Cinta Zahra

Cinta Zahra
Di balik kematian Marko


__ADS_3

Rahman telah menyuruh orang orang nya untuk menyelidiki kasus di balik kecelakaan yang terjadi pada Marko, karena kejanggalan yang ditemukan, bahkan juga orang orang sempat memeriksa CCTV yang ada di depan rumah Tini. Mereka tidak pernah memeriksa CCTV karena memang mereka tidak merasakan ada yang ganjal terhadap kecelakaan Marko hanya saja yang membuat mereka merasa aneh adalah mereka merasa bahwa Marko tidak pernah membawa kendaraan secara ugal ugalan meskipun akan segera telat bekerja. Di tambah satu lagi bukti yaitu saksi yang melihat ada seorang wanita masuk kerumah saat malam sebelum Marko kecelakaan.


"Halo tuan Rahman?," ucap salah satu bawahan yang melapor kepada Rahman tentang apa yang telah ditemukan berkaitan dengan kematian Marko.


"Ya?,"


Orang orang nya Rahman melaporkan segala yang telah di temukan.


"Bagus, jangan sampai yang berbuat seperti itu kepada calon ayah mertuaku, tenang begitu saja, buat dia merasakan apa yang seharusnya ia dapatkan sesuai hukum yang berlaku," Ucap Rahman penuh dengan penekanan, lalu ia mengakhiri panggilan.


"tenanglah di alam sana, keadilan memihak anda, tidak akan ku biarkan keadilan itu berpaling begitu saja," gumam Rahman menggenggam ponsel ditangannya dengan keras, dan menyeringai.


.....


"Permisi apakah anda yang bernama angel?," ucap pak polisi di kediaman Angel setelah satu hari menerima laporan dari bawahan Rahman.


"iya pak ada apa?," Tanya Angel dengan rasa terkejut dan khawatir. Ia merasa kalau akhir akhir ia tidak melakukan kesalahan apapun


"kami dari kepolisian," ucap pak polisi dengan menunjukkan tanda pengenalnya.


"Anda ditangkap dengan tuduhan pembunuhan berencana atas kematian pak Marko sekitar 7 bulan yang lalu," ucap pak polisi itu yang langsung membawa Angel.


"tunggu dulu pak,"


"and bisa menjelaskan nya di kantor polisi nanti,"


.....


Di kantor polisi Angel menemukan Rahman dan juga Andrean dan beberapa pengawalnya yang telah berjaga jaga diluar ruangan.


Angel geram melihat Rahman dan Andrean berada disana, yang juga ada Zahra di sebelahnya bersama dengan polisi wanita.


Zahra yang melihat kedatangan Angel terkejut, ia merasa wajahnya familiar dan berusaha untuk mengingat ngingat dimanakah mereka pernah bertemu, setelah Zahra mengingatnya ternyata itu adalah wanita paruh baya yang bertemu dengannya Minimarket.


sial! jika sampai Andrean turun tangan pasti aku tidak akan bisa mengelak sampai akhir, se berusaha apapun pasti akan kalah. Angel geram dan memilih untuk mengaku.


"Ya pak! saya yang membunuhnya saya sengaja mengincar pak Marko, sejujurnya saya juga mengincar anak itu," Angel dengan beraninya menunjuk Zahra, yang tentu saja saat itu membuat Rahman bereaksi mematahkan jari jari tangan Angel tetapi di cegah oleh Andrean.


"Dia yang utamanya ingin saya bunuh, tapi dia sedang beruntung saat itu, tapi saya berhenti di situ pak, saya tidak pernah bertindak lagi bahkan untuk berniat lebih saja tidak pernah lagi terpikirkan oleh saya," ucap angel dengan jujur.

__ADS_1


"Apa alasan anda hingga ingin membunuhnya?," tanya polisi itu dengan mengintrogasi penuh. Dan tepat saat itu juga Tini dan Yeni baru sampai di kantor polisi untuk melihat keadaan, Sedangkan Raditya sedang bekerja jadi tidak hadir.


"karena, karena dia sama dengan wanita yang namanya juga sama dengan dia, Zahra! iya Zahra selalu ingin merebut kebahagiaanku, Zahra terdahulu merebut kebahagiaanku, dan yang sekarang ingin merebut kebahagiaan anakku," ucap Angel geram dengan menunduk namun menajamkan matanya dan menunjukkan hawa kebenciannya.


"Hei! dasar tidak tau malu, kamu yang merusak kebahagiaan sahabat aku, oleh karena itu dia bisa meninggal diusia muda ko seharusnya sadar diri jadi orang," ucap Tini tak tahan dan menarik rambut Angel. Saat itu pula Yeni mencegah Tini untuk melakukan hal yang lebih.


"aaaaaa, lepas!," teriak Angel yang saat itu ditarik tarik rambutnya oleh Tini.


"Harap tenang ini di kantor polisi," ucap ibu polisi yang melerai pertengkaran mereka.


"Mah sudah ya, tenang mah tenang," ucap Zahra menenangkan Tini.


......


Satu Minggu kemudian keputusan pengadilan telah keluar bahwa Angel di akan di penjara sesuai dengan hukuman yang tertera pada pasal undang undang.


"Ra, yang sabar ya akhirnya sekarang ketahuan juga siapa dalang di balik ini semua," ucap Riska yang berada di kelas Zahra saat ini, untuk menemani Zahra.


"Terima kasih banyak," ucap Zahra langsung memeluk Riska.


"hmh??," Riska ter bingung.


"aku ber terima kasih banyak karena kalian telah ada untukku, terutama sahabatku yang terbaik ini, yang tidak akan pernah meninggalkan aku," ucap Zahra memegang tangan Riska


"berjanjilah bahwa persahabatan kita akan abadi Riska, aku sangat sangat berharap, aku takut jika suatu saat ini persahabatan kita hancur karena kesalahpahaman atau apapun itu," ucap Zahra khawatir.


"iya gua janji, kita akan terus bersahabat sampai mati, ya haha," mereka berdua tersenyum dan saling mengaitkan jari sebagai tanda janji.


"Eh katanya Lo akan nikah ya sama ka Rahman?," tanya Riska.


"hmh haha in shaa Allah Riska, doakan saja yang terbaik ya, semoga lancar. In shaa Allah dua Minggu lagi kita tunangan, tapi ngk besar besaran jadi aku ngak buat undangan banyak banyak, aku malu di ketahui teman teman sekampus juga, jadi aku berniat menyembunyikan ini dari kampus, paling yang hadir cuma keluarga besar saja saat acara pertunangan, dan rekan rekan bisnis ka Rahman saat pesta pernikahan, bahkan wartawan tidak di perbolehkan hadir karena aku kurang suka heh,"


"Wah ka Rahman sangat sayang sama lo ya, gua jamin kalian pasti akan bahagia, terus bersama percayalah padanya bahwa dia akan senantiasa selalu bersama lo, lihat apa yang telah dia perbuat buat lo selama ini kan?," ucap Riska yang ikut berbahagia mendengar kabar baik dari Zahra


"iya Riska doakan saja kami bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, kamu datang ya besok saat acara pertunangan dan pernikahan aku tapi rahasiakan," ucap Zahra.


"iya tentu saja dong, eh ngomong ngomong kapan cari gaun nya, huh?," tanya Riska penuh dengan penasaran.


"kayaknya sih lusa ya, prewedding juga Minggu Minggu ini, cuma sesekali aja aku ngak suka yang terlalu glamour, tapi demi mengerti profesi ka Rahman jadi harus begitu," ucap Zahra menghela nafas nya.

__ADS_1


"ya harus lah, tajir!," ucap Riska menyindir.


"heish jangan seperti itu," Zahra termalu malu karena di goda oleh Riska.


....


Zahra kini sedang siap siap diruang Rias ia sedang di Rias, dengan gaun yang begitu megah, Mewah dan Anggun. Gaun yang di rancang oleh desainer terkenal hingga mendunia. Meskipun Zahra menolak untuk menggunakan gaun mewah tapi jatuhnya akan sama.


Mungkin di mata yang lain ini adalah gaun yang cukup sederhana akan tetapi bagi Zahra ini adalah gaun yang sangat mewah dan megah.


"sudah siap nak?," tanya Tini yang memasuki ruang rias Zahra dan mendapati Zahra yang sedang tersenyum malu dengan menundukkan pandangannya kepada Tin.


"Masya Allah anak mamah cantik banget," imbuh Tini yang melihat Zahra begitu cantik hari ini bagaikan tuan putri keturunan Arab, ya begitulah seorang ibu yang melihat anaknya saat itu, terlebih lagi seorang putri yang sedang di hiasi bagaikan seorang ratu di hari terpenting nya.



Zahra tersenyum malu tertunduk melihat Tini yang telah datang menghampirinya.


Kini acara pertunangan telah dimulai, Zahra di sambut hangat para tamu hadirin yang terdiri dari keluarga besarnya dan kerabat terdekat mereka, karena Zahra masih bersikeras untuk menyembunyikan pernikahannya kepada teman temannya di sekolah.


"Zahra sayang, ini hadiah dsri mama untuk kamu sayang," ucap Yeni memberikan sebuah kalung berlian untuk Zahra sembari membelai wajah Zahra dengan lembut.


"tidak apa apa mama Yeni ngak perlu semewah ini,"


"ini dulu adalah kalung pemberian dari ayah Andrean loh saat ngelamar mama Yeni, jadi karena kamu sekarang akan menjadi menantu dirumah ini mamah kasih buat kamu ya tolong jaga dengan baik,"


"ya Allah terima kasih banyak mama Yeni, In shaa Allah Zahra akan jaga dengan baik.


setelah beberapa jam lamanya akhirnya hari pertunangan telah berakhir, Zahra yang baru saja selesai membersihkan dirinya, ia berbaring di tempat tidurnya, Merakan lelah di sekujur tubuhnya karena hari ini kegiatannya sudah termasuk mewah, meskipun ia menginginkan yang sederhana.


Zahra baru saja ingin memejamkan matanya, namun ia terbangun lagi karena mendengar suara ponselnya yang berdering


"m? dari siapa ini? ko nomornya tak di kenal yah?," Tanya Zahra dan akhirnya mengangkat telepon tersebut, karena bisa saja itu penting.


"Halo?," sapa Zahra


"Halo my bidadari, bagaimana kabarnya aku rindu banget sama kamu," ucap seorang pria dari seberang telepon.


"!!," Zahra terkejut ia langsung mengambil posisi duduknya karena terkejut, ia mengenali suara itu, suara yang pernah sangat dirindukannya, suara yang sudah lama menghilang dari dirinya.

__ADS_1


"Kak Reza?!,"


Bersambung...


__ADS_2