Cinta Zahra

Cinta Zahra
semangat


__ADS_3

Zahra terbangun di pagi hari seperti biasa, ia bangun sebelum subuh di kumandangkan.


"ah kan aku jadi ga shalat tahajjud," gumam Zahra lalu melihat suaminya yang terbaring pulas disampingnya, dengan memeluk dirinya seperti biasa.


tunggu dulu bukannya, kemarin aku tidur di sofa ya? hmmh pasti ka Rahman yang mindahin. Zahra tersenyum melihat Rahman.


ah tidak! pakaianku siapa yang menggantinya?, kerudungku bahkan sudah terlepas, pakaianku berbeda kan? bentar inget inget dulu, aku ganti baju ga sih kemarin. Zahra membulatkan matanya terkejut dan mencoba untuk mengingat ngingat apa yang terjadi semalam saat ia tertidur pulas.


sebentar aku kan cuma bermimpi, merasakan diriku di bersihkan dan pakaianku di ganti, lalu seperti ada yang... Riska meraba wajah sendiri.


Aaaaaaa!!!! apa yang sebenarnya terjadi. Riska berteriak dalam hati lalu bergegas menuju kamar mandi bahkan mengalihkan tangan Rahman dengan kasar karena terburu buru.


"mhh," Rahman terbangun dan melihat Riska terburu buru dan tidak ingin melihat Rahman yang terbangun. Rahman tersenyum ia mengingat apa yang telah ia lakukan semalam dan menyadari pasti Zahra baru mengingatnya dan menjadi salah tingkah.


"haha dasar anak itu," gumam Rahman dengan tersenyum puas. Dan membayangkan bagaimana ekspresi Zahra yang terkejut dan malu terhadap dirinya sendiri itu.


.....


setelah beberapa saat kemudian Zahra di dalam kamar mandi, Zahra teringat ia terlupa membawa handuk, baju handuknya pun juga tidak ada di kamar mandi, Riska melihat ke sekeliling mencoba mencari sesuatu yang bisa di gunakan nya untuk menutup tubuhnya, namun nihil ia tidak menemukan apapun.


Lalu Riska mencoba mengintip dari balik pintu kamar mandi, dan menemukan Rahman yang sedang terduduk di samping kasur.


"ka Rahman?," panggil Zahra dengan lirih dan mengintip.


"iya ada apa?," Rahman melihat Zahra dengan terheran


"aku lupa bawa handuk, bisa tolong ambilkan di lemari yang no 4 dari kiri, eh no 4 apa no 5 ya," Zahra mencoba menghitung berapa banyak pintu lemarinya.


"yang mana," ucap Rahman membuka pintu lemari no 4 dan...


"wow," ucap Rahman yang ternyata isinya pakaian dalam Zahra, lalu ia tertawa pelan dan mencari handuk untuk Zahra, sempat ia memegang pakaian dalam Zahra karena tertawa.


"mengingat pintu lemari aja susah handuk mu di nomor 5," ucap Rahman lalu berjalan menuju Riska


"siapa suruh banyak pintunya,"


Rahman lalu mendorong pintu kamar mandi Zahra, namun tidak terbuka lebar karena Zahra mencegahnya dari dalam, Zahra pun mengambil handuk dari Rahman dengan cepat.


"ish kenapa sih, orang udah sah juga, susah banget," goda Rahman dengan tertawa.


"gak boleh! semester tiga aja belum berakhir," ketus Zahra.


"lagi pula juga aku sudah melihat semuanya semalam," goda Rahman dengan tertawa sinis.


"aaaaaa ka Rahman!," teriak Zahra dari kamar mandi. Dan di balas dengan tawa terbahak bahak oleh Rahman. Zahra merasa malu dan memegangi wajah nya yang sudah memerah.


"ihhh awas aja ya ka Rahman nyebeliin!," ketus Zahra dengan penuh kekesalan.


Setelah beberapa saat akhirnya giliran Rahman yang menggunakan kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"ih nyebelin banget," ucap Zahra sembari menyisir rambutnya di depan cermin.


"Ra?," panggil Rahman saat baru selesai membersihkan dirinya.


"mmh," jawab Zahra


"capek nih,"


"terus?,"


"keringkan rambut aku dong," pinta Rahman.

__ADS_1



"keringin aja sendiri, bentar lagi azan nih cepetan sana," ketus Zahra.


"makanya biar cepet," goda Rahman.


"suka banget ledek orang," ketus Zahra namun tetap mematuhi Rahman.


"uh, patuh banget,"


Bisa diem ga sih, sebel tau. ketus Zahra dalam hatinya.


ini ngeringin badannya bener ga sih, ko bajunya basah?. Fikir Zahra.


"kenapa bajunya basah?," tanya Zahra.


"ga tau," jawab Rahman singkat.


"ya udah ganti baju, ntar masuk angin,"


"sekarang?,"


"tahun depan!,"


"hahaha iya iya sekarang,"


Setelah Rahman kembali dari masjid dan mereka selesai sarapan, Zahra di ajak oleh Rahman untuk melihat rumah mereka yang telah di renovasi, dan agar segera di tempati.


"udah siap Ra?,"


"udah, yuk,"



"meskipun ini jauh lebih kecil dari pada rumah ayah sama mamah semoga aja kami suka," ucap Rahman yang tidak di hiraukan oleh Zahra


"wow bagus banget, ini rumah idamanku, bener kita akan tinggal disini, aaa akhirnya ya Allah," ucap Zahra merasa senang. Rahman Yeni dan Andrean yang melihat Zahra suka dengan rumah itu merasa sangat senang, karena bisa memberikan menantunya apa yang diinginkan.


Zahra semakin terkejut setelah melihat halaman belakang yang ada kolamnya, memang di rumah Andrean, kolam bukan hanya satu bahkan kamar dimana mana ruangan khusus bertebaran, mewah dan besar seperti istana, tapi Zahra sangat menyukai rumah barunya ini, melainkan bisa hidup mandiri tapi juga bisa merasakan apa itu memiliki.




"gimana? suka?," Rahman menghampiri Zahra dengan memasukkan tangannya ke kantong celananya, dengan gaya sok cool nya memamerkan kemampuan nya pada Zahra.


Rahman tau bahwa Zahra tidak terlalu nyaman di rumah karena terlalu banyak ruangan dan terlalu besar, meskipun nyaman tapi merepotkan baginya.


"mh aku suka banget," Zahra mengangguk dengan semangat pada Rahman.


"terima kasih banyak ka," imbuh Zahra.


"kalau ga suka aku bisa ubah lagi nih rumah," ucap Rahman dengan entengnya.


"eh ga usah aku suka yang ini," celetuk Zahra.


"kalau aku ajak Riska nginep ga apa apa ya,"


"iya tapi hanya boleh sesekali aja ya ga boleh sering,"


"ya elah pelit banget,"

__ADS_1


"mau ga?,"


"iya deh iya,"


"gitu dong nurut jadi anak," Rahman membelai pelan kepala Zahra.


sebenarnya ini itu mewah banget, udah sangat mewah malahan aku suka banget, meskipun ga semewah rumah ayah sama mamah, tapi lebih suka yang ini. Zahra menghirup udara dengan senang dan merasa bahagia sekali dan sangat bersyukur hari ini.


.....


Riska sedang pergi memeriksa kan kandungannya bersama Alfie di klinik terdekat.


"bagaimana dok dengan keadaan kandungan nya?," tanya Alfie pada dokter yang menangani Riska.


"ke adaan nya menjadi lebih baik, meskipun sepertinya sebelum ini ada guncangan pada sang bayi, istirahat lah dengan cukup, dan jangan terlalu banyak fikiran," ucap dokter memberikan saran.


"baik Dok," jawab Riska dengan semangat.


"ini resep vitamin dan obat penambah darah untuk ibu Riska," dokter memberikan kertas resep obat pada Alfie.


"terima kasih banyak dok, kalau begitu mari,"


"mari," dokter itu pun berlalu meninggalkan mereka. Riska dan Alfie pun pergi ke ruang apotek klinik mereka, dan menebus resep obat dari dokter.


"duduk di sini ya tunggu sebentar aku akan menebuskan obatnya untukmu,"


"iya ka," jawab Riska dengan senyuman.


setelah beberapa saat Alfie membawa obat menghampiri Riska dengan senyuman dan menunjukan plastik yang berisikan beberapa obat dari resep dokter.


"di minum yang rajin, makan makanan yang sehat kalau butuh apa apa tinggal bilang aku aja ya," ucap Alfie, dan Riska mengangguk mengerti dengan tersenyum.


"terima kasih banyak ka," ucap Riska dengan lirih.


"iya sama sama, coba bisa berdiri,"


"??," Riska bingung dengan permintaan Alfie.


"udah berdiri aja," pinta Alfie dan Riska menurut lalu berdiri.


"!!" Riska terkejut karena ternyata Alfie menempelkan telinganya di perut Riska lalu memegang perut Riska.


"sehat sehat ya di dalam, jangan nyusahin bunda, harus sehat dan aktif, tenang aja ada papah Alfie disini, eh ayah apa papah ya?," Alfie mendongakkan kepalanya melihat Riska dengan bertanya, lebih baik ayah atau papah, tetapi Riska hanya tertawa kecil melihat tingkah Alfie yang sudah seperti suami dan ayah dari anak di kandungan nya. Riska terharu dan tak terasa meneteskan air matanya.


"wah mereka sosweet banget ya," ucap salah satu suster yang melihat Riska dan Alfie.


"iya mereka pengantin baru ya?," sahut salah satu teman suster itu


"ga tau intinya mereka cocok banget,"


"iya ya,"


....


Setelah beberapa bulan berlalu, Riska sudah mulai kembali kuliah sejak ia kembali ke rumahnya, kuliahnya seperti biasa, namun semakin hari perut Riska semakin membesar, dan Riska pun di ketahui oleh para teman teman se kampusnya bahwa Riska sedang hamil. Tatapan sinis di terima oleh Riska, perlahan lahan semua teman temannya pergi menjauhi Riska dan tidak ingin berteman dengan Riska.


yah ini adalah awalnya. Gumam Riska dalam hati sambil membelai pelan perutnya.


" jangan takut ya Riska, yang tenang kan ada aku yang akan selalu disisi kamu, kita jalani bersama sama ya," ucap Zahra menenangkan Riska dan merangkul Riska. Riska melihat Zahra dengan tersenyum dan mengangguk.


Aku bangga sama kamu, karena mempertahankan janin kamu, karena bagiannya pun juga itu adalah nyawa yang di anugerahi Allah untuk kamu, dan aku bangga kamu tidak seperti para ibu yang bertanggung jawab yang membunuh bayinya setelah lahir dengan menyembunyikan kehamilan nya, atau terkadang menggugurkan kandungannya. Bertahanlah sayang Allah bersama kita. Gumam Zahra dalam hatinya memandang sahabatnya itu yang mendahuluinya menjadi seorang ibu

__ADS_1


bersambung...


yeeeeyyyyy akhirnya aku bisa membuat kalimat dengan jumlah ganda😄, ini semua berkat dukungan kalian. terima kasih banyak ya sudah mampir dan menjadi reader setia😉, aku sayang kalian🥰


__ADS_2