
"Devan!!" Zahra sangat terkejut dengan kedatangan Devan yang tak di duga duga, mengapa dikala Zahra baru saja berbahagia rintangan selalu datang menghampiri nya.
"Zahra," Devan memeluk Zahra dengan perasaan berbinar.
"apaan sih Devan lepas kan aku, kita bukan mahram," Zahra berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Devan ia merasa hal ini sungguh tidaklah pantas.
aku bersusah payah untuk bisa masuk kesini,melalui penjagaan yang ketat lalu kamu menyuruh aku untuk melepaskanmu, itu tidak bisa. batin Devan.
"nona!!" simbok datang sembari menggendong Azan, simbok khawatir karena mendengar teriakan Zahra ia setengah berlari menghampiri Zahra
"simbokkk! " teriak Zahra mengetahui ada simbok yang datang,akhirnya Devan melepaskan pelukannya, dan beralih pada azan.
"apa dia anakku?" Devan mendekati simbok yang kini kian menjauh.
" dia adalah anak mas Aria!!" Zahra merasa cemas, mencegah Devan untuk semakin dekat dengan azan.
"tenanglah sayang, aku minta maaf oke kita bisa kembali bersama, waktu itu aku ingin melamarmu, percayalah tapi kamu terlalu cepat untuk pergi,"
__ADS_1
"bohong!!!, tidak ada pembohong yang lebih baik daripada kamu!!, cepat pergi atau aku harus memanggil satpam hah!!,"
"kemana penjagaan tuan Aria yang begitu ketat!! kenapa hal seperti ini bisa terjadi? penjaga!! penjaga!!," Simbok berteriak keras pada kala itu tapi yang datang melihat hanya beberapa pengawal wanita, simbok juga dipenuhi dengan kebingungan apakah ini memang yang disebut dengan takdir? cobaan apa lagi ini? kasihan Zahra. Begitulah pikiran simbok
Akhirnya simbok memutuskan untuk berlari menuju kamar untuk bersembunyi dengan Azan mengikuti apa kata Zahra karena merasa ada ancaman jika di dekat Devan.
"sttt!! kamu pikir aku bodoh, enggak syg, umurnya sesuai dengan perkiraan disaat kita melakukannya waktu itu, jika dia anak aria seharusnya dia masih didalam kandunganmu kan," dengan lembut Devan memegang tangan Zahra dan memegang perut Zahra.
plakk
"lelaki kurang ajar!," tamparan yang begitu keras telak mengenai pipi Devan. " kenapa kamu datang untuk merusak keluargaku!!!!," Zahra berteriak memenuhi ruangan. sehingga para pelayan berkumpul, dan akhirnya satpam datang ia memegang tangan Devan berniat menyeretnya untuk pergi, namun Devan masih dapat bertahan karena hanya satu satpam yang datang entah kemana penjagaan yang lainya, baru kali ini penjagaan yang lalai terjadi di kediaman keluarga Adiwijaya.
"kenapa kau baru menyesal, kenapa kau tidak mencegah niat burukmu saat itu hah! lalu kenapa sekarang di saat aku sudah bahagia kamu malah datang untuk merusak semuanya!!" Zahra pun terkulai lemas mengenang kembali masa masa kelamnya di saat lalu.
"aku minta maaf, aku juga seorang ayah, berkali kali membayangkan bagaimana wajah anakku saat dilahirkan, bagaimana ia tumbuh dengan baik, aku hanya ingin melihatnya dan melihatmu, aku tidak akan mengambil keluargamu, kumohon hanya izinkan aku melihatmu dan melihatnya bahagia agar aku bisa terlepas dari rasa bersalahku, " Devan sangat memohon sehingga Devan berlutut menunduk tak kuasa menatap Zahra. Para pelayan serta satpam ikut bergetar hatinya mendengar kejadian sesungguhnya, kejadian yang selama ini disembunyikan nya dari siapapun juga.
"kenapa hanya padaku hah, kenapa hanya aku!! bagaimana dengan wanita lain yang telah kau nodai, dan darimana kau tau semuanya, dasar Licik!, " Zahra sudah tak kuasa untuk menahan amarahnya lagi
__ADS_1
"itu berbeda sungguh berbeda jika dirimu kau bandingan dengan yang lain mereka hanya merasa hiburan semata, sama denganku tapi dirimu berbeda, aku pikir jika kau hamil kau akan menggugurkannya namun tidak. Aku pikir aku hanya akan mengabaikan mu, namun entah darimana perasaan ini tumbuh tiba tiba kau selalu terbayang dan aku memimpikan suara tangisan bayi, entah kenapa tapi mungkin ini atas dosa yang kuperbuat,"
" ho hi berarti kamu menganggap wanita itu murahan hah!, kamu pikir disaat mereka merasa hanya hiburan semata lalu kamu mengabaikan nya tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi kedepannya nanti hah?! dasar picik, tak tau di untung tidak tau bagaimana cara berterima kasih," Zahra sungguh geram hingga rasanya ingin melihat yang didepannya ini lenyap seketika
"kamu jahat!! kamu tidak tau beratnya hidup, saat harus diabaikan orang tua, dipukuli ayah yang penuh kecewa dengan anaknya yang ia percayai, meskipun berjuang sekuat tenaga untuk mengembalikan keadaan meski hanya setengah saja tapi tetap tidak bisa!!," imbuh Zahra yang kini sedang terisak tangis yang semakin menjadi jadi mengingat bagaimana ia pernah dibenci orang tuanya dimasa lalu.
" terlebih lagi seorang anak yang harus terlahir prematur karena ke yang tidak nendukung, anak yang tidak memiliki kesehatan stabil, masih bayi sudah harus hidup dengan bantuan selang, dan diriku yang miskin ini harus menjadi wanita berbadan kotor menjual diri demi kesehatan seorang putra!, mungkin ada wajah mu pada diri anak bayi ini tapi aku tak ingin mengingatnya, kamu tidak tau bagaimana rasa sakitnya harus melepas hijabmu disaat kamu telah memantapkannya, kamu tidak tau itu!!!,"
Zahra menangis mengeluarkan semua isi hatinya, menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Devan terbangun dari duduknya ia tak kuasa menyaksikan Zahra, perlahan ia berjalan menuju Zahra memeluk pelan tubuh Zahra sembari penuh meminta maaf pada Zahra atas semua kesalahan yang pernah terjadi, disamping itu para pelayan ikut termenung mengenang betapa sulit hidup nona muda nya selama ini para pelayan juga ikut terharu dan bersedih .
"kau tidak tau rasanya.." Zahra masih meresapi rasa sakitnya sembari menangis namun masih saja Zahra tidak membalas pelukan dari Devan, masih dengan tangan menutupi wajahnya ia terisak dalam tangisnya, namun juga tanpa disadari Zahra telah membiarkan Devan memeluknya.
"tunggu!" Zahra tersadar ia sedang dipeluk oleh lelaki yang bukan mahramnya, lalu mendorong Devan menjauh.
"!!!" Zahra terkejut disaat ia melihat kebelakang Devan ternyata ada seseorang yang sangat sekali Zahra tak ingin untuk melihat keadaan ini. Devan yang melihat Zahra terkejut ikut membalikkan badan ingin mengetahui apa yang membuat Zahra terkejut seperti itu.
"Aria," seketika Devan pun ikut terkejut serasa seluruh tubuhnya tak memiliki tulang, ia tak ingin sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi pada Zahra karena dirinya. Para pelayan tak ada yang berani mengangkat kepalanya bahkan hanya untuk melihat mereka semua terdiam tak ada yang berani berkata kata, bahkan ikut terisak tangis karena haru pun tidak ada yang berani.
__ADS_1
"tunggu Aria.." Devan mencoba untuk menenangkan Aria yang kini sudah terlihat sangat marah dan aura pembunuh kini sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
bersambung....