidak menghargai pemberian orang apakah kamu lupa bawa ini adalah pemberian aku waktu itu saat hari ulang tahun kamu?," ucap Rahman dengan membentak karena Arnius hanya memberi renspon membingungkan.
__ADS_1
" entah dari mana kamu mendapatkan uang, intinya di dalam itu sudah ada beberapa kartu yang bisa kamu gunakan untuk berbelanja, juga karena itu untuk kamu berikan aku sesuatu karena biasanya saat aku menyuruh kamu memberikan aku sesuatu kamu tidak pernah mengambil uang dari Ku, terkadang ingin aku kirimkan uang untukmu, tapi juga kamu tidak pernah mau bawa dompet yang aku berikan aku semakin lama bingung sama kamu aku capek jadinya aku cuma nggak mau saat aku menyuruh kamu untuk memberi sesuatu yang mahal kamu nggak bisa bayar gitu," kata kata terakhir Rahman hanyalah alasan saja, Arnius mengangguk lalu mengambil dompet itu dari Rahman.
"gitu Ya setidaknya kamu jangan sampai malu-maluin aku nanti ke depannya, apa sih susahnya aku cuma minta kamu buat ngambil ini aja kalau ada keperluan apa-apa kamu beli aja pakai uang ini nggak usah takut takut emang kamu pikir aku kekurangan uang apa? " ucap Rahman dengan menyombongkan diri nya.
"iya tuan," Angguk Arnius yang berterima kasih kepada Rahman.
"nah gitu kek," ucap Rahman dengan acuh tak acuh.
"eh!!," Rahman terkejut ia mengingat sesuatu yang janggal.
"woahh sekarang kamu bicara ya! biasanya kamu hanya memilih diam tau," girang Rahman, lalu Arnius tersenyum.
__ADS_1
"!!"
bersambung...