
"uhuk uhuk," Zahra ter batuk-batuk lalu memandang Tini, bermaksud menanyakan apa yang di maksud papa tercinta. Namun Tini hanya mengangkat bahu bertanda ia juga tidak tau apa apa.
"mh, papah Zahra ngak salah denger kan?,"
tanya Zahra memastikan
"ngak ko sayang, memang kenapa? dia orang nya cerdas, sudah sarjana, empat tahun bekerja di perusahaan keluarga nya, cukup berpengalaman, terlebih lagi dia sopan, jujur, dan bertanggung jawab,"
"aaa pah,"
"sayang papah ngak mau kamu sampai salah pilih," Marko memegang tangan putri tercinta nya.
"dia sembilan tahun lebih tua loh pah dari Zahra, aaa beda banget jauhnya," Zahra merasa gemas pada Marko.
"gapapa kan bagus tuh jadi bisa lebih dewasa, nabi aja beda 14 tahun sama Siti Khadijah," sahut Raditya mendukung keputusan Marko.
"ekhem itu kan cowok nya yang lebih muda ka," ketus Zahra
"eh nabi Muhammad Saw dengan Aisyah beda jauh dia menikahi Aisyah saat Aisyah batu akhir balig," sambung Ramadhani yang juga ikut membela Marko. seketika itu pula Marko, Raditya, dan Ramadhani saling memandang dan mengacungkan jempol masing masing.
"mah?," rengek Zahra pada Tini, Tini hanya membalasnya dengan mengangkat bahu terheran.
"ekhem pah, kak Raditya aja belum nikah masa ia udah main tawarin Zahra aja haha kan lucu gituh," ucap Zahra sembari memakan kerupuk untuk memperbaiki mood nya .
"eh tenang aja Kaka bentar lagi kan mau S1 Kaka nikah dong Kaka akan menikah dengan wanita yang baik hati dan tulus seperti mamah, dia yang akan selalu menemani Kaka hidup dan mati Kaka nanti ekehem, makanya Kaka berjuang sambil kerja dengan kuliah meskipun ngak sehebat si Rahman, tapi ajak akan selalu memperjuangkannya sebaik mungkin, dan berharap kamu juga akan bisa mendapatkan yang terbaik ya dek ya Kaka sayang sama kamu," sahut Raditya memegang tangan Zahra memandang Zahra dengan penuh kasih sayang serta pandangan yang meminta harapan kepada Zahra, bukan harapan biasa namun adalah sebuah harapan yang cerah menuju masa depannya nanti.
"gapapa sayang ngak usah terburu buru, kamu jalani aja dulu yah, perjalan kalian itu masih panjang, dan papa juga mamah akan selalu ada untuk mendukung kalian kami mungkin tidak bisa berdiri menjadi yang paling terdepan tapi kami akan selalu ada di belakang kalian dan akan memapah kalian di kala kalian terjatuh ataupun kesusahan nantinya oke," akhirnya Tini mengangkat bicara.
"mamah juga?, mamah ikut berfikiran seperti papah dan kakak juga? ini keluargaku kan? o my God benarkah ini aaaaa aku pusing deh ma," ucap Zahra terheran karena mengapa tiba tiba keluarganya menjadi se kompak itu bahkan Zahra merasa tidak ada yang mendukungnya karena hal itu, ia pun memanyunkan bibirnya masih merasa keberatan, namun karena pandangan keluarganya yang penuh dengan tatapan harapan dan kasih sayang pada akhirnya berhasil membuat Zahra meng iyakan keinginan keluarganya itu, tetapi Zahra memberitahukan mereka yaitu bukan setuju untuk menikah melainkan mencoba untuk dekat terlebih dulu dan terserah pada keluarganya mau atau tidak, jika tidak maka Zahra tidak akan melakukannya, namun tanpa di duga karena seketika itu satu keluarga langsung menyetujui permintaan Zahra asalkan Zahra sudah membuka satu jalan agar hubungan Zahra dan Rahman bisa terjalin lebih dekat lagi.
....
"Rahman?," panggil Andrean pada Rahman yang masih berada di ruang kerja rumahnya meskipun waktu sudah menunjukkan waktu makan malam.
"iya ayah,"
"kamu sudah fikirkan apa yang papa tawarkan tadi pagi?," tanya Andrean.
"ah?? haha kita lihat aja yah, jujur aku memang tertarik padanya, dia bukanlah wanita yang bisa di taklukkan, meskipun dia akan cepet merasa suka pada pria tapi ia hanya membiarkan perasaan itu larut dan berlalu. Mungkin karena pemikiran nya masih panjang? aku masih ingin tau yah," ucap Rahman sembari mengelus mejanya memikirkan hal yang akan ia lakukan.
"jadi?,"
"aku akan mencoba untuk mendekatinya dulu ayah, aku akan berusaha menjaga dia, setidaknya jangan sampai ia terluka oleh tipu daya dunia, sebelum ia menemukan yang betul betul akan menjaganya di hadapan Allah selain aku" Rahman berucap dengan penuh makna dan penekanan.
.....
beberapa bulan berlalu...
kini saatnya ujian semester ganjil bagi anak anak yang bersekolah.
"eh Ra Lo sadar gak sih, udah lama banget semenjak dia nyari Lo dikelas dia ngk pernah ngejar ngejar Lo lagi, tapi kalau ke mushalla tepat waktu gue sering nemuin dia shalat disana loh," Riska dan Zahra sedang bersiap untuk ujian.
__ADS_1
"mana aku tau, jangan jangan kamu suka ya sama dia?," Zahra menunjuk Riska dengan ekspresi menggoda sahabatnya itu dan dengan senangnya Zahra terus menggoda sahabatnya dengan senyuman mengejeknya karena baginya jika temannya bereaksi seperti itu, itu adalah hal yang sangat menarik dan lucu baginya.
"eh enggaklah orang dia nyebelin begitu jg hi masa iya gua naksir, cowok idaman gua itu baik kale, bukannya fuckboy kayak dia, dan gua memang naksir cowok ganteng tapi itu juga pake pengecualian ya, lagian juga gua juga punya tipe tipe tertentu juga Kali wekkk" Riska mengejek Zahra dengan tawa dan ceritanya, yang mengenai tipe ideal lelaki yang ia sukai.
"jangan sampai benci jadi cinta loh haha, karma juga bisa berlaku loh apalagi sama orang yang sombong, nggak boleh sombong sombong gitu tahu, kamu harus lebih baik sama orang, awas loh hati-hati entar kamu jilat air liur kamu sendiri gimana?, ya kali kamu mau dapat cowok yang baik tapi kamunya ngak baik hahaha," Zahra mengejek Riska kembali dengan tidak henti-hentinya hingga wajah Riska merah padam bahkan bisa dibilang seisi ruangan kelas nya itu dipenuhi dengan suara canda dan tawa Riska bersama Zahra.
"tuh kan merah lagi mukanya haha, suka kan hayo ngaku, ngaku aja deh aku cubit nih ya, orang muka kamu udah marah banget, pokoknya kamu nggak bisa bohong sama aku, kelihatan banget tahu nggak kamu suka kan, hayo loh ngaku hahaha tercyduk kan sekarang kalau kamu sendiri ternyata yang naksir sama dia, bisa jadi kata-kata orang bener tahu kalau kamu terlalu sering bertengkar sama orang lama-lama perasaan itu akan berubah menjadi sayang atau benci jadi Cinta Dan nanti yang ada kamu malah jadi jodohnya dia hayo lho hahaha," Zahra saling cubit mencubit dengan Riska yang saling menggoda, karena Riska semakin malu mendengar Zahra dan Riska berusaha membungkam mulut Zahra menggunakan tangannya namun apalah daya Zahra masih memiliki tenaga yang tak kalah kuat dari Riska, sehingga Zahra berhasil untuk menghindari Riska berkali-kali dan tetap melancarkan aksi mengejeknya kepada Riska.
"ngak siapa juga yang suka sama dia enggak gitu juga kali konsepnya, mana ada dua kapal perang musuh menjadi satu yang ada hancur lebur, dan pada intinya gua dengan dia tidak akan menjadi satu ataupun jodoh, orang gua punya tipe cowok ideal," ucap Riska yang masih mempertahankan pertahanannya dan mencoba untuk membuatnya semakin kokoh, karena ia juga tidak ingin kalah dari sahabatnya itu, dan berusaha menahan malu nya karena perkataan Zahra sudah didengar oleh teman-teman sekelasnya dan ia benar-benar malu karena itu, bukan malu karena Zahra mengatasinya suka dengan Reza namun Riska merasa malu karena teman-temannya mendengar mereka ribut sampai 1 kelas.
"ya kali ada yang suka Ama lu dodol," tiba tiba Reza datang dengan membawa sebotol susu. sembari mendorong dahi Riska dengan jarinya dengan lumayan keras sehingga membuat Riska sedikit kesakitan dan mengusap dahinya, setelah itu pun Reza menyentil dahi Riska karena geram.
"jangan ke PD an deh lu ya masih mending ada cowok yang suka Ama lu dodol!!," imbuh Reza yang semakin mengejek Riska dengan penuh penekanan, dan dia juga sempat menertawakan Riska sudah bukan hal yang heran lagi karena sudah wajar baginya untuk bertengkar saat bertemu.
"eh ngapain lu disini," Riska kesal melihat Reza yang tiba-tiba datang dan langsung menyentil dahi nya begitu saja sehingga menimbulkan bekas merah di dahinya dan dengan kesal Riska lalu membuang muka agar wajahnya tidak bertemu dengan wajah Reza.
"udah lama ilang tiba tiba muncul, kenapa ngak di telan bumi aja sekalian si, sekalian aja lu diambil jadi anak buahnya nyi Blorong atau nyi Roro kidul biar tahu rasa dan biar ilang sekalian sampai bangke lu pun gak ditemuin," imbuh Riska dengan kesal nya karena sudah tradisi mereka saling mengolok satu sama lain.
"dih entar kangen batu tau rasa Lo," ucap Reza yang niatnya hanya mempermainkan Riska atau mengejeknya dan dengan mendengar perkataan Reza entah kenapa Riska menjadi pucat.
sebenarnya gue juga beruntung ada lo Riska karena Zahra bisa selalu ketawa bahagia karena dia selalu sama, sama lo dan kalau lu nggak ada Zahra akan murung dan menjadi lebih pendiam. ucap Reza dalam hatinya karena ia juga menyimpan kebahagiaan di dalam hatinya untuk Riska dan Zahra serta rasa berterima kasihnya kepada Riska karena selalu menemani Zahra sebagai sahabat sejatinya.
"gua kesini mau ketemu Ama bidadari surga gua doang, bukan buat ngeliat lu, dah lama ngak ketemu bidadari jadi butuh penyemangat," ucap Reza yang menyahuti kekesalan Riska terhadapnya dan Zahra kali ini hanya terdiam dan memandang Reza dengan cermat, mencerna kata kata Reza, melihat aura Reza yang sedang lelah. Reza pun dengan tak sengaja memandang Zahra dengan penuh makna, seolah olah Reza dan Zahra sedang berbicara menggunakan bahasa hati mereka.
"Za cepet udah mau masuk ni, ujian mau di mulai," salah satu teman Reza mengejutkan Reza dan Zahra yang membuat kedua nya saling menunduk.
"eh ini aku bawa susu UHT buat kalian berdua, biar tambah semangat, Ra tunggu aku bentar lagi, aku akan membuktikan bahwa aku bersungguh sungguh sama kamu," Reza lalu berlalu meninggalkan Zahra tanpa mendengar sepatah katapun dari Zahra sedari ia menghampiri Zahra.
"wah gua juga dapet? tumben tumbenan gua juga dikasih, haha," Riska tertawa tak menyangka dengan sikap Reza yang langka dan terasa lebih akrab.
....
Zahra kini sedang berada di sebuah kafe bersama Riska dan teman teman wanita yang lain termasuk Memei. Mereka memang sudah berencana untuk berkumpul, terlebih di hari libur panjang mereka yang telah tiba, meringankan fikiran mereka setelah ujian.
"eh aku yang ngak pinter pinter amat aja pusing banget padahal cuma tinggal silang aja kali ya haha," Zahra tertawa sembari sesekali meminum jus yang ia pesan.
"eh lu bisa pusing Zahra? berarti lu belajar, gua yang bodo ni ye kagak ada tuh pusing pusingnya, tinggal buang kertas soal, terus jawab soal asal asalan hahaha bener ngak," sahut salah satu temannya yang juga disahuti oleh teman nya yang lain.
"berarti apa lagi yang emang pinter kali yak?," tanya Riska.
"eh Memei gimana hasilnya ujian nya lancar ngak," tanya salah satu teman sekelas Zahra pada memei
"Alhamdulillah dapat nilai yang ngak buat orang tua marah," Memei menundukkan kepalanya malu
"gimana mau ngecewain, nilainya 95+ semua, dia juara satu dikelas, juara umum jurusan IPA guys," sahut Riska yang merangkul Memei.
"ah bukan begitu ko kak," Memei semakin malu karena pujian pujian yang menimpanya.
"eh ternyata cuma badan kamu aja ya yang kecil dan mungil banget tapi otaknya berisi semua," sahut salah satu teman sekelas Zahra.
"iya aku memang sendirian kecil ka hehe kakak, mamah sama ayah tinggi besar semua, tapi kata mamah kayaknya aku ngikut nenek," ucap Memei malu.
__ADS_1
"udah udah dong jangan ganggu dia kasihan adiku yang cantik ini, fisik ngak penting yang penting itu cerdas, tapi cerdas ya bukan pinter," ucap Zahra sembari mencubit pelan pipi memei.
"eh tunggu dulu, ka bukankah itu kak Reza yang suka sama ka Zahra itu yah," memei menunjuk ke arah pelayan yang sedang melayani pelanggan, dan memang benar orang itu adalah Reza, Reza yang melihat Zahra yang melihat ke arahnya tersenyum sesaat sebelum pergi ke belakang untuk mengambil pesanan.
"woah ternyata dia giat ya," kagum Riska dan teman temannya pada Reza. Zahra terdiam mengingat semua apa yang telah Reza berikan padanya meskipun Zahra sering tidak menghiraukan Reza, dan Zahra merasa tidak enak hati karena ternyata dari apa yang Reza dapat selama ini tidak lah mudah. Begitu banyak wanita yang mengejar Reza karena ketampanannya bahkan sampai ada yang ingin membiayai Reza namun Reza hanya melihat Zahra seorang. Seketika itu Zahra kembali bimbang akan dirinya, selain Reza menghormati Zahra, Reza juga baik terhadap nya selama ini.
Saat Zahra dan teman temannya akan pulang Reza setengah berlari mengejar Zahra.
"Ra lusa boleh ya ketemu sama aku ditaman Deket sekolah, gapapa ajak Riska sama memei juga," Reza tersenyum sebisa mungkin memberikan Zahra rasa ketenangan, berharap Zahra memberinya satu kesempatan terakhir.
Zahra tersenyum balik dan mengangguk pada Reza lalu memberikan selembar kertas yang berisikan nomor telefon Zahra.. seketika itu Reza merasa sangat senang sejadi jadinya merasa bahwa ini semua hanya lah mimpi, ia tak sabar menunggu hari lusa tiba.
keesokan harinya, Zahra sekeluarga bahkan dengan keluarga Memei pun sedang bersama sama pergi berlibur, para anak anak menaiki mobil Rahman sedangkan para orang tua menaiki mobil Marko.
Di perjalanan Zahra terkejut ia melihat sesosok lelaki yang ia kenal, kebetulan saat itu sedang lampu merah, yang ia lihat tak lain adalah Reza yang sedang berkerja keras di proyek bangunan, dengan keringat yang penuh ditubuhnya dan nampak lelah diwajahnya namun masih tampak semangat yang tiada batas.
Rahman memerhatikan Zahra dari kaca spion dan melihat siapa yang sedang diperhatikan Zahra, lalu menghela nafas panjang dan mulai fokus mengemudi lagi.
mereka berlibur ke mall dan taman bermain dengan berbagai macam wahana, Zahra dibawa oleh Rahman untuk memainkan sebuah permainan hanya berdua saja.
"apa sih ka, jangan tarik tarik tas aku dong," kesal Zahra pada Rahman
"sini kita main disini, main tembak tembakan, siapa yang menang dia boleh meminta satu permintaan dan yang kalah harus memenuhi keinginan pemenang," ucap Rahman memandang Zahra.
"bagaimana kalau aku menang dan aku meminta agar kita hentikan kedekatan kita yang memicu perjodohan ini,"
"oke asalkan kamu bersama orang yang benar aku setuju,"
dan setelah 15 menit kemudian Zahra kalah dengan wajah masamnya ia menghadap Rahman.
"cepat katakan apa keinginan Kaka,"
Rahman terduduk memandangi Zahra yang sedang berdiri lalu menyeret Zahra untuk terduduk juga
"apapun yang kamu putuskan jangan lupa sama Allah, aku tidak akan memaksakan kamu mencintaiku tapi aku juga tidak akan membiarkan kamu terluka oleh orang lain,"
deg
"aku mau kamu ikhlaskan semuanya serahkan pada Allah, biarkan aku menjagamu sebelum kamu menemukan orang yang lebih baik dari aku, jika kamu sedang dekat dengan orang lain aku tidak masalah asalkan kamu juga jangan menjauh dariku,"
Zahra terpaku seketika mendengar kata kata Rahman yang juga menggoyahkan hatinya.
....
Zahra sedang duduk dihadapan Reza, sedangkan memei dan Riska memutuskan untuk tidak menguping mereka duduk agak jauh untuk memberi ruang pada Zahra dan Reza.
Reza sudah dengan pakaian rapi nya, berbeda dengan biasanya.
ia sudah menyiapkan semuanya sesuai yang ia rencanakan ia menarik nafas panjang dan mulai berbicara.
"Ra maukah kamu menjadi kekasihku, jangan terburu-buru jadilah pacarku dulu, aku tidak akan langsung membicarakan pernikahan, aku berjanji aku akan menjadi orang yang sukses agar pantas bersanding denganmu, aku sudah mendapat cukup tabungan untuk modal dan juga rumah, selama dua tahun ini aku bekerja dengan meng angan angankan kamu, maukah kamu menemaniku dulu," Reza mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan cincin mas putih, dan buku tabungan untuk menunjukan tabungan yang telah ia peroleh untuk masa depannya nanti.
__ADS_1
"maaf aku baru bisa memberi ini tapi tunggu aku, aku akan memberikan segalanya untukmu, apakah kamu bersedia?,"
bersambung..