Cinta Zahra

Cinta Zahra
awan hitam


__ADS_3

mengapa azan harus pergi secepat ini meninggalkan mamah nak.


dok kenapa anak saya bisa kambuh penyakitnya bukan kah saya selalu rutin untuk membawa azan berobat tapi kenapa?.


seperti kata orang nona, hati dan jiwa seorang anak bergantung pada orang tuanya terutama ibu yang menyusui nya, hati anak akan menyatu dengan ibunya, jika seorang ibu memiliki masalah yang berat dan stress itu bisa berimbas pada anak yang bersamanya terutama anak terdekatnya, kurasa itulah penyebabnya itu juga bisa menjadi penyebab kekebalan imuni nya semakin melemah dan membuat obat yang diserapnya susah bekerja dengan baik. Zahra semakin terisak tangis mendengar penjelasan dokter di hari terakhir Azan. Ia sungguh sungguh merasa kehilangan penyemangat hidupnya selama ini


cuaca cerah namun seakan akan sunyi, keheningan, hanya lantunan doa yang terdengar, pakaian hitam payung hitam, semua serba hitam, penuh dengan kesedihan yah ini adalah hari pemakaman azan, tari dan Ningsih berada disamping Zahra. untuk menenanginya.. begitu pula para sahabatnya yang akan selalu setia menemani dikala Zahra butuh kapanpun itu dan dimanapun.


"dengar, aku minta maaf aku tidak bermaksud. " ucap Aria terhadap Zahra yang merasa bersalah karena tidak ada disaat saat terpenting dan tersulit dalam hidup Zahra. Namun maaf hanya sebatas maaf tidak mengembalikan sifatnya yang penuh kasih sayang.


semenjak saat itu Zahra semakin menjadi wanita yang pendiam, bahkan fikiran nya sulit diartikan apakah fikiran nya sudah mati ataukah stress.


Hari hari Zahra terisak tangis, ia semakin menangis saat masih mendengar suara azan yang tertawa meski hanya terbayang bayang, terkadang Zahra terbaring di kasurnya mengingat bagaimana azan tertidur pulas di pelukannya, bagaimana wangi aroma tubuhnya, bahkan terkadang Zahra menangis sembari mencium pakaian yang biasa digunakan Azan, dan Zahra terkadang memainkan mainan Azan sendirian, terkadang pula ia memandang tangannya yang biasa dimainkan oleh Azan.


Beberapa Minggu ia rapuh, namun ia teringat bahwa ia tak boleh terlalu lemah karena ia masih harus memperjuangkan kandungan yang ada di perutnya, meskipun semangatnya mungkin tidak akan kembali lagi


dua bulan berlalu..


perut Zahra semakin membuncit meski belum terlalu menonjol. Hari sudah larut namun Zahra masih belum dapat pulang, karena ia sekarang berada disupermarket, dan ia juga ter lupa membawa ponsel, dan saat ini cuaca sedang hujan deras seperti ini sangat susah menemukan ojek atau taksi karena Zahra juga tak membawa payung untuk ke tepi jalan agar dapat mencari kendaraan. Ia berada di supermarket, dan supermarket tersebut menyediakan pop mie yang langsung diseduh bahkan kopi hangat atau susu dan teh hangat.


Zahra memilih untuk memesan mie seduh serta susu hangat untuk menghangatkan dirinya sembari menunggu hujan agak reda, kebetulan ia memang sedang malas untuk pulang, Zahra memandang kearah luar jendela yang memperlihatkan dengan jelas bagaiman hujan turun, Zahra memandangi hujan itu dengan tersenyum lembut sambil bergumam.


"bolehkah ah? bolehkan aku bermain hujan seperti anak anak lagi?, melepaskan semua beban pikiranku, melepaskan semua masalahku bolehkah?, ingin sekali rasanya bisa seperti itu bisa tertawa lagi, bisa merasa bebas lagi, bisa menikmati semua lagi tanpa harus ada rasa bersalah dan rasa pedih dari kesedihan, bisakah? bisakah seperti itu lagi?," gumam Zahra pelan ia ingin sekali kembali menikmati hari harinya dengan perasaan yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan, perasaan yang tulus yang bukan hanya sekedar angan angan.


Matahari hampir terbenam disaat Zahra baru bisa untuk pulang karena hujan baru mulai reda pada saat itu.

__ADS_1


"assalamualaikum, " salam Zahra yang membuka pintu utama dan kembali menutup pintu itu, tanpa disadarinya Aria telah mondar mandir dibelakang nya.


"kamu kemana aja sih?, telepon ngak diangkat sms ngak dibalas, bikin orang khawatir aja, kamu tau ini udah jam berapa, terus harus segitu lama kah kamu belanja diluar?," omel Aria seolah olah tiada habisnya.


"maaf mas, tadi aku lupa bawa ponsel, terus hujan aku ngak bisa cari taksi karena hujan lebat." ucap Zahra sembari meraba tubuhnya yang merasa sedikit dingin karena cuaca.


"kamu ini gimana sih, dirumah ada sopir dan mobil, apa masih kurang ha?, apakah kamu kurang suka sama mobil itu, bilang sama aku nanti aku beli yang baru.." Zahra hanya tersenyum mendengar Aria sembari menunduk mendengar Omelan suaminya.


"tuh lihat badan kamu juga sudah menggigil pasti kedinginan itu, eish," Aria geram dan langsung mengambil handuk kecil di lemari luar tempat biasa ia menggantung jaket dan menaruh sepatu, di balutkan nya handuk itu pada tubuh Zahra.


"sudahlah, pergi mandi air hangat sana, keringkan dirimu, itu tidak bagus untuk kesehatan mu,"lalu Aria pergi berlalu meninggalkan Zahra.


pertama kalinya aku melihat kekhawatiran dari mata suamiku untukku selama empat bulan ini, hmmh apakah kau sudah mulai menerimaku lagi suamiku. batin Zahra yang merasa dirinya kembali mendapatkan perhatian dari sang suami, apakah dia marah mendengar suaminya yang memarahinya? kurasa tidak karena Zahra tau bahwa kemarahan Aria saat itu bertanda bahwa Aria sangat menyayanginya sehingga begitu mengkhawatirkan keadaan Zahra, jika tidak lantas mengapa harus peduli?.


"mau kemana mas?," tanya Zahra penasaran.


"aku ada urusan, " lalu Zahra bersalaman dengan Aria.


Zahra melihat ponsel Aria yang tertinggal saat ia akan mengejar Aria, Zahra mendengar ada pesan masuk di ponsel Aria.


"ah ponselnya mas tertinggal lagih, udah jauh belum ya? tapi ini ada pesan masuk, dari siapa ya, kok firasat ku aneh ya," Zahra gemetar ia takut tergoda untuk melihat pesan tersebut.


"ya allah maafkan hamba, sekali ini saja," dengan gemetar akhirnya Zahra melihat isi pesan tersebut.


(sayang nanti bawakan oleh oleh dijalan ya, dan harus menginap malam ini juga, kemarin kamu ngak menginap loh sayangku aria adiwijaya).

__ADS_1


ternyata tujuan Aria saat ini adalah pergi kerumah Angel, baru saja Zahra menaruh harapan namun kini sudah harus kembali sirna.


praakk


telepon terjatuh tiba tiba semua menjadi gelap, suram hitam, dan terasa tak berbijak.


***


"hmmh, dimana aku," Zahra melihat sekeliling nya selang infus, bau obat obatan, dimana lagi jika bukan dirumah sakit


"kamu tadi pingsan, " ucap Aria yang telah berada disamping nya."untung tadi aku kembali, jika tidak aku tidak tau bagaimana yang akan terjadi nanti,"


"terimakasih banyak mas,"


"iya sama sama lain kali hati hati,"


"aw.. kenapa rasanya perutku sakit sekali," Zahra memegang perutnya, namun kini serasa perutnya telah mengecil."perutku!!, kenapa? apa yang terjadi mas!? cepat beri tau aku,"


"Zahra tenanglah," Aria mencoba menenangkan Zahra yang mulai mengamuk. dan seorang dokterpun datang.


"maaf anda mengalami pendarahan saat pingsan tadi, jadi anda.." jelas dokter


"tidak!! tidak mungkin!!,"


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2