
hari hari Zahra lalui penuh dengan sikap dingin Aria, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya dengan beribu perasaan bersalah dan menyesal, setiap ada masalah selalu saja Zahra yang paling sering merasakan dirinya lah yang bersalah meskipun sesungguhnya dia tidaklah salah sepenuhnya meskipun sesuatu itu terjadi karena ke salah pahaman tetap saja Zahra merasa bahwa itu berasal dari dirinya, ia selalu mengangkat tangannya atas atas setelah shalat lima waktunya ataupun shalat sunnah nya. Ia selalu memohon agar sentiasa keluarganya selalu dalam perlindungan Allah SWT dan akan kembali bahagia lagi...
"simbok, aku ke RS dulu ya, mau periksa azan." izin Zahra pada simbok yang selalu setia berada disisi Zahra kapanpun Zahra membutuhkan nya
"oh iya nona,"
"assalamualaikum wr.wb, mbok"
"waalaikummusslm wr.wb. nona "
***
"jadi, bagaimana dok?," tanya Zahra pada seorang dokter wanita.
"apakah anda stres akhir akhir ini?, kandungan anda melemah, apakah ada gejala gejala yang anda rasakan misalnya seperti keluar percikan darah dari area ********?, atau terkadang sakit di bagian bawah perut dekat rahim?,"
"jika keluar darah sih tidak dok, tapi terkadang sakit dibagian bawah perut, rasa merasakan nya dok "
jawab Zahra cemas.
"ya baiklah, saya telah memberikan suntikan vitamin, dan ini resep obat yang harus ditebus, ini suplemen penambah darah dan vitamin tolong lebih perhatikan lagi kesehatan anda ya, dan jangan terlalu banyak berfikir menuju hal yang negatif, pikirkanlah hal hal yang baik agar berdampak baik pula pada perkembangan janin anda." jelas dokter
"iya dok akan saya ingat. Terima kasih banyak ya dok." Zahra pergi dari ruangan itu dan akan menebus obat yang diberikan oleh dokter
Zahra memang sengaja pergi memeriksa keadaan Azan sekaligus memeriksa kandungan karena sudah dua bulan usia kandungan nya namun ia sangat jarang memerhatikan dirinya dan kandungan nya, ia takut hal yang terjadi pada azan akan terjadi lagi pada kandungan anak kedua nya, kali ini Zahra berjanji akan lebih memperhatikan kandungan nya lebih dari yang sebelumnya.
"tuan Andrean?. " Zahra terkejut karena mendapati Andrean yang berada dihadapannya saat ini.
"hei jangan terlalu formal ayolah, coba kulihat. " Andrean mengambil sekertas resep yang ada ditangan Zahra.
"ohh tunggu sebentar, " imbuh Andrean lalu pergi menebus obat untuk Zahra.
__ADS_1
"jangan seperti itu, aku bisa menebusnya sendiri," Zahra yang kini tak enak hati terlebih lagi ada resep obat azan yang masih bisa dibilang mahal.
"apakah kandunganmu sehat?, azan sehat nak?," Andrean awalnya bertanya pada Zahra lalu kini melanjutkan untuk bertanya pada Azan. Andrean tersenyum pada Azan. Yang pada saat itu juga Azan malah memberikan reaksi tertawa dan ingin menuju Andrean. Namun Zahra mencegah nya dengan alasan ia terburu buru
"aku akan mengganti uangmu nanti, permisi." Zahra berjalan melewati Andrean.
"ooooh ayolah kamu selalu menolak ajakan makan malam denganku, lalu aku bisa apa?, mokoknya kamu tidak bisa seperti ini setidaknya biarkan aku membantumu! " kata Andrean dengan penekanan
"setidaknya jangan membuat aku merasa bersalah seumur hidup," imbuh Andrean dengan suara lirihnya yang berhasil membuat Zahra menghentikan langkahnya
"baiklah, terimakasih banyak atas kebaikan tuan, tapi jika terlalu berlebihan aku yang akan merasa bersalah nantinya karena terlalu merepotkan," ucap Zahra tanpa menoleh.
"mengapa menghindariku?, apa kamu masih takut dikhianati, aku janji aku tidak akan mengulanginya. Anakmu akan menjadi anakku tak peduli siapa ayah kandungnya, akan kusayangi mereka seperti anakku. jadi tolong percayalah. "
"kamu salah, bukan karena tidak percaya antara dirimu atau mas Aria, jadi tolong jangan bawa bawa hak itu lagi, bukan karena takut terluka oleh manusia, bukan itu alasan ku. Tetapi yang kulakukan sangat akan salah jika aku menghianati suamiku, bahkan meski hanya saling memandang beberapa detik tanpa izin darinya sangat tidaklah pantas bagi seorang wanita yang telah bersuami untuk saling berdekatan dengan lelaki lain yang bukan mahram nya jadi tolong mengertilah, baiklah aku pamit Assalamualaikum " Zahra berniat pergi namun langkahnya terhenti oleh kata kata Andrean.
"tapi bagaimana jika Aria berselingkuh, " Andrean setengah berteriak
"aku percaya pada suamiku, tolong jangan tuduh dia sembarangan lagi, aib suami adalah aib istri, kamu menjelek jelekannya dihadapan istrinya sama saja kamu menginjak injak harga diriku," tegas Zahra
" tapi inilah yang membuatku semakin ingin memilikimu Zahra, akan ku perjuangkan kamu sampai maut yang maut yang memisahkan atau setidaknya sampai aku bisa melihat dengan kepala ku sendiri kalau kamu bahagia. Namun kini aku akan berjuang dengan cara berbeda, aku akan bersabar dan memulai mempelajari agama terlebih dulu, agar aku pantas bersanding denganmu dan tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi, tunggu aku Zahra akan kubuat diriku pantas untukmu, tunggu aku,!!" mulailah tekad Andrean untuk mempelajari agama, kemuliaan yang diajarkan agama, ia ingin tahu lebih dalam bukan hanya sekadar nama agama namun agama yang sesungguhnya.
***
"assalamualaikum wr.wb mas, sudah pulang." Zahra menyalami Aria yang baru saja pulang bekerja, namun Aria hanya terdiam lalu ia pergi."mas mau pergi lagi?,mas baru saja pulang,"
"aku ada urusan, " ketus Aria
"mas aku minta maaf ya, tapi sungguh.."
"cukup aku sibuk, oke," lalu Aria pergi meninggalkan Zahra.
__ADS_1
Zahra berjalan kekamar, ia menahan tangisnya, ia menidurkan azan dikasurnya, lalu pergi mengambil air wudhu untuk menenangkan diri, berhubung sudah azan ia juga bergegas menunaikan shalat.
"assalamualaikum warrahmatullah.. assalamualaikum warrahmatullah, " usai Zahra shalat ia merasakan ada sesuai yang menggelisahkan hatinya lalu ia melihat azan.
"Azaaaannnn!!!"
***
"nak sadar ya nak ya," kasur dorong dengan beberapa suster disampingnya,Zahra gelisah tiba tiba azan mengeluarkan busa dari mulutnya ia kejang kejang seperti yang dialaminya saat masih bayi.
"maaf anda harus menunggu diluar," ucap seorang suster yang mencegah Zahra untuk ikut masuk kedalam ruangan darurat.
"ya allah hamba mohon, hamba mohon, selamatkan anak hamba lindungi dia lindungi dia hamba mohon hamba mohon." Zahra mencoba untuk menelfon aria namun tak diangkat nya meski hingga berkali kali.
"mas angkat dong!!,"
pintu terbuka, Zahra langsung menghampiri dokter yang keluar dengan wajah cemasnya.
"dok bagaimana anak saya dok,"
"maaf anak ibu tak bisa kami selamatkan,"
"!!!" Zahra seolah olah kehilangan kesadaran nya, ia merasa tak percaya, ia memasuki ruangan dan melihat azan yang telah ditutupi selimut putih.
ia membuka kain tersebut secara perlahan.
"aaaaaaaaaaa.... anakku bangun nak, mamah disini, bangun nak sayang bangun yah, jangan bercanda, uhhh anak mamah yang pintar, bangun nak.."
ya allah dialah satu satunya penyemangatku hidup, ia yang mengajariku bagaimana tersenyum meski dalam cobaan mu yang berat, lalu sekarang untuk siapakah aku akan bertahan hidup. batin Zahra lalu memegang perutnya.
apakah aku bisa bertahan denganmu nak, sehatlah dalam perut ibu, semangati ibu saat kau lahir nanti
__ADS_1
bersambung....
hai teman teman disini author memohon maaf yang sebesar besarnya karena keterlambatan up yang berlebihan, karena harus mengejar target membuat seribu masker.. mohon pengertiannya ya, selamat membaca dan terimakasih telah membaca hingga episode ini