
setelah beberapa jam mereka melakukan sunah rasul di hari yang bukan Sunnah Rasul, sarapan lalu langsung bergegas pergi untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
"sayang, nggak mau mandi bareng," ucap Rahman dengan sedikit tertawa yang melihat Zahra terburu-buru ke kamar mandi.
"enggak! enggak! enggak! ngaak mau!," Zara memejamkan matanya sambil setengah berlari menyelimuti tubuhnya dengan kain lalu menuju kamar mandi sambil membayangkan apa yang telah terjadi dengan wajahnya sudah memerah karena malu.
"uh Ya Allah ini masih pagi dan baru tuh masih waktu Dhuha sekarang udah abis aja waktu Dhuha nya, iihhhh malu banget," Zahra memejamkan matanya lalu memandikan tubuhnya.
Rahman yang memerhatikan kamar mandi yang telah ditutup pintunya oleh Zahra tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Zahraa yang malu malu.
"hahha dasar anak itu padahal dia sudah jadi istri aku, ada-ada saja," Rahman menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tertawa geli.
"ah iya, bagaimana aku goda dia? sudah lama aku tidak menggodanya, hihi," Rahman tertawa geli dan terlintas pikiran nakal untuk menggoda Zahra, lalu ia pun menghampiri Zahra yang sedang berada di dalam kamar mandi.
tok tok tok
Rahman mengetuk pintu kamar mandi...
"apa!," sahut Zahra dari kamar mandi.
"aku yang masuk ya?," tanya Rahman dengan geli.
"enggak!!," teriak Zahra berjaga jaga.
"aku kebelet nih, mandi bareng apa," Rahman berusaha membujuk Zahra sambil sedikit menggodanya.
"enggak! tahan aja udah, cowok itu ngalah!," Teriak Zahra dari dalam kamar mandi mencoba untuk membuat pertahanan.
"aku nggak akan apa apain kamu kok! nggak usah takut," Rahman masih berusaha untuk merayu Zahra.
"nggak mau pokoknya kalau aku bilang nggak ya nggak! sekali lagi kakak bilang kayak begitu aku ngambek!," teriak Zahra yang langsung membungkam mulut Rahman dengan ekspresi membulatkan matanya dan sedikit tertawa.
"haha woah istriku galak juga," gumam Rahman yang sudah menyerah.
"suka sekali dia meledekku," ketus Zahra di dalam kamar mandi dengan kesal.
__ADS_1
saat Rahman berbalik ia melihat sprei kasurnya lalu tersenyum mengingat apa yang telah terjadi, dan melihat darah suci yang telah menyentuh kasur darah yang benar-benar melambangkan mahkotanya Zahra.
"hmmh," Rahman menarik nafas sambil tersenyum lalu iapun bergegas untuk mengganti sprei, melepas sprei itu dan langsung mencucinya menggunakan mesin cuci di bawah.
setelah beberapa saat kemudian Zahra keluar dari kamar mandi dan sedang mengelap rambutnya yang basah. lalu ia mencari Rahman ke sekitar kamar namun tidak ia temui, dan saat Zahra sedang mengeringkan rambutnya Rahman masuk ke dalam kamarnya.
"kamu udah selesai?," tanya Rahman yang masuk ke dalam kamar.
"mmh," saudara lalu melihat Rahman yang menggunakan baju kaos dan celana kaos.
"habis dari mana?," tanya Zahra kepada Rahman yang sudah mengenakan kaos aja padahal belum mandi.
"aku udah cuci sprei, malu kan kalau kita minta bibi yang cuciin," ucap Rahman dengan sedikit mengecilkan suaranya. Saat itu Zahra sontak membulatkan matanya ia pun teringat bahwa dia masih perawan, dan dia pun menyadari pasti ada percikan darah pada sprei yang dia gunakan tadi, Zahra pun menutup wajahnya merasa malu mengingat hal-hal itu kembali, terlebih lagi itu adalah pertama kali baginya, dan bukannya dia yang membersihkan malah harus suaminya lah yang melakukannya dengan mencucikan spreinya.
"aaa maaf seharusnya aku yang cuci," ucap Zahra meminta maaf dengan menutup wajahnya.
"kenapa? nggak apa-apa kok aku senang ngelakuin ini buat kamu, jadi kamu nggak usah khawatir ya, it's oke sama aku yang lakuin buat kamu," ucap Rahman lalu menghampiri Zahra membelai kepala Zahra dan mencium kepala Zahra, lalu dengan tersenyum ia pun memasuki kamar mandi dan akhirnya membersihkan dirinya.
tak lama kemudian Rahman selesai membersihkan dirinya, Zahra pun menyambutnya dengan sebuah handuk kecil di tangannya, lalu Zahra menghampiri Rahman dan mengeringkan rambut Rahman.
"mmh," sahut Zahra dengan menjauhkan kepalanya karena dia merasa sedikit geli.
"aku bahagia banget, karena sekarang kamu lebih perhatian sama aku, aku sayang sama kamu," ucap Rahman lalu mengecup Zahra, Zahra yang malu-malu tapi mau, hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Rahman.
"dah, dah selesai," ucap Zahra yang langsung membelakangi Rahman.
"lah kok gitu cuma gitu doang?," ucap Rahman dengan sedikit manjanya seperti anak bayi.
"hahaha tau nggak, Kaka itu sekarang udah kaya bukan ka Rahman, mana dia ka Rahman yang aku kenal itu yang dingin dan gagah dan ga manja begini," ucap Zahra dengan sedikit meledek Rahman.
"kalau sama istri aku nggak apa-apa lah, terserah mereka mau bilang apa aku nggak peduli sama mereka, Yang aku peduli itu cuma kamu dan keluarga kita, yang juga memperdulikan kita," ucap Rahman dengan berkacak pinggang kepada Zahra, dan sedikit menunjukkan dirinya yang cool.
"hahaha biarin pokoknya ka Rahman kek anak-anak sekarang," Zahra meledek dengan menjulurkan lidahnya. lalu perhatian Rahman teralihkan dengan gaya Zahra berjalan, yang seperti tertatih-tatih dan sedikit kesulitan untuk melangkah.
"hahaha itu jalan kamu kenapa kok kayak begitu," tanya Rahman dengan sedikit meledek Zahra.
__ADS_1
"ih jangan pura-pura nggak tahu deh, this is hurt, itu semua gara-gara kakak kalau enggak aku enggak kayak gini tahu," ucap Zahra yang membuat Rahman mengeluarkan senyuman tulus Nya kepada Zahra.
"mmmh jadi sakit ya?," gumam Rahman lalu duduk di depan cermin ingin merapikan dirinya.
"iyalah sakit, Ya kali kayak kardus," Zahra pun turun ke bawah bersiap-siap untuk makan.
"mau kemana Ra?,"
"mau turun ke bawah mau makan, aku gagal sarapan gara-gara kakak tadi ya," omel Zahra pada Rahman namun ia tetap melanjutkan jalannya.
"sanggup jalan nggak? aku gendong Ya mau nggak?," tanya Rahman yang memberi penawaran kepada Zahra.
"enggak, aku bisa sendiri," Zahra pun terburu-buru menuju ke bawah.
saat di bawah bibi langsung melihat Zahra yang baru turun bibi segera menyiapkan makanan kepada Zahra, karena bibi mengetahui kalau Zahra belum sarapan, dan bibi sedikit tersenyum karena melihat Zahra yang berjalan tertatih-tatih, dan melihat ada beberapa sedikit tanda merah di anggota tubuh Zahra yang tidak mengenakan hijab saat itu.
"terima kasih banyak ya bi," ucap Zahra sambil tersenyum terhadap bibi.
"iya sama-sama nona," lalu bibi pun tersenyum yang melihat Rahman turun ke bawah.
Rahman melihat bibi yang akan menyiapkan piring untuknya.
"nggak usah bi aku akan satu piring sama Zahra," ucap Rahma memberitahukan bibi dan bibi pun mengangguk mengerti lalu pergi meninggalkan mereka.
"Ra suapin aku," pinta Rahman kepada Zahra yang kini duduk di samping Zahra.
"mmh," Zahra lalu menyuapi Rahman menggunakan sendok.
"nggak mau pakai sendok," ucap Rahman lalu Zahra pun mengangkat alisnya bingung tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rahman.
"aku mau pakai ini," Rahman menunjuk bibir Zahra menggunakan jarinya.
"ih paan sih, nih aaa," Zahra menyerahkan makanan yang ada di sendok, namun Rahman tetap tidak ingin membuka mulutnya.
"ya udah kalo ga mau," Zahra pun memakan makanan yang ada di sendok yang tadinya ia ingin berikan kepada Rahman, saat Rahman melihat makanan itu masuk ke dalam mulut Zahra, beberapa detik kemudian Rahman langsung memakan makanan yang ada di dalam mulut Zahra dengan mulutnya, yang sontak saat itu membuat Zahra terkejut.
__ADS_1
bersambung.....