Cinta Zahra

Cinta Zahra
kekuatan


__ADS_3

Zahra sedang bersama Riska, memakan makanan siang bersama.


"eh ternyata si Riska beneran hamil ya?, aku ga nyangka dia beneran hamil aku fikir cuma gosip," ucap salah satu teman Riska yang melihat Riska sedang makan siang bersama Zahra.


"eh, btw itu yang didekatnya si Zahra ya anak jurusan ekonomi? sahabatnya dia," sahut salah satu temanya lagi.


"iya dia juga ga jelas, katanya ga ada yang tau statusnya dia sekarang, ga pasti, dia sering dilihat jalan sama cowok tau, cowok ganteng tapi ya dewasa banget. Kali aja ya dia jadi simpenan,"


"iya yah secara Zahra itu kan cantik juga, cuma sangat disayangkan,"


Riska dan Zahra terduduk diam, mendengar kata kata teman teman nya itu, Zahra sudah geram dengan olok olok kan teman kepada Riska sedangkan Riska sudah sangat kesal juga karena mendengar Zahra dihina, bahkan difitnah sampai seperti itu.


"sudah Riska kita sabar dulu aja ya," ucap Zahra menenangkan Riska yang sudah ingin menjambak rambut wanita yang mengatai Zahra itu.


"Oi, Riska lu ga malu apa kesekolah pakai bawa bawa perut segala, ya ga? hahaha," ucap salah satu lelaki yang datang dengan sekelompok temannya.


"eh by the way lu cantik juga, semalam dibayar berapa? atau cuma di kasih harapan doang tapi ga ada kepastian?, hahaha," sahut salah satu teman lelaki itu.


"bisa diem ga lu pada!?," ucap Riska berteriak.


"udah Riska sudah ya, kita ketempat lain yuk," Zahra berniat mengajak Riska untuk pergi dari kelas itu. Dan saat Zahra sudah membelakangi sekumpulan anak lelaki itu.


Brukk


"singkirkan tangan kotor mu itu," ucap Zahra membulatkan matanya pada salah satu lelaki yang terjatuh.


sementara itu teman teman wanita maupun lelaki terkejut karena saat tangan teman lelaki itu menyentuh pundak Zahra, dengan cepat Zahra me renspon dengan mundur satu langkah memasang kuda kuda nya dan memegang pundak lengan yang memegang pundaknya sendiri lalu membanting tubuh yang memegangnya itu ke depan.


"hei!!," sahut salah seorang teman lelaki itu. Ingin menghajar Zahra namun di cegah oleh temannya yang lain.


"sabarlah ini masih kawasan kampus, kita tidak akan melepaskannya di lain tempat," bisik teman yang mencegahnya dan di balas anggukan oleh temannya itu.


Zahra pun pergi meninggalkan mereka bersama Riska.


"wah kamu hebat ya sekarang haha, tangan kamu ga apa apa?," tanya Riska yang terkagum sekaligus merasa khawatir.


"ga apa apa ko tenang aja, kuda kuda ku tepat tadi, aku teringat dulu saat masih SMP kamu yang selalu menjagaku saat para teman lelaki mengganggu ku, sekarang giliran aku," jawab Zahra dengan cerianya, dan senang karena bisa menjadi berguna untuk sahabat nya itu.


haha, diam diam kamu bahaya juga ya Ra, siapa yang akan mengira kalau kamu bisa silat dengan wajah secantik itu si?, haha. Riska terkagum kagum pada Zahra.


......


Waktu pulang dari kampus kini tiba, Zahra dan Riska sedang berjalan keluar kampus untuk menunggu jemputan mereka masing masing, namun tanpa mereka sadari ada beberapa mata yang sudah menatap tajam ke arah mereka dengan pandangan tidak suka, dan.


Deg


"huh! ka Alfie ngagetin aja, kenapa harus pake narik tangan keras kayak begitu!," Riska kesal pada Alfie.


"iya ka Alfie ini, aku fikir ka Alfie itu..," ucap Zahra menggantung karena tidak ingin memberitahu Alfie kejadian di sekolah bagaimana mereka di bully oleh teman teman sekampus nya.


"kenapa? kamu pikir siapa?," tanya Alfi serius.


"ka Alfie ini udah salah ga minta maaf lagi," celetuk Riska.

__ADS_1


"hehe iya maaf habis sih kamu dipanggil panggil ga ngelihat lihat kan capek harus ngejar kamu sampai berlari," celetuk Alfie dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" oh, ka Alfie manggil ya,"


"iya kamu kan hari ini ada janji sama dokter, udah ditunggu dari tadi tau, USG dan pemeriksaan sudah di khususkan untuk kamu, kemarin malam kan sudah aku kasih tau," omel Alfie karena Riska tidak juga menghiraukan Alfie.



"iya iya, kita pergi sekarang," ucap Riska dengan malasnya.


"Ra maaf ya aku pergi duluan sama ka Alfie," imbuh Riska berbicara kepada Zahra.


"iya ga apa apa ko aku mengerti pergilah cepat," Zahra tersenyum melihat Riska yang mendapat perhatian lebih dari Alfie.


"dadah Zahra," Riska melambaikan tangan pada Zahra.


"dadah," Zahra melambaikan tangan hingga Riska dan Alfie sudah tidak terlihat lagi. Zahra menunggu Rahman di sebuah bangku dekat taman di kampusnya.


aku senang melihat kamu masih memiliki seseorang yang sangat menyayangimu Riska, terasa ada titik cerah yang menantimu, bersahabat lah sahabatku sayang semua ini akan berakhir. Gumam Zahra dalam hatinya.


"huh!, beruntung sekali kamu Riska," ucap Zahra dengan menghirup udara segar.


"hah! bukan mereka para lelaki yang tadi membully aku sama Riska di kelas saat jam makan siang ya?, Zahra melihat sekolompok kawan itu melewatinya dari seberang dengan wajah yang penuh babak belur.


Tiin


Zahra terkejut dengan suara klakson mobil. ia melihat mobil itu, dengan merasa bahwa ia mengenalnya tapi intinya bukanlah Rahman orang nya.


"aaaaa ka Raditya, Zahra rindu!," Zahra berlari memeluk Raditya setelah melihat yang keluar dari mobil itu ternyata Raditya.


"aku sehat ko ka,"


"sekarang Kaka yang anterin kamu pulang, Kaka udah telepon Rahman ko tadi, Kaka ingin mengajakmu bertemu dengan seseorang, kita akan makan bersama,"


"siapakah itu?,"


"calon Kaka ipar mu," ucap Raditya dengan setengah berbisik pada Zahra lalu memasuki mobil.


"aaaa seriusan sudah lama sekali aku ga ketemu sama ka Nisa," ucap Zahra setengah berlari memasuki mobil Raditya.


......


"mana ka Nisa?," Zahra bertanya tanya karena ia melihat ke sekeliling untuk mencari Nisa namun tidak di temukannya.


"wah, kamu rindu banget ya sama dia," Raditya memegang kepala Zahra dengan lembut.


"iya dong," jawab Zahra tanpa melihat ke arah Raditya.


"oh, itu dia disana!," Zahra setengah berteriak lalu berlari menghampiri Nisa.



Nisa adalah seorang gadis yang cantik, ramah dewasa, dan penuh dengan kedewasaan, terkadang ada rasa pada dalam diri Zahra untuk menjadi seperti Nisa, namun yang ada hanyalah dia malah menjadi gadi yang manja, dan akan selalu dianggap menjadi seorang anak kecil bukan seorang gadis yang sudah menginjak usia 20 tahun.

__ADS_1


"sini de, haha, kangen ya," Nisa tertawa lepas karena Zahra memeluknya dengan erat. Meskipun Zahra memiliki tubuh yang lebih tinggi namun tetap saja akan tampak jelas bahwa Nisa lah yang lebih dewasa dari Zahra.


"aku kangen banget!,"


"haha iya, ayok mau makan apa?,"


Nisa memanjakan Zahra seperti adik kandungnya sendiri, Nisa adalah gadis yang begitu baik dan penuh kehangatan, namun sekali ia marah lelaki sejati pun bisa takut melihat raut wajahnya.


.....


Sementara itu Rahman sedang di datangi oleh seorang lelaki yang bahkan wajahnya tidaklah asing di kampus Zahra Arnius namanya.


"informasi apa yang kamu miliki?,"


Lalu lelaki itu melapor pada Rahman.


~fash back onn~


Saat Zahra sedang berjalan keluar kampus, sekelompok lelaki yang mem bully Zahra mengikuti Zahra secara diam diam dari belakang.


Saat para lelaki itu ingin melakukan sesuatu pada Zahra karena melihat ada kesempatan, di cegah oleh Arnius.


"Lo siapa mau ngehalangin kita aja," ucap salah satu orang dari kelompok lelaki itu.


"jangan ganggu nona Riska dan Zahra lagi," Arinus berkata dengan nada datarnya dan memandang mereka satu persatu dengan wajah tampannya namun penuh bekas luka jahitan di kening dan wajahnya sehingga membuatnya begitu seram.


"emang urusan Lo sama dia apa hah!, jangan sok pahlawan deh, minggir lu!" para sekolompok itu mencoba untuk tidak menghiraukan Arnius.


Arinus melihat mereka semua satu persatu seperti memperhitungkan sesuatu, dengan wajah datar tanpa mimik apapun Arnius memegang kepala, wajah, dan tubuh mereka satu persatu.


Brakk, Bug Bug.


hanya butuh waktu beberapa menit bagi Arnius untuk menghabisi mereka semua, tapi Arinus tidak membuatnya patah tulang hingga tidak bisa apa apa lagi.


"suruh mereka lenyap dari hadapan nona Zahra dan Riska," ucap Arnius pada satpam kampus yang ternyata sama sama pengawal Rahman yang diutus oleh Rahman untuk menjaga Zahra.


Arnius sesuai dengan namanya yang berarti raja Elang. Ia adalah anak yang di buang oleh kedua orang tuanya mendapat orang tua angkat yang tidak bisa di sebut sebagai manusia. Saat itu Rahman menemukan dia tengah mencari makanan di tong sampah karena kelaparan, orang tua angkatnya tidak mengurusnya dengan benar dan membuat hatinya menjadi batu. Rahman lalu mengangkatnya dan menjadikannya seorang teman dan bawahan yang paling setia di tambah lagi Andrean yang mengiyakan saja keinginan Rahman.


Arnius adalah nama yang diberikan Rahman untuknya, suatu saat Rahman pernah mendapat bully dari teman temannya di jalan, Arnius tidak menyukai siapapun yang menyakiti Rahman, hingga akhirnya Arnius menghajar mereka semua dengan aura yang mematikan, tanpa mengejapkan mata Arnius mampu menghajar mereka semua tanpa rasa takut.


Ya dialah Arnius si Raja Elang yang akan memukul tanpa berkejap dan tidak akan mematuhi siapapun selain Rahman karena orang pertama yang memperlakukan dia sebagai manusia adalah Rahman.


~flash back off~


"baiklah kamu boleh pergi," ucap Rahman setelah mendapatkan laporan.


"Arnius tunggu," ucap Rahman menghentikan Arnius.


"akhir pekan masuklah kerumah ku jangan hanya berdiam diri di luar, pengamanan ku cukup ketat. Aku juga ingin mengenalkan mu pada istriku," ucap Rahman dengan nada penuh kasih sayang. Arnius hanya mendengarkan nya lalu pergi meninggalkan Rahman.


"Memei juga akan ada disana, aku tau memei memperlakukanmu sangat baik bukan?, aku berterima kasih padamu," ucap Rahman.


bersambung...

__ADS_1



__ADS_2