
Pagi telah tiba, Zahra terbangun dari tidurnya dan merasakan ada suhu tubuh lainnya yang menghangatkan tubuh Zahra, sehingga Zahra terkejut dan membalikkan tubuhnya, dan yang ia lihat adalah Rahman.
ga boleh luluh Zahra! marah! harus ngambek, seenggaknya pura pura lah marah, ah tapi aku ga bisa marah lagi. (author: banyak ga yang suka ngambek kek Zahra? meskipun padahal udah ga marah? jawab di komentar ya😊🙏)
Rahman mulai membuka matanya, ia melihat ke arah Zahra, Zahra lalu berpura pura tertidur dengan memejamkan matanya kembali. Rahman lalu membelai pipi Zahra dan mengecup Zahra.
"Selamat pagi ukhti, maaf karena semalam sudah memarahimu, Aku malu di hadapan Allah karena telah memarahi titipan nya dengan seperti itu," Gumam Rahman lalu membelai pelan rambut Zahra.
Setelah beberapa saat kemudian Rahman datang dan membangunkan Zahra perlahan, Zahra pura pura seperti baru terbangun.
"minum susu hangat dulu, biar enakan badannya," Rahman memberikan susu hangat lalu berpamitan pada Zahra untuk pergi shalat ke Masjid.
"hmmmh kan aku terharu huwa ya Allah," Zahra lalu meminum susunya dengan terharu membayangkan Rahman sendiri yang membuatnya, lalu ia bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, lalu pergi untuk shalat.
Saat kembali dari masjid Rahman menemukan Zahra yang sedang berada dipinggir pantai bersama Raditya, melihat indahnya ciptaan Allah melalui matahari yang terbit, lalu Rahman membiarkan Zahra sejenak dengan Raditya dan pergi kedalam.
"jangan seperti itu lagi de," ucap Raditya.
"hmmh iya ka," jawab Zahra dengan menundukkan kepalanya.
"ga boleh ngambek begitu sama suami, kamu capek di cariin kemana mana kemaren malam, Kaka juga khawatir takut kamu kenapa-kenapa, kamu itu wanita sehebat apa pun kamu jangan sendirian lelaki aja bisa bahaya kalau sendirian apa lagi kamu yang wanita," ucap Raditya memberikan nasihat.
"hmmh iya ka," Zahra mengangguk mendengar nasehat kakanya
"dia marah karena dia sayang sama kamu, dia takut kamu akan mengalami hal yang lebih parah, dia ngelihat kamu bergurau dengan yang bukan mahram kamu aja marah apa lagi yang kemarin. Memang sepantasnya begitu meskipun Kaka masih belum sebaik dia tapi Kaka tau dalam Islam memang berhak seorang suami melarang istrinya bergurau dengan lelaki lain yang bukan mahram, dan seorang istri wajib mematuhinya itu sudah hukum Allah de, cemburnya seorang suami itu adalah iman," jelas Raditya
"hmmh iya ka Zahra minta maaf," sekarang yang bisa Zahra lakukan hanyalah meminta maaf dan mengiyakan perkataan kaka nya karena memang pada hakikatnya semua perkataan kakanya benar.
"baiklah kalau begitu nanti kamu minta maaf baik baik sama dia yah," Raditya membelai kepala Zahra pelan.
"hmmh," Zahra tersenyum dan mulai memikirkan apa yang di nasehat kan oleh Raditya, bahkan saat ia sedang sarapan bersama Zahra masih saja terdiam memikirkan segala kesalahannya, meskipun canda gurau di meja makan keluar karena Raditya dan Alfie namun semua masih bisa merasakan kekosongan pada diri Zahra, meskipun ia tersenyum tetap saja di matanya terlihat bahwa Zahra sedang memikirkan sesuatu.
Di dalam kamar vila Zahra sempat khawatir ia berjalan mondar mandir di kamarnya lalu dengan perasaan gelisah dan mencoba untuk memberanikan dirinya agar bisa berbicara dengan Rahman.
"kak?," ucap Zahra saat menemui Rahman yang memasuki kamarnya.
"mmh," Jawab Rahman singkat dengan memberikan senyuman pada Zahra
dan melihati Zahra dengan ekspresi yang polos seperti berusaha membuat Zahra untuk lebih tenang lagi
"aku minta maaf ya ka, atas apa yang terjadi semalam," Ucap Zahra menunduk, dan menarik sedikit baju Rahman dengan beberapa jarinya.
"mmh ada apa?," Tanya Rahman lembut, suaranya sangat lembut dan jiwanya sangat hangat saat itu, terpancarkan aura kasih sayang dan kesabaran dalam diri Rahman saat itu. Rahman memegang tangan Zahra dengan lembut lalu memegang pelan pipi Zahra, Zahra memegang tangan Rahman di pipinya lalu menggenggamnya.
__ADS_1
"Zahra minta maaf ya ka, semalam Zahra sudah sangat salah sama Kaka," Zahra memegang tangan Rahman dengan kedua tangannya lalu mencium tangan Zahra.
"Zahra telah kalah dengan ego Zahra kemarin sehingga Zahra seperti itu, Zahra salah, Zahra minta maaf karena selama ini Zahra keras kepala sama Kaka, Zahra masih belum melayani Kaka dengan sempurna masih banyak hal yang tidak bisa Zahra beri untuk Kaka, Zahra minta maaf," Tangis Zahra pecah bahkan ia berbicara dengan se segukan. Rahman tersenyum melihat Zahra yang masih mencium tangannya sambil menangis dan meminta maaf, lalu Rahman membelai kepala Zahra dengan tangan sebelahnya, mencium kepala Zahra dan memeluk Zahra erat membiarkan agar Zahra menangis di pelukannya.
"kamu ga salah, memang aku yang salah karena tidak menjaga kamu dengan baik, seharusnya aku tidak lengah, dan aku sudah sangat salah karena memarahi kamu seperti itu semalam, tidak seharusnya aku mengeluarkan kata kata itu semalam," ucap Rahman sambil membelai kepala Zahra di dalam pelukannya.
"huwa," tangis Zahra semakin pecah, ia merasa ia sangat sayang kepada Rahman, bahkan rasa sayangnya bertambah berkali kali lipat.
"Kaka ga salah, Zahra lah yang salah," Zahra berucap dengan menangis sambil se segukan.
"sudah sudah, istriku sayang ga boleh nangis lagi, sudah cukup nangisnya," ucap Rahman mengeratkan pelukannya.
"tapi ga bisa!," tangis Zahra semakin keluar.
"ya udah nangis saja nangis ya," ucap Rahman masih dalam memeluk dan membelai Zahra pelan.
sementara itu tidak tersadar bahwa Alfie, Raditya dan juga Riska sedang mengintip atau menguping pembicaraan Zahra dengan Rahman.
hmmh sahabatku aku jadi terharu, aku sangat menyayangimu, sungguh keputusan yang sangat tepat karena kamu bisa menikah dengannya, dia adalah lelaki yang dewasa dalam menghadapimu. Riska mengelap air matanya yang tiba tiba menetes karena terharu.
"sudah ya jangan nangis, aku ga bisa melihat kamu meneteskan air mata," ucap Alfie mengusap air mata Riska yang jatuh ke pipinya.
"lebay!," Raditya kesal melihat adegan di hadapannya itu ya itu Riska dan Alfie.
Papah, Zahra sekarang telah berada dengan orang yang benar pah, Zahra tuan putri kota menjadi ke kanak Kanakan seketika saat bersama dengan orang yang di sayangnya dan merasa dirinya di sayangi, pilihan yang tepat telah menikahkannya dengan Rahman ayah, terima kasih banyak karena telah membuat keputusan yang sangat benar sehingga membuatku tidak terlalu khawatir tentang dirinya. Gumam Raditya dalam hati dengan tersenyum lega seperti bisa menghirup udara bebas untuk bernafas.
.....
hmmh bukankah seharusnya aku yang bernama kepadanya? lalu kenapa sekarang malah jadi aku yang memanjakannya. Kerutu Zahra dalam hati karena Rahman sekarang sedang bersandar di dada Zahra, dengan Zahra yang membelai belai kepalanya, Rahman dengan asyiknya berbagi handset dengan Zahra lalu memeriksa berkas berkasnya melalui ponsel.
"ka kapan kita akan pulang," ucap Zahra dengan menciumi rambut Zahra.
"hmmh pulang? kamu cepet sekali mau pulang," ucap Rahman dengan mendongakkan kepalanya menghadap Zahra.
belum saja apa apa sudah mau pulang, hmmh. gumam Rahman dalam hati dengan menarik nafas panjangnya.
"iya soalnya kan rindu rumah, bagaimana pun juga masih lebih nyaman dirumah kan kak," ucap Zahra lirih memeluk Rahman dengan melingkarkan tangannya di leher Rahman dan menciumi rambutnya.
"hmmh," Rahman memejamkan matanya dan mendalam kan pelukan Zahra.
Aku sangat menyayangimu, aku mencintaimu Zahra, ana uhibbuki Fillah ukhti. Rahman bergumam dalam hati, sementara Zahra semakin memeluk Rahman dengan erat dan lembut.
Zahra sayang sama ka Rahman. Gumam Zahra dalam hati.
Mereka masih belum mengungkapkan secara terang terangan bahwa mereka telah saling mencintai meskipun sebenarnya tingkah laku mereka telah lebih dari sekedar memberitahukan, namun tetap saja manusia membutuhkan kepastian yang nyata.
__ADS_1
bagaimana kalian bisa menjauh sedangkan Allah telah mengikatkan hati kalian untuk selalu bersama. Author bergumam^_^
....
"huwaaaa segar sekali!!!," Raditya sedang berlari karuan di pinggir pantai saling mengejar dengan air ombak di pinggirnya.
Sedangkan Riska sedang main pasir Pasiran dengan Alfie, dengan canda gurau bahkan mengotori pakaian satu sama lain dengan pasir yang sedang mereka mainkan, terlihat jelas bahwa Riska sangat bahagia bersama dengan Alfie, meskipun terkadang Riska sangat merindukan Yusuf, dan ingin cepat cepat pulang agar Riska bisa bertemu dengan Yusuf.
"aaahahahaha," Zahra terdengar sedang tertawa dengan sangat kencang, ia sedang berlari sekuat tenaganya karena Rahman sedang mengejar Zahra dari belakang Zahra, saat Zahra dapat di raih oleh Rahman, Zahra di gendong oleh Rahman dan berpitar bersama, ditambah lagi mereka jatuh bersama di tempat yang sama, dan bahkan bermain air bersama, pantai kala itu sedang sangat sepi karena memang Rahman lah yang sudah mengaturnya, jadi serasa dunia saat itu hanya milik mereka.
Tetapi tunggu dulu, Raditya tidak merasa dunia kini miliknya melainkan dia merasa dunia kini milik orang lain dan dia hanya sebagai penyewa yang telat bayar bulanan.
"aku juga nanti bisa kaya kalian ko! sebentar lagi aku juga akan menikah! memangnya kalian saja yang bisa huh! akan kubuktikan sebentar lagi aku akan menikah!," Raditya berteriak karena tidak tahan melihat pemandangan di hadapannya kini sedang bersenang senang seolah olah hanya mereka yang ada di dunia ini.
"Arnius tidak kah kamu merasakan apa yang aku rasakan, kita dalam posisi yang sama sekarang," Raditya memegang pundak Arinuis yang memperhatikan Rahman dengan posisi siap siaga, Arniu tidak menggubris perkataan Raditya bahkan tidak melihatnya dan masih dalam ekspresi yang datar
"dasar kamu tidak tau kah betapa terlukanya diriku karena kamu tidak mau dibagi oleh ku, tidak bisakah kamu membiarkanku berbagi sedikit untukmu!!,"
Raditya lalu berlari dengan kesal menuju arah pantai dan melempari kedua pasangan tersebut dengan pasir.
"heiii!!! aku juga akan menikah!!! lihat saja pulang pulang nanti aku akan merencanakan untuk menikahinya!!!," Raditya berteriak dengan kesal dan menjadi ingin menangis, bukannya suasana sedih yang ada malah menjadi suasana aneh dan lucu bagi yang melihatnya.
"kaka mu kenapa?," Tanya Rahman pada Zahra yang langsung terdiam melihat tingkah Raditya.
"sayang kamu tau dia kenapa dari semalam?," tanya Alfie yang ikut terheran pada Raditya.
Riska hanya menggeleng pelan menjawab suaminya karena ia juga merasa heran dan bingung dengan tingkah Raditya
"hahaha Kaka kenapa?! huh!," Zahra sedikit mengeraskan suaranya karena tidak terdengar oleh angin laut.
"hei dasar adik yang terlalu memperhatikan suami, tidak kah kamu menyadari kakakmu ini belum menikah huh! pulang pulang akan ku lamar dia! lihat saja nanti," Raditya kesal dan setengah berteriak jengkel.
"jyahahaha," Rahman tak kuat menahan tawanya karena mengerti apa maksud Raditya.
"tenang habis ini kita belanja oke, akan kubelikan cincin berlian untukmu melamar calon Kaka iparku," ucap Rahman dengan sedikit meledek.
"haha iya tenang saja aku juga akan memberikanmu kalung berlian sebagai hadiahnya, di sebelum hari pernikahan asalkan kamu jadi melamarnya saja jadi telang lah," ucap Alfie dengan tawanya
Para wanita yang melihat kesombongan para suaminya yang sedang keluar kini hanya tertawa karena mereka merasa sepertinya Raditya memang butuh sedikit hiburan.
"benar ya! awas kalau kalian bohong!," ucap Raditya dengan menunjuk.
"bohong dosa loh!," teriak Raditya lagi dengan ekspresi yang begitu lucu bagi yang lainnya karena selama ini Raditya tidak pernah seperti itu.
Ya Allah akhirnya jones ku sebentar lagi berakhir. Ucap Raditya senang dalam hatinya.
__ADS_1