
Hari ujian kelulusan bagi siswa/siswi kelas XII telah tiba, dan seperti biasanya seperti pada tahun tahun sebelumnya, SMA Sekar Mekar mengadakan beberapa pesta kecil kecilan salah satunya seperti jamuan makan untuk seluruh para siswa/siswi SMA Sekar Mekar sebagai acara perpisahan. Hari di mana pesta sederhana khusus untuk para siswa/siswi telah tiba.
dan tentu saja tidak perlu diragukan lagi karena ini adalah saat-saat dimana para murid menantikan pesta ini diadakan pada setiap tahunnya, karena mereka akan mendapatkan jamuan makan yang sangat mereka inginkan terlebih lagi mereka akan melihat penampilan dari sisi yang berbeda dari berbagai macam teman-teman mereka, karena di saat itu mereka akan menunjukkan penampilan mereka yang cantik dan juga tampan dengan styles terbaru mereka untuk memperagakan bagaimana modelnya dunia yang telah berkembang sebagai dunia yang modern.
Pukul 06.25 WIB...
"Nak kamu udah siap siap? bukan nya kamu akan menghadiri acara perpisahan di sekolah? seperti setiap tahunnya," ucap Tini yang sudah mulai mengoceh Di pagi harinya, karena ya tentu saja akan seperti biasa Tini akan menjadi seorang ibu yang paling sibuk ketika mengetahui anaknya akan menghadiri suatu acara, ia tidak ingin anak anaknya mengalami kekurangan sedikitpun, Tini akan selalu mencoba yang terbaik untuk para anak anak yang di kasihnya selama ini, bahkan kini akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya dan mengeluarkan kemampuannya dalam memilih style dan penampilan anaknya terlebih lagi anak-anaknya dianugrahi dengan wajah yang tampan dan cantik cantik jadi ini tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk sedikit memamerkan kelebihan anaknya.
"iya ma, gini aja udah, lagian juga masih pagi, orang acaranya nanti ko jam delapan" gerutu Zahra yang baru saja menaruh Al-Qur'an yang telah dibacanya pagi ini, sebenarnya Zahra akan merasa sedikit risih jika ibunya mengetahui Zahra akan menghadiri sebuah acara atau apapun itu yang membuat Zahra berpergian, karena Zahra lebih suka suatu hal yang sederhana dan ia berharap lebih sederhana lebih baik karena seperti itulah jadi dirinya Zahra yang memiliki style sederhana namun rapi dan anggun serta enak dipandang.
"ya Allah ya rabb, kamu ini perempuan sayang!, dandan itu lama, sini mamah yang pilihin pakaian kamu dan penampilan kamu," ucap Tini yang sudah mulai risih, dan mulai merasa harus menyediakan ini dan itu agar semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya.
"ya Allah mah, ngak perlu, kayak biasa aja udah," Zahra berusaha melepaskan tangan Tini yang sudah membawanya untuk duduk didepan cermin.
"ngak!! ngak boleh, kali ini kamu dengerin mamah, sekarang mari kita lihat pakaian apa yang akan kamu pakai kali ini?," Tini kini sedang melihat lihat kedalam lemari pakaian Zahra dan bersiar siap untuk mengobrak-abrik lemari Zahra, karena akan melihat isinya dan memilih salah satu dari antara mereka yang telah beruntung untuk menjadi pakaian Zahra.
20 menit berlalu...
Kini Zahra sudah merasa pusing dan menggeleng geleng kan kepalanya karena Tini belum selesai memilih pakaian untuk Zahra bahkan sekarang lemari pakaian nya berantakan semua, pakaian berserakan di sana sini, hanya untuk mencari satu pakaian yang yang cocok Dimata Tini.
"ya Allah ma, udah siang ni tuh lihat ke luar matahari udah tunggu, jam juga coba mamah lihat," Zahra menunjuk ke arah luar jendela dan juga jam dinding di kamar Zahra.
"what! Ya Allah!," Tini memegang kepalanya berfikir, mencoba berfikir sebaik mungkin seperti seseorang yang sedang berada dalam masalah pada urusan bisnis nya.
"AA!! benar! oh iya kamu taruh dimana pakaian satu set yang mamah kasih tahun kalau sebagai hadiah ulang tahun untuk kamu waktu itu?,"
"itu kan?" Zahra menunjuk ke arah lemari yang masih ada beberapa pakaian yang tersisa dan terselamatkan dari Tini yang akan membuangnya ke sembarang tempat jika bukan seperti yang di inginkan nya.
" aaaaa itu dia!!," Tini lalu bergegas mengambil pakaian tersebut dan mulai membuat ukir ukiran pada wajah anak tercinta nya.
setelah satu jam berakhir.
"wah, inilah dia anak mama yang sebenarnya,"
......
Di lain tempat dan di waktu yang bersamaan, Riska, sedang di bawa oleh Alfie pergi ke sebuah salon.
"ka Alfie ada apa?," tanya Riska penasaran
"itu pakaian yang aku bawain dari Amerika semua kan," Alfie menunjuk ke arah tas yang dibawa oleh Riska sesuai permintaan Alfie.
"iya sesuai kata Kaka," Riska mengangguk pelan.
Riska terkejut saat setelah beberapa saat ia mengetahui bahwa ia berada di sebuah salon kecantikan, ia membulatkan mata nya menghadap ke arah Alfie.
"maksudnya kak Alfie apa? ko bawa gua ketempat ini?,"
"bukannya hari ini kamu akan menghadiri acara perpisahan Kaka kelas kamu di sekolah kan?,"
"iya tapi ada apa, gua hadir ya kaya begini aja udah ngak usah repot repot," Riska mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Alfie hingga membawanya ketempat yang pada umumnya untuk mempercantik dan mempertajam penampilan.
"Hari ini kamu harus menjadi seorang wanita," Alfie membawa Riska masuk ke dalam salon.
"berikan sentuhan yang terbaik, gunakan make up natural namun mewah seperti Korea Selatan," ucap Alfie pada seorang pegawai salo
"dia juga kan memiliki paras blasteran orang korea, hanya saja ya, penampilan nya yang membuatnya tidak seperti itu, dan ya buatkan poni untuk dia mokoknya buat dia menjadi yang terbaik, aku akan bayar berapapun, hari ini dia akan menghadiri acara jamuan perpisahan Kaka kelasnya jadi buat yang sesuai, oke," Alfie menjelaskan semua yang ia inginkan pada pegawai itu.
"baik tuan," jawab beberapa pegawai salon kecantikan itu.
"kak..," Riska memegang tangan Alfie memanggil Alfie dengan suara lirih dan merasa tidak yakin.
"tenang aja ini gapapa kok, lagi pula bukankah kamu juga menyukai si pria tampan itu, mh siapa namanya? ah si Reza yang kamu ceritain itu. Jika kamu ingin dia melihat mu setidaknya sedikit saja maka kamu harus berusaha sebisa kamu untuk menunjukkan padanya bahwa kamu juga seorang wanita yang baik," Alfie tersenyum memegang pundak Riska meskipun sebenarnya ia merasa sesak di dada nya karena harus mengucapkan hal itu pada Riska.
"mmh terima kasih banyak ka," Riska membalas senyuman Alfie dan mengangguk penuh dengan keyakinan.
setelah satu jam setengah kemudian, Riska telah selesai di permak, ia keluar dengan rasa malu di dirinya, Alfie yang melihat Riska merasa terpukau dan terlena, ia tidak terlihat seperti yang biasanya, paras wajahnya masih sama namun Aira nya berbeda.
mengapa aku harus membantu berjuang demi orang lain?. Alfie mengepalkan tangannya namun masih memberikan senyuman yang begitu tulus pada Riska.
Riska mengenakan lensa mata, pakaian yang tidak terlalu terbuka berwarna putih, dan poni sampai batas mata, rambut terurai berwarna pirang, dengan sentuhan make up natural yang senada, yang membuat Riska memang benar benar tampil sempurna saat itu.
Sehingga membuat Alfie berfikir tidak salah membawa Riska ke tempat salon yang mengeluarkan banyak uang untuk permak nya, jadi uang yang ia keluarkan sepenuhnya tidak sia sia.
.....
__ADS_1
Di tempat lain juga dan juga di dalam waktu yang bersamaan. Di tempat kekediaman Adiwijaya..
Memei turun untuk membantu Yeni menyiapkan sarapan.
"udah siap nak?," Tanya Yeni pada Memei yang sudah turun dengan rapi.
"sudah ma," jawab Memei yang menunjukkan penampilan sederhana nya, keluarga Adiwijaya memang cenderung sederhana hanya Andrean yang suka ke glamor an, namun Yeni, Memei bahkan Rahman tidak setuju jika harus berpenampilan glamor karena selera mereka bertiga itu sama, yakni kesederhanaan di dalam kemewahan, setidaknya berpenampilan sederhana namun anggun, jadi tidak terlalu mencolok.
"sayang kamu mau seperti itu," Tanya Andrean pada memei yang sudah terlihat siap dan rapi,"
"iya yah, seperti ini sudah," jawab Memei dengan senang hati.
"ngak kita ke salon dan ke Mall ya sekarang? ikut ayah ya?,"
"ngak!!," Rahman, Yeni dan Memei menjawab bersamaan.
"udah begini aja udah kenapa harus mewah mewah, gini aja Memei udah cantik sekali, ya sayang ya," Yeni membelai lembut kepala Memei.
"iya, bukan mesti glamor untuk menarik perhatian, tapi yang terpenting itu hati," Rahman berbicara dan menikmati kopi hangat di pagi hari nya .
"Sebenarnya yang kepala rumah tangga disini itu siapa si? kenapa pendapat ku tidak pernah kalian dengarkan, heish!," Andrean menggerutu kesal lalu menyeruput kopi kesukaannya itu.
.....
"hei bro mana tu cewek lu, si Zahra kapan dateng nya haha galau aja lu, kuy lah makan, enak enak loh," Salah seorang Teman Reza datang untuk mengajak Reza menikmati hidangan.
"haha diem lu, ini juga lagi nungguin," ketus Reza
"oit Reza itu si Memei yang udah ke adiknya Zahra ya?, ya bisa di bilang adeknya Zahra lah ya itu dia, kali Aja Zahra di belakang Sono," Panggil teman teman Reza yang setengah berteriak pada Reza karena jarak mereka yang agak jauh.
"Btw dia manis loh, kalem lagi," sahut salah satu temannya lagi.
"eh eh bukannya itu si Riska ya?, itu beneran Riska kan, temen sekelas kita, buset tuh anak kalau jadi cewek beneran cantik banget," kata salah seorang teman sekelas Riska yang melihat Riska datang setelah Memei.
"Eh kalian sadar ngak sih emang dari dulu itu dia cantik, muka nya tu kek blasteran Korea gitu, cuma penampilan nya aja yang menutupi,"
"Iya juga sih,"
"eh itu beneran Riska," para lelaki mulai memuji dan menunjuk ke arah Riska, mereka semua terpukau melihat penampilan terbaru dari Riska.
"Tuh kan berabe lu pada jadi cowok," sahut salah seorang teman perempuan yang sering mendengar Riska tak dianggap menjadi seorang wanita sungguhan oleh para teman lelaki mereka.
"kalau cewek udah kenal ama skincare ancor idup Lo buaya dodol!!," salah seorang teman lelaki merangkul teman lelakinya yang suka mengejek Riska karena penampilan Riska yang tomboy.
...
"ya udah ka aku masuk dulu ya,"
Zahra baru saja sampai didepan kelasnya, ia menarik nafas perlahan karena ia merasa ini seperti bukan dirinya.
Raditya melihat ke Arah Zahra dengan tersenyum dan membelai kepala Zahra.
"ka menurut Kaka aku gimana?, aku berlebihan ngak?" Zahra merapikan dirinya di kaca ia menarik nafas berkali kali karena malu.
"kamu itu cantik justru itu Kaka sedikit kesal, Kaka takut yang ada kamu kenapa Napa, jaga diri baik baik ya sayang hati hati,"
"iya ka tapi..," Zahra merasa ragu untuk turun dari Kendaraan.
"tenang aja sayang make up mamah itu sebenarnya kalem sederhana, cuma dia memang suka lama aja, kamu kaya biasanya ko, cuma ya agak beda dikit," Raditya menambahkan sedikit ejekan untuk Zahra di ujung kalimatnya berniat untuk menggoda adik Ter sayang nya itu.
"iih tuh kan Kaka," Zahra menggerutu kesal.
"ngak ko sayang Kaka cuma becanda," Raditya tertawa puas karena mendapati adiknya yang kesal dibuatnya.
"ya udah gih, sana kamu pergi masuk, udah telat loh," Raditya menyalami Zahra dan membuka kan pintu mobil untuk Zahra.
"iya ka terima kasih banyak ya, assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh ka,"
__ADS_1
"iya sama sama waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh sayang, hati hati ya," Raditya setengah berteriak karena Zahra sudah berada diluar mobil.
"iya, dadah," Zahra melambaikan tangannya dan di balas juga oleh Raditya tak lupa pula untuk memberikan kiss bye sebagai kecupan kasih sayang jarak jauh.
.....
"Ehem tu tuan putri lu datang tuh," Salah seorang Teman Reza menunjuk kearah Zahra. Reza yang melihat Zahra langsung tersenyum sumringah, ia pun setengah berlari ke arah Zahra.
Riska melihat ke arah Reza dari kejauhan, Riska sekarang sedang di kerumpuni oleh para teman perempuan dan teman laki laki nya, mereka menanyakan apa rahasia Riska hingga bisa sampai secantik itu.
"Ra kamu kemana aja?, dari tadi aku tungguin loh aku cariin malah," Reza yang kini telah mengiringi Zahra.
"haha ka Reza emangnya nyari aku kemana coba?,"
"hehe cuma sekitar sini aja si, ngak kemana mana, emang mau kemana lagi," Reza menggaruk kepalanya pelan meski tidak gatal.
"Zahra, kamu cantik banget hari ini, yaa maksud aku setiap hari kamu cantik, hanya saja kali ini kamu sedikit berbeda, jadi semakin cantik," Reza tersenyum malu memuji Zahra
"haha terima kasih banyak ka, Alhamdulillah, ka Reza juga hari ini tampil beda, jadi lebih rapi aku suka lihatnya,"
"beneran?, seriusan? hehehe jadi malu," Reza menundukkan kepalanya, memang ia terkesan dingin pada yang lain selain para sahabat nya dan cool di depan wanita lain selain Zahra, tapi ketika ia bersama Zahra seketika sisi lembut dan manja nya akhir akhir ini keluar, dan membuat siapapun yang sedang dekat dengannya menjadi merasa gemas ingin mencubitnya
"eh itu Riska ya? cantik banget," ucap Zahra yang menunjuk ke arah Riska, yang terlihat berbeda.
"iya dia beda banget, aku aja sampai kaget banget tadi, dia cantik," puji Reza yang seketika itu dilihat oleh Zahra, Zahra menunduk dan tersenyum. Reza melihat Zahra yang menunduk dan tersenyum sayu lalu ia merasa ia telah membuat Zahra sedikit merasa tidak enak.
"eh tapi masih cantikan kamu ko, Dimata aku cuma bidadari ku yang paling cantik," Reza mencoba menghibur Zahra
"gapapa ko ka aku ngerti,"
Mereka berdua pun berjalan mendekati Riska dan teman teman yang lain nya.
"woaah dua sejoli datang nih," goda salah seorang teman Reza.
"haha ka Zahra tadi aku cari ke rumah tapi katanya udah jalan, pas sampai sini ternyata masih aku yang datang lebih dulu," Memei menanyai keberadaan Zahra.
"Iya tadi aku sempet nemenin ka Raditya membeli sesuatu dulu de,".
selama perbincangan Zahra memang banyak tertawa dengan para teman teman nya, namun hanya Riska yang terkadang sesekali tersenyum namun tidak fokus dengan apa yang sedang dibicarakan, karena ia kerap melihat kedekatan Reza dan Zahra yang semakin hari semakin dekat, yang membuat Riska merasa sedikit cemburu dan bagaimana pun juga ia tidak bisa menggantikan posisi Zahra.
Kini sebentar lagi akan memasuki waktu Zuhur, acara telah selesai dan para siswa siswi juga sudah bersiap siap untuk pulang, Riska, Memei dan Zahra sedang menunggu jemputan mereka masing masing secara bersamaan.
"Riska kamu cantik banget tau hari ini, kalau bisa kamu terus seperti itu ya, dan aku sangat menganjurkan agar kamu mulai berhijab," Zahra memegang tangan Riska.
"haha benarkah, terimakasih banyak Zahra ku sayang," Riska merangkul Zahra kembali dengan gaya tomboy nya.
"eh ka, tunggu di luar aja yu kali aja udah datang jemputan nya," Memei menawarkan pada Riska dan Zahra untuk menunggu diluar.
"eh iya ya, ka Alfie juga biasanya menelfon tapi sampai sekarang belum juga, coba keluar aja yuk," Riska menyetujui saran Memei.
Didepan Memei terkejut karena menemukan Rahman telah menunggu diluar.
"eh ka udah lama?," Memei bertanya pada Rahman karena terlihat Rahman tidak pergi bekerja dengan pakaian dan penampilan nya yang tidak formal seperti biasanya.
"ngak terlalu lama ko, ayok pulang, Raditya juga bilang ngak bisa datang jadi Zahra ikut pulang," Rahman mengajak Zahra untuk ikut dengan kendaraan nya.
"eh ngak ah ka, aku mau nungguin Riska dijemput dulu," Zahra tidak enak hati harus membiarkan sahabatnya sendirian.
"ya udah ikut aja sekalian yok?," ajak Rahman juga pada Riska.
"bentar dulu ya ka mau angkat telepon," Riska pamit untuk mengangkat telefon dari Alfie.
"eh ka kayaknya gua ngak ikut deh, ka Alfie bentar lagi datang, makasih ya atas tawaran nya," Imbuh Riska menolak ajakan Rahman setelah menjawab telepon Alfie.
"oh oke sama sama de, yuk Mei, Ra," Rahman mengajak memei dan Zahra masuk mobil.
"ya udah ka Riska sampai jumpa di hari masuk sekolah, dadah," pamit Memei pada Riska, yang mendapat senyuman dan lambaian tangan dari Riska.
"ya udah Ris aku duluan ya hati hati," Zahra juga pamit.
"iya sayang Lo juga hati hati," Riska menyalami Zahra dan mencium pipi kiri kanan Zahra dengan pipi nya (cepika cepiki)
Setelah lima menit mobil Rahman pergi dari sana, Alfie datang di depan Riska, Alfie melihat Riska yang sedang terduduk dengan wajah menampilkan senyuman rasa sedih memandang ke arah Alfi. Alfi lalu keluar dan saat itu juga Riska berlari memeluk Alfie dan menangis sejadi jadinya di dalam pelukan Alfie, Alfie yang mencoba memahami Riska membelai lembut kepala Riska untuk menenangkan Riska.
__ADS_1
bersambung.....