Cinta Zahra

Cinta Zahra
Keluarga


__ADS_3

sedih kini terasa pada diri Arnius dan juga Rahman, masih terbayang bagaimana wajah terakhir kali saat Rahman dan mentari bertemu, dengan wajah senyum ceria dan polos serta ketulusannya mentari melambaikan tangan ke arah Rahman, ia pergi dari rumah sakit dengan senyum ceria tanpa tahu ada rasa takut dalam dirinya untuk pulang tanpa ada sosok kakak yang menemaninya. saat itu memang mentari merasakan sesuatu yang sangat menakutkan sehingga ia menggenggam erat jari-jemari Rahman agar dibiarkan untuk tinggal, Rahman sempat berfirasat tidak enak namun apa boleh buat takdir yang tidak bisa diubah. 1000 kali pun Rahman menyesali perbuatannya tetap saja semua tidak akan terulang lagi.


begitu geram terasa karena ia bisa saja mengabaikan perasaan khawatir nya pada mentari, begitu kesal terasa bagi siapapun yang mengetahui sedikit petunjuk namun harus terabaikannya.


terlebih lagi arnius yang masih membayangkan wajah terakhir kali mentari saat menangis memohon ampun kepada bapak angkatnya hanya agar berhenti untuk memukuli arnius, arnius yang akan selalu kuat hanya karena sosok orang yang sangat dia sayang hanya karena sesosok orang yang sangat berarti untuknya.


Ia bahkan belum sempat melihat mentari untuk bahagia yang ke terakhir kalinya, justru yang ia lihat hanyalah wajah sedih, kesedihan yang menyelimuti bukan senyuman ceria khas mentari yang seperti biasanya.


sekarang apa gunanya aku hidup? aku hidup untuk siapa? sedangkan dia yang aku sayang kini telah pergi meninggalkan aku bahkan untuk selamanya, ingin rindu 1000 kali pun dia tidak akan bisa untuk datang kembali lagi kepadaku. Arnius berpikir keras dalam dirinya iya begitu sangat memikirkan untuk siapakah yang hidup saat ini, yang merasa kini hidupnya tidak berarti, dan ia sungguh merasa iya ingin pergi untuk menyusul mentari agar mereka bisa bersama.


Deg


Rahman memegang tangan Arnius, ia menyadarkan arnius dari lamunan dan fikiran yang tidak menyadarkan dirinya, Rahman menatap serius dengan penuh kasih sayang, untuk pertama kalinya arnius menatap Rahman dengan tatapan memelas memohon pertolongan meminta jawaban, tidak seperti biasanya arnius yang selalu dengan tatapan tegar tajam dan keberaniannya.


Bahkan Arnius sempat mengingat bagaimana kebaikan Rahman yang telah dilakukan kepadanya dengan membuat Mentari tertawa saat bersama sama di wahana, taman bermain, bahkan di restoran.


tetapi kita masih belum sempat mewujudkan mimpi kita untuk sama sama menjadi orang yang sukses bukan? kita belum sempat membangun rumah impian kita, untuk orang orang yang mengalami hidup seperti kita. Arnius merasa sesak yang tak tertahankan di dadanya, seperti rasanya ia sangat sangat merasakan udara yang begitu minim di paru parunya saat itu, sehingga tak sanggup untuk berkata apa apa.


"baru 3 hari, cukup tiga hari kita kenal tapi aku merasa ada hubungan yang kental dalam diri kita, aku berharap kamu bisa menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya bukan untuk kita melainkan untuk mentari, karena aku yakin itulah yang diinginkan oleh mentari," ucap Rahman memegang tangan arnius serta mencoba berusaha untuk memberikan kekuatan pada Arnius.


"bisakah kamu membantuku?," tanya Arnius dengan menghapus air matanya dan mulai menatap Rahman dengan penuh keseriusan.


"mendapatkan keadilan untuk adikku, bahkan hukuman yang lebih mengerikan daripada kematian yang harus didapatkan oleh orang tua angkatku," imbuh Arnius dengan penuh harap kepada Rahman, karena ia tau apapun yang diinginkan Rahman akan bisa di dapatkannya hanya dalam sekejap mata


"mmh," Rahman mengangguk dan bersedia untuk membantu Arnius sepenuhnya, dengan seluruh kemampuan nya.


dan kini tibalah dimana hari pemakaman mentari telah datang, karena memang Arnius tidak memiliki keluarga, jadi yang datang hanyalah sebagian besar dari keluarga Rahman dan juga dari orang-orang di pinggir jalan yang pernah berbaur dengan Arnius dan para pengamen yang lainnya, Arnius kala itu tidak mengeluarkan tangis, ataupun wajah sedih lagi, namun ia hanya mengeluarkan bentuk wajah datar dan masam, seolah-olah seseorang yang memiliki misi dan keinginan kuat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dan itu semua harus dilalui tanpa air mata dan kesedihan yang ada hanya semangat dan kegigihan.


aku berjanji aku bersumpah untuk mewujudkan semua mimpimu, akan ku bangunkan satu rumah untukmu yang layak untuk ditempati para orang-orang yang tidak memiliki rumah seperti yang kamu inginkan. ucap arnius di depan pemakaman mentari yang bergumam dalam hatinya.


"mari," ajak Rahman seusai acara pemakaman ernius mengikuti kemana Rahman pergi, kini arnius dan Rahman sedang menuju ke kantor polisi di mana tempat orang tua angkat arnis sedang di introgasi.


....


"nak kamu bilang nak ya kalau ibu enggak bersalah," ucap Ibu angkat arnius bergegas yang baru saja melihat arnius datang.


Arnius hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun bahkan untuk melirik pun tidak.


"saat itu kami tidak sengaja sehingga mentari menjadi celaka, adek kamu itu enggak hati-hati makanya dia seperti itu dan itu ga salahnya sama kami" ucap bapak angkat arnius yang meminta pertolongan pada Arnius.


"iya kamu bilang kepada mereka juga ya, bahwa tuduhan mereka itu palsu, kami ga pernah menganiaya kamu kan, bahkan kami mengurusku dengan sangat baik, ayo cepat bilang," ucap ibu angkat Arnius yang sudah dipenuhi dengan rasa kekhawatiran karena Arnius tidak memberi tanggapan sedikitpun.


"tidak! mereka berdua bersalah," ucap arnius dengan sigap yang langsung menatap polisi tanpa melihat sedikitpun ke arah kedua orang tua angkat nya.


"bahkan terakhir kali aku terluka karenanya," ucap Arnius membayangkan betapa menyedihkannya dirinya itu saat itu, yang ia lakukan hanyalah berharap agar mentari baik baik saja, sehingga membiarkan dirinya untuk berkali kali mendapatkan pukulan dari orang tua angkatnya.

__ADS_1


" hampir setiap hari aku selalu dipukulinya dan adikku selalu menangis dibuatnya, terakhir kali juga dialah yang telah membunuh adikku!," arnius tanpa bergeming dan bergetar berkata demikian di hadapan polisi dan juga di hadapan Andrean dan Yeni yang tentu saja membuat mereka berdua terkejut.


Yeni yang melihat tingkah arnius langsung memegang tangan Andrean karena ia melihat tidak ada rasa takut sedikitpun dalam diri Arnius saat itu, tidak seperti anak-anak lainnya termasuk Rahman pun belum tentu akan bisa seperti itu, menjawab dengan penuh rasa percaya diri dan keyakinan yang telah mendarah daging.


"bukankah juga sudah ada buktinya? ibu-ibu serta penduduk yang ada di rumah kalau itu mereka semua, bahwa 2 orang inilah yang telah membunuh adikku, bahkan ada rekaman yang merekamnya bukan," ucap arnius ia mengingat bahwa saat itu ada ibu ibu yang membawa handphone bahkan mengarahkannya ke wajah orang tua angkat Arnius. Arnius juga menunjuk wajah kedua orang tua angkatnya, lalu berniat pergi dari ruangan itu.


"hai anak pungut! kamu jangan kurang ajar ya jadi anak kalau bukan karena kami kamu nggak akan bertahan hidup tau nggak!," Teriak Ibu angkat arnius.


"mohon keterangannya jangan sampai ada keributan, ini kantor polisi," ucap Ibu polisi.


"awas kau ya Arnius lo tidak tahu kan bagaimana rupa wajah orang tua lo, lo hanyalah anak haram yang dibuang lu tahu itu!, dia nggak pernah menginginkan lk, karena lo emang nggak diinginkan di dunia ini, lo hanya anak haram yang berkali-kali pernah di coba untuk dibunuh oleh orang tua lo sendiri ngerti nggak Lo!," teriak bapak angkat arnius yang tengah dibawa oleh polisi.


"ingat satu hal ya, lo nggak akan pernah ketemu sama orang tua lo, karena gua nggak akan biarkan itu, sekalipun lo ketemu, lo nggak akan diakui, karena mereka udah ngebuang lo, lo bakal nyesel karena udah ngelakuin ini sama gua!" sahut bapak angkatan Arnius sambil berteriak yang sudah semakin memanas.


"maaf karena mungkin anda salah paham, anda tidak dihukum mati karena saya masih bisa berterima kasih kepada anda, namun anda tidak memiliki kesempatan untuk menyukai saya, karena anda akan membusuk di dalam penjara," ucapan Arnius yang setengah berbalik mengatakan hal tersebut dengan wajah datar dengan suara yang lantang dan juga tegas namun tanpa teriakan.


"sini nak kamu ikut kami," Yeni menghampiri arnius dan menggandeng tangan Arnius, Yeni mengerti bagaimana perasaan Arniu, yang selama ini tidak memiliki orang tua yang layak yang bersamanya. Ditambah lagi begitu banyak luka lebam di tubuhnya, dengan kondisi tubuhnya yang sangat prihatin.


mereka pun berlalu dari kantor polisi dan datang menuju ke kediaman Andrean Adiwijaya...


"nak ini kamarmu ya, minggu depan kami ikut sama Ayah kita pergi untuk mendaftarkan kamu sekolah," ucap Andrean dengan lembut kepada Arnius yang menunjukkan kamar Arnius.


Arnius melihat Andrean dengan tatapan yang penuh belas kasih di telinganya selalu terngiang kata-kata "Ayah," karena kata itu seperti kata orang tua kandung yang ditujukan kepada anak kandungnya.


"mulai hari ini kamu nggak sendiri, kamu akan menjadi adiknya Rahman, kalau kamu ada yang dibutuhkan kasih tau ayah, dan juga kalau kurang suka sama kamarnya kasih tau ayah nanti ayah perbarui oke," ucap Andrean mengelus kepala arnius, tanpa disadari arnius tidak dapat menahan rasa terharunya, dengan menundukkan kepalanya menyembunyikan tangisnya ia menganggukkan kepalanya.


"enggak apa-apa enggak usah malu, anak Ayah kuat nggak boleh nangis ya cowok itu harus kuat, ini rahasia diantara kita Ayah nggak akan bilang sama siapa-siapa kalau kamu nangis oke," Andrean memeluk Arnius dengan kasih sayang.


beberapa saat kemudian Yeni juga datang menghampiri Arnius ke dalam kamarnya


"nak ini pakaianmu, sekarang mandi dan ganti pakaian dulu ya," ucap Yeni dengan lembut.. dan sebagai anak yang penurut, Arnius langsung mematuhi perintah Yeni, setelah beberapa saat Arnius telah usai mandi dan berganti pakaian.


"besok kamu akan berada di sekolah yang sama dengan kak Rahman, tapi beberapa bulan kamu akan belajar dasarnya dulu ya, biar bisa membaca dan menulis dulu," Ucap Yeni sambil nenyisiri rambut Arnius dan memakaikan Arnius parfum juga hand body, dan yang lainnya.


"bolehkah saya meminta untuk mendapatkan pelajaran bela diri juga?," pinta Arnius pada Yeni.


"mmh, tentu saja itu adalah kepingan yang bagus, nanti kita bicarakan sama ayah ya, biar ayah yang berbicara sama pihak sekolah oke," ucap Yeni dengan tersenyum dan lembut.


lembut, sangat lembut dari tutur katanya berbicara, dan dari caranya memancarkan kasih sayang, ibu? apakah seperti ini sesosok ibu kandung yang selama ini aku inginkan, bahkan ia tidak pernah menyebutku anak pungut, ataupun menyinggungku kalau aku bukanlah anak kandungnya, ia menganggapmu benar benar sebagai bagian dari keluarga ini dan seolah olah aku memanglah benar anak kandung kalian. Ucap Arnius dalam hati terhadap Yeni, karena ia mendapatkan prilaku yang sangat lembut terhadap Arnius, prilaku yang telah di impikannya selama ini


.....


"hei, malam ini aku tidur sama kamu ya," ucap Rahman kepada Arnius yang mendatangi kamar Arnius, Arnius hanya mengiyakan Rahman.


"ngomong-ngomong kita keluar beli es krim yuk, ada supermarket di dekat sini jadi nggak perlulah bawa pengawal segala aku capek diikutin pengawal tau, terkadang risih terlalu diikuti seperti itu, Ayah juga nggak akan marah karena aku kan kuat, lagi kamu yang kuat menjadi adik aku sekarang," ucap Rahman setengah berbisik layaknya seorang kakak yang sedang bercerita kepada adiknya.

__ADS_1


......


mereka kini sedang berada di tengah perjalanan menuju beli ice cream, ditengah-tengah mereka bertemu dengan anak-anak yang sekiranya seumuran dengan Rahman atau lebih tua 1,2 tahun dari Rahman.


arnius terlihat tidak suka melihat anak-anak tersebut, Rahman juga mengabaikan mereka, karena sakit hati mereka diabaikan, mereka membully Rahman dengan sangat keras bahkan sampai mendorong tubuh Rahman hingga terjatuh.


arnius yang tidak menyukai hal itu, langsung memukul balik orang yang mendorong Rahman, iya bahkan membalas tanpa bergeming dan tidak membiarkan lawan menyentuhnya sedikitpun.


"sudah sudah jangan bertengkar," ucap Rahman kepada arnius.


"awas kalian akan ku laporkan kepada orang tuaku," ucap anak-anak itu.


"aku rasa kalian akan diomeli orang kedua orang tua kalian, karena kalian membully ku terlebih dahulu, dan masih banyak bukti yang bisa aku tunjukkan kepada orang tua kalian tentang kelakuan kalian yang selalu nakal di luar rumah," ancam Rahman kepada anak-anak itu yang langsung kabur melarikan diri.


arnius menatap Rahman dengan tatapan bertanya.


"apa? kamu pikir aku serius? aku nggak punya bukti rekaman sama sekali itu hanya ancaman ku, mereka cepat percaya karena aku orang kaya jadi apapun bisa aku lakukan hahaha," ucap Rahman dengan setengah bercanda, namun Arnius tidak menggubrisnya.


"ha-ha-ha," Rahman memberi tawa terputus karena ia tau itu tidaklah lucu untuk Arnius.


"ngomong-ngomong kamu adalah orang yang pemberani kuat dan tak gentar, kamu seperti rajawali oke aku kasih nama kamu Arnius, dan hari ulang tahunmu adalah hari ini, Arnius dalam bahasa Jepang yaitu berarti Raja Wali, gimana cocok kan sama karaktermu," Ucap Rahman..


"mmh," Arnius mengangguk cepat, ia sangat terharu dan berterima kasih karena akhirnya ia memiliki nama.


"eh jangan kasih tau Ayah ya tentang kejadian malam ini, ayah bisa marah," ucap Rahman yang berbisik.


mereka pun melanjutkan membeli ice cream dan menghabiskan malam.


beberapa hari kemudian Yeni melahirkan di rumah sakit terdekat, kalau itu adalah hari kelahiran Maisaroh atau memei.


"wah lucunya, ini adek Rahman kan mah?, dia perempuan lagi, akhirnya adik Rahman keluar juga dari perut Mama," ucap Rahman dengan senang dan memegangi tangan yang mungil kalau itu.


"sini nak," ucap Yeni yang menyuruh Arnius mendekat. Arnius pun mendekat.


"lihat adik kamu cantik kan," ucap Yeni.


"iya dong adik kita gitu loh," Sahut Rahman.


"adik?," heran Arnius yang dijawab anggukan oleh Yeni.. Arnius melihati Memei yang mencoba melihat meskipun usianya masih belum cukup untuk bisa melihat, Memei tampak sangat lucu dengan mulut yang ia manyunkan dan tangan yang bermain main, lalu Arnius memegang tangan mungil itu dan Memei memegangnya sangat erat.


"Keluarga", mulai hari ini aku memiliki keluarga kata kata itulah yang kuinginkan dari dulu. ucap Arnius yang meneteskan air mata.


~flashback off~


yah mulai dari saat itu aku telah memiliki keluarga, dan kalian lah yang berarti untukku, bahkan ka Rahman meskipun aku memanggilnya tuan tapi dia tetap seperti kakak ku, dan dia adalah nyawaku. Arnius....

__ADS_1


bersambung..


hi guys, ga terasa sudah sejauh ini ya, terima kasih banyak karena telah setia, terus simak kelanjutan ceritaku ya, jangan sampai kemana mana, terus nantikan up terbarunya.. bye bye, good night my reader🤗 see you in next episode bye bye,


__ADS_2