Cinta Zahra

Cinta Zahra
Tidak akan ku lepaskan!


__ADS_3

Zahra kini terlelap dalam tidurnya karena tangisnya yang terlalu lama jadi tanpa tersadarkan mata Zahra bengkak, apalagi setelah lelah Zahra menangis baru ia tertidur dan saat bangun tidur matanya sudah sangat bengkak.


"pffft hahaha," Rahman tertawa geli karena melihat Zahra yang sudah terbangun.


"apa? kenapa?," Zahra terheran karena Rahman tertawa begitu kencang melihat dirinya baru saja terbangun tidur.


"itu aja apa bakpao, hidung kamu tuh sampai hilang tahu kantong mata kamu kayak gimana gitu kok besar sekali, itu mata bengkak bekas apa coba sayang hahaha," Rahman berkata-kata sambil mengeluarkan tawa ceria.


"iseng lagi deh, ini paling suka banget lihat istrinya kalau lagi kesel terus ditambah lagi di ejek-ejek ya Allah, apa salah dan dosa hamba sampai suami hamba suka sekali dia itu ya untuk mengusik hamba sampai ngejek-ngejrk hamba kayak begitu," ucap Zahra dengan nada kesal dan memainkan bibirnya karena cemberut marah kepada Rahman.


"ummuach," Rahman mengecup pelan bibir Zahra.


"!!!" kaget dong ya


"kakak ngapain," Zahra bertanya dengan terkejutnya dan ia segera menutup bibirnya,


"ya cium kamu lah kan kamu yang rasa in sendiri tadi, habis kamu lucu banget ngegemesin tahu, kamu manyun manyun segala lagi ya udah aku cium aja daripada mubazir diambil sama orang nanti," celetuk Rahman yang tidak memperdulikan kekesalan Zahra, sambil tertawa mengejek.


"mu diambil sama orang, orang siapa juga yang ambil yang ada udara tuh yang ngambil, mubazir mubazir emang ini makanan apa," celetuk Zahra tanpa sadar sikap manjanya mulai keluar.


"aduh aduh suamiku yang cantik imut banget sih, jam lagi nih ya," ucap Rahman tertawa smirk.


"ketawa lagi cium cium lagi di rumah sakit ya, enggak ada enggak ada enggak ada enggak mau enggak mau!," tanpa sadar wajah Zahra merah dia menjadi salting karena tingkah laku Rahman yang semakin mengejeknya.


"Ya udah sini makan dulu biar cepet sembuh," ucap Rahman dalam membawakan makanan kepada Zahra dan bersiap untuk menyuapinya.


"nggak apa-apa nggak cepet sembuh juga" sejujurnya Rahman sangat benci saat mendengar kata-kata ini keluar dari mulut Zahra, namun Rahman akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak emosi lagi karena keadaan Zahra saat ini tidak cocok dilawan dengan ke emosian, Rahman percaya bahwa ini adalah cobaan dan dia harus menghadapinya dengan dewasa harus banyak-banyak bersabar dan berdoa kepada Allah agar semua masalah bisa berjalan dengan lancar.


"nggak sembuh-sembuh juga nggak apa-apa, iya kamu tuh yang enak ngomong kayak begitu lah aku, dimarahin mulu nanti dibilangnya nggak pernah kasih kamu makanlah nggak pernah kasih inilah itulah, kamunya masih Ya enak tinggal dibela doang lah yang di omelin aku," ucap Rahman dengan wajah manjanya.


"Ya udah kakak aja apa yang habisin itu makanan, tinggal makan aja kan apa susahnya nanti dikirain juga aku yang makan meskipun kakak yang makan," celetuk Zahra tanpa memikirkan perasaan Rahman yang kalau itu sedang menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya.


"Ya udah bener nih aku yang makan? mmh? kan kamu belum makan dari semalam? kalau aku masih nggak apa-apa aku malahan seneng malah aku yang kenyang nantinya". Rahman sambil tersenyum-senyum meledek Zahra dan mulai mencium aroma makanan yang sedang dibawanya


"mmmmh aromanya enak banget lagih," ucap Rahman sambil mencium aroma makanannya.


Rahman tahu bahwa saat ini Zahra sedang mencoba untuk menahan rasa laparnya dan sudah menelan air liurnya karena ingin memakan makanan yang telah dibawa oleh Rahman, dan aromanya begitu lezat sehingga Zahra pun lumayan tergiur dan ingin memakannya.


"aku coba ya, aaaumm," Rahman memakan makanan yang di bawahnya itu.


ih kok ka Rahman sekarang nyebelin banget sih, dulu dia pasti nggak akan makan kalau nggak sama aku, sekarang Malah ka Rahman si yang makan makanan aku, kan sebel. ucap Zahra yang bergumam di dalam hatinya dengan kesal sambil memanyunkan bibirnya.


"mmmh enak sekali, ini resep baru deh ya kayaknya enak banget sih," ucap Rahman melihat isi makanannya sambil menggaruk-garuk telinganya.


"ini enak tahu kamu tahu nggak resepnya apa, kamu pernah coba nggak ke ini,?"tanya Rahman kepada Zahra. lalu Rahman melihati makanan itu sambil memegangi tangan Rahman.


" emang iya ini itu resep baru?," tanya Rahman dengan penasaran sambil memegangi perutnya yang sudah berbunyi, dan sudah terdengar oleh Rahman namun Rahman berpura-pura untuk tidak mendengarnya.


"iya lho ini itu resep baru," hari ini Rahman memang benar-benar berbicara seperti anak-anak, karena Rahman sudah memikirkan bagaimana caranya untuk menghadapi Zahra yang sekarang.


"hmmh siapa yang bilang coba? aku nggak percaya," Zahra yang langsung melepaskan tangannya dan berpaling arah memandang.


"iya masa kamu nggak percaya sih aku nggak bohong, tuh lihat aja dari sayurannya dari aromanya dari bahan-bahan yang dipakai sama hiasan dan bumbu-bumbunya," ucap Rahman menjelaskan sambil menunjukkan isi-isi makanan yang ada di kotak makan.


"emang kakak ngerti soal masak masak gitu," tanya Zahra yang membuat Rahman merasa jengkel karena saya memiliki banyak pertanyaan yang hanya memutar-mutar di satu titik.


"kok kamu yang penting ya," ucap Rahman yang langsung mendapatkan tatapan dari Zahra yang membulatkan matanya namun dengan wajah yang begitu lucu karena tercengang, dan Zahra pun tersenyum dan tertawa kecil mendengar perkataan Rahman.

__ADS_1


"enggak lucu tau ah? Dah ni mau coba nggak? ntar aku yang ngabisin kamu nyesel loh kamu nggak pernah cobain resep baru, biar kamu percaya juga ini coba dulu makanya," Rahman sudah terdengar setengah jengkel dan perbuatan nya yang malah membuat Zahra semakin tertawa.


"hahaha a dulu a," ucap Rahman lalu mulai menyuapi Zahra dan Zahra pun menerima suapan Rahman dengan alasannya penasaran namun sesungguhnya ia lapar.


tanpa Rahman dan Zahra sadari ternyata Tini dan Yeni telah melihat mereka dari balik pintu, dan orangtua pun ikut bersenang hati karena melihat anak-anaknya yang akur dan dapat bercanda satu sama lain kembali seperti semula, yeni pun merasa lega, iya kembali menutup pintu ruangan Zahra tanpa masuk ke dalam.


"mereka sedang bahagia dan sepertinya Rahman sudah berhasil bisa membuat Zahra sedikit lebih bersemangat, sebaiknya kita jangan ganggu mereka dulu kita pergi saja dulu dari sini nanti baru kita kembali lagi ke sini bagaimana?," usul ini yang mengajak Zahra untuk pergi terlebih dahulu dari situ agar Zahra dan Rahman memiliki waktu berdua bersama dengan sangat tenang.


"iya ya daripada kita mengganggu kita biarkan saja dulu baru nanti kita ke sini untuk menjenguk mereka, aku juga sudah senang aku lega akhirnya mereka bisa bersama lagi, aku berharap Allah tetap mempersatukan mereka hingga jannahnya," ucap Tini yang menyahuti perkataan Yeni.


lalu mereka berdua pun memutuskan untuk pergi, dan kebetulan karena mereka sudah lama sekali tidak pernah jalan bersama, dan berfoya-foya bersama seperti saat muda-muda dulu saat Zahra ( part 1) masih hidup, mereka pun memutuskan untuk mengulang lagi masa-masa mereka dulu dengan pergi berjalan-jalan dan pergi berfoya-foya menghabiskan uang mereka dan berbelanja sepuas hati mereka.


"enak kan enak! aku udah bilangin itu resep baru tahu soalnya rasanya aja itu udah beda enak banget," ucap Rahman yang berbicara sambil menyuapi Zahra.


"mmh," Zahra mengangguk sambil mengunyah makanannya


"iya ya kok bisa sih enak ini? aku pikir tadi kakak berbohong kalau ini tuh resep baru, ternyata enak banget," ucap Zahra sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada nya.


"kamu sih ngeyel kalau aku bilangin terasa baru ya resep baru aku nggak akan bohong kali sama kamu, aku pikir tadi kamu nggak mau jadi aku makan aja orang enak juga, tapi ternyata kamu mau ya nggak jadi," ucap Rahman yang sedikit menjengkelkan.


" haihh kakak ini sebenarnya nggak bawain makanan buat siapa sih, kan saya yang punya masa jya kakak yang mau makan," ucap Zahra karena jengkelnya, dan tanpa disadari ia telah melupakan apa yang telah ia katakan dan apa yang telah ia lakukan sebelum ia makan. seperti layaknya seseorang yang memutar balikan fakta.


"dih orang tadi siapa yang enggak mau coba kamu ini memutar balikan fakta saja, yeeeee ,"ucap Rahman yang langsung sontak membuat Zahra malu.


"nggak kok! mana ada kayak begitu" ucap Zahra sambil menggelengkan kepalanya.


"lah terus itu tadi yang bilang lebih baik kakak yang makan biar nanti dikiranya kamu yang habisin siapa?" ucap Rahman menunjuk-nunjuk hidung Zahra dengan jari telunjuknya


"ummm itu kan karena aku pikir kakak yang buat kalau itu resep baru kan otomatis berarti itu dibuatnya itu demi Zahra, jadi nggak mungkin dong Zahra sia-siain perjuangan orang," jawab Zahra yang membela dirinya sendiri sontak membuat Rahman merasa itu sangat lucu.


"Ya udahlah makan dulu nanti kamu ngoceh nya cerewet banget sih kamu kayak ibu-ibu, enggak kebayang anak kita nanti ya kalau kamu yang ngurus aduh cerewet banget deh minta ampun," ucap Rahman yang masih berusaha untuk membuat Zahra teralihkan pikirannya agar tidak mengingat ngingat lagi hal-hal yang membuatnya sakit hati.


"ini anak datang-datang ngomong apa coba," ucap Rahman membalas dendam dengan nada yang kesal.


"dih gitu amat orang adek datang lagi, kakak satu-satunya yang paling cantik jadi jangan nyesal deh ya kalau aku nggak jengukin kakak," ucap Meimei kepedean yang sontak kala itu membuat Rahman dan Zahra tersenyum.


"eh bentar dulu aku nggak akan teralihkan," pacar Zahra yang membuat Rahman langsung melihat ke arahnya.


"karma bilang tadi aku cerewet kalau jadi soalnya butuh bisa buat pusing itu salah yang buat pusing nanti anak kita itu kak Rahman dingin banget gitu ngeyel ngeselin gitu ngeselin banget malahan, pusing nanti saat anaknya lagi main lah malah bapaknya yang main," ucap Zahra disuapan terakhirnya dan membuat Rahman senang karena akhirnya Zahra menghabiskan makanannya.


"dih udah ngomongin ngomongan aja, urutkan suara aja nggak ada isinya," contoh Meimei yang membuat Zahra dan Rahman saling melihat satu sama lain.


"aku bahkan sampai terheran dan berpikir apakah kalian itu sebenarnya sudah berhubungan badan atau enggak, kalian sudah lama menikah tapi perut kesehatan masih aja belum berisi," gumam Meimei yang tanpa sadar masih dapat di dengar oleh Rahman dan Zahra.


"kamu itu ngomong apa sih? huh! siapa bilang kayak begitu? sok tahu!," Rahman dengan kesal menyahuti Meimei dengan wajah cemberutnya dengan prilaku salah tingkah.


"haah!!," Meimei menutup mulutnya terkejut dengan reaksi kakaknya.


"astagfirullah, jadi beneran sebenarnya kalian itu belum sampai tahap itu!," Meimei menekankan kata-kata terakhirnya, yang tentu saja membuat Zahra merasa malu.


"jadi selama ini tuh ngapain tidur berdua cuma diam doang enggak ada apa gitu gairah gairahnya?," cap Meimei Yang tak habis pikir memegangi kepalanya.


"eh bocah kamu itu apa coba, diem ah nyebelin tau," ucap Zahra yang ikut angkat bicara.


"sebenarnya hari ini ada apa sih sama kamu kok kayak bukan kamu," ucap Rahman duduk sambil berkacak pinggang.


"kakak aja hari ini kakak bukan kakak," Meimei yang asal jawab hanya ingin membalas Rahman.

__ADS_1


"ih anak ini," Rahmat sudah kesal namun kekesalan Rahman malah membuat Zahra dan Meimei tertawa. seperti satu anggota grup yang berhasil membuat Rahman yang dijahili bukan hanya Rahman yang menjahili.


setelah setengah jam berlalu....


"kita mandi yuk aku mandiin kamu soalnya kamu udah lama nggak mandi," ucap Rahman mengajar Zahra.


"nanti aja aku bisa sendiri," jawab Zahra dengan datar.


"cieeeee yang ngajakin mandi," ledek Memei yang berada di dekatnya.


"dia mah bocah kamu tau apa coba," sahut Rahman yang kesal terhadap adiknya.


"awas loh hati-hati this is your first time, hihi," Meimei semakin meledek Zahra dan Rahman.


membuat Zahra semakin menolak untuk dimandikan oleh Rahman.


"itu biar rambut kamu nggak bau kita cuma keramas doang," ucap Rahman berusaha merayu Zahra, dan akhirnya setelah beberapa saat Rahman berjuang untuk merayu Zahra , Zahra pun mau untuk memandikan rambutnya saja.


"ekhem hati hati loh ya dalam gelap," Meimei meledak Zahra lagi, namun Meimei langsung terdiam saat mendapat tatapan tajam Yang begitu serius dari Rahman seolah-olah berkata sudah cukup bercandanya.


......


"gimana seger kan," Rahman menanyai Sahara yang sedang mengkramasi rambut Zahra dengan posisi Zahra membaringkan tubuhnya.


"rasanya tuh kayak di salon ya kan? aku tuh pinter tahu pijit-pijit kepala apalagi pijitin kepala istri," ucap Rahman dengan pedenya memijat-mijat kepala Zahra seperti di salon.


"mmh," ucap Zahra menganggukan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"yaah bolehlah, hmmh lumayan juga haha," Zahra mengajak Rahman dengan mengingat-ingat bagaimana Rahman mengejeknya dulu.


"Ya lumayan dibilang orang capek latihan juga," ucap Rahman dengan mengeraskan pijitannya.


"aw" ucap Zahra lirih.


" emang latihan di mana," tanya Zahra kepada Rahman.


"inikan latihan di rumah sakit pakai kepala kamu," sahut Rahman.


"jiahh kirain,"


setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka pun kembali dan mereka bercanda bersama serta melewati pengobatan yang baik dan lancar, Rahman senang karena akhirnya Zahra sudah tidak membicarakan lagi soal perceraian ataupun semacamnya, meskipun mungkin Zahra sangat dingin sekali membicarakannya Namun sepertinya zahraman hanya karena ia sedang menikmati masa-masa bahagianya bersama dengan Rahman. tapi Zahra masih bersikap kesal serta acuh tak acuh kepada Rahman, namun tentu saja itu bukan masalah bagi arahmu karena Rahman tidak akan menyerah.


akhirnya Hari sudah larut matahari pun sudah terbenam , Meimei sudah pulang ke rumah bersama dengan kedua orang tua, dan kini adalah waktunya Zahra untuk beristirahat atau tertidur.


" selamat malam istriku," ucap Rahman yang bersiap-siap sudah memasukkan dirinya ke dalam selimut di kasur yang sama dengan Zahra.


"kenapa kok di sini?," tanya Zahra dengan raut wajah terheran.


"ya aku mau tidur sama kamu disini," jawab Rahman dengan singkat lalu membaringkan tubuhnya


"tapi sempit nggak muat!," ucap Zahra dengan ketus. namun Rahman langsung menarik Zahra ke dalam dekapannya, membuat tangannya menjadi bantal hangat untuk Zahra dan memeluk Zahra sambil bibirnya mencium kening Zahra.


deg


tiba-tiba saja Zahra merasakan detak jantungnya yang begitu cepat begitupun juga dengan detak jantung rahman yang ia dengar.


"ini sudah muat kan kalau bisa dengan cara gampang kenapa mesti dengan cara yang susah, dah ya kita tidur good night sayang," Rahman pun memeluk erat tubuh Zahra. Zahra yang tak dapat berkata apa-apa hanya terdiam dan ikut memeluk Rahman lalu tertidur bersama.

__ADS_1


aku tidak akan pernah melepaskanmu bagaimanapun caranya karena aku akan berusaha untuk memperjuangkanmu hingga titik penghabisan ku. Rahman


bersambung..


__ADS_2