
Zahra kembali ke kafe xx sebentar lagi Azan akan genap satu tahun, namun azan masih belum bisa berjalan karena kondisi nya yang masih lemah. Hanya senyum tawa Azan yang menyemangati hidup nya selama ini.
tibalah para lelaki tua yang menatap zahra dengan mata yang penuh hasrat senyuman gila yang sinis seolah olah sama sekali tak memikirkan anak istrinya di rumah, tidak! lebih tepatnya lagi ia seperti tidak punya anak istri ah mungkin lebih cocok jika disandingkan dengan para hewan. lelaki tua itu menghampiri Zahra, dan membawa Zahra ketempat penginapan tanpa ada basa basi pada Zahra. Sesampainya disana lelaki tua itu melakukan semua yang ia inginkan dengan penuh paksaan tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita yang bersamanya saat ini , ia memaksa Zahra berbagi hasrat dengan sangat ganas dan bejat, bahkan kini ia memaksa Zahra untuk beraksi lebih nakal lagi, geram rasanya kini ia sungguh sungguh telah nampak seperti hewan peliharaan bahkan lebih buruk dari itu.
Tuan mana janjimu, mana janjimu yang ingin membebaskan ku dari pekerjaan ini!!.sungguh lelah terasa karena harus melayani lelaki yang lebih kejam dan tak berperasaan, ingin rasanya memaki, ingin rasanya memarahi, ingin berteriak ingin memukul ataupun membanting sesuatu. Kini angan angan nya tak karuan lagi terbayang bayang kalimat manis yang di keluar dari mulut Andrean sehingga membuat angannya seolah terbang melayang, namun kini angan angan hanyalah hayalan.
Tubuh Zahra kini dengan posisi kepala berada di area lelaki bagian bawah lelaki tua tersebut, lelaki tua itu memaksa Zahra untuk melakukan suatu hal yang yang tak pernah terpikirkan oleh Zahra sebelumnya memang benar benar diluar dugaan Zahra. Zahra tak kuasa menahan air mata kini ia telah mengeluarkan buliran buliran air matanya, tak ingin melakukan hal tersebut. lelaki tua itu mengetahui bahwa Zahra yang kini tengah menangis ia geram kesal dan marah, lalu ia bangun dari tidur nya dan menampar Zahra dengan sangat keras.
plakk
" dasar wanita tak tau di untung, mengapa kamu menangis hah, memangnya apa yang telah aku lakukan?!, aku menghabiskan banyak uang kau tau," lelaki tua itu menunjuk ke arah Zahra sembari memarahi Zahra dengan api yang membara.
"dan apa? kamu pikir aku akan menghabiskan uang hanya untuk hal ini huh!, sia sia! bagaimana mungkin bisa ada pelayanan seperti ini dengan bayaran yang mahal sungguh memalukan!!," imbuh lelaki tua itu sembari berkacak pinggang.
"ma maaf tuan," Zahra meminta maaf sembari se segukan karena tangisnya dan memegangi pipinya yang kini merah karena memar. Sakit?!, sakit pasti yang terasa, bukan hanya sakit hati namun juga sakit raga.
"wanita seperti tidak pantas untuk sok jual mahal, sudah lah aku muak dengan layanan mu, kamu tidak pantas untuk mendapatkan tip karena pekerjaanmu yang tidak becus, " lelaki itu kembali memarahi Zahra.
Zahra terisak tangis, samar samar lelaki tua itu kini telah pergi meninggalkan nya sendiri, di dalam sebuah ruangan yang gelap tanpa sehelai pakaian pun.
"aaaaa!!!! aahhh aaaaaaaa!!!," suara Zahra berteriak bercampur dengan Isak tangisnya memenuhi ruangan itu, serasa ia sungguh tak dapat menahan semua itu lagi,"
"azan maafkan ibuk!!, maaf nak, ibu tidak mendapatkan apa apa malam ini, maaf kan ibumu nak,...
ternyata beginilah kejamnya dunia malam yang sesungguhnya, bagi mereka para wanita hanya permainan ranjang semata, sungguh kejam pemikiran mereka nak, ibu pun tak habis pikir oleh nya." imbuh Zahra yang semakin terisak tangis, sembari memeluk selimutnya. Semakin lama ia semakin terlarut dalam kesedihan dan memutuskan untuk pulang menemui anak tercinta semata wayang nya itu agar mendapatkan semangatnya kembali.
__ADS_1
***
tok tok tok
"assalamualaikum wr.wb, "
"waalaikummusslm wr.wb, Zahra cepat sekali pulang," Leela yang kini menyambutnya, ia terheran biasanya Zahra jika bekerja didunia malam yang selalu pulang pagi kini pulang lebih awal,.
setelah duduk di sofa memberikan air hangat pada Zahra, Leela menyadari bahwa pipi Zahra yang kini memar, dan leela merasa khawatir.
" ra kamu gapapa, wajah kamu kok memar,"
"mmh gapapa kok cuma tadi terbentur saja, Azan sudah tidur La?,"
"aku mau ketemu Azan dulu aku sangat rindu pada dirinya La," imbuh zahra
kasihan kamu ra, sekarang kamu harus mengalami kejamnya dunia malam itu seperti apa, aku mengerti kamu yang sudah lima bulan ini berhenti dari pekerjaan tersebut namun harus kembali lagi, pasti begitu berat. batin Leela yang penuh dengan prihatin
"Azan sayang, mamah pulang nak, ucucucu sayang bangun dong mamah kangen," Zahra menciumi Azan yang sedang tertidur, perlahan ia mengahapus air matanya yang mengalir pelan.
"sabar ya nak ya, mamah akan terus berjuang, mama ngak akan pernah menyerah , apapun akan mama lakukan asalkan Azan sehat ya nak ya, Azan harus janji sama mamah kalau Azan akan sehat dan menjadi anak yg shaleh, cerdas, serta bermanfaat bagi Nusa dan bangsa ya nak ya, harus bisa menghormati dan menghargai wanita, mama ngak mau Azan nanti kekal di neraka nya Allah karena Azan tidak menghormati wanita." Zahra berbaring di samping Azan serta melontarkan semua nasihatnya, membelai lembut pipi Azan dan menciuminya perlahan dengan buliran air mata yang masih mengalir perlahan.
Leela mengintip Zahra dari balik pintu, Leela ikut sedih melihat Zahra tak sadar ia pun ikut menangis atas kesedihan Zahra.
seminggu berlalu...
__ADS_1
hanya beberapa kali saja Zahra mendapat perlakuan yang baik dari pria yang dilayani nya, namun dengan segenap hati ia mencoba untuk kuat.
Pada pagi hari ini Zahra telah selesai dengan dua rakaat nya. Terdengar suara ketukan pintu, Zahra yang mendengarnya segera membuka kan pintu, namun ia terkejut karena yang berada dihadapannya kini adalah seorang wanita paruh baya yang pernah ditemui nya sebelum itu. Ya wanita ini tak lain adalah Tari Adiwijaya
"silahkan masuk buk, maaf disini hanya sederhana saja," Zahra mempersilahkan Tari untuk masuk. Tari kini telah memasuki rumah kumuh yang ditempati Zahra, melihat sekeliling tempat tersebut, sementara Zahra yang kini sedang membuat teh untuk disuguhkan kepada Tari.
" silahkan tehnya buk," Zahra menyugahkan teh untuk tari.
"terima kasih nak," jawab Tari sembari memperhatikan penampilan Zahra dari atas hingga bahwa, Zahra yang berpenampilan sederhana namun masih memiliki aura cahaya pada dirinya yang terpancar begitu terang, hanya saja ada beberapa memar dianggota tubuh Zahra, yang membuat rasa iba dari Tari terhadap Zahra, sehingga Tari memutuskan untuk berbicara langsung pada intinya saja.
"begini nak Zahra saya akan langsung to the point saja, ya" Tari meletakkan cangkir teh yang telah dicicipi nya.
"tapi bu, ibu tau darimana nama saya?,"
"saya sudah tau semua tentang mu, anakmu, dan keluarga mu,"
deg
jantung Zahra bergejolak.
"maukah kamu menerima lamaranku untuk menjadi menantuku, menjadi istri dari Aria Adiwijaya?, "
!!!
bersambung..
__ADS_1