
Bagaikan tersambar petir sebuah kabar yang tidak ditunggu tunggu, yang tidak diduga duga namun kini tersampaikan juga.
Bapa Riska mengambil hasil USG itu dari dokter lalu menghela nafas panjang dan tersenyum.
" Terima kasih dokter," ucap bapa Riska lalu pergi dengan Riska dan Alfie.
"pak?," Panggil Riska dengan lirih didalam mobil Alfie.
"kita bicarakan dirumah ya nak ya,"
"iya," jawab Riska dengan menundukkan kepalanya.
"nak Alfie tolong rahasiakan ini ya," bapa Riska memegang lengan Alfie
"iya pak saya mengerti," jawab Alfie.
...
Sesampainya dirumah Riska berdiam diri di kamar sesuai dengan perkataan bapaknya. Alfie yang mendengarkan dan menyaksikan dari awal hanya berdiam diri dan berusaha berfikir jernih agar dapat menemukan sesuatu untuk memecahkan masalah.
Ibu Riska begitu terkejut karena mengetahui apa yang terjadi, dia terkulai lemas dan terduduk di sofa, Riska yang mendengarkan kedua orang tuanya berbicara mencoba untuk menahan tangis agar tidak terdengar oleh kedua orang tuanya.
"aku akan pergi kerumah Reza Bu,"
"iya pak,"
Saat itu juga bapak Riska pergi menemui Reza dirumah Reza di sana sedang berkumpul Reza dengan teman temannya, sedangkan Alfie datang untuk menemani bapak Riska.
"iya bapak ada apa?," Tanya Reza dengan lembut dan sopan, serta mempersilahkan duduk pada bapa Riska, duduk di ruang yang bersebelahan dengan teman temannya.
"begini nak Reza saya minta maaf sebelumnya, karena saya sempat menyinggung nak Reza waktu itu,"
"oh iya bapak, tidak apa apa saya sudah memaafkan bapak, saya sudah melupakan nya," jawab Reza dengan lembut dan hormat.
"nak Reza begini, Riska hamil," ucap bapa Riska yang membuat Reza terkejut.
"Apa? hamil?,"
"iya nak Reza saya memohon pada nak Reza untuk menikahi putri saya," bapa Riska memohon.
"tapi pak saya bahkan tidak berniat untuk menikah dengan siapapun saat ini," jawab Reza. Yang kala itu terdengar oleh teman temannya dan menjadi pusat perhatian para teman nya itu.
"nak Reza saya mohon sama kamu, semua biaya biar saya yang tanggung," ucap BAP Riska.
"Alaa sudahlah jangan omong," sahut salah satu teman Reza yang menghampiri nya dari ruangan sebelah.
"sudah cukup jangan ikut campur urusan gua," timpal Reza pada teman nya itu.
__ADS_1
"udah lah Reza ngapain di ladeni, mereka maksa gitu orang nya sama Lo, palingan juga anak nya itu hamil sama anak orang, pacar nya sebelum Lo pasti banyak kan tapi cuma Lo aja yang di pojokin,"
"cukup! Diam! bisa diam ga sih Lo pada, mending pergi dulu deh ya malam ini, Lo itu risih tau ga, gua tau Riska itu ga begitu anaknya, gua kenal dia udah 4 tahun dia anak yang baik sebelum ini dia ga pernah Deket sama cowok lain selain gua ngerti ga," Bentak Reza yang membuat temannya itu terdiam dan kembali pada posisi semulanya.
"bapak jika memang menikah adalah jalan satu satu nya saya bersedia pak," jawab Reza pada bapa Riska
"terima kasih banyak nak Reza terima kasih banyak," ucap bapa Riska dengan penuh kegembiraan.
"tapi bapak saya ada permintaan,"
"iya nak Reza apa itu?,"
"saya yang akan membiayai pernikahan sebagai tanggul jawab saya, tapi setelah ijab qobul saya akan langsung menceraikan nya karena saya memang belum ingin menikah," ucap Reza.
"!!!" Alfie dan bapa Riska sangat terkejut, Alfie ingin memukul Reza lagi, namun tangannya di pegang oleh bapa Riska.
"aku pikir kamu orang yang lebih terhormat, tetapi ternyata tidak, aku sungguh kecewa pada lelaki yang berkepribadian seperti kamu, jika memang begitu lebih baik tidak usah," ucap bapa Riska dengan tegas.
"ya, saya mau bilang apa lagi jika memang bapa tidak mau,"
"baiklah, permisi," Alfie dan bapa Riska pergi meninggalkan Reza.
......
sesampainya dirumah ibu Riska sudah terlihat menunggu dengan cemas.
"bagaimana pak?," tanya ibu Riska antusias. dan bapak Riska menjawab dengan menggeleng geleng kan kepalanya.
"tapi pak Riska masih terlalu muda, aborsi juga adalah hal yang berbahaya dan menyakitkan,"
"tetapi itu adalah satu satunya cara Bu untuk menyembunyikan rasa malu keluarga kita, kita juga bersalah karena tidak terlalu mendidik dia dengan benar, mau marah juga sudah tidak bisa Bu,"
"tapi pak,"
"dengar Bu, percaya sama bapak ya, bapak yang akan berbicara sama Riska,"
"baiklah pak,"
.....
Riska sedang terduduk di kasurnya, menangis pelan di atas kasur nya, Bapa Riska menghampirinya dan terduduk di sampingnya.
"maafkan Riska pak," ucap Riska dengan lirih.
"iya nak, sudah tidak apa apa, tapi jangan di ulangi lagi ya, semua sudah terjadi tidak ada gunanya berlarut dalam keterpurukan,"
"iya pak," jawab Riska.
__ADS_1
"Riska bukan nya bapak tidak menyayangimu, ataupun tidak perduli padamu, tapi bapak mohon kepada mu agar kamu mau untuk menggugurkan kandungan mu nak," ucap bapak Riska dengan hati hati agar tidak menyinggung atau pun melukai perasaan Riska.
"iya pak Riska mengerti," Riska mengangguk pelan. Setelah beberapa saat kemudian Riska tertidur lelap dalam tidurnya, namun ia terkejut dan terbangun dalam tidurnya di sepertiga malam nya.
Riska melihat ke arah jam ia melihat bahwa jam menunjukkan pukul jam tiga pagi. Ia lelah dan ingin tertidur lagi
"mama," terdengar suara anak kecil yang memanggil, ia seperti memanggil Riska namun Riska masih belum memiliki anak
"mama?," terdengar lagi suara lirih anak itu, yang membuat Riska sedikit terkejut.
"mama jangan takut, aku ingin hidup ma,"
deg
"aku hidup karena mama, aku bernafas melalui mama, aku mendengar dan melihat melalui mama, aku masih ingin melihat dunia ma tolong jangan buat kesempatan untuk ku ini hancur," Suara lirih anak itu terdengar sedang bersedih.
Riska menutup mulutnya lalu ia mencari cari darimana asal suara itu, setelah mencari cari ternyata yang ia temukan suara itu berasal dari arah dinding yang ada kaligrafi ayat Alquran nya dan semakin jelas terdengar suara anak itu memanggilnya dengan sebutan "mama", ia menangis sejadi jadinya dan menyesali segala sesuatu yang telah ia lakukan terhadap pengkhianatan Tuhannya.
"tidak aku tidak bisa mengakhiri hidup janin ini, dia tidak bersalah, akulah yang bersalah akulah yang seharusnya bertanggung jawab, dia tidak tau apa apa," Riska memegang perutnya perlahan, lalu ia duduk termenung dengan sejenak, lalu ia berfikir untuk melakukan shalat tahajjud. Sudah lama ia tidak pernah menyembah tuhan nya, akan kah ia diterima kali ini? itulah pikiran yang ada di dalam benak Riska.
aku yakin besok bapa dan ibu akan mengerti akan keputusanku untuk mempertahankan janin ini. Fikir Riska setelah shalat tahajjud.
....
Ke esokan harinya bapa Riska bersiap untuk membawa Riska ke spesialis dokter kandungan untuk menggugurkan kandungan Riska.
"ayo nak," Ajak bapa Riska.
"bapak maaf tapi Riska tidak bisa," jawab Riska dengan menundukkan kepalanya.
"haha kamu ngomong apa sih nak, sini ayok," bapa Riska ingin meraih tangan Riska namun Riska menghindari nya.
"nak?," panggil ibu Riska lirih yang melihat Riska seperti itu.
"ibu, ibu perempuan kan, ibu pasti mengerti keputusan ku,"
"tapi nak," jawab ibu dengan lirih.
"sudahlah Riska jangan mengada-ada cepet ikut bapak!," bentak bapa Riska
"ga pak! Riska akan mempertahankan janin ini!," teriak Riska dengan menangis.
"oke kalau begitu kamu bukan anak bapak lagi, kamu sudah memalukan keluarga, kamu pergi dari rumah sekarang juga!," bentak Riska.
"!!" ibu Riska terkejut akan perkataan suaminya.
"baiklah pak, jika itu yang terbaik Riska pergi,"
__ADS_1
"!!" bapa Riska dan ibu Riska lebih terkejut lagi dengan pilihan Riska.
bersambung....