
kegagalan yang dirasakan oleh seorang dokter para pihak rumah sakit salah satunya adalah jika ia gagal menyelamatkan nyawa seorang pasien. dan kini itulah yang sedang dirasakan oleh para dokter dan suster yang menangani Zahra.
"nggak, nggak mungkin!,"
"Zahra anakku!," Teriak Tini yang kini sudah terkulai lemas.
"kita serahkan semuanya kepada Allah dengan sabar jangan kayak begini," ucap Yeni yang berusaha untuk menenangkan Tini yang tidak bisa berhenti menangis.
"dokter!!," teriak salah satu perawat kepada Marzuki untuk memanggilnya dan menunjuk arah jasa Zahra yang telah dirapikan.
"!!," dokter Marzuki terkejut lalu ia berlari memasuki ruangan kembali dan melihat jenazah Zahra.
"entah ini adalah mukjizat atau apa tapi kurasa kalian memang harus bersyukur," ucap dokter itu setelah kembali dari ruangan untuk memeriksa Zahra.
"maksud dokter apa?," tanya Rahman dan juga Ramadhani karena ia masih kurang mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh dokter.
"mungkin saat ini kondisi nona Zahra belum total dalam keadaan baik, tapi nyawa nona Zahra kini telah terselamatkan, namun beliau sekarang masih belum siuman beliau masih dalam keadaan, kayak masih belum bisa menentukan apakah operasinya berjalan dengan lancar ataukah tidak, namun pada intinya sekarang tahun Zahra kembali hidup," ucap dokter Marzuki yang menjelaskan.
"mungkin ini adalah mukjizat yang dinamakan dengan mati suri, awalnya kami sangat terkejut karena nona Zahra yang sudah meninggal kini bisa hidup kembali meskipun dalam keadaan yang terkulai lemas tubuhnya begitu lemah dan juga lemas dan kami masih belum bisa menentukan kapan tepatnya nona Zahra bisa kembali tersadar kan dari komanya, jadi saya mohon tolong diperhatikan keadaan Zahra dengan mengizinkan dia dirawat semaksimal mungkin," ucap dokter Marzuki kepada Rahman dan juga yang lainnya.
"lakukan dok, lakukan semua yang terbaik untuk istriku, berapapun biayanya akan aku bayar dokter jangan takut, asalkan istriku baik-baik saja aku akan melakukan segalanya," ucap Rahman memohon kepada dokter sambil memegang tangan dokter. Raditya terkejut karena ini baru pertama kali Rahman terlihat memohon kepada seseorang hanya demi untuk menyelamatkan nyawa orang lain selain dirinya.
"tuan Rahman semoga anda mengerti, ini bukan perkara biaya ataupun harta ataupun uang yang harus anda keluarkan, namun ini adalah perkara di mana kita harus berjuang sebisa mungkin, semampu kita setulus kita untuk menyelamatkan nona Zahra dari masa kritisnya, dan selebihnya kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena nyawa ada di tangan Tuhan," ucap dokter Marzuki yang membuat Rahman kembali tersadarkan atas apa yang telah ia ucapkan yang selalu membawa bawah kekuasaannya, mungkin tidak ada niat Rahman untuk menyombongkan diri atau selalu mengandalkan harta ia hanya ingin membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Zahra dan ingin melakukan segalanya untuk Zahra, hanya saja keyakinan yang berkurang karena iya selalu mengandalkan hartanya dalam berbicara atau dalam menghadapi seseorang.
"percayalah kepada Allah tuan sekarang kita serahkan kepada ya, hanya Allah lah tempat kita bergantung, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang tanpa seizin Allah kami hanyalah perantara semata jadi kami tidak berharap Tuan terlalu berharap kepada kami, berharaplah kepada Allah seorang dan kami akan memperjuangkannya, kami hanya tidak ingin karena anda terlalu berharap kepada kami makan nanti rasa sakit anda akan bertubi-tubi jauh lebih menyakitkan daripada saat Anda berharap kepada Allah subhanahu wa ta'ala," Imbuh Dokter Marzuki.
"iya terima kasih banyak dok, " ucap Rahman lalu melepaskan genggaman tangannya dari dokter Marzuki.
"dokter benar seolah-olah telah memaksakan kehendakku, aku salah aku seharusnya lebih yakin kepada Allah subhanahu wa ta'ala aku seharusnya lebih bertawakal kepadanya, aku seharusnya nggak berputus asa dan memutuskan keputusan ku sendiri, Zahra benar aku memang orang yang egois," Rahman terduduk di kursi seseorang yang sedang berkunjung lalu ia menunduk memegang kepalanya merasakan penyesalan dalam hatinya mungkin ini adalah cobaan yang ia terima atas segala yang telah ia lakukan, namun ia tetap harus sadar bahwa itu semua karena Allah sayang kepadanya karena Allah ingin mengingatkannya karena Allah menyuruh ini untuk lebih merendahkan dirinya lagi agar jangan sampai ia terlalu terbuai akan hartanya dan ia menjadi orang yang sombong dan riya.
__ADS_1
"nggak apa-apa kok kak syukur kalau kakak sudah menyadarinya, lebih baik sekarang kakak ambil wudhu untuk menenangkan diri kakak lalu setelah itu kita sama-sama keuangannya kak Zahra kita tengokin keadaannya dan kita berdoa bersama semoga saja Allah memberinya umur yang panjang dan memberikannya kemudahan untuk kembali ke sisi kita kak," ucap Ramadhani dan juga Raditya yang sudahmemegang pundaknya sebagai penopang nya agar Rahman menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
"iya kalian benar aku benar-benar minta maaf aku salah karena tadi aku sempat emosi seharusnya aku nggak seperti itu, tolong maafkan aku ya aku akan berusaha sebisa mungkin agar lain kali aku nggak akan seperti itu lagi, mungkin aku juga udah salah sama bawahan bawahan aku," ucap Rahman yang mengingat kembali atas perilakunya yang telah ia lakukan kepada bawahan bawahan nya yang mungkin telah melakukan kesalahan entah itu kesalahan kecil ataupun kesalahan besar meskipun gaji yang ia berikan relatif besar, namun tetap saja kemampuan manusia ya kemampuan manusia, bukan kemampuan Tuhan yang bisa melampaui batas manusia, dan manusia bisa saja kadang kalah atau salah karena yang abadi dan sejati itu hanyalah Allah semata dan segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan semata kepada umatnya sebagai cobaan dan godaan yang akan dilalui.
Rahman kini telah mengambil air wudhunya, dan ia juga telah menenangkan dirinya ia perlahan berjalan memasuki ruangan Zahra, ia membuka pintu dengan ketenangan dan juga dengan penuh kelembutan tak lupa dengan mengucapkan kalimat "basmalah". "bismillahirohmanirohim".
Rahman terkejut ia terkulai lemas yang melihat Zahra sedang terbaring dengan bantuan selang di atas kasurnya, wajah Sahara yang terlihat pucat dan juga kepalanya di berbalutkan dengan perban, belum lagi dengan matanya yang sayu terpejamkan dan tubuhnya yang terbaring bagaikan tak bernyawa di atas kasur, Zahra melihat ke sekeliling ada Yeni, Tini, Andrean, Riska, Alfi, Raditya, dan juga Ramadhani yang sedang menunggu kehadiran Zahra kembali.
Rahman memang memesan kamar VIP yang kamarnya begitu besar di rumah sakit tersebut seperti kamar sendiri yang juga tersedia sofa di dalamnya itu khusus Rahman pesan dengan biaya yang ia khusus kan pula.
"Zahra sayang, Zahra istriku" ucap Rahman dengan lirih, dengan menahan rasa sesak di dadanya dan perlahan-lahan berjalan menuju Zahra, ia memegang tangan Zahra, dan memperhatikan secara lekat, dan juga memandang wajah Zahra dalam.
"sayang, kenapa kamu kurus sekali," ucap Rahman yang sudah tak tahan menahan tangisnya lalu mengalirlah air mata itu dari palupuk mata Rahman.
"maafkan aku karena aku telat mengerti akan dirimu, maaf karena aku tidak mengerti apa maksud dari kata-katamu, maaf karena aku minggu ini lagi yang tidak sempurna, maaf karena aku adalah suami yang tidak pengertian yang tidak penuh dengan kehangatan, maaf karena aku masih belum mengerti akan dirimu istri ku," Rahman mengecat tangan Zahra dan ia membelai wajah Zahra pelan-pelan. Rahman merasa iki Zahra yang kini sudah macam-macam virus yang sudah semakin kurus pula, belum lagi tulang-tulang yang semakin terlihat terlihat jelas azzahra mengenakan pakaian rumah sakit saat ini.
"sudah berapa lama sih kita nggak ketemu? sehingga aku pun tidak menyadari semenjak kapan kamu menjadi sekurus ini , apakah seburuk itu diriku?, tidak menyadarinya sayang," Alfi menghampiri Rahman yang terlihat masih terluka sangat dalam sambil memegang tangan Zahra.
"iya kamu benar Alfie semua atas kehendak Allah kita nggak bisa apa-apa semua milik Allah termasuk nyawa manusia, yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah ikhtiar dan berdoa semoga Allah mengabulkan apa yang kita inginkan," ucap Rahman memandang Alfie
"Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah syukur kita ucapkan karena Allah masih memberikan kesempatan kepada Zahra untuk hidup lebih lama lagi dan memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama lebih lama dengan Zahra," ucap Alfi.
"iya alhamdulillah," sahut Rahman lalu ia berfikir. Rahman sempat mengingat apa yang ia katakan kepada dokter Bima sebelum Zahra melakukan operasi tadi, Rahman sempat memarahi dokter Bima karena dokter gigi melebih mengutamakan biaya operasi dari pada mementingkan nyawa seseorang, Rahman langsung memarahi Bima tanpa berpikir panjang bahwa Bima memiliki keluarga di rumah yang masih harus Bima nafkahi, Rahman berpikir bagaimana seseorang tidak kepikiran hanya dengan uang atau imbalan yang akan diterima jika seseorang yang terlalu mementingkan harta masih beredar di mana-mana seperti dirinya saat ini, Rahma dapat mengomentari orang lain tanpa memikirkan dirinya meskipun tidak sepenuhnya Rahman bersalah, tapi Rahman menyadari bahwa dirinya memang bersalah saat itu, dan ia bersyukur karena Allah masih memberikan pencerahan kepada dirinya melalui orang lain.
"bangunlah Zahra aku akan memperbaiki segala kesalahan aku aku akan berusaha menjadi diriku yang lebih baik lagi untuk kamu jadi aku mohon bangun dan segera sadar lah," ucap Rahman lalu beberapa saat kemudian ia terbangun dari duduknya.
"mama ayah dan mama mertua Riska sama adek-adek juga pulang ya istirahat di rumah nanti capek kasihan juga Memei sendirian di rumah, sepertinya dia terlalu banyak tugas jadi enggak bisa ke sini atau mungkin kalian belum memberitahu dia ya?," ucap Rahman kepada semua yang ada di sana
"iya memei tadi enggak ada di rumah, jadi mama nggak sempat bilang sama dia Mama juga nggak mau mengganggu dia karena dia sedang ada tugas kuliah yang memang mendesak dia sehingga dia itu sibuk akhir-akhir ini bahkan tidurnya juga sampai larut malam," ucap Yeni memberitahu Rahman.
__ADS_1
"Ya udah kalian pulang dulu ya istirahat disini istirahat kalian nggak tenang," pintar Rahman kepada keluarganya.
"enggak mama akan tetap di sini nak temanin dengan kamu, atau kamu aja yang pulang biar mama yang jagain Zahra," pucat ini yang tetap saja tidak ingin pulang meskipun hanya sementara untuk beristirahat.
"kita nggak bisa bersama-sama untuk selalu ada di sini mah, lebih baik kita biarkan saya beristirahat dengan tenang dulu biar dia bisa semakin cepat untuk pulih, nanti kita berganti-gantian setelah Rahman capek dan ingin pulang untuk mandi membersihkan diri dan lain sebagainya baru Mama ke sini untuk jagain Zahra, nah nanti kalau mama lagi ada keperluan di rumah biar Rahman yang jaga di sini begitulah kita seharusnya bisa kan jadinya kita meminta tolong satu sama lain kalau yang lainnya juga sudah memiliki kesempatan dan sudah beres mah, ciri berganti-gantian lama kan nggak bisa kita bertumpuk-tumpuk kan terus," ucap Rahman menjelaskan.
"iyat Tini kita pulang dulu ya, kasihan juga menantu kamu di rumah sendirian loh dia lagi nungguin Memey, kita pulang dulu ya kita istirahat, nanti baru kita ke sini lagi," ucap ini mengajak Tini untuk ikut pulang bersama.
"iya maaf kita pulangnya nanti kita ke sini lagi," ucap Raditya mengajak Tini.
"Ya udah Man aku juga pulang dulu ya sama Riska kasihan juga si Yusuf di rumah dia sama Ibu, bunda kan dia lagi sibuk jadi enggak bisa ngurusin Yusuf, nanti aku ke sini lagi kalau ada apa-apa telepon aku aja ya," ucap Alfian menyalami Rahman dan berjalan untuk pulang.
"dadah ka Rahman jaga temen aku baik-baik ya," ucap Riska memberi hormat pada Rahman dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"iya pasti," jawab Rahman
mata kearah mata terlihat begitu bengkak pasti dia kecewa karena sekarang gak cerita sama kak Rahman, kasihan dia dia sangat mencintai Zahra, semoga mereka baik-baik saja ya Allah semoga mereka menjadi pasangan sampai jannahmu amin. Riska
",Ya udah Mama pulang kalau ada apa-apa kasih tahu mama ya kalau ada keperluan jangan sungkan sama Mama nanti mama masak dulu buat kamu terus nanti mau balik lagi beliin kamu makanan dan juga pakaian," ucapkan ini memberitahu Rahman.
"iya ma hati-hati di jalan ya nggak usah khawatir tentang aku masih ada Arnius di dekat aku kok," ucap Rahman menenangkan Tini.
"Ya sudah Mama pamit ya assalamualaikum," Rahman lalu menyalami tangan dini dan juga kedua orang tuanya dan yang lainnya.
setelah beberapa saat kemudian Rahman meraih ponselnya dan ia menelpon Ferius.
"halo?," ucap Rahman dari seberang dengan teleponnya.
"iya Tuan apa yang perlu saya lakukan?," jawab Ferius, dengan sigap.
__ADS_1
"ada yang aku ingin kamu lakukan di kantor," ucap Rahman.
bersambung....