Cinta Zahra

Cinta Zahra
operasi


__ADS_3

Zahra kini sedang melihat kearah luar jendela, ia menikmati pemandangan diluar berusaha untuk mengalihkan pikirannya, agar tidak terlalu terpikirkan oleh pengobatan yang akan dijalankannya, Rahman datang dan memegangi pundaknya, ia juga mengecup kepala Zahra dan memeluk Zahra dari belakang.


"kamu kenapa sayang?," tanya Rahman sambil memegang pipi Zahra namun Zahra hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"kamu kenapa takut ya sama pengobatannya?," tanya Rahma namun Zahra masih membalasnya dengan menggelengkan kepala.


"enggak apa-apa enggak usah takut ada aku kok di sini, kami akan selalu mendukung kamu dari belakang dan kami punya kekuatan doa yang kami minta kepada Allah agar kamu bisa selamat sayang," ucap Rahman dengan lirih sambil berbisik ditelinga Zahra.


Zahra pun tersenyum dan memeluk lengan Rahman.


sore telah tiba dokter pun datang untuk membimbing Zahra melakukan segala pengobatan mulai dari rontgen terlebih dahulu lalu kemoterapi dan lain sebagainya.


"tuan, nona Zahra mendapatkan perkembangan yang baik, nona memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjalankan operasi dengan lancar," dokter yang memberikan kabar baik kepada Zahra dan Rahman.


"Alhamdulillah, tuh kan ra apa aku bilang kalau ada perjuangan pasti Allah akan dukung, kita serahkan aja semuanya kepada Allah ya Ra ya." Ucap Rahman memberikan ketenangan pada Zahra.


"mmh," Zahra mengangguk tersenyum dengan bahagia sambil memeluk Rahman.


"selanjutnya kita akan melakukan operasi, dan jika Tuan berkenan kita akan melakukannya besok pagi, dan mari kita lakukan administrasinya sekarang dengan menuliskan surat izin atas melakukan operasi ini, jadi mohon tandatangani dulu surat-suratnya agar kita dapat menjalankannya dengan lancar," ucap dokter itu kepada Rahman.


"baik Dok saya akan segera kesana," ucap Rahman kepada dokter.


tidak lupa juga ia mengucapkan terima kasih di akhir kalimat.


"ra kamu yang tenang ya sekarang aku akan hubungi keluarga biar mereka bisa ke sini dulu terus kita bicara baik-baik dulu, biar besok kita bisa tenang untuk menjalankannya kita minta doa mereka dulu ya," ucap Rahman yang duduk memandang wajah Zahra sambil memegangi wajah Zahra dengan penuh kasih sayang.


"iya kak, Alhamdulillah karena Allah udah ngasih kesempatan buat kita, Zahra senang karena akhirnya Zahra punya kesempatan yang lebih besar untuk kita bisa bersama," ucap Zahra menyahuti perkataan Rahman.


"kan aku sudah bilang kita berjuang lebih dulu, kita serahkan semuanya kepada Allah kita percayakan pada Allah aku percaya pada Allah bahwa kita masih punya masa-masa yang banyak untuk kita lalui bersama, agar di masa tua kita nanti ada sejuta kenangan yang bisa kita lihat di masa lalu yang bisa kita ceritakan kepada anak-anak kita dengan penuh kasih sayang kita," Rahman mengecup kening Zahra lalu Zahra mengangguk mengiyakan perkataan Rahman.


setelah beberapa saat kemudian Rahman menghubungi keluarganya dan keluarganya pun bergegas untuk menuju ke rumah sakit..


"Alhamdulillah ayah senang dengarnya, ayah sudah tahu pasti kalau Putri Ayah orang yang kuat, pasti bisa melalui ini bersama-sama," ucap Andrean kepada Zahra.


"iya begitulah dia kan menantu mama yah," ucap Yeni memegang tangan Andrean.


"hei dia itu penentu Ayah juga kali," ucap Andrean yang membuat Rahman tersenyum.


"ya kak makanya jangan terlalu cepat nyerah dulu, kita semua sayang sama kakak dan kita selalu mendoakan yang terbaik untuk kakak, in shaa Allah, Allah dengar ko," ucap Ramadani yang menghampiri Zahra.


"mmh, Allah tau yang terbaik buat kita, dan Allah akan memberikan yang terbaik apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, karena apa yang kita inginkan belum tentu benar, kecuali yang kita inginkan itu bernilai positif dan sudah benar dan Allah membaikkannya lalu mengapa tidak, besar kemungkinan kita untuk mendapatkannya," ucap Meimei yang duduk di dekat orang tuanya kepada Zahra.

__ADS_1


"iya iya ih bawel dah ade ade kakak sekarang ya," ucap Zahra meledek adik-adiknya.


"kakak juga ikut senang akhirnya kamu bisa memiliki semangat lagi, memiliki keinginan lagi percaya lagi sama kita mau bersama lagi sama kita dan bisa lebih sayang lagi sama kita," ucap Raditya sambil merangkul Nisa.


"mmh," Nisa mengangguk mendengar ucapan suaminya.


"iya Ra aku tuh sempat sedih banget tau, dengar keputusan kamu dengar kamu curhat kamu ke kita, belum lagi kamu itu kayak orang nyerah padahal belum apa-apa, iya mungkin itu sangat berat buat kamu, tapi aku tuh sedih banget kenapa gitu kamu nggak kepikiran untuk berjuang dulu sama-sama, jangan langsung bilang kayak gitu sampai keputusan kamu itu buat aku down, bahkan kamu sempat menyembunyikan itu dari aku, jadi aku tak sempat berfikir gitu, kok aku nggak guna banget jadi temen, nggak bisa suport kamu ga bisa dukung kamu, mokonya udah kayak nggak guna gitu sampai aku tuh nggak bisa kasih kamu semangat lagi, saat itu aku sedih banget sumpah aku tuh sedih banget," ucap Riska yang membuat suasana tuh jadi sedih, dan Riska bahkan meneteskan air matanya lalu Alfi sebagai suami yang selalu setia kepadanya merangkul dan memeluknya.


Zahra yang mendengarkan kata-kata Riska menunduk dan mencerna perkataan Riska baik-baik Bahkan ia sempat berpikir ternyata dia telah melakukan hal yang salah, tanpa berjuang dia sudah menyerah begitu saja, dan dia malu kepada Tuhan Yang maha esa karena Zahra terlalu cepat menyerah pada kehidupan yang sedangkan Allah memberikan kepadanya, kesempatan yang begitu besar agar Zahra itu bisa kembali kepada semangatnya, contohnya dengan dukungan keluarga yang begitu besar yang menginginkan agar Zahra itu semangat dan menjalankan pengobatan, belum lagi sesosok pria yang sangat setia di sisinya, siapa lagi kalau bukan suaminya Yaitu Rahman.


"iya Riska aku minta maaf kalau udah buat kamu khawatir jangan ngomong gitu dong kamu itu sudah sangat berarti buat aku, kamu adalah sahabat setia aku kita bahkan selalu sama-sama dari SMP, susah senang sudah kita lalui sampai kita memiliki rumah tangga masing-masing. dan bahkan kamu selalu menyempatkan diri kamu untuk datang ke rumahku dan begitupun juga sebaliknya Dan kita pun masih menghabiskan waktu bersama, aku benar-benar minta maaf banget karena aku udah bersalah sama kamu, bukan cuma sama kamu tapi sama kalian semua karena udah menasehati aku tapi akunya nggak dengar, kalian semua udah memberikan aku semangat tapi akunya tuh malah kayak orang yang menyerah begitu aja," ucap Zahra sambil mulai meneteskan air matanya.


"kalian itu selalu mendukung aku selalu ada di belakang aku selalu mengerti keputusan aku, bahkan sampai akhir pun kalian tetap membujuk aku agar aku tuh percaya sama kalian agar aku tuh berjuang untuk diri aku sendiri, dan kalian nggak ada satupun yang nyerah begitu aja sama aku, jadinya tuh kayak ko aku kayak begini? laku keras kepala sekali, saat suami aku selalu ada untuk aku," ucap Zahra lalu memegang tangan Rahman, dan memandangnya lekat.


"aku punya keluarga yang selalu dukung aku," Zahra memegang tangan Ramadhani yang berada di dekatnya dengan memandangnya.


"aku punya kalian semua tapi keberanian aku belum kuat belum cukup untuk menerima kenyataan kalau aku tuh seperti ini, aku terlalu egois untuk kalian aku terlalu keras kepala dan susah untuk mendengarkan pendapat kalian padahal itu demi kebaikan aku sendiri, tapi sekarang aku paham aku salah dan kalian itu begitu berarti buat aku aku minta maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalian nggak pernah menyerah untuk aku," ucap Zahra lalu dipeluk Rahman.


"sudahlah jangan menangis, sekarang bukan saatnya untuk bersedih tapi sekarang kita harus berdoa dan memantapkan keyakinan kita, berdoa semoga saja besok akan berjalan dengan lancar, dan kau bisa pulang lagi ke rumah dan kita bisa bersenang-senang lagi kayak dulu bersama-sama lagi dan berbahagia bersama lagi, iya kan ayah?," ucap Yeni sambil memeluk Andrean.


Mama bahkan tidak mengucapkan apapun, tapi mama menangis. aku tahu daripada tetapan Mama itu begitu banyak pesan-pesan Mama yang begitu berarti untuk aku, dan mama adalah orang yang paling kuat untuk terus mencoba mencairkan pikiranku, terima kasih ma. ucap Zahra dalam hati sambil memandang Tini karena dari tadi Tini tidak mengeluarkan sepatah katapun namun ia ikut tersenyum dan menangis bersama dengan yang lainnya.


ini sangat bahagia melihat Rahman yang memanjakan Zahra, menyayangi Zahra ada selalu ada buat Zahra.


bahkan sekarang ini sedang memandang Rahman yang sedang bermain dengan wajah Zahra mencubit pipi dan hidung Sahara dengan tertawa senyum, tawa yang penuh bahagia yang membuat siapa pun melihatnya maka akan ikut bahagia.


Tini pun tertawa kecil karena akhirnya ia bisa tenang karena anaknya berada pada orang yang tepat, dan pilihan almarhum suaminya Marco ternyata adalah pilihan yang tepat dengan menginginkan Zahra menikah bersama Rahman.


keesokan harinya.....


Zahra merasa sangat gugup namun ia berusaha dengan keras untuk memberanikan dirinya untuk melakukan operasi terlebih lagi ia selalu terbayang-bayang akan keluarga yang selalu mendukungnya, dan ia tidak ingin untuk mengecewakan mereka untuk berkali-kali.


"bismillahirohmanirohim," Zahra kini dibawa ke dalam ruang operasi.


"tolong tenang ya nona ya jangan tegang, jangan panik pikirkanlah suatu hal yang membuat anda tenang, karena kami akan memulainya," ucap dokter itu lalu ia mulai memberikan suntikan kepada Zahra dan perlahan-lahan penglihatan Zahra buram dan kesadarannya pun menghilang.


.....


Rahman yang selalu menyemangati Zahra kini tampak sangat gelisah, ia takut bahkan berjalan kesana kemari, iya berjalan di satu tempat namun berlawanan arah ya selalu mondar-mandir mondar-mandir di depan ruangan Zahra menunggu kabar yang akan datang yang akan diberikan oleh dokter, dengan berkali-kali memandang kearah dalam ruangan dan berharap semua berjalan dengan lancar.


"sudahlah nak Ayah yakin, Zahra akan baik-baik saja percayakan saja sama Allah, dan ayah yakin Allah mendengarkan doa kita,mending kamu ambil air wudhu terus salat dan berdoa sana biar Ayah yang tunggu di sini," ucap Andrean yang menghampiri Rahman lalu memegang pundak Rahman dan berusaha untuk menenangkan Rahman, Rahman pun mengangguk menjawab perkataan Andrean lalu ia berjalan menuju Mushola yang ada di rumah sakit dan ia melakukan salat sunah duha dan berdoa kepada Allah.

__ADS_1


"Ya Allah memohon kepada-mu Ya Allah selamatkanlah istri hamba lancarkanlah ia ya Allah, meskipun nggak percaya kepadamu namun masih ada rasa takut dalam diri hamba hamba mohon maaf kepadamu ya Allah, hanya engkaulah yang bisa mengatur segalanya ya Allah hamba memohon kepada-mu Ya Allah tolong lancarkanlah segala urusan kami ya Allah sayangi lah kami ya Allah berilah kami kebahagiaanmu, dan jadikanlah kami kekasih dunia dan akhirat mu ya Allah amin amin ya robbal alamin," Rahman berdoa dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil meneteskan air matanya, dengan mengenang begitu banyak kenang-kenangan yang telah ia lalui bersama Zahra.


....


Tini sedang menggenggam tangan Yeni, Yeni yang merasakan tangan Tini sudah begitu dingin, berusaha untuk menenangkan Tini karena ia tahu bagaimana perasaan Tini saat ini.


"kita akan menghadapinya sama-sama kita serahkan pada Allah pasti semuanya akan berjalan lancar, jadi tenang ya," ucap Yeni yang merangkul Tini.


setelah beberapa jam berlalu Zahra dioperasi dokter keluar dari ruangan.


Rahman dan sekeluarga yang mendapati dokter keluar dari ruangan langsung berdiri dan menunggu kabar dari dokter.


dokter itu tersenyum menghadap semuanya dan melihat kekhawatiran di wajah setiap orang yang menunggu di luar ruangan.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar jadi tidak perlu khawatir karena Zahra kini sudah tidak apa-apa dia sudah baik-baik saja," ucap sang dokter yang sontak langsung memberikan kebahagiaan pada semua nya.


"Alhamdulillah ya Allah," mereka semua serempak melakukan sujud syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mereka sangat senang dan bahagia karena Allah mendengarkan doa mereka Allah memiliki beribu-ribu cara untuk membahagiakan umatnya yang takwa kepadanya.


Zara kini telah dialihkan kedalam ruangannya, Zahra masih belum sadar dari obat bius, Rahman pun setia untuk menunggunya di samping Zahra sampai Zahra sadar.


"hmmh," terdengar suara Zahra berat Zahra mencoba untuk membuka matanya.


"kamu sudah bangun, Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rahman yang melihat Zahra telah menyadarkan dirinya lalu ia mencium tangan Zahra, dan Zahra pun tersenyum memandang wajah Rahman.


"Alhamdulillah kamu sadar nak Mama tanya khawatir banget sama kamu, dan akhirnya semua berjalan dengan lancar," ucap Tini yang ikut membahagiakan yang lainnya.


"kak aku haus," pinta Zahra kepada Rahman yang melihat air di dekatnya.


"tunggu dokter dulu dokter akan segera datang," ucap Rahman Yang tak lama kemudian dokter pun datang.


dokter yg terlalu mengurus Zahra memberinya suntikan obat dan juga suntikan dalam infusnya.


"jangan minum dulu sebelum 6 jam ya nona, tolong tahan sebentar nona, untuk kita tertidur jangan banyak bergerak atau berbicara, istirahatkan dulu diri Anda baiklah kalau begitu nanti saya akan kembali untuk memeriksanya," ucap dokter kepada Zahra yang memberikan arahan dan peringatan. Zahra pun dengan pasrah mau tidak mau akhirnya ia pun mengangguk mengiyakan ucapan dokter, dan dokter itu pun tersenyum dan mengucap salam lalu pergi meninggalkan ruangan.


"huh! pelit sekali sih masa iya aku nggak boleh," suara lirih yang tenaganya belum kembali sepenuhnya.


"udah sayang biar lebih lancar lagi pengobatannya, kamu jangan banyak bicara dulu Lebih baik kamu diam dan nanti kalau udah saatnya kau bisa minum belum makan sih kamu minum ya," ucap Yeni yang duduk di dekat Zahra, Zahra pun menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk menenangkan dirinya memejamkan matanya dan berusaha untuk beristirahat.


"dia memang istriku yang imut ma," ucap Rahman tersenyum sambil memandang wajah Zahra dan Yeni pun mengangguk dan tersenyum kepada Rahman sambil memegang tangan Rahman.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2