Cinta Zahra

Cinta Zahra
keterlambatan


__ADS_3

Entah apa yang terasa, angin seolah olah merasuki tubuh dengan kencangnya, hari serasa gelap, matahari seolah olah hilang, tangisan terus terlaksana, bagaikan bumi yang akan hancur bertubi tubi.


Aria melihat Zahra dari balik ruang kaca, tak lama kemudian Tari dan Ningsih datang, begitupun dengan Yeni, Tini, Leela yang ikut datang untuk bertemu dengan Zahra karena mendapati Firasat buruk nya yang ingin bertemu dengan Zahra. Mereka terkejut seketika serasa ada petir yang menyambar melihat alat besi yang berusaha untuk menyadarkan Zahra, besi yang tertempel didadanya beberapa detik lama nya dan diulang ulang berkali kali.. setelah beberapa kali alat besi itu menempel di tubuhnya akhirnya Zahra terbangun ia melihat keluar ruangan kaca, dengan penuh senyuman dengan wajah berseri seri.


mas.. kau mendengarkanku? untuk datang pagi pagi hari ini, ada mamah, ibu dan Para sahabat ku? betapa bahagianya aku, apakah mereka merindukan ku, aku malu terlihat dengan keadaan seperti ini, ah! mana bu octa? aku juga sangat merindukannya, dia banyak membantuku dulu hmmh.. tunggu Ayah!! azan, dan apakah itu bayi yang ada dirahimku, mereka kembar? oh apakah kalian datang untukku, tunggu dulu mengapa buk octa juga datang bersama kalian?. bolehkah, bolehkah aku menggendong anak anak aku.Zahra


*mama azan rindu. terdengar suara anak lelaki yang menghampiri Zahra tak lain ialah Azan


Azan! itukah kamu nak? kamu bisa bicara?


ini adek azan ma. jawab Azan sembari menggenggam tangan kedua anak bayi yang ada pada pelukan Bayu


maafkan ibu nak, ibuk pergi lebih dulu tanpa mengabarimu.. Octa juga ikut datang menemui Zahra namun ia dalam dunia yang berbeda sama seperti Azan, Bayu dan kedua bayi Zahra yang meninggal karena keguguran


apa maksud buk Octa?, ibuk tidak punya salah, aku sangat berterimakasih pada ibu..


sinilah nak ikut dengan kami, kamu akan bahagia disini. Bayu menjulurkan tangannya pada Zahra ingin agar Zahra menggapai nya


bolehkah ayah? apakah boleh?.


iya kemarilah nak, kami merindukanmu*.


Zahra penuh senyuman, ia meraih tangan ayahnya, namun di sempat kannya dirinya untuk memandang semua orang yang datang menjenguknya hari itu, ia tersenyum sebelum pergi menghilang, sempat melihat dokter yang berusaha membangunkannya lagi, namun usahanya tak kunjung jua..


Tuuuuuuuuuuuuut


"pukul kematiannya 6:45 WIB." ucap sang dokter.


"TIDAAAAKKKKKKKKKKKKKK ANAKKUUUUUU!!!!! ZAHRAAAAAA!!" Ningsih menangis sejadi jadinya baru saja ia menemui anaknya tetapi langsung pergi dalam waktu sejenak..


"tidak!! tidak mungkin, mengapa!! mengapa ya Allah!!" Aria yang terjatuh dari berdirinya, ia menangis sejadi jadinya, simbok datang mengelus elus Aria, begitu juga dengan Tari yang langsung memeluk Ningsih.


"aaaaaa, Zahra bangunlah aku datang, aku datang, mengapa!! mengapa tidak ada yang memberitahuku bahwa keadaan mu seperti ini, mengapa..." Tini menangis memukul dadanya rasa sesaknya begitu menyakitkan hati.


"sudahlah Tini sudahlah, bukan ini yang dia harapkan dari kita," Yeni berusaha menenangkan Tini, ia memeluk sahabatnya itu.


"mbak Tini sabar ya, biarkan Zahra tenang dialam sana, ikhlaskan dia" Leela yang kini ikut menangis, memeluk tini untuk menenangkan nya.


"aku terlambat simbok.. aku terlambat,," Tangis Aria didalam pelukan simbok.


"sudahlah tuan sudahlah, tuan harus tenang agar nona tenang dialam sana," tenang simbok.

__ADS_1


"seandainya.. seandainya aku menemaninya semalam, seandainya aku menyadarinya lebih awal, seandainya aku lebih peduli padanya!!, seandainya rasa egoku tidak lebih besar daripada rasa cintaku padanya, mungkin tidak akan seperti ini, apa gunanya aku ini!, seandainya aku tidak menghukum dia yang tidak bersalah simbok!!," penyesalan Aria bertubi tubi


"sudahlah tuan sudah, ini semua sudah rencana Allah, ikhlaskan lah, allah tau yang terbaik," Aria semakin mempererat pelukan simbok. ia membayangkan kenangan kenangan manis bersama Zahra, tidur dipangkuan Zahra namun semua kenangan itu buyar seketika saat teringat bahwa Aria telah menolak untuk tidur dipangkuan Zahra semalam. penyesalan pun semakin terjadi, penyesalan tinggallah penyesalan, semua sudah terlambat tidak ada gunanya..


***


kini tahlilan sedang berlanjut suasana duka terjadi, semua menjadi hitam, tangisan demi tangisan tiada henti, sementara itu dikediaman Andrean, Andrean baru pulang untuk berlibur beberapa hari dari pondok nya.


"Andrean?, "


"ya ibu,"


"ikut nak?,"


"ibuk mau kemana?,"


"kita tahlilan nak?,"


"!!!, innalillahi wainnalillahirojiun, siapa yang meninggal bu,"


"istrinya Aria nak, nak Zahra, "


"Zahra!!," Andrean langsung bergegas menuju mobilnya, ia berpamitan untuk pergi lebih dulu, ia nginjak gas dengan kecepatan tinggi.


***


sesampainya ia dirumah Zahra ia melihat jenazah Zahra yang telah berbalut kain, dengan puluhan orang membacakan surah yasin, Andrean berjalan mendekat kearah jenazah Zahra, yang tetap saja menggunakan kerudung, ia terduduk didekat kaki Zahra ia mulai terisak tangis.


"hei mengapa kamu tidak mendengarku haah bangun!!, aku menyuruhmu untuk menunggukukan, meskipun kau diam saat itu, tapi tetap saja itu jawaban iya untukku!! aku masih belum menyerah Zahra!! jadi, cepat bangun!!! ilmu agamaku sekarang sufah bertambah meskipun sedikit, japi tolong bangunlah, aku akan menjadi yang kau mau," masih terduduk menggenggam lututnya tak berani menyentuh Zahra karena itu akan membuat Zahra marah.


"hei! dia istriku!!," ucap Aria dari belakang Andrean.


Andrean langsung meraih kerah baju Aria dan memukul wajah Aria.


"Andrean!!, " teriak ibu Andrean yang baru saja tiba.


"apa yang telah kau lakukan pada Zahra hah, terakhir kali aku pergi dia masih sehat sehat saja, bahkan mana azan sekarang hah!!,"


"dia anakku!!, "


"cih, dasar tidak berguna sudah kubilang jika kau menyia nyiakan dia akan ku rebut dia darimu, sekalipun tinggal jasadnya!!,"

__ADS_1


buuk


pukulan demi pukulan aria dan.Andrean saling memukul satu sama lain..


"sudahlah!!, " ucap Tari.


"biarkan saja tante, biarkan agar dendam dan penyesalan usai hari ini juga," ucap yeni.


setelah beberapa saat kemudian Aria dan Andrean saling berpelukan.


"mengapa kau melakukan ini padanya?," Tangis Andrean didalam pelukan Aria.


"akupun menyesalinya," Tangis Aria


"sudahlah sobat, mari kita mengaji bersama," ucap Andrean pada akhirnya.


suasana tegang itu sudah berakhir, menjadi suasana haru..


***


"laa ila ha illallah, laa ila ha illallah, laa ila ha illallah, " kini pemakan berjalan hingga selesai sebagaimana mestinya. meski tak rela beranjak pergi meninggalkan kuburan namun tetap harus pergi mengikhlaskan yang telah pergi.


sesampainya dirumah karena sedang berkumpul, simbok mulai memberikan apa yang telah dititipkan Zahra pada simbok untuk sahabatnya dan ibu bahkan suaminya.


semua semakin menjadi tangis karena disaat saat terakhir Zahra masih mengingat semuanya.


"bahkan hanya aku yang dilupakan," ucap Andrean yang melihat Aria mendapat syal dan dua buah surat.


"ini ada selembar surat untuk tuan dari nona," simbok memberikan surat pada Andrean. yang membuat Andrean ikut memecahkan tangis.


"sebelumnya nona juga meminta maaf pada tuan Aria karena memberi surat pada tuan Andrean tanpa izin tuan aria," ucap simbok.


"huh! sudah seharusnya karena dia hanya milikku," jawab Aria.


"hei berbagilah sedikit" sambung Andrean.


"hanya kali ini," sambung Andrean.


para sahabat Zahra menangis memandangi set perhiasan yang begitu indah, itu akan menjadi kenangan seumur hidup yang tak kan terlupakan dan tak terbuang.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2