Cinta Zahra

Cinta Zahra
Hubungan


__ADS_3

Suasana Zahra menjadi sunyi, hati yang sudah terisi kini kembali sepi, kasih yang sudah hampir terpenuhi kini terletak kan kembali. Janji suci yang akan terkait namun seperti akan terasa pahit.


Ketenangan yang hampir saja akan diraih secara sempurna oleh Zahra seolah olah terasa akan seperti hancur lagi, entah apa alasannya hati nya merasa sungguh tidak karuan saat ini. Suara yang ia dengan dari balik telepon memang adalah suara yang sudah lama ia rindukan dan namanya sempat terukir di hati Zahra, kekecewaan menyelimuti kebahagiaan, kesedihan menyelimuti ketenangan. Atas rasa kecewa dan kesedihannya karena kepergian Marko, Zahra mulai menetapkan hatinya untuk Rahman seorang yaitu yang nantinya in shaa Allah akan menjadi kekasih pilihan Allah.


"Ra? ko diam," Ucap Reza dari balik telepon karena Zahra terdiam tak berkata apa apa.


"hmh, iya ada apa?," tanya Zahra ragu, tidak ingin merusak suasana hatinya semakin dalam.


"ada apa? ah, ga apa apa si, aku cuma merindukan kamu saja. Dan aku ingin menjelaskan kejadian kenapa aku tidak pernah menghubungimu sekitar satu tahun belakangan ini," ucap Reza dengan merendahkan nada suaranya seperti ada sedikit kesedihan karena telah mengecewakan Zahra.


"oh masalah itu ga apa apa Ka, aku tidak mempermasalahkan nya,"


"bukan begitu Ra, kamu harus dengar dulu penjelasan aku,"


"tapi maaf aku ga bisa keluar untuk bertemu," ucap Zahra dengan tegas.


"oh, hmh, baiklah kalau begitu dengarkan aku melewati telepon saat ini," ucap Reza yang sedikit bersedih karena Zahra terdengar seperti memang memang tidak ingin menemuinya sama sekali.


apakah Zahra sudah benar benar melupakan Reza?, tidak ingin memandangnya atau hanya sekedar melihatnya lagi?. itulah yang ada di dalam benak Reza


"yah silahkan," ucap Zahra tak yakin.


"kamu pasti sudah mendengar bahwa aku mendapatkan tuduhan pemerkosaan, tapi jujur aku tidak pernah melakukannya demi Allah Ra, aku ga pernah melakukan itu, yang selalu ku pikirkan itu hanha kamu seorang, yang selalu ku panjatkan namanya di doa ku adalah kamu, tidak pernah terpikirkan olehku untuk melihat wanita lain selain dirimu, meskipun hanya bayang bayangan semata," jelas Reza yang membuat Zahra terkejut tak percaya, siapa kah yang benar dan salah, ia semakin bingung dan tidak tau untuk menetapkan dirinya pada siapa. Yang Zahra percayai saat ini hanyalah petunjuk dari Allah, yang akan ia jalankan tanpa harus dipertanyakan.


"saat itu ada seorang wanita satu kampus ku, dia ber meminum minuman ber alkohol lumayan banyak, ia menelepon ku dan memaki maki ku, karena aku menolak cinta nya saat itu, dan ditambah lagi aku menyebutkan namamu sebagai wanita yang aku cintai," imbuh Reza.


"!!!," Masih dengan perasaan terkejut Zahra tidak mengeluarkan kata kata apapun ia hanya terdiam dan melihat dengan mata kosong.


"Ra kamu masih disana?," tanya Reza yang tidak mendengar Zahra menjawab apapun.


"baiklah, asalkan kamu mendengarkan saja, aku sudah bersyukur. Saat itu aku membantunya untuk pulang, memapah tubuhnya hingga kamar kos kosannya, sempat ia memelukku erat dan tidak ingin melepaskan ku, setelah itu ke esokan harinya ia melapor bahwa akulah yang merebut kesuciannya, padahal aku berhasil lepas dari pelukannya dan kembali pulang," ucap Reza dengan menghela nafas panjang nya, masih mencoba untuk berbicara meskipun tidak ada jawaban


"prosesnya lumayan panjang, menjadi tahanan sementara sampai menemukan bukti seutuhnya, dan akhirnya mereka menemukan beberapa saksi sebagai bukti, serta barang barang milik orang yang melakukan hal tersebut pada wanita itu, hingga dialah yang terbukti bersalah, aku tidak berbohong Zahra. aku bersungguh sungguh," Ucap Reza dengan segala kejujurannya, mengharap Zahra bisa memahaminya.


."huh!," Zahra menarik nafas panjang.


"ka bisa kah kita bertemu? tapi tidak sekarang, lusa setelah aku pulang kampus, bukankah Kaka ada disini oleh karena itu Kaka bisa memberiku kabar dan ingin bertemu dengan ku untuk menjelaskan sebuah ke salah pahaman di antara kita?," Ucap Zahra, yang akhirnya mulai berfikir jernih lagi. Reza yang mendengar hal tersebut, sungguh sangat sangat senang dan bahagia, tidak ada alasan untuknya menolak saat itu. tanpa membuang buang waktu Reza langsung mengiyakan saja apa yang di katakan Zahra.


Iya ya Allah aku harus membuat semua ini menjadi jelas, Gumam Zahra dalam hati.


....


"Ra gimana kalau yang ini aja kartu undangannya, bagus loh desainnya simple, tapi istimewa," ucap Raditya yang sedang memilihkan desain undangan untuk hari pernikahan Zahra.


"Iya terserah Kaka aja, lagi pula juga kan cuma keluarga besar sama rekan kerja ka Rahman aja," Jawab Zahra sedikit tak fokus karena ia menerima telefon Reza semalam.


"rekan kerja aku ngak sedikit loh Ra," sahut Rahman yang merasakan kegelisahan pada diri Zahra


"ah?? oh iya, bagus sudah yang itu," Zahra terlihat menghela nafas berkali kali, dan memikirkan sesuatu yang mengganggu dirinya.


" Kamu ga apa apa kan de?, kamu ko kaya ga fokus," tanya Raditya lalu merasakan suhu tubuh Zahra dengan memegang kening dan pipi Zahra.


"ga apa apa Ka, cuma kecapean aja," Zahra memegang tangan Raditya.


"Ya udah istirahat aja, biar Kaka sama ka Rahman yang memilihkan buat kamu," ucap Raditya.


"iya ka makasih," Tanpa bertanya apapun Zahra langsung pergi untuk beristirahat bahkan ia tak melihat Rahman sedikitpun.


Apa yang membuat mu terganggu?, jangan membuatku cemas dan takut. Apa pun itu aku akan segera mengetahuinya. ucap Rahman dalam hatinya.


......


Hari di mana Zahra berjanji akan bertemu dengan Reza telah tiba. Zahra terlihat terburu buru saat akan pulang kuliah, bahkan tidak terlalu memfokuskan Riska yang datang untuk mengajaknya pulang bersama.

__ADS_1


"Ra, jalan yuk kan lu bentar lagi mau nikah ni jarang jarang kan kita akan punya kesempatan jalan bareng," Ajak Riska pada Zahra yang sudah sangat merindukan Zahra karena Zahra terlalu sibuk dengan urusan pertunangan dan pernikahan nya.


"Maaf ya Riska, hari ini ga bisa," Zahra memegang wajah Riska dan bergegas ingin pergi.


"Ra Lo sibuk banget si, gue kan kangen,"


"!!!" Zahra merasa terkejut ia merasa bersalah seketika itu, karena memang belakangan ini ia jarang sekali memiliki waktu bersama dengan Riska.


"Aku janji Sabtu ini seharian aku sama kamu, bahkan aku usahain nginep dirumah kamu, kalau perlu aku berlutut sama mamah biar di kasih, lagi pula kan kalau sudah menikah, waktu aku jadi terbatas, masa mamah ga ngasih. Yah ga apa apa ya," Zahra menatap Riska dengan penuh harap dan ketulusan karena ia benar benar menyesal karena tidak bisa bersama sahabat nya itu akhir akhir ini.


"hmmh iya deh janji ya," Riska menghela nafas panjang, dan mengaitkan jarinya sebagai tanda janji.


Zahra lalu bergegas pergi meninggalkan Risa, Riska curiga karena ke terburu buruan Zahra, sehingga ia ber inisiatif untuk mengikuti Zahra diam diam.


Sedangkan di kantor Rahman mendapat telepon dari seorang bawahan nya.


"Tuan, nona sedang pergi keluar namun nampaknya ia tidak pulang ke rumah," Lapor bawahan Rahman yang berprofesi sebagai pengawal


"Terus ikuti dia, jaga nona jangan sampai ada apa apa yang terjadi,"


"Baik tuan," Rahman mengakhiri panggilan, dan meminta alamat yang dituju Zahra nanti ketika sudah didapatkan nya.


....


Reza telah menunggu kedatangan Zahra lebih Awal di sebuah kafe tempat mereka berdua berjanji akan bertemu, Reza sangat senang karena setelah dua tahun ia baru bisa bertemu dengan Zahra.


"Assalammualaikum Zahra," Ucap Rahman yang menyambut kedatangan Zahra.


"Waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh ka," Jawab Zahra dan melihat ke sekeliling.


"mau pesan apa Ra, nanti aku yang traktir," ucap Reza.


"ini teh hangat kan, ini aja sudah ga perlu yang lain," ucap Zahra yang melihat telah ada hidangan teh di meja nya.


"Ra?," ucap Reza.


"Begini ka, jadi atas hubungan kita aku minta maaf," ucap Zahra lirih dan memegang tangannya yang terasa dingin.


Dari kejauhan Riska telah melihat Zahra sedang bertemu dengan Reza.


Dan akhirnya yang paling pertama ditemui adalah dia. Ucap Riska dalam hati lalu pergi dari tempat itu.


"Ra aku minta maaf ya, untuk semuanya terutama karena aku telah menghilang dari kami, tapi aku bisa ko memperbaiki semuanya, aku hanya meminta agar kamu memberiku kesempatan saja maka aku akan memperbaiki segalanya.


"Maaf ka tapi sudah tidak ada yang bisa diperbaiki, aku sudah tidak memilih kak," Zahra memejamkan matanya.


"Aku akan menikah Minggu depan!," ucap Zahra setengah mengeraskan suaranya


"!!!" Reza terkejut mendengar pengakuan Zahra.


"kemarin lusa aku telah tunangan ka, aku minta maaf tapi aku tidak bisa untuk berharap sama Kaka lagi," ucap Zahra dengan menunduk.


"masih tunangan kan, belum menikah, masih bisa menjelaskan kepada mereka bahwa ada ke salah pahaman pada kita,"


"Apa?" Zahra tidak menyangka dengan jalan berfikir Reza.


"semudah itukah Kaka berfikir?, setelah Kaka menghilang membuatku merasa kalang kabut, dan menjalani semua tanpa penyemangat, hanya ka Rahman yang ada, dia memberi kepastian dan kejujuran, dia tidak tiba tiba menghilang kalau datang untuk menghancurkan semuanya. Mungkin inilah yang Allah tunjukkan kepadaku, lagi pula aku juga begitu yakin pada ka Rahman karena petunjuk Allah," Ucap Zahra dengan penuh rasa kecewa.


"Lalu bagaimana dengan aku? aku yang berjuang dari awal untuk kamu,"


"subhanallah aku ga ngerti dengan cara berfikir Kaka, jika perjuangan sebenarnya Kaka lah orang ketiga di antara kami, karena memang dari awal aku harusnya mendengarkan kedua orang tuaku yang menginginkan aku dengan ka Rahman jauh dari sebelum aku mengenal Kaka," Zahra terbawa emosi ia tidak tau harus berkata apa lagi karena reaksi Reza yang di luar ekspektasi Zahra.


"Maaf ka, baiklah kalau begitu aku permisi," Zahra lalu bergegas ingin pergi. Reza mencegah Zahra dengan memegang lengan Zahra.

__ADS_1


"Ka Reza lepas, di lihatin orang," ucap Zahra yang sudah merasakan cengkraman Reza yang semakin mengeras.


"Jauhkan tangan kotor anda dari lengan calon istri saya," Ucap Rahman yang tiba tiba datang.


Reza geram namun ia memilih untuk melepaskan Zahra, karena tidak ingin ada keributan.


"ga apa apa?," Tanya Rahman yang dijawab gelengan kepala oleh Zahra. Lalu Rahman membawa Zahra untuk pulang bersama nya


" bagiamana Kaka bisa tau aku disini? apakah Kaka mengikuti aku? " Tanya Zahra tak suka


"Emangnya aku kurang kerjaan apa ngikutin kamu, ga lihat tadi ada klien aku, lagi pula juga itu kafe salah satu dari cabang perusahaan Adiwijaya," ucap Rahman.


oh iya ya, haeh malu sekali aku. gumam Zahra dalam hati dan memejamkan matanya menahan malu. Hal itu dilihat oleh Rahman, yang langsung dapat membuat Rahman tersenyum.


"eh Kaka ga nanya kenapa aku bisa bertemu dengan ka Reza tadi?,"


"untuk apa bertanya?," jawab Rahman.


"iya karena kan kita..,"


"Lalu apa masalahnya dengan hubungan kita?, memangnya kamu selingkuh? berniat untuk membatalkan pernikahan?,"


deg


Zahra terkejut, karena Reza memang membujuknya untuk itu.


"intinya aku percaya sama kamu, aku percaya kamu orangnya bertanggung jawab," imbuh Reza.


"terima kasih banyak," Zahra tersenyum karena Rahman begitu mempercayainya.


.....


Kini hari Sabtu telah tiba, Zahra sedang menginap dirumah Riska, mereka menghabiskan waktu bersama, bermain game bersama, bercerita bersama, menonton bersama, semua yang dilakukan bersama, sampai sampai mereka melakukan perang bantal karena permainan mereka. Bisa berbahagia bersama dengan seorang sahabat yang paling kamu percayai dan sayangi adalah sesuatu yang menyamankan dirimu, dan dapat membuatmu merasa tenang, hal itulah yang sedang di rasakan oleh Zahra dan Riska saat ini.


Kini mereka telah lelah dengan apa yang telah mereka lakukan seharian ini, keduanya sedang terbaring di atas kasur, memandang ke arah langit langit atap.


"Ra," ucap Riska lirih memandang kearah Zahra.


"Gua sayang banget sama Lo," imbuh Riska


"sama aku juga," jawab Zahra tersenyum


"Kalau gua suka sama cowok, terus gua udah pacaran ko dukung ga?,"


"mh? wah siapa tuh?"


"jawab dulu orang gua yang nanya, gimana si" kesal Riska


"ya, tergantung itu dari mana dan bagaimana perilaku dia memperlakukan kamu dan menghormati kamu, hati hatilah kepada lelaki jangan sampai hal hal yang tidak diinginkan sampai terjadi padamu nanti, aku menyayangimu, tidak ingin rasanya jika sampai sahabat tersayang ku ini harus mendapatkan hal hal yang buruk," jelas Zahra.


"itulah sebabnya gua sayang banget sama Lo, Ra kalau gua ada di jalan yang salah Lo bakal ninggalin gua ga?,"


"ya ga lah, bagaiman pun juga, aku akan selalu ada untuk kamu, mencoba mengembalikan kamu, kalau bisa membantu kamu berubah menjadi lebih baik lagi, aku tidak akan ingin persahabatan kita rusak, karena rasa ketidak pedulian aku sendiri,"


"Ra cowok ini, ganteng, baik kita udah kenal lama sama dia, hanya saja gua belum minta lo untuk menilai dia, tapi gua rasa Lo jauh mengenal dia, dan ga tau ini bener atau ga, gua juga ga yakin ama perasaan nya dia, tapi gua terima dia dan suatu saat dia pasti juga akan memiliki perasaan yang tulus buat gua,"


"wah kayanya serius suka ni, siapa sih lelaki beruntung itu yang bisa dapatin sahabat aku," Tanya Zahra dengan penuh penasaran.


"Ka Reza Ra,"


"!!!"


Disisi lain Reza sedang bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin membalas mu dengan melukai kamu akan sulit untuk kamu merasa sakit yang dalam, tapi bagaimana jika melalui sahabat sendiri?, caraku kali ini berbeda!,"


bersambung....


__ADS_2