Cinta Zahra

Cinta Zahra
Perjuangan


__ADS_3

Kini suasana menjadi terkejut terutama saat sang Tante Maya menyebutkan nominal uang yang telah di pinjam oleh Tini. Bahkan Raditya yang datang dari dapur juga terkejut.


"ma? mamah kapan berhutang sama Tante," Tanya Raditya yang melihat Tini hanya menunduk ingin menyembunyikan masalah.


"Tante sebenarnya udah tagih mamah mu ini berkali kali, tapi selalu saja tidak ada, huh! jika sedikit Tante tidak akan perhitungan tapi Tante juga butuh, cukup bayar pokoknya saja sekarang bisa?," Ujar sang tante .


"Ma Raditya tanya sama mamah untuk apa mamah meminjam uang dari tante?," Tanya Raditya masih dengan nada rendah.


"Mah gapapa bilang sama kami biar kami bisa cari solusinya sama sama," Zahra duduk di samping Tini dan merangkul Tini untuk menenangkan.


"Maaf," ucap Tini lirih dan gemetar


"Mamah mendapat pesan notifikasi dari kampus kamu dan sekolah Dhani, mamah harus membayar biaya sekolah kalian terutama biaya praktik kamu, stok makanan dirumah juga sedikit, mamah tidak bisa melihat kalian harus mengurangi makanan kalian," imbuh Tini dengan Isak tangisnya.


"tagihan listrik juga, bayar air juga, mamah butuh uang untuk membayar itu, mamah janji dalam waktu dekat ini akan mendapat pekerjaan jadi mamah pasti bisa menggantinya," Tini menutup matanya dan menangis ia tidak bisa menjual mobil almarhum suaminya meskipun mobil itu sudah rusak, Tini tetap menyimpannya karena baginya disitu terletak beribu kenangan yang tak bisa di hilangkan.


"oleh karena itu, oleh karena itu Dhani ingin membantu! Dhani tidak bisa melihat mamah terus terpuruk dalam kesedihan, karena masalah yang terus menerus datang, Dhani hanya ingin ikut membantu jadi tolong izinkan Dhani," Ucap Ramadhani yang sudah tak tahan lagi melihat keadaan keluarganya.


"sudahlah bukankah masih, ada mobil bagus disini, mobilnya Raditya kan?, GK terlalu mahal sih harganya tapi bolehlah untuk menutupi sedikit hutang Kaka," Ucap Tante Maya dengan memegang kepalanya karena sudah bosan berada di rumah Zahra.


"Tante tapi itu kenang kenangan dari papah," Zahra mencegah Tante nya untuk mengambil barang yang kini menjadi kaki untuk Raditya agar bisa lancar bekerja.


"hei nak, semua ini barang barang yang penuh kenangan papahmu! kalau begitu aku harus apa huh?! menyebalkan, kalau memang tidak mampu kenapa harus meminjam bahkan aku tidak memungut bunga pada kalian," Ketus sang Tante dengan penuh geram.


"apa ibu tau?," ucap Tini bertanya pada adik satu bapak beda ibu nya itu.


"ngak, tenang aja sesuai keinginanmu aku tidak akan membuat ibu cemas," jawab Maya dengan ketus


"Tante, apakah tante tidak ingat? disaat saat terpuruk tante mamah selalu ada untuk Tante, dia tidak pernah memperhitungkan apa pun pada Tante, tidak bisakah Tante setidaknya memberi kami waktu?" Zahra sudah tak habis fikir.


"Hei nak!," Bentak Maya pada Zahra.


"sudahlah, ini kunci mobilnya Tante, silahkan bawa, sisa hutangnya akan aku bayar segera," Ucap Raditya sembari memberikan kunci mobilnya lalu pergi, sang Tante tersenyum puas karena apa yang didapat.


"baiklah urusanku sudah selesai, aku pergi ya," ucap Maya dengan membawa kunci mobil itu.


"dasar, sekarang kalian sudah tidak punya apa apa kan? masih berusaha sok polos di depan keluarga," Maya sempat berbisik saat pergi.


Memang benar semenjak meninggalnya Marko, banyak yang membicarakan hal buruk tentang keluarga Zahra bahkan sebagian besar dari keluarganya, terutama saat mengetahui Zahra akan menikah dengan Rahman banyak yang iri meskipun keluarga sendiri. Semua membicarakan bahwa Zahra menggunakan ilmu pelet sehingga Marko lah yang menjadi tumbal, ada rasa sakit di dada ingin memutuskan pernikahan dengan Rahman karena omongan orang lain, tapi tersadar lagi akan pesan Marko dan ya jika hanya mendengarkan perkataan orang lain yang tidak bermanfaat maka kesuksesan akan susah untuk dicapai.


keesokan harinya....


Zahra baru saja pulang dari kuliahnya ia terkejut melihat Ramdhani yang sudah kotor pakaiannya, karena sedang bekerja menjadi tukang kuli bangunan, bahkan Zahra sempat mendengar bahwa Ramadhani juga bekerja menjadi seorang pelayan di kafe, menjadi penghantar pesanan Jastip meskipun menggunakan sepeda, sebisa mungkin setiap ada waktu senggang waktu yang Dhani pergunakan lebih banyak untuk mencari uang.


aku tidak kuat melihat adik dan Kaka ku bekerja keras banting tulang untuk memenuhi biaya yang lumayan besar, pendidikan kami mahal belum setiap biaya semester dan praktik, belum lagi biaya biaya untuk melengkapi tugas, terutama Dhani aku tidak sanggup melihatnya bekerja terlalu keras di usianya yang begitu muda yang seharusnya belajar tetapi malah bekerja seharian. Aku juga tidak kuat melihat mamah semakin kurus dan mata panda nya yang semakin menghitam. Zahra menggenggam erat tangan di dadanya kenapa semua harus begitu berat sedangkan yang lain bisa menjalankan kesederhanaan dengan mudah?.


Tak sengaja Zahra melihat poster iklan yang terpampang jelas di sebuah perusahaan besar poster yang sangat terkesan mewah dan megah ya itu dari perusahaan Adiwijaya. Seketika itu juga Zahra mengingat Rahman saat itu, ia berfikir apakah kali ini ia harus benar benar meminta bantuan pada Rahman?, Zahra bimbang hingga ia memutuskan untuk melaksanakan shalat istikharah.


Pada malam pertama shalat istikharah Zahra masih merasa ragu dan bimbang, malam kedua Zahra sudah mulai merasa percaya dengan apa yang Allah tunjukkan, hingga saat malam ketiga Zahra benar benar memantapkan keyakinannya apapun yang Allah tunjukkan malam ini maka ia akan langsung melakukan tanpa rasa ragu sedikitpun dan tanpa harus menunda bunda lagi.


....


Taman yang indah bunga bunga bertebaran di sebuah taman yang begitu indah dan megah, sejuknya angin yang memasuki tubuh membuat nya seolah olah terasa tidak memiliki masalah apapun. Awan yang cerah berwarna putih terang, matahari yang bercahaya langit yang biru menyala, membuat Zahra merasa bahagia saat itu, tertidur di bawahnya merasakan ke indahan alam yang diciptakan oleh tuhan nya. Tiba tiba ia melihat sebuah titik terang yang terus bercahaya, sinar cahayanya begitu terang semakin terang membuat Zahra susah untuk melihat. Namun seperti ada sesuatu yang muncul dari cahaya itu, yang membuat Zahra dapat melihat sinarnya dengan jelas, lelaki berbaju putih dengan wajah bersinar mengulurkan tangannya pada Zahra dan berkata.


"aku akan selalu ada di belakangmu dan mendukung mu apapun yang terjadi, kamu tidak akan pernah aku lepas,"


___


"!!!!," Zahra terbangun dari mimpinya, ia tersenyum dan melihat jelas wajah yang terlihat di akhir mimpinya itu.

__ADS_1


ka Rahman, ternyata memang benar engkau adalah lelaki yang Allah jadikan perantara untukku. Gumam Zahra dalam hatinya.


Keesokan harinya Zahra datang ke perusahaan Rahman untuk berbicara, namun saat itu Rahman sedang rapat, dan Zahra tidak pernah membuat janji, jadi di haruskan untuk menunggu diruang tunggu.


Zahra hari ini bolos kuliah, dibenaknya selalu terpikirkan tentang keluarganya.


Ia menyerahkan semua kepada yang maha kuasa, percaya bahwa inilah yang terbaik.


setelah beberapa jam berlalu...


"tuan ada seorang wanita muda yang menunggu anda diruang tunggu sedari tadi," ucap sekertaris Rahman yang menghampiri Rahman saat Rahman keluar dari ruangannya.


"Siapa?," Rahman mendapatkan sebuah firasat, lalu ia bergegas menuju ruang tunggu.


"Zahra?," Rahman menemukan Zahra yang sudah tertidur di kursi, terlihat wajahnya lelah dan badannya yang semakin kurus.


"mengapa kamu membiarkan dia menunggu, sudah berapa lama?, lain kali jika dia kesini jangan buat dia menunggu lagi!," ucap Rahman dengan penuh penekanan.


"maaf tuan, ini kesalahan saya," ucap sekertaris wanita itu.


"baiklah kamu boleh pergi," ucap Rahman yang kini menghampiri Zahra, ia memegang lengan Zahra untuk membangunkan Zahra, karena ia tak berani memindahkan Zahra dengan menggendong Zahra karena saat ini mereka masih belum mahram.


"Ra.. Ra..," panggil Rahman lirih.


"hmmh?," Zahra membuka matanya pelan.


"ah? ka Rahman, maaf aku tertidur, apakah sudah lama?,"


"seharusnya aku yang bertanya apakah sudah lama? apakah tidak lelah? maaf membuat kamu menunggu,"


kenapa aku merasa ka Rahman hangat saat ini? biasanya sifatnya dingin, meskipun didalam hatinya aku merasakan kasih sayang dengan kehangatan. Zahra bertanya tanya dalam hati.


"ada apa kemari? apakah kosmetik, cemilan atau yang lainnya yang biasa aku antarkan kerumah sudah habis? atau kah uang jajan habis? mau aku kirim uang jajan mulai bulan ini?,"


"hmmh bagaimana dengan pernikahan kita?," Zahra bertanya dengan malu malu dan menunduk.


"HM?," Rahman sedikit terkejut karena Zahra tiba tiba datang dan membicarakan tentang pernikahan yang pada awalnya Zahra menghindari perbincangan tentang pernikahan.


"anu ka, aku bersedia jika Kaka mempercepat hari pernikahan nya, tapi sebagai mas kawin ku boleh ga dengan membayarkan hutang keluargaku dan membiayai sekolah adikku, dan memberi mamah uang bulanan?," Pinta Zahra.


"Hutang? tunggu dulu kamu mau mempercepat pernikahan karena ini semua?," tanya Rahman.


"gapapa kamu tidak perlu memaksakan diri, biar aku akan bayar semua hutang dan memberi semua kebutuhanmu, kamu tidak perlu mempercepat waktu pernikahan kita, aku akan menunggu sampai kamu siap," imbuh Rahman meyakinkan Zahra.


"bukan ka, aku tiga malam ini meyakinkan diriku dengan meminta petunjuk Allah, aku melaksanakan shalat istikharah sesuai yang di ajarkan, dan aku yakin bahwa petunjuk nya adalah Kaka, dan aku yakin bahwa Kaka memang pemimpin terbaik yang Allah pilihkan untukku," ucap Zahra berterus terang.


"jujur aku sedikit terkejut dengan keputusan mu dan ke berterus terang darimu, tapi aku yang selalu memimpikan mu di setiap istikharah ku, dan menyebut namamu di sepertiga malam ku, mungkin memang inilah yang Allah tunjukkan," Rahman dan Zahra sama sama tersenyum.


....


Zahra kini sedang berada dirumah tantenya, bersama dengan Rahman yang baru saja pulang dari kantornya.


"Tante Zahra mengajak Tante bertemu karena ingin membayar semua hutang mamah saya, jadi bisakah Tante mengembalikan mobil Kaka saya?," Tawar Zahra.


"Zahra mobil itu sudah ada ditangan Tante sekarang, jadi kamu tinggal membayar sisanya saja, soal mobil kamu tidak bisa," ucap Tante Maya lalu membuang muka.


*E*nak saja, mobil itu sudah lama aku inginkan untuk putraku lalu kamu ingin mengambilnya lagi? dasar pencuri!.


Rahman melihat Tante Maya dengan rasa tidak senang karena bisa membaca pikiran licik yang terlintas pada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"begini saja," Rahman ingin berbicara namun Maya langsung memotong.


"jangan kamu pikir karena kamu kaya kamu bisa seenaknya aja ya," ucap Maya geram.


Rahman melihat Zahra yang sudah cemas karena Maya tidak ingin memberikan mobil kesayangan Raditya, lalu Rahman melihat kearah sekretarisnya dan memberi isyarat. Sekertaris itu mengangguk mengerti lalu mengeluarkan sebuah amplop besar.



"begini nyonya jika anda berkenan tuan kami ingin membeli mobil nyonya, ini tawaran terakhir dari kami," ucap sang sekretaris.


Lalu maha melihat ke arah amplop itu ia membuka isinya


"!!!"


huh!! aku ngak salah lihat kan ini asli kan? uang dollar semua, jika ditukarkan bisa jadi puluhan juta bahkan ratusan juta wah aku rasa ini bahkan mencapai 1M, gila aku ngak bakalan membuang kesempatan ini lagi pula cuma mobil butut aku masih bisa membeli yang lebih bagus lagi. ucap Maya dalam hati yang terkejut melihat isi amplop besar itu ternyata uang dollar semua.


"ekhem baiklah, berhubung dia juga keponakan ku, ambilah aku berikan untukmu dan sisa hutangmu aku anggap lunas saja," ucap Maya dengan gaya menyombongkan diri nya


"tidak perlu nyonya kami sudah mempersiapkan uang untuk membayar hutang nona Zahra, bahkan kami menambahkan jumlahnya sebagai tanda terima kasih kami atas kebaikan nyonya," ucap sekertaris itu memberikan lagi sebuah amplop kecil.


"oke syukurlah kalau kalian mengerti, kalau begitu aku pergi," Maya meninggalkan mereka dengan perasaan yang penuh bahagia.


"Ka ngak perlu seperti itu kan, itu boros," ucap Zahra.


"gapapa itu yang terakhir untuknya setelah ini, tidak ada kesempatan baginya untuk meminta tolong padamu, dia wanita yang tidak tau berterima kasih," ucap Rahman geram dan penuh rencana dibenaknya.


......


"Mau di apakan mobil papah nak?," ucap Tini yang melihat Zahra membawa seseorang untuk membawa mobil Marko.


"Tenang saja mah, mobil papah akan diperbaiki, agar bisa bagus seperti semula, akan diperbaiki sebagus mungkin, agar kembali seperti semula, dan tidak ada sedikitpun yang akan berubah," ucap Zahra yang merangkul dan memeluk Tini.


"terima kasih banyak nak, terima kasih," Tini memeluk Zahra dan menjatuhkan air matanya.


"sudahlah jangan menangis ya,"


"kamu dapat uang dari mana?,"


"dari calon menantu mamah," ucap Zahra dengan melihat wajah Tini


"Tapi nak apakah ini tidak akan apa apa?," Tini khawatir dengan keadaan Zahra karena ia tau bahwa Zahra biasanya selalu menghindar dari Rahman.


"ga papa mah, jangan khawatir ya, Zahra yakin dia yang terbaik, yah," Zahra semakin memperat pelukan nya pada Tini.


.....


Keesokan harinya...


Rahman sudah memberi tahu keluarga tentang keputusan nya dengan Zahra, dan sekeluarga pun merasa sangat senang, begitu juga keluarga Zahra yang bahagia, meskipun Raditya merasa sedikit khawatir karena Zahra memutuskan untuk menikah muda, dan terlebih lagi Zahra terlihat tidak begitu menyukai Rahman. Tetapi Zahra berhasil meyakinkan bahwa dirinya memang baik baik saja.


Rahman kini sedang berada di kantornya memeriksa dokumen dokumen yang telah menumpuk di mejanya.


"Tuan?," panggil Danu sekertaris lelaki Rahman.


"iya?," jawab Rahman tanpa melihat Danu.


"montir kemarin yang menangani kerusakan mobil pak Marko, menemukan bahwa ada rem yang rusak di mobil itu, dan tampaknya bukan rusak yang wajar melainkan karena disengaja oleh seseorang," lapor Danu.


Rahman langsung melihat ke arah Danu, dengan serius sudah ia duga ternyata ada sesuatu yang ganjal dalam kecelakaan itu.

__ADS_1


"selidiki masalah ini hingga tuntas, aku tidak ingin ada sedikit kesalahan pun, aku mau pelakunya mendapatkan balasan yang setimpal," ucap Rahman dengan tatapan yang tajam.


bersambung....


__ADS_2