Cinta Zahra

Cinta Zahra
kembali


__ADS_3

Riska sedang berada di sebuah rel kereta api, ia memandang kartu yang diberikan oleh Alfie meneteskan air matanya, yang merenungkan semua yang terjadi, mengingat kuliahnya mengingat para keluarga dan sahabatnya.


Rel kereta api hari ini lebih sepi dari biasanya membuat Riska merasa sedikit lebih tenang.


"hmmh ini sungguh sangat berarti untukku terima kasih banyak ka Reza, karena sudah memberikan ini untukku," gumam Riska pelan


"Riska!!," Panggil bapak Riska yang menemukan Riska di rel kereta api tersebut.


"bapak?," Riska terkejut melihat bapak, ibuk, Zahra serta Rahman dan Alfie bersamaan datang.


"nak?," ucap ibuk Riska dengan meluncurkan air matanya.


Riska melangkah mundur secara perlahan, ia memegang perutnya terus melangkah menjauh dari kedua orang tuanya dan sahabatnya.


"nak sini nak, kita pulang ya," ucap bapak Riska, namun Riska hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur.


"sayangnya bapak sayangnya ibu, sini sayang jangan takut tidak akan ada yang memintamu untuk mengugurkan anak itu lagi, bapak sayang kamu, bapak minta maaf sudah menyuruh kamu yang tidak sini sayang," bapak Riska membuka tangan lebar lebar ingin memeluk Riska.


"aku janji ga akan pergi lagi, aku sayang kamu, pulang ya, maaf karena sudah menghilang dari kamu, aku janji kan selalu kasih kabar buat kamu," ucap Zahra.


"jangan takut ada kami disini yang akan menemani kamu jadi tolong jangan ragu lagi yah, sini pulang sama sama ya," ucap Alfie.


"pulanglah Riska, istri aku ga tenang karena kamu haih, liburan pun terganggu, pusing aku. please deh jangan buat aku ribet, aku ga suka hal hal yang ribet, woah pusing aku," ucap Rahman dengan nada yang menjengkelkan.


"ih kakak!," Zahra mencubit Rahman karena kesal, namun hal itu sukses membuat Riska tertawa.


"nak," gumam ibu Riska


"sini sayang," ucap bapak Riska, lalu Riska setengah berlari memeluk bapak nya dan di Zahra serta ibuk Riska pun ikut memeluk secara bersamaan.


"Heish mau kemana?, istriku masih memeluk," ucap Rahman yang mencegah Alfie yang ingin ikut memeluk Riska.


"ah? anu," ucap Alfie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"bentar bisa giliran kan, gitu gitu istriku berharga,"


"iya iya aku nunggu," ucap Alfie tersenyum memandang Riska yang sedang dipeluk.


.....


"ka, aku nginep di rumah Riska ya?," izin Zahra pada Rahman saat mengantarkan Riska pulang.


"ga usah pulang terus ya,"


"ih pelit banget," ketus Zahra.


"ga apa apa nak, kamu pulang dulu kasihan suami kamu kecapean, lagi pula juga kan kamu baru pulang liburan langsung ke rumah ibu memangnya tidak capek apa?," tanya ibu Riska yang mengerti maksud Rahman.


"tuh ibu aja tau," ucap Rahman memegang kepalnya.


"aaaa Riska?," Zahra mengalihkan pandangannya pada Riska.


"ga apa apa kamu pulang aja aku juga capek Ra,"


"wah udah aku kamu nih manggilnya, aaa sahabatku ini," ucap Zahra memegang tangan Riska.

__ADS_1


"Ra aku minta maaf ya, aku salah," Riska membalas Zahra dengan senyuman dan memegang tangan Zahra


"ga apa apa aku udah maafin ko," ucap Zahra menahan tangis harunya


"ya udah deh aku balik ya si ka Rahman pelit orangnya, ngeselin dan dingin," ucap Zahra setengah berbisik.


"ekhem," Rahman menegur Zahra.


"eh udah ya, pak, Bu ka Alfie Zahra pulang, assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh,"


"waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh hati hati di jalan ya," ucap Riska dan bapak ibunya dengan melambaikan tangan.


"hati hati ya Ade Zahra, jaga kesehatan," Alfie melambaikan tangan pada Zahra dengan tersenyum terkekeh ingin meledek Rahman, karena ia tahu bahwa Rahman sangat menyayangi Zahra.


"Dah ka Alfie," Zahra melambaikan tangan pada Alfie.


"lebay banget jadi anak," ketus Rahman.


"pulang!," imbuh Rahman.


"iya ya Allah kaget aku," Zahra dengan memanyunkan bibirnya memasuki mobil Rahman.


"ya udah Bu Alfie pamit pulang dulu," ucap Alfie lalu memberi salam dan pergi dari ke kediaman Riska.


.....


Riska sekarang sedang berada di kamarnya, ia melihat ke sekeliling kamarnya, mengingat ngingat sejuta kenangan yang pernah terjadi di kamar itu.


"sayang bapak minta maaf ya," ucap bapak Riska. Riska kini sedang duduk di antara ke dua orang tua nya.


"sudah lah sayang, mari kita jalani semuanya bersama, sekarang istirahat yang baik yah," ucap ibu Riska lalu meninggalkan Riska agar Riska bisa beristirahat dengan tenang.


Terima kasih banyak ya Allah atas semua ini, terima kasih banyak karena masih memberikan kemudahan untuk hamba mu yang nista ini. Batin Riska


......


"ka?," Zahra mengapa Rahman di mobil namun Rahman hanya diam


"ka!!" masih saja diam.


"ka Rahman!!" Zahra berteriak di telinga Rahman.


"ck, ada apa!" ketus Rahman.


"diem aja, jangan cuekin aku kalau lagi manggil!!,"


"apa makanya?,"


"mau es krim, ice cream vanilla tadi Kaka lewatin," ucap Zahra dengan kesal.


"astaghfirullah aku pikir apaan, cuma ice cream, bentar aku beliin,"


"iya makasih," ketus Zahra.


setelah beberapa saat....

__ADS_1


"nih ice cream nya," Rahman memberi Zahra ice cream dengan aura dingin.


Zahra pun dengan sebaliknya mengambil dengan sikap dingin.


kenapa dia marah marah coba, emang aku salah apa?. Zahra kesal dalam hatinya lalu mulai memakan ice cream nya


"tuh kan ice cream nya jadi kurang enak!," ketus Zahra dengan celetuk. Rahman hanya melirik Zahra sekilas lalu fokus menyetir lagi.


......


sesampainya di rumah mereka menyalami Tangan Andrean Yeni dan Memei.


"ini sudah larut banget kenapa baru pulang?," tanya Memei.


"Kaka mu capek nanya nya nanti aja ya?," ucap Yeni pada Memei.


"ka Zahra oleh oleh buat Memei mana?," tanya Memei pada Zahra dengan menjulurkan tangannya.


"ah anu, ini ice cream mau ga?," jawab Zahra dengan senyuman kebetulan Rahman tidak pernah membelikan Zahra barang dengan sedikit.


"wah mau dong! varian rasanya banyak banget!," ucap Memei.


"kamu ini kenapa terlalu merepotkan Kaka ipar mu, balik kamar sana," ucap Andrean mengelus kepala Memei.


"siap!!," jawab Memei memberi sikap hormat seperti tentara lari setengah berlari menuju kamarnya.


"hahaha ga apa apa ko ayah," sahut Zahra. Rahman hanya melihat Zahra dengan kesal lalu pergi menuju kamar tanpa mengajak Zahra, yang disusul oleh Zahra dengan langkah kesal juga.


"mereka kenapa ya yah?," tanya Yeni.


"entah, biarlah saja mereka urus sendiri, oh iya rumah yang di renovasi itu sebentar lagi akan jadi, besok kita pergi mengecek okeh," ucap Andrean merangkul Yeni, dan mencium pipi Yeni dengan greget.


"ih ayah apa sih,"


"ga apa apa cuma kangen aja,"


.....


"kenapa si! marah marah ga jelas tau gak!," Zahra marah pada Rahman.


"ga ada, capek!," ucap Rahman lalu membuka pakaiannya dan pergi membersihkan dirinya.


Zahra dengan kesal mengambil bantal dan menaruhnya di sofa lalu tertidur di sofa.


Rahman lalu menggendong Zahra dan memindahkan Zahra ke kasur.


"ga gerah? mandi aja belum," gumam Rahman lalu mengambil air dengan baskom, dan mengelap tubuh Zahra dengan perlahan-lahan dan membuka kerudung Zahra serta menggantikan pakaian untuk Zahra.


"kamu sepertinya kelelahan, sampai tidak terbangun meskipun aku menganggu mu dengan mengelap tubuh mu dan mengantikan pakaian," gumam Rahman menyelimuti Zahra yang sedang tertidur pulas.


"kalau aku cium, kamu bangun ga ya," Rahman tersenyum sinis, terlintas sedikit fikiran nakalnya, lalu mengecup kening Zahra sekali, melihat Zahra dan kembali mengecup pipi Zahra.


"bagaiman aku ga berfikir nakal, aku sudah melihatmu seperti bayi yang tanpa sehelai benang ditubuh mu tadi, tapi kamu tidak berbuat apa apa," gumam Rahman tersenyum lalu mengecup bibir Zahra.


"yang kuat karena sepertinya masalah sahabatmu itu bukan nya berakhir tapi baru dimulai, karena semua orang akan menatapnya sinis setelah mengetahui kehamilan nya di luar nikah," Rahman membelai pipi Zahra dan menatap Zahra dengan sayu, lalu tertidur di samping Zahra dengan memeluk Zahra.

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2