
Rahman menatap Zahra dengan mata yang berbinar terasa sedikit kecewa kesal bahkan sedikit sedih dalam diri Rahman.
"maaf," ucap Zahra sambil menggigit bibir bawahnya karena ia takut Rahman akan sangat kesal karena hal itu.
"fiuuhh kenapa harus sekarang sih," Rahman berbicara dengan nada frustasi nya.
"mmmh maaf ya," Zahra menghampiri Rahman dan memeluknya, lalu mengecup wajahnya dan duduk di pangkuannya.
"percuma kalau sekarang sih mah Ra," Rahman dengan kesalnya namun tetap melingkarkan tangannya di pinggang Zahra.
"hehehe," Zahra tertawa namun ia tetap melingkarkan tangannya di leher Rahman sambil tertawa dan memeluk Rahman.
Rahman pun hanya bisa membalas pelukan Zahraa dengan penuh kasih sayangnya, ya menggoyangkan tubuhnya bagaikan seorang ayah yang sedang memeluk putrinya.
"i love you," lirih Zahra yang berbisik ditelinga Rahman.
"jangan begitu itu sama aja kamu ngegoda aku tahu, sekarang kita lagi nggak bisa kenapa kamu harus kayak begini sih," ucap Rahman yang masih memeluk Zahra.
"mmmh i love you," Zahra dengan nada manjanya, masih memeluk Rahman dengan penuh kasih sayang.
"oh, come on, kau terus aja menggoda aku, jangan-jangan emang kamu sengaja ya pas lagi kayak begini kamu goda pas selagi bisa mana ada kamu goda, kamu malah kayak diam malu tau gak," Rahman mencubit pelan paha Zahra karena gemas.
"aaa sakit jangan nyubit dong," Zahra teriak dengan setengah manja namun masih memeluk Rahman dan tidak ingin melepaskannya.
"lepas ah," Rahman sengaja mencoba untuk melepas pelukan Zahra namun Zahra mengeratkan pelukannya.
"lepas," ucap Rahman.
"ga mau!," ketus Zahra.
"lepas"
"ngak!!," Zahra mencubit pinggang Rahman, dan Al hasil Rahman membalas dengan menggigit leher Zahra.
"hmmmh," Zahra pelepaskan pelukannya dan menatap Rahman.
"siapa suruh ngeyel," ucap Rahman dengan mengejek Zahra lalu Zahra turun dari pangkuan Rahman. Lalu terjadilah kejar kejaran diantara dua sejoli.
"hei tunggu," Rahman mengejar Zahra.
"ga mau week," Zahra terus berlari dengan sembari mengejek Rahman dengan menjulurkan lidahnya, hingga ia terpojok lalu Rahman menariknya hingga jatuh di kasur.
"Diamlah sejenak, aku ingin tetap seperti ini," ucap Rahman yang sedang memeluk Zahra dengan erat, begitu terasa ditubuh Zahra bahwa Rahman merasakan sesuatu yang mengganggunya mungkin ini karena tentang kehamilan Zahra.
Zahra pun membalas pelukan Rahman, di ciumnya kepala Rahman yang terpendam di dada Zahra.
aku mengerti perasaanmu, maaf karena aku masih belum memberikanmu seorang anak, tapi sungguh aku menyesal karena tidak melakukannya lebih awal bersamamu. ucap Zahra dalam hatinya bahkan ia sudah mengetahui kalau Rahman menyuruhnya mengenakan pakaian terbuka bahkan ingin bersetubuh itu karena kekesalannya yang ingin ia padamkan melalui kehangatan seorang istri yang sangat dicintainya.
aku hanya takut karena usiaku yang semakin menua oleh karena itu aku menjadi benih yang tidak berguna, aku hanya takut karena itu aku tidak bisa menanamkan benih di dalam rahimmu lagi, bagaimanapun juga aku menginginkan seorang anak darimu. Ucap Rahman dalam hatinya sambil lebih mengeratkan pelukannya dan merasa bersedih, dan Zahra hanya bisa mencium kepalanya membelainya dan memeluknya dengan erat.
"bagaimana jika karena usiaku," ucap Rahman dengan lirih setengah berbisik kepada Zahra.
"tidak jangan berfikir seperti itu, itu semua karena Allah, Allah masih belum mengizinkan, dirimu masih muda ka, belum tua dan aku juga masih muda masih besar harapan kita untuk memiliki anak, jadi bersabarlah Allah tau tempat yang terbaik sayang," ucap Zahra dengan lirih kepada Rahman.
"hmmh," Rahman sedikit mengangguk namun masih menanamkan wajahnya di dada Zahra.
aroma tubuh ini, aroma inilah yang menenangkan ku dan bisa membuatku merasa nyaman dan tenang. ucap Rahman dalam hatinya.
maafkan aku seandainya saja, seandainya saja aku melakukannya lebih awal mungkin kepercayaan dirimu tidak akan menurun seperti ini, ini semua salahku kumohon maafkan aku. Zahra terus menyalahkan dirinya dengan hal yang sama berkali kali di dalam hatinya, begitu juga sebaliknya Rahman menyalahkan dirinya sendiri karena menua terlalu cepat, dan kadang ia juga menyalahkan Zahra dengan sedikit kesal dalam dirinya karena Zahra tidak ingin melakukan nya lebih awal dengan Rahman.
.....
__ADS_1
ke esokan harinya, Rahman sedang sarapan dan bersiap siap untuk pergi ke kantor, tak lupa juga ia mengantarkan Zahra untuk ke kampus terlebih dahulu.
"Ra bentar lagi kamu akan wisuda apakah kamu ga berminat untuk belajar mengemudi agar kamu bisa lebih bebas kemana mana tidak harus selalu menungguku?," Tawar Rahman kepada Zahra, dan berniat untuk membelikan mobil baru untuk Zahra.
"hmmh baiklah nanti aku akan belajar," ucap Zahra kepada Rahman dengan tersenyum.
"baiklah kalau begitu nanti aku Carikan guru mengemudi agar langsung memiliki SIM, Ferius adalah sekretaris yang handal dan aku percaya bahwa dia akan mendapatkan guru yang terbaik untukmu," ucap Rahman membelai kepala Zahra, dan Zahra membalasnya dengan tersenyum.
hmmh padahal aku masih ingin di antar jemput sama ka Rahman karena bagiku waktu ku jadi lebih banyak bersamamu, tapi ga apa apa aku mengerti itu untuk menjadi kebaikan ku sendiri juga. gumam Zahra dalam hatinya sambil memberikan senyuman yang lebar.
setelah beberapa saat kemudian sampailah Zahra di kampusnya dan disambut hangat oleh Riska yang telah menunggunya di depan gerbang, Riska menyambutnya dengan melambaikan tangan kepada Zahra.
Dan Zahra juga melambaikan tangan pada Riska lalu Zahra turun dari mobil, dan Rahman pun menancap gasnya untuk pergi ke kantor.
deg
biasanya ia tidak lupa untuk bersalam dengan Ku, bahkan ia akan menyempatkan diri untuk mencium keningku tidak langsung pergi seperti ini, jika aku lupa biasanya dia yang akan turun dan menghampiriku untuk melakukan itu semua, hmmh aku merasa sedikit terluka tapi sekarang aku harus menjadi lebih dewasa karena bagaimana pun juga aku harus selalu mendukung suamiku. Ucap Zahra dalam hati dengan perasaan terlukanya dan mengepalkan tangannya, menggenggam tasnya dengan erat.
"ekhem," Riska menghampiri Zahra yang masih memandang kearah mobil Rahman yang sudah melaju jauh bahkan sudah tidak terlihat lagi.
Zahra terkejut lalu melihat kearah Riska.
"kenapa? ngelamun aja," ucap Riska lalu merangkul Zahra.
"ga apa apa ko Riska cuma ada sedikit yang mengganggu pikiranku," ucap Zahra lalu berbalik dan menunduk.
"hmmh ada masalah apa coba cerita padaku, aku akan mendengarkan," ucap Riska sembari mereka berjalan memasuki kampus.
"hmmh ga ada ko," ucap Zahra mencoba menutupi.
"hmmh bilang dong," Riska sedikit kesal karena ia selalu cerita pada Zahra dan hanya bercerita pada Zahra tetapi Zahra masih ragu untuk bercerita pada Riska.
"aku tau masalah rumah tangga seharusnya tidak diumbar tetapi jika kamu bercerita kepadaku in shaa Allah aku akan menjadi pendengar yang baik, dan cukup hanya sampai di aku saja ga akan ke orang lain," ucap Riska yang meyakinkan Zahra.
"ga apa apa, siapa tau itu hanya karena dia sedang sibuk dan terburu buru," Riska mencoba menenangkan Zahra dan Zahra tersenyum mencoba berfikir jernih seperti yang dikatakan oleh Riska.
"ayolah itu memang sudah menjadi resiko sebagai tuan putri dari rajanya Asia, iya kan maklumi sajalah," ucap Riska pada Zahra sambil merangkul pundaknya. Dan Zahra pun kembali mengeluarkan senyum cerianya untuk menenangkan Riska yang sudah mengkhawatirkan dirinya
....
Rahman kini telah sampai di kantor, dia langsung bergegas ke dalam ruangan kantornya dan memeriksa berkas berkas dokumen yang akan ditanganinya hari ini.
"ini tuan berkas berkas yang diperlukan untuk produk produk di cabang cabang perusahaan kita, serta sebagai produk baru yang baru saja di pikirkan oleh beberapa sumber dari direktur cabang perusahaan, dan disini lah letak proposal permohonan nya, silahkan diperiksa," ucap Ferius kepada Rahman dan Rahman melihatnya.
"hmmh oh iya tolong carikan guru mengemudi untukku, yang paling kamu percayai," ucap Rahman kepada Ferius.
"tapi yang perempuan," imbuh Rahman.
"mmh?," Ferius yang masih memikirkan maksud Rahman sedikit bingung karena setahunya Rahan sudah sangatlah pandai mengemudi.
"itu untuk Zahra aku ingin dia belajar mengemudi karena dia akan membutuhkannya, dan jadi tidak terlalu tergantung pada diriku, aku ingin dia menjadi lebih mandiri lagi," ucap Rahman pada Ferius, dan Ferius pun mengangguk sebagai tanda ia telah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rahman dan akan melaksanakan nya.
"baiklah kali tidak ada apa apa lagi, saya permisi," ucap Ferius yang akan langsung melaksanakan tugasnya.
"kau memang gesit seperti keinginan ku," gumam Rahman memuji kegesitan Ferius.
"eh oh iya tunggu sebentar," ucap Rahman kepada Ferius.
"iya tuan," Ferius menghentikan langkahnya dan berbalik.
"tolong panggilkan Arnius untukku," perintah Rahman kepada Ferius, lalu sejenak Ferius menatap telepon kantor yang ada di dekat Rahman, karena biasanya Rahman bisa menggunakan itu untuk memanggil bawahannya. Namun Ferius tersenyum dan tetap mematuhi perkataan Rahman karena bagaimanapun juga Rahman adalah bosnya disana.
__ADS_1
setelah beberapa saat kemudian Arnius datang menghampiri Rahman dan sedikit menunduk memberi hormat.
"silahkan duduk," ucap Rahman yang mempersilahkan Arnius.
"bagaimana tugas tugas yang ku serahkan padamu?," tanya Rahman sambil memberikan beberapa dokumen perusahaan.
"saya telah menemukan cabang desainer yang lumayan bagus tuan, dan saya rasa itu akan cocok untuk memenuhi kebutuhan perusahaan," ucap Arnius kepada Rahman dan memberikan informasi dokumen melalu telepon genggamnya.
"ck, aku ga mau yang lumayan aku mau yang memang sudah pasti," Rahman kesal hari ini ia tidak seperti biasnya, meskipun biasanya ia tegas dan sering marah tapi kemarahannya bukanlah kekesalan melainkan kedisiplinan yang memang harus ada agar pekerjaan menjadi sangat tepat untuk perusahaan.
Arnius mengerti suasana hati Rahman jadi ia hanya mengiyakan perkataan Rahman dan berusaha menuruti kemauannya sebisa mungkin agar Rahman tidak meneruskan kekesalannya itu dan kembali berfikir positif.
"oh iya aku dengar perusahaan cabang desain untuk model perusahaan disini bagus," Rahman memberikan dokumen sebuah perusahaan.
"aku ingin membuat pameran perancangan busana untuk perusahaan utama kita, bagaimana menurutmu?," imbuh Rahman yang bertanya kepada Arnius.
"jika memang menurut tuan itu bagus maka kita akan melaksanakan nya," jawab Arnius dengan menundukkan kepalanya.
"hmh baiklah tolong hubungi kepala utama nya atur pertemuan untukku sore ini," Rahman memutuskan untuk mendiskusikan dengan cepat.
"baik tuan, saya permisi," Arnius pun permisi dan melaksanakan tugasnya, Arnius merasa ada perasaan yang sedikit aneh, terlebih lagi Rahman yang terburu buru dalam mengambil keputusan.
Arnius masih melakukan tugasnya dan berhasil membuat janji lalu mencoba agar bisa membuat pertemuan sore ini.
"hmmh baiklah aku akan berkunjung sore ini juga," ucap kepala utama yang berpakaian sexi di depan Arnius itu.
"baiklah terima kasih, kami akan menunggu," ucap Arnius.
"tapi tidak dengan dirimu," ucap kepala cabang desain busana itu.
"??" Arnius sudah mencium aroma mencurigakan dari gerak gerik wanita ini.
"aku tidak hanya akan menemui CEO mu bukan dirimu, jadi atur pertemuan yang hanya akan menemukan kita berdua," ucapnya.
"maaf saya tidak diharuskan untuk mematuhi perintahmu, saya hanya harus mematuhi perintah tuan saya," jawab Arnius yang membuat wanita itu kesal.
"baiklah kalau begitu saya tidak akan melakukannya," sahutnya.
"jika tidak ingin maka tidak apa apa, saya bisa mencarikan yang lebih baik untuk tuan saya," ucap Arnius yang menjawab wanita itu dengan santainya.
oh **** what the fu*k. Alexia kesal didalam hatinya ya Alexia lah yang menjadi kepala utama cabang desain busana Xia.
"oke baiklah aku akan bertemu dengannya sore ini," ucap Alexia memutuskan lalu Arnius pun pergi meninggalkan Alexia, dengan bergumam di dalam hatinya " semoga ke khawatiran ku tidak menjadi kenyataan," ucapnya.
Setelah Arnius pergi Alexia pergi ke suatu tempat dengan bergegas.
setelah ia sampai di suatu tempat Alexia melihat ke arah dalam yaitu di balik jeruji besi namun di rumah sakit.
"tenang ma, Alexia akan membalaskan dendam mamah," ucap Alexia yang tak lain adalah Angel, Alexia melihat Angel yang sudah terkulai lemas memegang pisau mainan, karena kabarnya ia selalu berteriak ingin membunuh seseorang dan ia selalu melihat bayang bayangan almarhumah Zahra.
Awalnya Angel berhasil mengambil pisau sungguhan dan berhasil melukai beberapa orang didalam penjara dan karena setelah diperiksa Angel ternyata mengalami gangguan jiwa dan segera dipindahkan kerumah sakit jiwa.
"Alexia," Angel langsung merenspon Alexia saat Angel melihat Alexia datang di hadapannya.
"Alexia anakku keluarkan mamah dari sini nak, mereka mengira mamah gila, mereka tidak percaya kalau mamah benar benar melihat Zahra disini, dia terus mengikuti mamah nak, dia tidak membiarkan mamah tenang, mamah ingin pulang," ucap Angel yang menangis dengan histeris.
"iya mah iya Alexia pasti akan membebaskan mamah tunggu saja ya mah ya," ucap Alexia kepada Angel.
lalu Alexia pun kembali dan memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk bertemu dengan Rahman sore itu. Setelah beberapa saat kemudian Alexia tersenyum karena menemukan apa yang ia cari.
"baiklah aku akan mengenakan ini, asalkan berhasil maka tidak apa apa," Alexia memilih pakaian yang lebih tertutup daripada biasanya, dengan menempelkan kerudung di kepalanya mungkin bukan kerudung sar'i tapi ia tau Rahman tidak akan mendekati wanita yang terlalu terbuka oleh karenanya Alexia memilih pakaian yang berbeda saat itu.
__ADS_1
dan Alexia pun bersiap untuk beraksi.
"bersiap siaplah hubungan keluarga kalian tidak akan ku biarkan tenang," Alexia berjalan mulai memasuki ke area kantor utama Adiwijaya yang berada di Jakarta.