
Zahra kini sedang memasak didapur untuk sarapan, Zahra tidak ingin berdiam diri meskipun banyak pembantu dirumah tetapi tetap sajaj baginya kewajiban seorang istri adalah melayani suami, menghormati suami, menghargainya mendukungnya dikala susah ataupun senang, dan akan selalu menjadi pengabdi surga di telapak kaki sang suami.
Aria kini sedang menuruni tangga melewati dapur dan ruang makan, Zahra yang mengetahui hal tersebut langsung menghampiri Aria ia berlari kecil agar dapat sedikit mengejar langkah Aria yang begitu cepat.
" assalamualaikum mas mari sarapan, aku sudah masak sayur lodeh, perkedel, ayam panggang dan pepes ikan emas, katanya simbok mas suka masakan itu jadi aku masak buat mas," ucap Zahra sembari menyalami tangan Aria, sebagai salam selamat pagi.
"gapapa aku sarapan dikantor saja," jawab Aria, yanh akhirnya menatap ke arah dapur dan mencium aroma masakan Zahra dan juga melihat Azan yang tengah berada di kereta dorongnya namun ia tak peduli, ia baru saja ingin melangkah menjauh dan pergi hanya saja langkahnya dihentikan karena ia melihat raut wajah Zahra yang sedikit bersedih.
" baiklah aku sarapan tapi hanya sedikit," dan pada akhirnya aria pun menuju pergi ruang makan, yang di ikuti Zahra dengan senyuman sejuta bahagia dari Zahra.
Tak lama kemudian Aria memutuskan untuk pergi kekantor dengan segera meskipun makanan dimeja masih belum dihabisi.
"mas ngak enak ya makanannya?," Zahra melihat Aria dengan penuh rasa bersalah.
"ngak enak?, ini enak ko, coba aja sendiri," jawab Aria dan memakan sesuap lagi lalu meminum jus dan air putih.
"wah enak kan?, Taudah kalau begitu mas habiskan dulu sarapannya ya?, " tawar Zahra dengan penuh harapan yang menyertainya.
"ngak bisa Ra aku sibuk, kamu tau kan aku harus segera pergi kekantor, disana itu banyak urusan kalau aku ngak segera menangani ntar jadi apa perusahaan peninggalan ayah aku? "
Aria lalu beranjak pergi dari tempatnya. Zahra yang melihat Aria segera pergi, memutuskan untuk berlari ke arah Aria lalu berlutut didepannya dan memakaikan kaos kaki serta sepatu kepada aria, Aria yang sedikit terkejut hanya diam dan membiarkan apa pun yang ingin dilakukan Zahra.
"jangan berfikir lebih aku tidak punya perasaan apapun terhadap mu," kata kata Aria telak kepada Zahra, Zahra hanya tersenyum.
"tidak apa apa masalah hati biarlah allah yang mengatur nya, kita juga dinikahkan karena allah semata, bukan karena nafsu," Zahra lalu berdiri setelah selesai memakaikan sepatu pada Aria.
"mas tunggu sebentar lagi yah, sebentar saja," pinta Zahra kembali yang membuat Aria menghentikan langkahnya dan sedikit merasa kesal, lalu Zahra pun bergegas kembali ke dapur ia pergi untuk menyiapkan nasi yang akan diberikan oleh Zahra sebagai bekal untuk Aria dan memberikannya.
"ini mas," Zahra menyerahkan kotak nasi itu.
"untuk apa ini?," tanya Aria keheranan
__ADS_1
"ini untuk bekal sarapan mas ,soalnya mas tidak sarapan dengan baik, usahakan untuk dimakan yah," senyum Zahra memberikan bekal.
"hah, aku bisa pergi ke restoran kan, banyak yang bisa aku makan kamu ngak perlu begini," ucap Aria dingin.
"gapapa mas bawa aja, kata dokter juga lebih higienis kalau masak sendiri dirumah bisa lebih menghemat uang juga, nih bawa," Zahra dengan senyumnya meraih tangan Aria agar membawa bekal tersebut
"yaudah gih berangkat, assalamualaikum mas, hati hati di jalan ya" Zahra mencium tangan aria dan mendorong Aria pergi
aria berlalu pergi meninggalkan kediamannya dengan sesekali melirik bekal dari Zahra.
diperjalanan menuju kantor, diam diam Aria melirik kotak makan yang diberikan Zahra dan ia pun memakan bekal tersebut selama diperjalanan bahkan Aria senyum sendiri sebari memakan makanan itu, Yus yang menyetir mobil Aria tertawa diam dalam senyumannya melihat tuan nya bisa kembali tersenyum meskipun hanya sesekali.
kini telah tepat jam 10 malam Zahra mendengar suara mobil memasuki gerbang rumahnya, firasat nya sebagai istri mengatakan bahwa itu adalah Aria, lalu ia berlari menuju pintu tepat saat Aria
didepan pintu Zahra langsung membuka pintu.
"assalamualaikum mas," Zahra mencium tangan Aria, Aria hanya diam disaat Zahra menyaliminya dan melepas sepatunya.
" iya cuma mau nganterin sampe tangga aja kok," Zahra menyahut dengan senyuman
satu bulan berlalu aria tetap saja bersikap dingin pada Zahra, sesekali Aria hanya menyapa azan, Zahra tau meskipun aria tak menyukai anak anak tapi ia bisa merasa iba kepada anak kecil yang sedang sakit ini.
Namun diam diam juga Aria selalu memakan bekal sarapan dari Zahra yang selalu disiapkan setiap paginya dengan berbagai menu yang berbeda beda.
brakk
pagi hari entah karena mengantuk atau apa, Aria terjatuh dari tangga, Zahra berlari menuju Aria yang terjatuh saat Zahra sedang merapikan makanan diatas meja.
ninu ninu
ambulance datang dan membawa Aria menuju RS kota xx kepala aria mengeluarkan darah meskipun tak begitu banyak namun cukup membuat aria terpingsan.
__ADS_1
beberapa lama kemudian dokter keluar ruangan, diluar Tari dan Zahra sudah menunggu, tari yang mendengar kabar dari Zahra tentu saja langsung meninggalkan pekerjaan nya dan menuju RS.
"dok bagaimana keadaan suami saya," cemas Zahra, diikuti oleh Tari dibelakang nya.
"dia tidak parah hanya luka luar untuk saja benturannya tidak begitu keras, hanya saja dia perlu dijahit, sehingga kami menjahitnya sedikit tadi, sebentar lagi juga dia akan sadar," jelas dokter.
Zahra menunggu dikamar Aria ia tertidur, didekat Aria, lalu ia terbangun saat Tari sedang membersihkan tubuh Aria yang kini telah siuman.
Zahra tersenyum karena barusan ia bermimpi indah, namun lamunannya buyar saat Aria memberontak tidak ingin makan.
"Aria kamu harus makan nak, kamu butuh tenaga, " bujuk tari, yang sudah siap menyuapi Aria, dengan bubur ditangannya.
"itu pahit bu," Aria tetap menolak
" mas, mas harus makan biar cepat sehat," bujuk Zahra.
namun Aria tidak merenspon ia malah membuang muka.
ceklek
tiba tiba pintu terbuka, seorang wanita muncul dengan rambut ikal bergelombang, pakaian sedikit terbuka namun elegan. wanita itu berlari memeluk Aria, ia seperti melepas rindu sekian lama.
"angel kamu kemana saja aku lelah mencarimu selama ini, aku rindu," Aria memeluk erat angel wanita yang begitu disayangi nya selama ini.
"maaf, maaf," angel mengucap maaf berkali kali.
Tari yang melihatnya tak suka ingin memisahkan mereka namun Zahra menggenggam tangan Tari mencegah yang ingin dilakukan nya, ia berharap mertua nya itu mempercayainya. dan ya benar saja bila angel yang menyuapi, aria dengan senang hati memakan nya dan dengan begitu manja nya seperti anak anak
aku tak pernah melihat cinta dimatanya suamiku, kali ini aku melihat cinta dimatanya tapi bukan untukku. batin Zahra, Zahra tersenyum kembali mengingat mimpinya berjalan dengan Aria mengaji bersama berjuang bersama sama menuju jalan allah hingga ke masjid bersama dan diciumnya kening Zahra. namun sayang itu hanya sebuah mimpi
bersambung...
__ADS_1