
serasa seperti ada petir yang menyambar, gelap, sunyi, kini kian terasa sepi, apa yang harus dilakukan apakah ini adalah takdirnya?
Zahra dan Tini kini sedang pergi ke rumah sakit untuk melakukan rontgen pada bagian kepala Zahra, setelah melakukan rontgen Zahra dan ini menunggu hasil rontgen keluar dengan rasa khawatir yang sangat besar.
"ibu anda dipersilahkan untuk masuk," ucap perawat yang keluar dari ruangan untuk mempersilahkan Tini dan cara masuk agar dapat berbicara langsung dengan sang dokter.
"Silahkan duduk Bu," tawar sang dokter.
"Ibu ini adalah hasil rontgen dari anak anda, Yakni non Zahra," dokter itu memberikan sebuah kertas yang menunjukkan hasil rontgen kepada Zahra dan Tini.
"jadi dog ini maksudnya apa?," tanya Tini dengan penuh rasa khawatir begitupun dengan Zahra yang berada disamping Tini ikut merasakan khawatir dan merasa detak jantungnya kini berdegup sangat kencang.
"nur azzahra dinyatakan positif mengalami gejala kanker otak," ucap sang dokter yang saat itu langsung membuat Tini kalang kabut.
"ini sungguh benar dokter?," tanya Tini untuk memastikan berharap agar ia salah dengar pada saat itu.
"dokter jadi saya mengalami kanker otak doc?," tanya Zahra yang dadanya kini terasa sudah sangat sesak.
"maaf sebelumnya jika saya harus menyampaikan kabar buruk ini namun memang begitulah adanya bahwa non azzahra gini mengalami kanker otak yang mungkin cederanya akan sangat serius," ucap sang dokter itu dengan wajah yang penuh serius.
"jadi kami harap Nurul Zahra untuk mulai rutin melakukan demography, dan juga melakukan segala perawatan yang kami anjurkan untuk nona Zahra," jelas sang dokter.
"dokter berapa kemungkinan saya memiliki harapan untuk sehat kembali seperti semula?," tanya Zahra dengan penuh harap
"saya masih belum tahu pasti namun kesempatan anda untuk sehat relatif sedikit, dan saya tidak berani mengatakan sampai mana waktu itu karena hanya Tuhan yang tahu," ucap sang dokter dengan penuh rasa ragu
"saya mengerti dok," sahut Zahra menjawab dokter dengan menundukkan kepalanya lalu ia mengajak Tini untuk pergi, dan Tini pun permisi agar ia segera pulang.
sesampainya di luar ini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi mendengar kabar buruk tentang putri tercinta ya Putri semata wayangnya, tangisnya pun pecah saat mereka berada di dalam mobil sedangkan Zahra masih memandangi hasil rontgen di tangannya.
sesekali Zahra memandang kearah luar jendela ia melihat bagaimana suasana kota saat ini, iya juga melihat pemandangan di sekeliling sesekali ia mencoba untuk tersenyum meskipun air matanya terus mengalir tak ingin berhenti. ia tidak tahu harus melakukan apa lagi, Zahra melihat kearah Tini Ibu tercintanya yang kini sudah tak henti-hentinya mengalirkan air mata.
"mah kenapa?, kenapa kalian menangis seperti itu di setelah hari bahagiaku ini? Zahra nggak apa-apa kan mah kenapa setelah Mama keluar dari rumah sakit Mama jadi pucat seperti itu?," tanya Raditya dengan rasa yang penasaran dan khawatir karena melihat adik dan mamanya sedang menangis.
"aku mohon sama kakak untuk jangan bilang kakak Rahman tentang hal ini," ucap cara memohon kepada Raditya.
"iya tapi apa dulu, kenapa kalian itu sampai bisa nangis itu yang jawab pertanyaan aku sekarang ini," ucap Raditya yang penuh dengan rasa khawatir bersama dengan Nisa yang berada di sampingnya.
"mama tak kuat mengatakannya," ucapkan ini dengan penuh air mata dan sesunggukan sehingga suaranya terbata-bata.
__ADS_1
"kak sebenarnya aku...,"ucap Zahra dengan ragu.
"aku mengalami kanker otak, aku pun nggak tahu kenapa aku bisa seperti ini kenapa aku bisa begitu mengalami banyak pikiran sehingga aku tidak memperhatikan kesehatan aku," ucap Zahra dengan sesegukan sambil menangis.
"kalian bercanda kan kalian bohong kan sama aku nggak lucu ah jangan kayak begini cara bercandanya," ucap Raditya masih saja tidak percaya dengan perkataan Zahra dan juga perlakuan Tini.
"Zahra nggak bohong kak ini hasil rontgen dari dokter," Zahra menyerahkan hasil rontgen itu pada Raditya. seketika saat itu Raditya merasa dirinya sangat sok dan juga khawatir.
"biar aku yang menyetir ya aku rasa kamu sedang tidak sanggup," ucap Nisa memegang pundak Raditya dan mencoba untuk menenangkan Raditya karena saat ini Raditya benar-benar terlihat dalam keadaan yang tidak sehat, karena mendengar kabar dari Zahra.
Ya Allah apakah yang harus aku lakukan? aku tidak tahu harus berkata apa lagi, Ya Allah memang kala itu saat papa meninggalkan kami aku sungguh berputus asa segala hal ingin aku lakukan kan saat itu aku memang sangat sangat tidak memperhatikan diriku bahkan setelah aku menikah dengan kak Rahman aku masih saja merasakan rasa sakit dihatiku Dan terus menyembunyikannya aku terus memikirkan semua yang terjadi seolah-olah aku lebih memikirkan dunia daripada dirimu, saha mohon kepadamu ya Allah maafkanlah hamba kembalikanlah kesehatan hamba ya Allah, hamba tahu engkau sangat sayang kepada hambamu ini oleh karena itu kembalikanlah kesehatan hamba ya Allah amin. Zahra teringat akan dirinya saat ia tidak memperhatikan dirinya dimana ia mengalami stress yang berat mengalami cobaan yang berat mengalami gangguan pada dirinya sendiri sehingga tanpa ia sadari ia telah menumbuhkan sebuah penyakit yang ganas dalam tubuhnya sendiri.
kini mereka semua telah sampai di rumah Zahra dan juga Tini, Ramadhani yang baru saja pulang dari les privat nya langsung terkejut karena melihat Raditya dini Nisa dan juga Zahra pulang dengan wajah yang pucat pasif juga penuh kekhawatiran di wajahnya.
"Ada apa ini? kenapa kalian bersedih seperti ini?," tanya Ramadhani yang merasa sangat cemas kepada keluarganya. Ramadhani sempat berpikir apakah uang kendalanya yang membuat keluarganya itu merasa sedih? ataukah karena Raditya kini telah menikah?.
namun Ramadhani berfikir dua kemungkinan itu tidaklah pasti karena jika uang sedangkan Rahmat saja memiliki uang yang sangat banyak yang mungkin tidak akan sanggup untuk dihabiskan oleh Zahra meskipun Sahara akan boros-boros apapun,
terlebih lagi yang berfikiran Zahra menangis karena pernikahan Raditya itu tidaklah mungkin karena menangis bahagia tidaklah seperti itu rupanya.
Nisa yang mengerti akan kekhawatiran Ramadhani yang mengerti akan kecemasan Ramadhani yang mengerti akan keadaan Ramadhani, Nisa hanya memegang pundak Dani dan bergumam "bersabarlah berdoalah dan berjuanglah insya Allah maka Allah akan mendengarkan segala doamu".
"baikkah aku mengerti," ucap Raditya yang masih penuh dengan tanda tanya..
"halo sayang bagaimana kabarmu aku sangat merindukan kamu maaf ya aku masih belum bisa pulang dalam waktu dekat ini," ucap Rahman dari seberang telepon yang sedang menelpon Zahra karena rasa rindunya.
"iya kak cepet pulang ya Zahra juga udah rindu sama kakak," ucap suara lirih sambil terbata-bata terdengar suaranya bergetar bekas tangisan yang tadi yang sempat ia lakukan.
"kamu lagi di mana sekarang Ra?," tanya Rahman kepada Zahra.
"aku lagi di rumah mama, biar ada temen karena di rumah aku merasa sepi meskipun ada simbol dan Sampang tapi aku juga merindukan mama jadi aku disini nggak apa-apa kan kak?," tanya Zahra pada Rahman untuk menunggu sebuah instruksi dari Rahman.
"mmmmm," mencoba untuk berpikir.
"oke baiklah tidak apa-apa lagi pun juga itu rumah mamah dan adik-adik kita jadi aku tidak merasa begitu khawatir dengan keadaan kamu lagi pula mana mungkin kan kamu akan ditelantarkan begitu saja," ucap Rahman dengan nada yang sedikit menggoda mengejek sesuai dengan kegiatan yang ia lakukan di saat-saat seperti ini.
Zahra merasa sesak di dalam hatinya karena ia tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya kepada Rahman, ingin sekali ia memberitahu kepada Rahman keadaannya saat ini Namun Zahra masih ingin memastikan terlebih dahulu ia ingin membuat persentase dirinya untuk menjadi lebih sehat itu memiliki persentase yang lebih besar lagi dari yang sekarang.
Zahra akhirnya memutuskan untuk terus memeriksakan dirinya ke dokter Bahkan ia sering melakukan kemoterapi dan juga berbagai macam sarana pengobatan yang dokter ajukan untuk Zahra. Zahra memiliki keinginan untuk sehat yang sangat bersungguh-sungguh, Zahra berharap bahwa ia akan sehat dan ia sangat berharap bahwa nanti saat pulang tunggu Zahra sudah pulih seperti semula sehingga Zahra bisa melayani Rahman layaknya sebagai seorang istri yang lengkap yang sempurna yang memiliki tubuh yang sehat jasmani dan rohani.
__ADS_1
2 bulan sudah berlalu....
Rahman masih belum bisa pulang ke negara asal begitu pula dengan Andrean yang telah menyusun Rahman selama 2 bulan ini karena keadaan keluarga pusat mereka sedang dalam keadaan darurat sehingga Rahman sendirilah yang harus turun tangan bersama dengan Andrean. belum lagi 5 keluarga besar yang memiliki keturunan sebagai penerus juga hadir dan mereka juga sama-sama di kesibukan dengan berbagai macam cabang perusahaan yang kini mereka kembangkan.
seperti begitu halnya semakin besar perusahaan yang sedang dijalankan, besar juga resiko yang akan dihadapi terutama pada pekerjaan-pekerjaan yang akan lebih besar dan merepotkan.
sebenarnya Rahman bukan diam di suatu negara namun setelah di negara a ia selesai urusannya maka ia langsung bergegas ke negara b setelah di negara b selesai lalu ia bergegas kan negara c setelah di negara c baru dia gara-gara edan begitupun seterusnya hingga selesai, itulah sebabnya yang mengakibatkan Rahman tidak bisa pulang dalam waktu yang dekat meskipun hatinya sudah sangat rindu pada istri tercintanya yaitu Zahra.
Zahra memiliki wajah yang sangat sedih karena keadaannya semakin memburuk bukan semakin membaik, rambutnya kini sudah mulai rontok tubuhnya mulai lemas kepalanya mulai sangat terasa sakit, jalannya pun sempat oleng makan penglihatannya pun sedikit-sedikit menjadi pudar. sempat ia berfikir untuk berpisah dari Rahman karena keadaannya lah yang saat ini tidak bisa melayani Rahman.
berdasarkan sifat Rahman jika Rahman disuruh untuk melakukan poligami, Rahman tidak akan mau untuk melakukannya karena bagaimanapun juga Rahman bukanlah tipe seorang lelaki yang suka mempermainkan hati wanita, ataupun juga Rahman bukanlah tipe seorang lelaki yang cepat tertarik pada wanita lain.
Zara kini telah berpikir matang-matang, Zahra berbicara kepada keluarga besarnya yang kini telah kumpul di ruang tengah di tempat rumah Tini.
"mama, kak Raditya kak Nisa Dani Adang mau Zahra sampaikan," ucap Zahra yang mulai terduduk di sofa.
"cara ingin mengatakan keputusan yang Zahra ambil dan Zahra berharap kalian semua mendukung keputusan Zahra," dengan lirih dan penuh penekanan dengan penuh makna.
"Zahra sedih ini bukan asli keinginan Zahra, hanya saja mungkin ini adalah hal yang harus dilakukan karena keadaan Zahra juga sudah seperti ini Zahra juga tidak tahu harus melakukan apa lagi," ucap Zahra yang kini mulai menangis. Tini merangkul pundak Zahra sedangkan Nisa memegang tangan Sahara untuk menenangkan Zahra.
"cinta? jika dibilang mencintai adalah orang yang sangat mencintai kak Rahman, sejak kapan? entah Zahra pun tidak tahu, kebersamaan kami yang selalu membawa kedekatan diantara hubungan kami, tingkah laku kak Rahmat yang selalu membuat Zara merasa nyaman meskipun terkadang kak Rahman suka menggoda Zahra Zahra Bahkan ia sangat suka melihat Zahra marah," ungkap Zahra pada keluarga besarnya termasuk Ramadhani.
"tapi Zahra tahu semua itu karena ka Rahman sayang sama Zahra, meskipun kak Rahma tidak pernah berkata bahwa ia mencintai Zahra tapi Zahra tahu semua itu dilakukannya untuk Sahara agar Sahara bahagia dia selalu berperilaku baik kepada Zahra dia pengertian kepada Sahara dia selalu tahu apa yang saya inginkan, lalu siapa yang akan sanggup untuk mengambil keputusan ini? Zahra juga bingung tapi mungkin dengan begini lah maka Zahra bisa tenang agar Rahman ingin mencari wanita lain lagi selain Zahra, agar kak Rahman dapat hidup bahagia," Sahara yang semakin tersedu-sedu menjelaskan kepada keluarganya sambil terisak dalam tangisnya.
"karena Zahra tidak boleh egois hanya karena itu Zahra sendiri jadi Zahra tidak bisa memikirkan kebahagiaan untuk kak Rahman karena sesungguhnya Zahrara ingin melihat ka Rahman bahagia jadi Zahra harus mengalah meskipun nantinya kak Rahman akan bahagia dengan wanita lain Zahra ikhlas insya Allah Zahra ikhlas," Ibu Zahra dengan tangisnya
"maksud kak Zahra apa," ucap Ramadan yang masih saja bingung, karena ia tidak mengetahui apa-apa.
"kakak mengalami kanker otak di mana kakak menjalankan pengobatan kakak masih belum juga bisa sembuh sehingga keadaan kakak seperti ini," jelas eh ra kepada Ramadhani.
"apa!? sudah kuduga ada yang tidak beres pada diri secara tiba-tiba kak Zahra kurus lemas pucat tampak tidak sehat bahkan rambut kasar akan perlahan-lahan rontok jadi itu seperti hal yang tidak wajar dan ternyata apa kalian semua menyembunyikan ini pada aku! aku sayang sama kak Zahra dan pada akhirnya beginilah jadinya," ucap Ramadhani dengan kecewa karena hanya ia seorang lah yang tidak diberitahukan tentang penyakit Zahra.
"itu semua karena kami sayang sama kamu dek kami tidak mau kamu sampai hilang fokus dalam mengejar pendidikan mu, hanya karena sebuah masalah yang sedang yang kami hadapi," ucap Nisa karena ia mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang sedang sanggup untuk menjawab pertanyaan Ramadhani.
"baiklah aku akan mencoba mengerti aku tidak ingin memperpanjang masalah ini," ucap Ramadhani yang kini sudah mulai memahami permasalahan keluarga yang sedang dihadapi.
"jadi kakak mau apa sekarang sehingga kakak mengatakan semua itu tadi?," ucap Ramadhani bertanya dengan tegas.
"seperti yang kalian ketahui dan yang kalian dengar tadi aku berbicara apa sesungguhnya maksud dari perkataan saya adalah Zahra ingin cerai," ucap Zahra pada keluarganya yang membuat seluruh isi rumah tersebut terkejut mendengar keinginan Zahra.
__ADS_1
bersambung....
jangan lupa like comment dan vote ya teman-teman man, dan silahkan mampir juga ke novel ku yang berjudul "Cinta di negeri gingseng" semoga suka selamat membaca dan selamat menikmati bye bye see you next episode