Cinta Zahra

Cinta Zahra
Persahabatan.


__ADS_3

Persahabatan? banyak orang bilang bagaikan kepompong, yang berawal dari ulat lalu menjadi kupu kupu. Apakah karena berawal dari binatang yang menggelikan untuk banyak orang? lalu menjadi binatang yang begitu indah dipandang bagi sebagian besar orang?. Ataukah ulat dan kupu kupu itu sahabatnya dan kepompong lah menjadi jarak mereka, karena tak jarang persahabatan rusak karena satu orang lelaki atau insan. Banyak juga orang yang menyerah pada persahabatan nya karena hal itu meski hanya salah paham. Tetapi bagi Zahra ini semua tak boleh di biarkan, persahabatan yang tulus itu tidak egois, tidak hanya mengandalkan perkataan "Lo Lo, gue gue," tetapi bagi Zahra sahabat adalah sesuatu yang benar benar harus diperjuangkan sampai akhir. Dan itulah sekarang menjadi penyemangat Zahra untuk membuat Riska tidak berada dalam kekacauan.


"Riska!," Zahra setengah berteriak, tetapi Riska tidak melihatnya sama sekali. Riska mengepalkan tangannya dan merasa kesal, ia berfikir bahwa sudah cukup selama ini untuk dia selalu mengalah pada Zahra.


memangnya mengapa jika aku bisa mencari kebahagiaan ku sendiri. Ucap Riska kesal.


Zahra tidak menyerah dengan begitu saja, Zahra berniat mencari Reza menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu. Tetapi tentu saja sebelum itu ia akan meminta izin pada Rahman karena ia telah menjadi suaminya kini.


"assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh ka Rahman?," Zahra menelpon Rahman.


"Iya waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh Zahra ada apa?,"


"Ka, hari ini aku akan bertemu dengan ka Reza aku minta izin dari Kaka," ucap Zahra, yang langsung membuat Rahman mengepalkan tangannya karena kesal.


"ada apa?,"


"ada yang harus ku bicarakan, dan bisakah Kaka yang menjemput ku untuk pulang nanti?," ucap Zahra.


"iya nanti kirim saja alamatnya jam berapa pulang kasih tau nanti aku kesana," ucap Rahman dengan menunjukkan sedikit senyuman lalu mengakhiri panggilan.


....


"Halo sayang?, kenapa mengajak ku untuk bertemu?, Rindu?," ucap Reza pada Zahra di sebuah kafe.


"huh," Zahra mengambil nafas dalam tidak ingin mengeluarkan emosinya yang sudah meluap luap.


"ka bisa tolong jaga jarak sama Riska, setidaknya jangan sampai Kaka pernah menganggap dia sebagai wanita murahan," ucap Zahra.


"hah? haha, memangnya kenapa?, marah? atau cemburu?," Reza memberikan tatapan tajam nya pada Zahra.


"Ka, bukan karena marah dan cemburu, tetapi karena sayang, dia adalah sahabat terbaikku, mungkin jika orang lain yang tidak ingin mendengarkan nasihatku aku tidak akan bereaksi seperti ini, tetapi jika Riska, sampai kapanpun aku akan membuat dia untuk tersadar,"


"Boleh juga, persahabatan kalian, tapi apakah Riska juga berfikir seperti itu ya? aku penasaran dengan reaksinya," Reza memegang dagunya seperti memikirkan sebuah rencana.


"apa yang ka Reza rencanakan, jangan berfikir macam macam ka,"


"ga ada hanya ingin melihat bagaimana cara ia berfikir tentangmu, apakah persahabatan kalian se kental itu?, yang aku tahu adalah kamu penyebab dari semua ini. Jadi apakah kamu akan bertahan jika merasa sakit di khianati sahabat sendiri?,"


"Mungkin sakit, tapi tidak dengan keterpurukan,"


Rahman datang dan langsung menghampiri Zahra, saat datang ia merasa kepemilikan nya sedang diganggu, sehingga Rahman datang menyalami Zahra, dan menggenggam erat tangan Zahra lalu mengecup kening Zahra. Memberi sebuah peringatan bahwa Zahra adalah miliknya seorang. Reza yang melihatnya tersenyum licik dan membuang muka, serta mengepalkan tangannya.


"apakah aku telat?," Tanya Rahman pada Zahra lalu memegang wajah Zahra.


"ga ka, aku baru mau selesai berbicara," Zahra mengalihkan tangan Rahman dari wajahnya, tetapi Rahman tetap tidak ingin melepas tangan Zahra.


"Baiklah, sepertinya suamimu sudah menjemputmu, pulanglah lagi pula sudah selesai kan?," Rahman berdiri dan menjulurkan tangannya untuk mengalami Rahman, Rahman juga berdiri dan menyalami Reza.


"Berhati hatilah," ucap Rahman dengan penuh penekanan.


"haha jangan khawatir kan aku, khawatir kan saja perasaan istrimu, kamu harus menjaga apa yang di khawatir kan oleh nya," Reza lalu pergi meninggalkan mereka.


" kamu ga kenapa Napa?," Tanya Rahman melihat Zahra.


"Ga apa apa kita pulang aja ka,"


"Baiklah,"


Reza memerhatikan mereka dari kejauhan, sampai mobil Rahman berlalu dari pandangan nya, Reza bersandar pada tembok, mengepalkan tangannya dan membenturkan kepalanya pelan.



Sakit? kecewa? mungkin itu yang dirasakan Reza, karena perjuangan yang ia lakukan tanpa ragu sedikitpun, namun apa lah daya ketika takdir berkata lain.


"kamu kenapa kalau ada apa apa bilang aja, aku ini suami kamu tau,"


"iya," jawab Zahra singkat, lalu membuang pandangannya ke arah luar jendela.

__ADS_1


"huh!," Rahman mengambil nafas dalam, yang sempat membuat Zahra meliriknya.


maaf sampai saat ini aku masih seperti ini ka, hatiku masih sulit untukku kendalikan, mohon maaf yang sebesar besarnya ka. ucap Zahra dalam hati.


Rahman menghentikan mobilnya tiba tiba, yang membuat Zahra bertanya tanya.


"Tunggu sebentar aku akan bertemu dengan klien untuk mengurus sesuatu," ucap Rahman memberi tahu pada Zahra, yang di jawab anggukan oleh Zahra.


Zahra melihat ternyata yang ditemui oleh Rahman adalah Alfie, sejenak Zahra berfikir bahwa yang bisa menjaga Riska dengan sepenuh kepercayaan adalah Alfie.


Zahra pun memutuskan untuk keluar setelah melihat Rahman seperti usai berbicara dengan Alfie.


Tetapi saat keluar ia terkejut karena terlihat seperti beberapa orang dengan pakaian hitam rapinya, sedang mengikuti Zahra. Zahra menatap para lelaki yang mengikutinya itu, tetapi mereka tetap biasa saja dan melakukan apa yang mereka mau. Zahra pun tidak terlalu menghiraukannya lalu menghampiri Alfie dan Rahman.


"Hay ka Alfie," Zahra melambaikan tangan dan memberi senyuman pada Alfie.


"Hay Zahra," balas Alfie dengan melambaikan tangan membalas Zahra.


"ka bagaimana hubungan Kaka dengan Riska?," Tanya Zahra.


"Ya seperti biasanya, yang seperti kamu lihat,"


"Ka tolong jaga Riska dengan lebih baik ya, maaf bukan berarti meragukan hanya saja...," ucap Zahra ragu.


"iya Zahra aku mengerti, kamu yang tenang aja ya," Jawab Alfie dengan memberi senyuman.


"hei jangan tersenyum seperti itu pada istriku, kamu juga kenapa senyum pada Alfie, bicara yang biasa aja bisa kan?," Ketus Rahman yang sedari tadi memperhatikan kedekatan keduanya.


Zahra menatap sinis pada Rahman, sedangkan Alfie hanya tertawa melihat keduanya bertengkar seperti anak kecil.


"Baiklah kalau begitu aku pamit," Alfie pamit lalu pergi meninggalkan Zahra dan Rahman.


Zahra masih melihat Rahman dengan tatapan tidak sukanya, lalu pergi terlebih dulu menuju mobil Rahman.


Zahra masih merasakan bahwa orang orang tadi mengikutinya bahkan saat mobil Rahman berjalan juga mereka masih mengikuti.


"Ka?," panggil Zahra pelan


"Kaka ga merasa ada yang aneh gitu?,"


"kenapa?,"


"itu orang orang di kendaraan belakang perasaan dia mengikuti kita dari tadi?,"


"memang," Jawab Rahman santai


"memang?," Tanya Zahra terheran


"iya memang karena, dia itu adalah pengawal yang aku pekerjaan untuk selalu mendampingi ku dan juga kamu,"


"jadi dari kemarin?,"


"iya mereka selalu mengikuti kamu,"


"ah?, ko aku gak sadar?,"


"ga perlu kamu sadar yang penting kamu aman aja udah gampang kan," jawab Rahman tanpa melihat ke arah Zahra.


simple banget, enak ya ngomong kayak begitu mentang mentang orang kaya, sombong amat!. Zahra kesal dengan sikap Rahman yang masih saja dingin kepadanya. Meskipun ia juga merasakan kasih sayang Rahman sebenarnya.


.....


"Riska maaf jika kamu tersinggung kemarin," Zahra menghampiri Riska di kampus.


"ya ga apa apa, biasa aja kali," jawab Riska tanpa menghiraukan Zahra.


..

__ADS_1


"Riska makan siang bareng yuk?," Ajak Zahra saat jam makan siang telah tiba


"maaf ya udah ada janji, Lo sendiri aja," jawab Riska tanpa melihat Zahra lalu pergi meninggalkan Zahra.


..


"Riska pulang bareng yuk?," Zahra masih mencoba mengajak Riska untuk bersama lagi.


"Maaf ya gua pulang sama ka Reza, bye," Riska melambaikan tangannya tak memperdulikan Zahra.


Hingga satu Minggu berlalu Riska masih saja berjuang untuk menyapa Riska dan menghabiskan waktu bersama meskipun Riska selalu menghindarinya.


"kenapa?," Rahman bertanya pada Zahra karena Zahra terlihat sedang melamun mengahadap ke luar jendela mobil.


"hmh ga ada ka," jawab Zahra sambil menghembuskan nafas berat nya


"kamu masih memikirkan si sahabat kamu itu?, dia masih ga mau mendengarkan nasihat kamu?," Tanya Rahman dengan memberikan pandangan pada Zahra. Namun tidak ada jawaban dari Zahra.


"kamu mau aku menyuruh beberapa pengawal untuk mengikuti mereka, untuk menjaga Riska setiap saat, dan memerintahkannya larang larangan agar Riska tidak melakukan hal yang tidak kamu inginkan?," Tawar Rahman. Dan benar saja saat itu Zahra melihat ke arah Rahman dan membulatkan matanya.


"emangnya bisa ka?, bolehkah?," tanya Zahra dengan penuh antusias


"kenapa ga?," jawab Rahman dengan santainya.


"aku mau dong agar mereka seperti yang Kaka katakan,"


"oke boleh boleh saja, besok juga mereka sudah mulai bekerja, kamu jangan khawatir tenang aja," ucap Rahman dengan memberi sedikit senyuman kesombongan.


"aaa terima kasih banyak ka!," Ucap Zahra dengan kegiatan.


......


Riska menghabiskan waktu dengan Reza, mereka tidak menyadari bahwa para pengawal yang diutus Rahman sedang mengikuti mereka, setiap ada sesuatu yang ingin mereka lakukan dengan bersentuhan, para pengawal melakukan berbagai macam trik agar mereka tidak bersentuhan, dan hal itu berhasil juga sampai membuat Riska sedikit kesal, sedangkan Reza sedikit tersenyum seperti telah mengetahui siapa para pengawal tersebut.


Setelah beberapa hari para pengawal mengikuti Riska dan Reza, Riska merasakan ada sesuatu yang aneh, karena merasakan ada orang yang selalu mengganggu mereka, terlebih lagi bahwa Riska mengingat wajah yang sama berkali kali pada orang orang itu.


"Hei sebenarnya siapa kalian," Kesal Riska yang mem pergoki pengawal itu tengah mengikuti Riska dan ingin mengganggu Riska lagi.


Para pengawal itu hanya diam, dan berdiri tegak, bahkan saat mereka telah ketahuan tetap saja mereka mengganggu Riska meski harus dengan terang terangan sekalipun.


Riska geram, darahnya sudah memuncak, bahkan ia sempat mengancam untuk melapor pada polisi tetapi Para pengawal itu tidak takut dan tidak bergerak dari posisinya sedikitpun. Saat Riska hendak menelpon polisi karena kesal Reza menghentikan Riska.


"sudahlah jangan sampai seperti itu," ucap Reza pelan.


"tapi ka mereka udah keterlaluan tau ga?," jawab Riska dengan ketus


" bukan begitu, hanya Saja Riska, Zahra pernah menemui ku dan bersama dengan suaminya mereka pernah menyuruhku untuk menjauhi kamu, aku rasa itu alasannya," ucap Reza dengan wajah sedikit memelas. Riska mengepalkan tangannya kesal sedangkan Reza tersenyum sinis melihat reaksi Riska.


....


Brakk


Riska memukul keras meja Zahra di kelas Zahra yang memicu perhatian orang orang disana.


"astaghfirullah Riska! ada apa? terkejut aku," ucap Zahra dengan setengah berteriak.


"jangan sok alim deh Lo ya? selama ini gua udah sabar sama Lo ya tapi ga gini juga kali," ketus Riska dengan kasar hingga Zahra tidak mengerti dengan jelas apa yang dikatakan Riska.


"Maksudnya?,"


"alah jangan munafik deh Lo ya Ra gua tau betul bahwa Lo gang ngelakuin ini semua mentang mentang ha udah sama orang kaya," Riska ingin memberitahukan pada semua orang bahwa Zahra telah menikah muda, dengan lelaki kaya agar di kira wanita perahu pria.


Zahra melihat sekeliling, karena memang pernikahan ini ia sembunyikan agar tidak ada keributan.


"Riska apa apa an sih kamu?!,"


"Lo yang apa apaan, jangan sok gak gau deh lo ya, Lo kan yang nyuruh suami loh buat ngikutin gua sama ka Reza, biar Lo bisa puas dan ngerebut Reza dari gue iya kan?!!," Bentak Riska dengan tak tahan hingga teman teman sekelas Zahra berkumpul.

__ADS_1


"!!! astaghfirullah!!,"


bersambung......


__ADS_2