
Rahman melihat kejadian di depan matanya secara langsung, Rahman geram ia mencoba untuk menahan amarahnya karena saat ini Rahman masih belum memiliki cukup bukti untuk menangkap bapak dan ibu angkat Arnius.
"siapa kamu jangan berani mendekat!," ucap bapak angkat arnius yang panik melihat kedatangan Rahman.
"tenanglah tuann kami hanya ingin membantu," ucap pengawal Rahman yang maju ke depan. Namun tak jauh dari sana, ibu-ibu yang bersama dengan arnius saat arnius tidur di pinggir jalan, ini sedang mengawasi gerak-gerik bapak Ibu angkat arnius dari kejauhan.
aku harap kamu bertindak dengan cepat, aku tidak ingin ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. ucap Rahman dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
"benarkah?," tanya bapak angkat Arnius dengan ragu.
"iya tadi kami hanya datang karena ada barang kami yang ketinggalan, oleh karena itu kami segera ke sini tapi setelah sampai di sini kami melihat seseorang yang sedang terluka, tentu saja kami harus membantu bukan?," ucap pengawal Rahman.
....
kini mereka telah sampai di rumah sakit terdekat, Rahman sangat menghawatirkan dengan keadaan arnius yang sekarang, begitu juga dengan mentari yang masih terus menangis, melihat arnius yang sedang dibawa ke ruang UGD.
kakak pasti kuat Mentari yakin kakak pasti kuat!, kakak orangnya nggak lemah kakak itu adalah orang yang kuat, mentari yakin itu!. Ucap mentari sambil menahan tangisnya dan mengepalkan tangannya, karena ia mengingat perkataan arnius kepadanya kalau arnius tidak ingin melihat mentari menangis.
"adek imut, kamu yang kuat ya kamu yang sabar dia adalah orang yang kuat yakin deh sama kaka kamu sendiri, kamu tahu kan dia itu orangnya seperti apa, dia orang yang kuat dan pantang menyerah," ucap Rahman dengan mengelus kedua tangan mentari layaknya seorang kakak yang sejati.
"sudahlah kamu nggak akan apa-apa kok kamu yang kuat ya," ucap kedua orang tua angkat mentari mencoba untuk menjaga imej nya.
mentari hanya melihat kedua orang tua angkatnya yang kini sedang mendekat kepadanya.
"tapi kita nanti bayar pakai apa ya biayanya, kita nggak punya uang," ucap Ibu angkat Arnius dengan wajah memelas nya.
"kenapa Ibu tidak memanggilnya dengan nama? kalau boleh tahu siapa nama anak Ibu? ," ucap Rahman yang tengah geram.
"!!"
"eeee anu,," ucap kedua orang tua angkat Arnius.
"kami sering memanggilnya dengan sebutan sayang, jadi namanya sayang," jawab bapak angkat Arnius.
aarrgghhh sebenarnya jika aku mau, kamu tidak akan ada dimuka bumi ini lagi, tetapi aku tidak ingin kamu mendapat hukuman semudah itu, tunggu sebentar lagi nikmatilah sisa sisa bahagia kalian berdua!. Geram Rahman dengan memberi tatapan tajam.
"masalah rumah sakit anda tidak perlu khawatir, kami yang akan mengurus administrasi nya," ucap pengawal Rahman.
"mmh bolehkah kami minta makan juga?," tanya kedua orang tua angkat Arnius.
Pengawal Rahman langsung melihat ke arah Rahman, Rahman mengedipkan matanya perlahan menandakan memperbolehkan nya.
"baiklah mari," ajak pengawal Rahman.
setelah beberapa saat kemudian mereka kembali ke hadapan Rahman dan memutuskan untuk meminta izin pulang.
apa?! pulang! enak sekali anaknya lagi sakit juga. Rahman sudah benar benar geram.
"mentari diam disini," ucap Rahman memegang mentari.
"ah maaf nak, begini Mentari harus istirahat dengan tenang jadi kami harus membawanya pulang." pinta kedua orang tua angkat Arnius. Rahman yang merasa alasan kedua orang tua angkat didepannya kini masuk akal, yang awalnya ragu akhirnya Rahman pun mengiyakan mereka.
"hati hati ya de, kamu istirahat yang Baek," ucap Rahman namun Mentari menggenggam erat jari telunjuk Rahman menandakan ketidak inginannya untuk pergi
__ADS_1
"ga apa apa besok pagi Kaka menengok kamu oke," ucap Rahman mencoba menenangkan Mentari.
awas kalian kalau macam macam!.
"masalah Kaka mu jangan khawatir begitu dia sadar kaka akan langsung mengabari mentari, yah?," Setelah mendengar perkataan Rahman mentaripun tersenyum senang, ia mengangguk mematuhi perkataan Rahman lalu ia memberikan jari kelingkingnya sebagai janji.
"janji!," ucap mentari dengan senyuman.
"Janji!," jawab Rahman dengan semangat.
"Dadah," kala itu Rahman dan Mentari saling melambaikan tangan dengan senyum lepas mereka seperti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi, selagi masih ada Rahman untuk mereka.
.....
pagi di kesokan harinya, Rahman masih terjaga di samping Arnius, dokter memang mengatakan kalau Arnius tidak mengalami luka parah namun hanya saja obat masih bereaksi pada Arnius sehingga belum tersadarkan diri juga.
"ka Rahman...," terdengar lirih suara Arnius yang membuat Rahman terkejut dan langsung memanggil dokter.....
"tuan muda, anda jangan khawatir dia baik baik saja, sekarang dia bisa sadar sepenuhnya, hanya ada beberapa jahitan di wajahnya, dan itu tidak apa apa". Ucap sang dokter
"mmh," jawab Rahman singkat.
"mana mentari?," Tanya Arnius.
"Dia dirumah, nanti aku akan kesana untuk menjenguk,"
"!!!" Arnius terkejut.
"tenang dulu, memangnya ada apa?," tanya Rahman khawatir.
"sekarang jam berapa!," tanya Arnius dengan setengah berteriak.
"jam 7.30 pagi memangnya kenapa?," tanya Rahman cemas.
"cepat antar aku pergi menemui mentari, cepat!!, aku mohon," pinta Arnius.
"iya tapi sebentar dulu ini ada apa, tenang dulu," ucap Rahman
****Greb****
Arnius menarik kerah baju Rahman, yang kala itu para pengawal langsung sigap ingin melerai, namun Rahman mengangkat tangannya memerintahkan untuk membiarkan Arnius.
"aku serius, aku bisa tidak takut mati saat ini, jika sampai terjadi sesuatu pada mentari, aku tidak bisa menahannya," ucap Arnius dengan perlahan namun menekan.
"jika terjadi sesuatu pada diriku mungkin tidak apa apa, tetapi jika pada orang yang aku sayangi, aku bahkan bisa memegang mata pisau," ucap Arnius dengan suara bergetar dan wajah yang memerah, Rahman mulai memahami perasaan Arnius. Dan memutuskan untuk segera pergi menuju ke kediaman Arnius.
dreet dreet
ponsel Rahman berdering.
"tuan cepat kemari, nona muda tuan! aku sudah melapor polisi," ucap ibu ibu yang menjadi mata mata Rahman.
"!!" Rahman membulatkan kedua matanya lalu melihat Arnius dengan ragu, sedangkan Arnius terus tergesa gesa tanpa memperhatikan Rahman.
__ADS_1
apakah ini yang dinamakan insting saudara?. gumam Rahman dalam hati lalu mengepalkan kedua telapak tangannya.
......
niu.... ninu....
Ambulance datang begitu juga dengan para polisi.
kedua orang tua angkat Arnius mengangkat tangannya, sedangkan orang orang disana beserta ibu mata mata Rahman sedang mencoba menyadarkan mentari yang sedang mengeluarkan darah yang begitu banyak melalui mulutnya.
"Mentari!!!!!," Arnius berteriak sekuat tenaganya.
"Kakak...," seolah olah seperti ada sumber tenaga yang datang, Mentari membuka matanya dan melihat ke arah Arnius.. Arnius lalu menggiring mentari menaiki Ambulance.
"Mentari adek Kaka, harus kuat ya sayang ya," ucap arnius menangis, menggenggam tangan mentari, yang ditemani oleh beberapa suster dan juga Rahman.
"hmmh kakak, Mentari bahagia, mentari senang Kaka bisa sehat, hhhggghhh," ucap mentari sambil mencoba bernafas karena begitu berat di dadanya.
"stttt jangan bicara lagi ya," ucap Rahman memegang tangan sebelah Mentari, sedangkan suster sedang berusaha memberikan oksigen dan juga infus pada mentari.
"aku bahagia karena aku memiliki dua orang kaka yang sangat menyayangiku, meskipun aku kehilangan satu tapi Tuhan membantuku dengan memberikan dua," ucap mentari.
"dek, kamu akan mendapat lebih jika kamu mau, kamu punya kami semua," ucap Arnius mencium tangan Mentari
"hhgghh sekarang aku tenang, aku juga bisa bertemu sama kakak aku di Antara bintang hhhgghhh iya kan," ucap Mentari, Rahman yang di ajarkan untuk melantunkan asma Allah didepan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut pun mulai melantunkan asma Allah.
"laa Ila ha ilallah..," ucap Rahman berulang ulang dengan gemetar dan memejamkan matanya karena tak kuat.
"mentari mau kakak bahagia, berjanjilah pada mentari bahwa kalian selalu bersama, karena kita adalah keluarga... hhggghhh," ucap mentari menggenggam erat tangan Rahman dan Arnius.
"iya kami janji! kami janji!," ucap Arnius dengan panik sedangkan Rahman terus berzikir.
"hhmh mentari senang,"
"laa," ucap mentari mulai mengikuti Rahman.
"ila,"
"ha,"
"ilallah,"
glep.
Mentari meninggal saat di dalam perjalan menuju RS.
"mentariiiii!!!," teriak Arnius.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," Rahman menangis dengan bergetar.
mamah ayah!!.
bersambung....
__ADS_1