
Haru bercampur sedih menjadi satu, Riska semakin erat memeluk Alfie ia seolah tak ingin berjarak satu inci pun saat ini, bukan karena apa tapi ia tak mampu untuk memapah dirinya sendiri, karena ia merasa sangat sedih lelah lemas bahkan merasa tubuhnya telah terkuras penuh tenaga nya dengan perasaan yang telah direndam selama ini, entah apa yang harus ia lakukan karena ia bahagia melihat sahabatnya bahagia namun hatinya harus terluka karena harus berperilaku dengan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh hatinya, Riska juga tidak bisa untuk memaksakan kehendak ke dari orang lain dan dia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri karena ia percaya sesuatu yang lebih baik pasti akan datang kepadanya.
"Bagaimana pun gua, gua gak akan pernah pantas untuk ber sejajar dengan dia ka, dan gua tidak pernah pantas untuk bersama lelaki manapun di dunia, karena dari dulu gua ngak pernah jadi wanita yang sesungguhnya, secantik apapun lu berusaha untuk mengubah gua dengan sekuat tenaga tetap aja gua akan tampak sebagai seorang pria di matanya kak, entah kenapa tapi gua nggak yakin dengan perasaan hati gua dia adalah lelaki yang diperoleh sahabat gua tapi gua malah suka sama dia nggak becus banget tau nggak gua jadi sahabat kak, gue merasa kecewa sama diri gue sendiri kak gua nggak tahu apalagi ketika gue sendiri dia menghianati sama gua karena gua suka sama orang lain dan orang lain itu sama dengan orang yang disukai oleh sahabat gua, meskipun sebenarnya gue diam tapi gua nggak bisa nahan perasaan ini karena gua beneran sayang sama dia" Riska menangis sejadi jadinya bahkan mencengkram erat tubuh Alfie karena ia sudah tidak tahu seperti apa lagi dan riska sudah tidak kuat jika tidak menumpankan semua perasaannya pada saat itu juga kan itu benar-benar menyesakkan dadanya dan Ya sudah tidak tahan lagi dan tidak tahu jika bukan dengan Alfi maka dengan siapa lagi harus mengadu.
"Ssttttt, jangan berbicara seperti itu kamu adalah wanita yang cantik, hebat dan tangguh siapapun yang kamu inginkan kamu pasti akan bisa mendapatkan nya, jadi jangan pernah mengatakan itu lagi aku akan selalu ada untuk kamu," Alfi memeluk Riska dan membelai kepala Riska dengan lembut serta berusaha untuk memberikan kekuatan penuh kepada Riska agar Riska kembali semangat, dan penuh ceria serta bahagia karena Alfi tidak ingin melihat air mata jatuh karena rasa bersalahnya kepada orang lain atau karena ia terluka oleh orang lain, Alfi pun diam sebenarnya ia merasakan hal yang sama dengan akan dirasakan oleh Riska, yaitu dengan melihat orang yang kita cintai mencintai orang lain. yang bisa lakukan hanyalah mendukung Riska dan selalu ada bersama dengan Riska untuk menyemangati nya selalu dan berjuang agar Riska bisa kembali seperti Riska yang ia kenal.
"aku udah bilang kan sama kamu, aku nggak suka kamu yang berbeda aku mau kamu menjadi diri kamu sendiri, akan kulakukan apapun asalkan Riska akan tetap selalu menjadi Riska yang aku kenal aku bilang kayak begitu kan sama kamu, jadi tolong kembalilah menjadi Riska yang penuh dengan ceria dan canda tawanya yang menghiasi hari-hariku dan membuat aku bahagia dengan melihat tangannya meskipun aku tidak hadir dalam tawanya," ucap Alfi dengan tulus dan lembut sambil mengelus-elus pundak serta kepala Riska dan semakin mengeratkan pelukannya untuk Riska karena Alfi juga sudah tidak bisa menahan lagi air matanya karena ia juga sangat menyayangi Riska dan jika ia melihat Riska menangis dengan tersedu-sedu seperti itu, air matanya juga akan terpancing untuk keluar karena rasa sedihnya itu
......
"Memei?," Zahra memanggil Memei dengan lirih.
"iya ka?," jawab memei setelah mmendengar Zahra memanggilnya
Zahra ingin melanjutkan apa yang ia katakan namun ia melihat ke arah Rahman, meskipun saat ini ia duduk bersebelahan dengan Memei namun tetap saja bagi nya akan tercipta rasa kurang nyaman bagi Zahra dan Memei untuk curhat diantara sesama wanita, karena Rahman berada tak jauh dari mereka, jadi kemungkinan besar jika mereka berbicara atau membicarakan seseorang maka Rahman memiliki peluang besar untuk mendengar pembicaraan mereka, meskipun Rahman adalah orang yang acuh tak acuh asalkan orang yang disayangi masih baik-baik saja namun tetap saja Zahra merasa kurang nyaman bila apa yang punya aku ceritakan didengar oleh orang lain, dan tidak mungkin akan sedikit mengganggu terlebih lagi jika seorang lelaki yang mendengarnya.
"lewat chat aja ya," Zahra setengah berbisik memberitahu Memei dengan memberi kode agar tidak didengar oleh Rahman apa yang akan dibicarakan oleh Zahra kepada Memei, Memei yang mengerti maksud Zahra mengangguk dan mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk menerima chat dari Zahra.
"Kaka merasa ada yang aneh sama Riska, Kaka merasa ngak enak aja," isi pesan Zahra di chat nya untuk Memei yang langsung memberitahukan isi pembicaraan yang akan dibicarakan oleh Zahra.
"yang kaya gimana?," balas Memei melalui chat, ia sebenarnya juga merasakan perasaan yang rasa tidak enak kepada Riska, namun apalah daya dia tak bisa berbuat apa-apa dan takut yang dirasakan Zahra juga berbeda dengan dirinya oleh karena itu Memei memutuskan untuk bertanya kepada Zahra untuk meluruskan pemikiran nya. karena jujur Memei tidak ingin menyinggung perasaan Riska ataupun Zahra.
"iya kaya ada rasa kurang nyaman aja kalau harus bersama ka Reza dan Riska bersamaan, rasanya tu kaya Kaka keterlaluan jadi harus membagi kasih sayang Kaka gitu," isi pesan Zahra yang masih berusaha berpikir positif, karena Zahra sebenarnya juga berpikir bisa jadi suka itu jadi cinta kepada Reza, namun ia tidak ingin berpikiran negatif tentang Riska karena ia tahu Riska pasti akan merasa sangat kecewa jika kepercayaannya dilakukan oleh Zahra, seperti yang telah diketahui karena Zahra adalah sahabat sejati Riska Riska, dan mereka telah menjalin hubungan sahabat dari jauh-jauh lamanya.
"gapapa ko tenang aja, lagian Kaka sama ka Reza juga biasa aja ko, bersentuhan aja ngak pernah, cuma ngomong doang paling." balas Memei yang berusaha untuk menenangkan Zahra karena memang tidak sepenuhnya Zahra yang salah, hati manusia memang Tuhan yang mengatur bukan manusia itu sendiri, dan jika manusia jadi cinta itu berarti bukan kehendak nya sendiri melainkan karena Tuhan, dan jika secara tidak sadar atau secara tidak di sengaja, mereka ternyata jatuh cinta kepada orang yang sama salah satunya harus mengalah karena cinta tidak bisa dipaksakan, bagian terbaiknya jika 1 orang itu tidak mencintai salah satu di antara dua orang yang mencintainya, dan bagian buruknya jika orang itu malah mencintai salah satu di antara dua orang yang mencintainya
"iya sih, tapi tetap aja akan ada rasa berbagi," balas Zahra karena ia masih merasa tidak enak, dan merasa Riska memang sudah mulai menjauh dari Zahra
"ka aku mau nanya sesuatu sama Kaka," Isi pesan Memei yang langsung di lihat oleh Zahra menandakan bahwa Zahra menanyakan apa yang ingin ditanyakan oleh Memei.
"Kaka sayang sama ka Reza?," Tanya Memei dengan bersungguh-sungguh karena terus terang Zahra tidak pernah mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya kepada siapapun, jadi antara dua kemungkinan apakah Zahra benar-benar mencintai Reza sehingga Zahra memberi kesempatan kepada Reza, ataukah Zahra hanya merasa iba dan kasihan kepada Reza Zahra memberinya kesempatan untuk mendekatinya
"mungkin ini terdengar lucu tapi seiringnya waktu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa Kaka sudah mulai menyayanginya," Zahra menarik nafas nya, dan memandang memei dengan tatapan sayu, lalu menundukkan kepalanya dengan malu dan merasa konyol, dan seketika itu juga memei menggenggam tangan Zahra mencoba untuk memberikan keyakinan dan juga kepercayaan diri kepada Zahra.
sementara itu di sisi lain Rahman memperhatikan tingkah laku, dua orang wanita yang ada di belakangnya itu, Rahman mengerti bahwa Zahra sedang curhat bersama dengan adik perempuannya, demi kenyamanan mereka tidak mengeluarkan suara apapun, dan bersyukurnya lagi Rahman orang yang pendiam, jika itu memang kemaun nya jadi tidak mengganggu perbicaraan antara dua wanita itu karena Rahman adalah pribadi yang dewasa, itulah sejatinya.
.....
"Assalammualaikum," Zahra mengucap salam saat akan memasuki rumahnya setelah Zahra sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
"Waalaikummussalam nak, makan dulu yuk," sambut ini dengan hangat dan bahagia dan juga Tawar Tini yang mendapati Zahra baru saja pulang dan terlihat lelah.
"aku udah kenyang mah, mau bobok," jawab Zahra dengan lemas dan lesu nya karena kegiatan seharian ini yang membuatnya sangat lelah
"oh iya sudah sayang. Bobo yang nyenyak ya, nanti kamu harus cerita sama mamah apa yang terjadi di acara perpisahan," ucap Tini yanb sudah antusias dengar cerita dari pengalaman Putri tercintanya, karena ia menantikan adegan-adegan di mana anaknya mendapat pujian karena kecantikannya yang mempesona berkat dirinya yang mendandani Zahra pagi itu.
"iya mamah sayang, dah ya?, Zahra bener bener ngantuk dan lelah banget Zahra bobok dulu ya mamah sayang," Zahra mencium pipi Tini sebelum ia pergi ke kamarnya karena ia sangat menyayangi dan menghargai mamanya.
Di dalam kamar setelah Zahra melaksanakan kewajiban pada Tuhan nya yak ni shalat Zuhur, Zahra langsung merebahkan dirinya di kasur, ia mencoba ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Riska mengapa ia merasa bahwa akhir akhir ini Riska seperti menutupi sesuatu darinya, dan lebih memilih untuk tidak terlalu berbicara pada Zahra, dan Zahra merasa tidak nyaman kalau sampai Riska benar-benar menjauh dari dirinya karena Zahra pada hakikatnya nya setiap hari selalu bersama dengan Riska dan ia tidak ingin kalau Riska menjadi berubah dan menjauh darinya.
dreet dreet
"Halo assalammualaikum," Ternyata Reza yang menelpon Zahra dari seberang.
"waalaikummussalam, iya ka ada apa?," jawab Zahra dengan dikit lemas karena lelahnya dan baru bisa membaringkan dirinya namun berusaha untuk menyemangati dirinya untuk menjawab Reza agar Reza tidak tersinggung.
"Ra bagaimana menurut kamu kalau aku akan kuliah keluar negeri?, apakah kamu sanggup menunggu aku hingga aku pulang dan melamar mu?," tanya Reza langsung pada intinya, karena ia akan melakukan apapun untuk untuk Zahra dan bila Zahra tidak mengizinkan maka ia tidak akan pergi, meskipun sebenarnya itu demi masa depan mereka, namun Rahman merasa akan sia-sia saja jika Zahra tidak menunggunya kembali setelah itu.
deg
Melamar? kata kata itu lah yang menjadi pusat fokus pendengaran Zahra, ia terkejut karena ternyata Reza memang benar benar serius terhadap nya karena Allah semata.
"ia aku dapat beasiswa jurusan arsitek kebetulan aku suka bekerja di proyek bangunan, dan ada bos ketua disana yang menyukai kemampuan ku, tapi aku akan kuliah di luar kota sekitar 2 tahun lama nya. Jadi apakah kamu mengizinkan,?" tanya Reza lagi dengan mengulangi pertanyaannya dan ia berharap semoga Zahra bisa memberikan jawaban yang terbaik
diluar kota? dua tahun? lalu apakah aku bisa disebut dengan LDR? kenapa sih saat harus aku mulai merasa sayang jadi ada aja?, tapi demi kebaikan dan niat baiknya, in shaa Allah aku kuat. Zahra berfikir baik baik dalam hati untuk menentukan pertimbangan di dalam fikiran nya lagi pula itu demi kebaikan masa depan.
"jika itu yang terbaik gapapa ko, in shaa Allah ini adalah hal yang benar," Jawab Zahra dengan suara datar.
"Tapi Ra, aku ingin sebelum ini, mama papa kamu, bisa bertemu dulu dengan ibu aku aku ingin mereka bisa saling mengenal satu sama lain, jangan sampai setelah aku berjuang namun orang tua ada yang tidak menyetujuinya, bisa Ra?
what? sampe pertemuan orang tua? serius? apakah ini bisa disebut dengan tunangan?. Zahra berfikir dengan menampilkan senyuman sumringah di wajahnya.
"Iya ka in shaa Allah nanti aku bicara dulu sama orang tua aku,"
"iya jika memang di izinkan biarkan aku dan ibu ku yang datang ke rumahmu, agar kami bisa lebih mengenal lagi," permintaan Reza kali ini sungguh sangat sangat membuat Zahra tersentuh.
"iya ka,"
...
__ADS_1
Seperti biasa, waktu makan malam telah tiba, keluarga Zahra telah lengkap dan berkumpul di ruang makan, Zahra menggenggam tangan nya yang terasa dingin. Ia merasa gugup karena akan berbicara dengan Marko, mungkin jika berbicara dengan Tini tidak akan se gugup ini.
Dan pada akhirnya Zahra menunggu hingga makanan telah selesai dimakan, namun Zahra masih saja mengundur waktu hingga Marko memakan buah sebagai pencuci mulut nya. Marko yang melihat Zahra terus melihat ke arahnya terheran, dan bertanya tanya ada apa sebenarnya.
"ada apa sayang?," Akhirnya Marko bertanya pada Zahra.
"Ah?," Zahra terkejut karena ternyata ia memang terlihat memperhatikan Marko
"ah gapapa ko pa," mendengar perkataan Zahra Marko mengangkat alisnya dan berniat pergi dari tempat makan untuk beralih ke ruang tengah untuk menonton TV.
"Pa!," Zahra memanggil Marko dengan setengah berteriak, Marko yang baru saja bangun dari duduknya sedikit terkejut, dan melihat ke arah Zahra dengan kebingungan, bahkan Tini, Raditya dan Ramadhani pun juga ikut melihat ke arah Zahra.
"aku suka seseorang!," Zahra memejamkan matanya dan memaksakan dirinya untuk berbicara. Seketika itu Marko sungguh sungguh terkejut dan mengambil posisi duduknya kembali, bahkan di ikuti oleh Raditya dan Ramadhani yang ikut terduduk, sedangkan Tini masih berdiri ditempat dan belum menaruh kembali piring yang ada ditangan nya yang sedang ia bereskan.
"papah ngak salah denger kan? coba kamu ngomong apa nak," Tanya Marko meyakinkan.
oh tidak kak Zahra apa yang akan kamu lakukan?. Ramadhani sudah takut bahkan melebihi rasa takut dan khawatir yang Zahra rasakan saat ini.
"mm, Zahra akan berbicara dan memberitahu papah, tapi janji papah jangan berbicara dulu, marah atau apapun itu sebelum Zahra selesai berbicara," Zahra memilih untuk mengajukan permintaan dulu alih alih untuk menyelamatkan dirinya nanti. Marko mengangguk dan memerintahkan tidak ada yang boleh memotong perkataan Zahra saat ini.
"pah aku sayang sama seseorang, tapi orang itu bukan ka Rahman, dan jujur cincin ini dia yang memberikan," Marko merasa gemas tapi ia menahan dirinya karena telah berjanji membiarkan Zahra berbicara, ingin rasanya ia marah tapi ia juga tidak ingin marah terhadap Zahra. Bahkan Raditya juga sudah terlihat geram.
"jangan salah paham dulu, aku ngak pacaran sama dia, aku cuma deket aja, bersentuhan pun aku ngak pernah," Raditya dan Marko menatap Zahra tak percaya.
"sungguh Zahra jujur, demi Allah Zahra jujur, dia menyukai Zahra dari kelas satu, tapi Zahra baru memberinya harapan baru baru ini," dan akhirnya Zahra menceritakan semua perjuangan Reza bagaimana cara ia memperhatikan Zahra dan bekerja keras untuk Zahra bahkan sampai tak pernah berusaha untuk menyentuh Zahra, sehingga membuat hati Marko dan Raditya sedikit melunak.
"Dia ingin datang kerumah kita bersama dengan ibunya, dia minta sedikit waktu papah, bukan ya bukan untuk melamar Zahra, hanya saja agar semakin mengenal. Dia akan kuliah keluar kota ia mendapat kan beasiswa jurusan arsitek dan sebelum ini ia hanya ingin mengenal lebih dengan keluarga kita. Agar ia bisa lebih bersemangat untuk berjuang mengumpulkan tabungan untuk ia memantaskankan diri agar dapat melamar Zahra." Imbuh Zahra. Marko dan Yang lainya hanya terdiam dan menghela nafas lalu saling melihat satu sama lain.
"terima kasih banyak sudah jujur sama papah ya nak" Marko membelai kepala Zahra dan bangun dari duduk nya bersiap untuk pergi bukan untuk menonton tv tapi kali ini memilih untuk ke kamar. Raditya dan yang lainya ikut berdiri dan pergi karena Marko telah pergi.
Zahra menundukkan kepalanya dalam, menggenggam tangannya, merasa sedikit kecewa karena renspon Marko yang tidak memberinya jawaban.
"oh iya mungkin Akhir pekan papah akan berikan dia sedikit waktu, jangan sampai ada halangan ya, dia hanya punya sedikit waktu, sedikit saja," Marko berbalik dan memberikan Zahra jawaban, ia tak sanggup melihat putri semata wayangnya bersedih dan murung.
mendengar perkataan Marko Zahra dan Tini saling melihat dan tersenyum satu sama lain. Namun tidak dengan Ramadhani dan Raditya mereka merasa bahwa akan ada saingan baru yang hadir pada diri mereka mulai sekarang.
Dan mungkin hanya Marko lah yang saat ini mengambil jalur tengah atau berada di tim bersifat Netral.
bersambung....
__ADS_1