
Zahra kini dalam dilema, antara janji nya dengan Andrean, dan dengan kesempatan yang ada dihadapannya sekarang ini, namun Tari terus meyakinkan Zahra, bahwa Tari akan menjamin semua kebutuhan Zahra, serta pengobatan Azan, Tari juga menjelaskan bahwa ia telah menyelidiki Zahra sehingga tau semua tentang Zahra.
" bukan saya bermaksud untuk menolak ataupun tidak mau Bu tapi saya butuh memastikan satu hal,"
akhirnya Zahra mengangkat bicara meskipun ia merasa sedikit ragu karena ini akan terdengar sedikit egois.
" katakanlah.. " Jawab Tari dengan santainya sembari meminum teh yang di suguh kan Zahra.
" bantulah saya agar bisa pergi ke Inggris bu, untuk menemui tuanku ya itu Andrean Adiwijaya, setahuku dia adalah sepupu dari putra anda Aria Adiwijaya, jadi saya rasa anda pasti mengetahuinya," ucap Zahra yang mengucap keinginan nya
"mh tehnya terlalu manis tapi tidak apa apa meskipun aku sedang diet, sesekali bolehlah kita menikmati makanan yang manis dari orang yang manis juga haha," gumam Tari dengan santainya.
"ssstt, tapi nak aku ingin tau alasannya, alasan mengapa kamu begitu tertarik padanya?," antusias Tari.
"karena dia juga menjanjikan pernikahan padaku, dialah orang yang lebih dulu mengajak saya menuju ke jenjang pernikahan sehingga aku bisa bebas dari pekerjaan ini, tapi sudah dua bulan lebih ini dia tidak ada kabar, jadi saya hanya ingin tau apa alasannya, mengapa ia pergi begitu saja tanpa memberikan saya penjelasan setidaknya agar saya tidak salah paham atau .." Zahra ragu untuk meneruskan kata katanya.
"atau?," tanya tari lagi
"atau setidaknya saya bisa berhenti berharap pada nya," Zahra menundukkan pandangan nya mulai merasakan sakit di hatinya.
"lalu kamu ingin kembali padanya,?"
"tidak, aku hanya ingin memastikan apakah keputusan ku ini benar," jawab Zahra meyakinkan dirinya.
"oke saya terima, besok juga kita akan pergi ke Inggris, tapi apapun yang kamu temukan nanti disana, semoga kamu siap," jelas Tari
"mmh, terima kasih banyak bu" angguk Zahra dengan penuh keyakinan.
"baiklah, aku rasa sudah cukup, aku harus pergi dulu masih ada yang harus aku kerjakan,"
"ya Bu, hati hati dijalan sekali lagi terima kasih banyak,"
***
Zahra kini tengah berada di Inggris ditemani oleh beberapa pengawal dari Tari, Tari juga pergi ke Inggris hanya saja ia membiarkan Zahra melakukan apapun yang diinginkan nya sendiri agar Zahra lebih merasa bebas untuk melakukan apapun yang ia mau.
__ADS_1
"hah itu dia, iya aku tak salah lagi, itu pasti tuan Andrean," Zahra yang berada di salah satu ruangan Mall terbesar di Inggris menemukan Andrean yang dengan beberapa teman lainnya, sepertinya mereka sedang membicarakan soal bisnis. Saat Zahra melangkah maju langkah nya terhenti, karena ia mendapati Andrean yang semakin jelas dilihatnya dan ternyata ia sedang memeluk seorang wanita, dan beberapa kali mencium mesra serta tertawa bersama dengan wanita tersebut, yah dia wanita yang begitu cantik nan seksi tak pantas dibanding kan dengan Zahra. Zahra menunduk sedih entah apa yang dirasa saat ini, entahlah mungkin kah terluka, kecewa, sakit namun semua itu berkecamuk menjadi satu.
Zahra terdiam seperti patung, tiba tiba Andrean melihat kerah Zahra, terlihat ekspresi sedikit terkejutnya yang mendapati Zahra, namun ia malah kembali berbincang dengan teman temannya tanpa menghiraukan Zahra.
Zahra kecewa ia pun berlari kecil meninggalkan tempat tersebut, pengawal yang mendampingi Zahra kini mengantarkan Zahra menuju hotel yang telah dipesan Tari untuk Zahra.
***
Zahra hanya duduk terdiam dipinggir kasur, menghadap jendela, terlintas dipikirannya bayang bayang perlakuan manis dari Andrean meskipun hanya sesaat namun begitu terkenang.
"nak?," Panggil Tari yang kini tengah mengejutkan Zahra dari lamunannya.
" eh iya bu?," jawab Zahra yang masih dalam keadaan setengah sadar dari lamunannya.
"kenapa?,"
"gapapa buk, buk kapan pernikahannya apakah tuan Aria menyetujuinya?. " Zahra langsung menanyakan ke intinya sekaligus membuat keputusan akhir nya pada saat itu
"apakah kamu sudah yakin?, sudah menemukan pilihan?," tanya Tari memastikan
"mmh saya yakin buk," angguk Zahra antusias, " tapi buk bisakah saya menemui orang tua saya terlebih dahulu, saya ingin memohon restu beliau,"
"baik buk,"
tiba tiba sekretaris pribadi Tari datang menghampiri.
"maaf nyonya, "
"iya ada apa Ana,?"
"diluar tuan Andrean ingin bertemu dengan nona Zahra nyonya,"
"apa yang diinginkan anak itu sekarang!!," geram Tari.
"gapapa bu, biarkan saja dia, aku juga ingin membicarakan sesuatu yang harus diselesaikan, "
__ADS_1
" haah, baiklah, biarkan dia masuk," Tari menarik nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Andrean masuk.
Sesaat kemudian Andrean masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Zahra aku mohon dengar penjelasan aku dulu," Andrean memeohon langsung pada Zahra
"silahkan, aku dengarkan,"
Andrean menatap Tari, dengan batin merasa tak enak jika harus berbicara dengan adanya Tari.
"gapapa bicaralah, aku gak terganggu," Zahra langsung mengucapkan apa yang disimpulkan nya dari tatapan Andrean.
"tadi itu hanya perkara bisnis, aku dan wanita itu tak memiliki perasaan apapun hanya karena bisnis aku mendekatinya, sungguh percayalah padaku," jelas Andrean
"hah dasar, kamu bahkan mengabaikan ku tadi,"
"ra jika aku mengejar mu maka tadi rencanaku terbongkar, ini demi keinginan kita kan, membangun kehidupan bersama, kamu juga yang menginginkan nya kan, aku hanya gak mau hidup susah, setelah ini,"
"hahahaha," ketawa sinis kini keluar dari mulut Zahra, Tari yang sedari tadi disana, hanya duduk diam memperhatikan." oh ho berarti semua yang masuk akal bagimu hanya bisnis?, kamu bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarku, keadaan ku, bahkan membiarkan ku melayani lelaki tua yang begitu kasar dalam memperlakukan ku," sinis Zahra sudah tak tahan dengan geramnya
"siapa yang berani seperti itu ra? siapa? bilang sama aku biar aku yang memberinya pelajaran, " jawab Andrean dengan tegasnya.
"maaf itu sudah basi, apa yang sudah terjadi tidak bisa dihilangkan begitu saja, bagimu harta lebih berharga bukan?, daripada kasih sayang seorang manusia, maaf hubungan kita hanya sampai disini, jika tidak ada lagi, aku akan keluar mencari makan, aku lapar." Zahra melangkah untuk berlalu meninggalkan Andrean
"ra tunggu!!," saat Andrean ingin menghentikan Zahra, malah Andrean lah kini yang dihentikan oleh Tari dan pengawal Tari, sesaat Zahra berbalik dan berkata " oh iya sebentar lagi aku akan menikah, dan mungkin hidupku akan bahagia, kumohon jangan ganggu keluargaku!,"
Andrean yang kini dicegat pengawal tak bisa apa apa, ia hanya menatap punggung Zahra berlalu meninggalkannya.
" Tari!! apa yang kau lakukan, " ketus Andrean terhadap Tari bahkan langsung hanya menyebut nama saja
"hah seharusnya aku yang bertanya,"
"tapi kamu bilang enam bulan, lalu apa? aku masih punya setengah bulan," Andrean sudah tak tahan menahan emosinya untuk pertama kalinya ia begitu mencintai wanita tapi langkah nya salah.
" aku menyuruhmu menjaganya, dan membahagiakannya, bukan menyia nyiakannya, lalu apa itu arti kesempatan bagimu, jika kamu saja selalu menganggap enteng sebuah masalah," Tari tak kalah geram dengan tingkah laku Andrean.
__ADS_1
Andrean hanya bisa terdiam merenungi apa yang telah ia perbuat, menyia nyiakan gadis tersayang nya hanya karena harta. hatinya kini berkecamuk.
apakah Aria menikahimu karena keinginan nya? apakah ia mengetahui kamu adalah wanita penghibur?, kita lihat sejauh mana kamu bertahan Zahra. Batin Andrean yang penuh dengan amarah