Cinta Zahra

Cinta Zahra
keselamatan azan


__ADS_3

"AZAAANNNNN!!," Teriak Zahra yang mendapati keadaan Azan tengah di bawa oleh ambulance.


"tenang Zahra tenang, sekarang ikut ambulance, kau ibunya,"


"mmm" Zahra mengangguk mengerti.


***


"bagaimana keadaan anak saya dok," Zahra menghampiri dokter yang keluar dari ruangan.


"nona, diusia bayi yang begitu kecil, tubuhnya begitu lemah, sebenarnya penyakit ini jarang sekali untuk menyerang bayi, tubuhnya terlalu lemah, mungkin ini karena asupan nutrisi yang begitu minim nya sehingga daya imuni nya pun melemah dan tidak dapat menguatkan daya stamina tubuh" jelas dokter yang juga ikut khawatir melihat keadaan Zahra.


"lalu bagaimana dok, hanya dialah satu satu nya penyemangat saya untuk hidup selama ini," Zahra menggenggam tangan nya sendiri, selama ini ia sudah begitu lemah hingga semangatnya kembali hanya karena azan hadir didunia nya, ia akan melakukan apapun demi azan.


"mungkin karena kelahirannya yang prematur sehingga tubuhnya begitu lemah, dan sepertinya saat dia dikandungan ia tidak mendapatkan perawatan yang baik, bayi Anda harus mendapatkan perawatan khusus hingga usianya 5 tahun ia harus sering cek up, dan teratur, serta obat yang dia gunakan harus impor, dan saya rasa anda.. mengenai biaya perawatan ini.." dokter ragu ragu untuk memberitahu biaya perawatan pada Zahra yang akan dihabiskan untuk Azan karena mengetahui keadaan Zahra, belum biaya obat impor setiap bulan yang diperkirakan akan menghabiskan hingga puluhan juta, belum juga harus cek up setiap Minggu, belum lagi asupan asupan nutrisi dan vitamin yang sangat diharuskan untuk pertumbuhan dan kekebalan imuninya.


" baik dok saya mengerti, lakukan yang terbaik untuk anak saya, saya pergi dulu nanti saya akan kembali, " Zahra mengangguk mengerti inilah jalan yang di pilih nya sejak awal jadi apapun resikonya ia akan tetap berjuang, tidak ada kata berhenti di tengah jalan dalam hidup Zahra, sebelum Zahra berlalu pergi, ia melihat azan dari kaca pintu ruangan, penuh gemetar dan keringat tak kuasa memegang kaca itu dengan bayangan anaknya.


kau adalah malaikat ku nak (teringat saat azan memegang jari telunjuk Zahra), kamu harus hidup, hanya kamulah penyemangat ibu sekarang nak( teringat saat azan tertidur didadanya Zahra karena lelah bermain) kamu masih terlalu kecil untuk meninggalkan ibumu yang lemah ini ( teringat saat azan tertawa jika Zahra mengelitiki nya saat azan selesai mandi dan siap dipakai kan pakaian) ibu sayang kamu nak, bertahan sayang ibuk akan kembali. dengan perlahan ia melepaskan tangannya dari kaca itu dengan mengepal erat tangannya tak kuasa menahan rasa sesak di dada, membuat diri nya merasa seolah olah wanita yang begitu kuat sehingga Allah mengujinya hingga sejauh ini.


Zahra pun berlalu ia sedikit oleng, ia bingung harus meminta bantuan siapa lagi, dengan terpaksa ia menelepon Tini...


Tini memberinya pinjaman sebisa mungkin, ia memberikan semua sisa tabungannya, tapi itu tak cukup, uang itu tak akan bertahan hingga lima tahun, ia harus memikirkan cara untuk bertahan hingga lima tahun. Zahra pun memutuskan untuk pergi menemui octa.

__ADS_1


***


"Zahra mungkin, aku bisa membantu tapi hanya sedikit, kau tau kan biaya untuk lima tahun pengobatan tak mungkin sedikit, Zahra bagaimana jika.." octa dengan ragu meneruskan kalimatnya, secara Zahra adalah gadis yang baik dan lugu, ia cantik dan juga begitu tertutup sehingga bisa dibilang dapat menjaga dirinya dari hawa nafsu dengan sempurna.


"apa bu?, saya akan melakukan apapun untuk anak saya," Zahra yang kini tengah terduduk dilantai memohon pada octa, dengan mendekapkan kedua telapak tangannya. Octa menghampiri Zahra yang terduduk dilantai, ia meraih Zahra untuk duduk di sofa, dan menggenggam tangan Zahra dengan lembut dan tatapan iba namun tak ada pilihan lagi, karena hanya inilah cara dengan harapan terbesar yang dimiliki Zahra.


"nak, bagaimana jika kamu menjadi salah satu pelayanan pada malam hari untuk menghibur para lelaki di kafe ini.?" tawar Octa dengan menundukkan pandangan dan rasa tak enak hati karena menawarkan pekerjaan tersebut.


"!!!" Zahra terkejut seketika.


"kami menjamin tidak ada layanan sembarangan disini nak, disini hanya melayani para penjabat dan orang orang yang penuh dengan uang, kami tidak akan memberi harga murah untuk pelayanan kami, dan tip yang kamu terima seluruhnya milikmu, kami melindungi pelayan kami, kami tidak membiarkan mereka berkeliaran dipinggir jalan hingga diburu satpol PP, "


"tapi buk.."


"dengar nak dunia ini memang kejam, kau melakukan ini demi anak mu, pikirkanlah baik baik, nanti kamu kembali lagi kesini, jika kamu setuju kamu bisa mulai kapanpun kamu mau,". Octa menawarkan pekerjaan itu dengan serius karena mungkin hanya inilah pilihan yang ada.


***


siapa lagi yang bisa membantuku ya allah hamba ingin menjauhi larangan mu, tapi apa daya hamba, hamba tak bisa kehilangan anak hamba, cobaan ini begitu berat ya allah, hamba sudah tidak tau siapa lagi yang bisa membantu hamba bahkan lima tahun lamanya, ya allah izinkan hamba sekali ini menyelamatkan anak hamba, maafkan hamba jika kali ini hamba mendekati larangan mu ya allah.


Zahra pergi mengambil air wudhu ia menenangkan diri dengan bersujud pada tuhannya.


Zahra kini sedang mengangkat tangan memohon pada allah.

__ADS_1


"ya allah maaf hamba tidak punya pilihan, ya rahman ya rahim yang maha pengasih maha penyayang jagalah anak hamba lindungilah dia, ayah ibu maafkan aku kini aku akan benar benar menjadi anak yang kalian benci."


semalaman Zahra tidak tertidur, dan pagi ini Zahra ditemani Leela, mereka berada di ruangan inap Azan untuk menemani Azan dan memperhatikan perkembangan Azan.


"Leela aku sudah membayar sebagian biaya ke dokter, setelah ini aku akan mencari sisanya, bisa kah aku meminta bantuan darimu,"


"ya Zahra katakanlah, "


"aku akan menemani Azan disiang hari, dan dimalam hari bisakah kamu menemaninya untuk ku, aku percaya padamu, aku akan memberikan mu juga tip ku nanti sebagai tanda terimakasih ku,"


"Zahra apakah maksudmu,?"


"ya Leela ini keputusan ku,"


"tapi Zahra,"


"maaf Leela jangan menggoyahkan ku aku akan pergi nanti malam selesai shalat isya, tolong yah,". Zahra menggenggam tangan Leela dialah harapan terakhirnya. Zahra tetap berdiri teguh pada prinsipnya semalu apapun ia terhadap tuhannya akan lebih malu lagi jika tidak menganggap tuhannya ada, ' sebesar apapun dosa yang dilakukan tetap harus menyembah tuhan YME, '.


***


"bu, aku terima aku akan mulai pekerjaannya malam ini," perlahan Zahra membuka hijabnya, melepas cardigan nya, dan meraih pakaian seksi yang kini dipangkuannya.


*maaf, maaf, maaf.

__ADS_1


bersambung....


maaf yah kalo typo nya bertebaran, mohon dukungannya ya, kritik dan saran akan sangat membantu*.


__ADS_2