Cinta Zahra

Cinta Zahra
anak ku


__ADS_3

Zahra kini tengah berad di RS sedang mencoba menahan rasa sakit yang dirasakan nya saat itu.


mmmh ya allah, sungguh nikmat rasa sakit ini ya allah, kuatkan hamba ya allah. Zahra menarik nafas dalam dalam untuk mengatur nafasnya berharap semua akan baik baik saja


Zahra kini telah didorong menuju ruang gawat darurat. Orang terakhir yang dilihat Zahra sebelum memejamkan mata ialah Octa dan Leela , Zahra tersenyum merasa bahagia karena masih ada yang menemani disaat saat seperti, dan ternyata dia tidaklah sendirian.


beberapa saat kemudian.


" siapa wali dari pasien," tanya suster yang baru saja keluar dari ruangan.


"saya sus," octa berjalan menuju suster diiringi dengan Leela.


"karena pasien akan melahirkan secara prematur sepertinya dia harus dioperasi, terlebih sepertinya pasien hamil dengan kurang baik," jelas dokter ditemani suster bersamanya yang baru saja menangani Zahra.


"lakukan yang terbaik dok, saya akan menanggung biayanya, " jawab Octa dengan penuh keyakinan


Zahra kamu harus selamat kamu sudah mengalami kesulitan yang begitu melelahkan, kamu harus bertahan hidup demi anakmu. Octa begitu cemas dan khawatir, ia tak bisa diam, tak dapat duduk dengan tenang ia mondar mandir di depan ruangan Zahra beroperasi.


"tenanglah Bu, semua akan baik baik saja, serahkan semuanya pada Tuhan Bu, Zahra adalah orang yang kuat, dia pasti bisa melewati ini semua dengan selamat, percayalah buk, berdoa saja yang terbaik untuk Zahra ya buk ya," Lella berusaha menenangkan Octa yang sedari tadi sudah sangat menyusahkan Zahra.


"ya dia pasti bisa, dia adalah anak yang kuat, aku percaya pada nya dia adalah seorang wanita terkuat yang pernah aku temui," Octa berusaha meyakinkan diriny.


"aduuuhhhh tapi tetap saja aku tidak bisa berdiam diri dan terduduk aku begitu sangat cemas!!," geram Octa pada dirinya sendir.


"hehehe ibuk sudah sudah," Leela melihat Octa yang sepertinya mengalami setengah setres.


***


Beberapa saat kemudian..


" selamat anaknya laki laki," dokter keluar daru ruang operasi.


" hanya saja, karena bayinya terlahir prematur jadi kami memutuskan untuk menaruhnya di kotak oven, serta melakukan perawatan yang lainnya demi kebaikan si bayi, dan juga sepertinya si bunda stres saat kehamilan, sehingga kondisi bayi Cukup mengkhawatirkan," jelas dokter dengan rasa sedikit iba.


" lakukan yang terbaik dok, dok saya punya satu permintaan, tolong azdankan bayinya, dia seorang muslim dok," pinta Octa yang juga mencemaskan Bayi Zahra.


" tenang saja buk, kami sudah melakukan nya, karena kami tau dia seorang muslim dan kami juga seorang muslim dan juga tolong jangan ganggu pasien 4 jam ke depan ya dia harus beristirahat," jelas dokter dengan penuh senyuman


"boleh kami melihat bayi nya dulu dok," pinta Octa.


"oh boleh Bu, silahkan mari lewat sini," dokter menunjukan arah pada Octa


sesampainya di ruangan Oven dokter permisi untuk meninggalkan Octa dan Leela agar dapat melanjutkan aktivitas yang lain.

__ADS_1


"wah bayinya lucu sekali Bu," ucap Leela terpesona.


"iya dia sangat tampan mengikuti jejak ibunya, lihat wajahnya begitu bersinar," tunjuk Octa


"aaaaa kenapa kami begitu kecil, kan jadinya mungil sekali, ingin rasanya menggendong mu, tapi masih belum boleh, huh menyebalkan," gerutu Leela


"kenapa kamu sudah menjadi seperti ibunya, diam lah dia harus istirahat," pinta Octa


"hehe iya Bu, iya"


***


" Zahra," panggil octa dan leela lirih, memasuki ruangan Zahra setelah 4 jam Zahra selesai melakukan operasi.


"ra kmren saat kamu dioperasi ada yang telepon aku angkat, katanya minta kamu telepon balik," leela menyodorkan Hp ditangannya kepada Zahra, dan ternyata yang menghubungi Zahra tak lain adalah sahabat nya Tini.


" buk saya izin menghubungi teman saya,"


"ya nak silahkan,"


tuut tuut


"halo ra," sapa tini dan Yeni diseberang sana." gue nunggu lo dari kemarin tau gak,"Zahra tersenyum mendengar suara para sahabat nya itu, namun ia hanya bisa terdiam.


"haloo ra!!, Lo masih disana kan?!!" teriak yeni yang mengejutkan Zahra


"iya halo, maaf ya," Zahra tersadarkan dari lamunannya


"kok suara lo lemas lo gapapa kan, gue denger lo lahiran, berarti prematur seharusnya kan belum? Lo gapapa kan, terus keadaan anak Lo gimana? dia laki apa perempuan? jawab Dong jangan diem aja!," Tini melontarkan pertanyaan bertubi tubi karena rasa khawatir tini dari seberang.


"gapapa ko anak aku baik baik aja, aku gak bisa jawab cepet soalnya kamu nanya nya banyak banget, di laki Tin," jawab Zahra dengan perlahan.


"e **** dia itu baru habis lahiran, operasi lagi, jangan cepet cepet apa nanya nya, pelan pelan aja keles , dia butuh istirahat dan ngak boleh banyak ngomong," terdengar suara Yeni yang mengomeli Tini dan seketika itupun membuat Zahra tertawa.


"oh iya ya, eh lu tu yang ***** lu ngak ingetin gue dari tadi si," balas Tini dengan geramnya juga


" alamat lo dimana ra gue pen jenguk lo," sahut yeni


" halo buk," dokter memasuki ruangan.


"tin, yen nanti lagi ya dokter datang," pinta Zahra.


"yah baru juga ngomong, iya deh iya Miss u Ra," sahut Yeni

__ADS_1


" miss u ra, nanti hubungi kita lgi yah" sahut Tini


"waalaikummusslm wr.wb, " Zahra meng geleng geleng kan kepalanya sembari menutup telepon.


" ini biayanya buk, ibuk harus dirawat inap seminggu disini bersama si bayi, bayi baru bisa dibawa setelah itu,"


Zahra mengerti dan meraih kertas itu dari dokter. Zahra terkejut karena biaya yang begitu mahal, mulai dari operasi rawat anaknya hingga perawatan selama seminggu.


" gapapa ra biar ibu yang bayarin, ibu masih ada tabungan,"


" terima kasih banyak buk, Zahra janji Zahra pasti akan ganti,"


" iya gapapa,"


***


empat bulan kemudian


" ucucu sayang, udah rindu ya sama ibu, maaf ya ibu harus nitipin kamu sama bik rani soalnya ibu harus kerja sayang," peluk Zahra sambil menciumi anaknya yang digendong nya.


" bik titip azan ya, ini susu nya, aku juga udah peras ASI. aku untuk azan, kalo masih kurang baru kasih susu instan ya, ini uang belanja untuk hari ini ya bik, jadi tanda terima kasih ku, "


" iya nak, terima kasih banyak ya, bibik juga gak kerjaan,"


***


" ra gimana si azan aku rindu pen gendong dia lucu banget,"


" hehe iya leela aku tau pesona anak aku, ikut pulang yuk sebentar, kamu gak akan pulang kemalaman ko,"


***


deg,


ambulance, ada apa ini


"bik kenapa, ada apa ko ada ambulance, " Zahra dan leela berlari menuju bik rani


" tadi badan azan panas, dia kejang kejang nak,"


"!!!"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2