
Setelah beberapa hari Riska berada dirumah seseorang yang baru saja di kembalinya, Riska dapat berfikir dengan tenang dan jernih karena keluarga itu memperlakukan Riska dengan baik, seperti anak sendiri.
"Riska ingin makan apa hari ini, atau mau ikut ibu ke pasar? biar bisa pilih sendiri apa yang kamu inginkan,"
"bolehkah buk?,"
"tentu saja,"
sesampainya di pasar, Riska ikut tertawa karena melihat ibu ibu di pasar sangat ramah dan dapat di ajak bercanda, meskipun ada beberapa yang sedikit pemarah tetapi sebagian besar di antara mereka begitu sangat baik.
"Riska?," Alfie memanggil Riska yang terlihat sedang tertawa, Riska melihat dengan perasaan terkejut dan sedihnya, tidak tersadarkan sebutir air mata nya jatuh dari pelupuk mata Riska.
"ka Alfie?," Lirih Riska.
Ka gua rindu sama Lo, rindu banget. Riska ingin berteriak namun ia tidak memiliki keberanian yang cukup.
Alfie setengah berlari dan memeluk Riska.
"aku rindu banget sama kamu," Ucap Alfie
"aku mencari kamu kemana mana tapi gak ketemu temu, kamu baik baik saja kan?," Alfi melepaskan pelukannya, dan meraba wajah Riska dan melihat ke seluruh tubuhnya mengkhawatirkan keadaan Riska.
Tanpa di sadari ibu ibu bahkan bapak bapak dan semua orang yang ada disekitar sana terdiam melihat keduanya berpelukan, jangan ditanyakan tentu saja sebagiannya berfikiran negatif.
"dia siapa nak?," Tanya ibu yang menyelamatkan Riska dengan lembut dan memegang tangan Riska.
"ah? dia...,"
"Saya suaminya Bu, dia istri saya, saya sangat merindukan dia," ucap Alfie memotong perkataan Riska, dan membuat semua ibu ibu tertawa bersama.
"ternyata suaminya ya?, wah kamu tampan sekali nak, dia juga sangat cantik, kalian adalah pasangan yang sangat serasi," ucap salah satu ibu ibu tukang sayur.
Sedangkan ibu yang membantu Riska hanya tersenyum mengerti keadaan mereka saat ini.
"ah apa yang cantik buk, istri saya tidak pandai merawat dirinya lihat saja pakaiannya seperti lelaki," ucap Alfie merangkul Riska dan menunjuk ke arah pakaian Riska.
"ih Kaka," ucap Riska malu
"ah kamu tidak tau saja nak, istrimu ini sangat cantik, lihatlah wajahnya yang putih dan mulus, hanya penampilan yang seperti lelaki tetapi tidak bisa menutupi aura kecantikannya," sahut ibu ibu itu lagi. Riska pun tertawa malu.
"ka perkenalkan ini ibu tempat Riska tinggal beberapa hari ini," ucap Riska
"oh, beli lah apapun yang ibu mau ya, nanti saya yang bayar saya sangat berterima kasih pada ibu," ucap Alfie pada ibu itu.
"benarkah?, haha jadi ga enak,"
"ga apa apa buk, tapi uang cash saya hanya bawa segini nanti kalau kurang saya ambilkan di ATM dulu ya Bu," Alfie memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah.
"wah terima kasih banyak loh nak,"
"saya ingin berbicara pada Riska dulu ya buk,"
"iya silahkan nak,"
.....
"bagaimana bisa Kaka sampai ke pasar?," Tanya Riska dengan heran karena Alfie bisa ke pasar padahal jika mau ia tinggal ke supermarket, dan lagi pula juga ia tidak perlu langsung turun tangan ke pasar.
"aku pernah ke pasar sama mamah, dan seru sekali jadi aku rasa ingin kepasar untuk melepaskan rasa lelahku karena dirimu yang menghilang entah kemana," ucap Alfie menggenggam tangan Riska.
"hmmh, bagaimana ke adaan ibu sama bapak ka?," Tanya Riska menundukkan kepalanya.
"ibu sama bapak pastinya merindukan kamu, pulanglah Riska jangan ambil hati kata kata beliau ya?, pulanglah," ucap Alfie memohon.
"Maaf ka aku ga bisa, ini kesalahan ku jadi aku harus menebusnya," ucap Riska melepaskan tangan Alfie.
"baiklah ka, jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, aku rasa ibu sudah selesai belanja di pasar, balik yuk," ucap Riska lalu di antar kembali oleh Alfie.
__ADS_1
....
"ibu ini sebagai tanda terima kasih untuk ibu, ku mohon terimalah," Alfie memberikan amplop yang berisikan uang untuk ibu yang membantu Riska.
"ah, tidak usah nak, ibu ikhlas, ibu mengerti ke adaan nya," ucap ibu itu lalu memandang Riska dan membelainya.
"aku mohon setidaknya ini bisa membantu ibu dan Riska juga, jadi dia bisa lebih puas di rumah ibu," ucap Alfie, dan akhirnya ibu itu menerima dengan tertawa.
Dia sangat baik terhadap nak Riska sebenarnya siapa dia?.
"ini tabungan buat kamu ya, kamu pegang beli apa saja yang kamu mau, jangan takut takut terutama untuk kebaikan kamu nanti aku transfer lagi okeh jadi jangan khawatir, jika ingin pulang hubungi aku ya," ucap Alfie memberikan sebuah kartu ATM yang isinya puluhan juta untuk Riska.
"terima kasih banyak ka" ucap Riska dengan tidak enak hati. Lalu Alfie pergi setelah mengecup kening Riska. Riska sempat terkejut namun rasa sayang dan rindunya membiarkan Alfie menciumnya sebagai tanda kasih sayangnya.
Setelah berada di dalam rumah, Riska melihat kartu yang di berikan Alfie dengan tersenyum dan menangis. Ibu yang membantu Riska pun menghampiri Riska.
"nak apakah kamu ingin pulang?, ibu bisa membantumu untuk berbicara pada orang tuamu,"
"aku tidak akan pulang, tapi bisakah ibu menelpon orang tua Riska untuk menanyakan kabarnya?,"
"baiklah," Ibu itu lalu menelpon ke nomor telpon rumah Riska.
"assalammualaikum," ucap ibu itu.
"waalaikummussalam," ucap bapak Riska.
"ada ibu Riska?,"
"ada, sebentar saya akan sampaikan,"
setelah beberapa saat kemudian.
"ya hallo?," ucap ibu Riska, dan ternyata yang sedang mendengar suara ibu Riska adalah Riska dari telepon. Riska menahan tangisnya mendengar suara ibunya.
"halo?, ini dengan siapa? " Riska masih saja tidak menjawab, ibu yang berada di dekat Riska membelai Riska.
"siapa itu hu?," tanya bapak Riska.
"tidak tau pak,"
"matikan saja kalau begitu,"
"tapi pak ibu sepeti merasakan sesuatu," ucap ibu Riska dengan perasaan batin seorang ibunya.
"Jika ibu masih memikirkan anak itu lagi, ibu mulai sekarang tidak boleh melakukan apapun, buang ingatan ibu jauh jauh tentang anak itu! ini juga kenapa kursi ini berada disini, bapak sudah bilang jangan tinggalkan satu barang pun yang mengingatkan bapak sama anak itu!,"
"bapak! jangan rusak itu, hanya itu yang tersisa bapak! bapak hanya itu yang kumiliki, sudah pak sudah!," teriak ibu Riska dengan menangis.
Riska mendengar suara kedua orang tuanya yang bertengkar karena dirinya melalui telepon, Riska pun menutup telepon karena tak tahan lalu menangis dengan suara yang besar.
"sudah ya nak ya sudah, jangan bersedih, yang sabarlah ya nak ya," ucap ibu yang berada di sisi Riska. Riska mengangguk dan memeluk ibu itu.
suami dari ibu itu melihat ke dalam, melihat Riska menangis dan merasa kasihan.
"Bu apakah akan baik baik saja bagi anak itu?," ucap suami dari ibu itu saat sudah diluar kamar Riska.
"entahlah pak, ibu rasa ini sangat berat,"
"dia harus pulang buk harus bisa menghadapi masalahnya baru semuanya bisa jelas,"
"iya pak ibu mengerti tapi sekarang suasananya masih sangat panas, akan sangat kacau dengan kondisinya yang seperti itu, ibu malah lebih mengkhawatirkan janin nya,"
"iya Bu, haruskah kita yang turun tangan?,"
"entahlah pak, yang kita bisa sekarang hanyalah membantu dia agar berfikiran tenang," ucap ibu itu
"iya Bu,"
__ADS_1
......
Zahra kini telah pulang ke negara asalnya berada, Zahra menghirup udara segar ia sangat merindukan negara asalnya itu dan sangat merindukan semua kenangan yang pernah ia lakukan di negeri tercinta nya.
"ka boleh kah Zahra pergi ke rumah Riska nanti," ucap Zahra.
"mh, terserah,"
"ih dingin sekali," gumam Zahra dengan suara yang kesal dan nada yang begitu rendah agar Rahman tidak mendengarnya.
"apa kamu bilang?," ucap Rahman yang mendengar Zahra menggerutu kesal.
"ah ga ada ko, haha yuk lah pulang," ajak Zahra mendahului Rahman.
"huh! dasar anak itu," ucap Rahman tersenyum.
......
Zahra kini sedang menghampiri rumah Riska untuk mengunjungi Riska ia sangat merindukan Riska. Rahman yang memberi ruangan pada Zahra membiarkan Zahra mengurus keinginannya itu sendiri.
"assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh ," ucap Zahra memberi salam di depan pintu masuk rumah Riska.
"nak Zahra," ibu Riska langsung memeluk Zahra dan menceritakan semuanya pada Zahra di dalam.
Zahra terkejut dengan apa yang terjadi, Zahra juga ikut memecahkan tangisnya membayangkan bagaimana keadaan sahabat tersayang nya itu saat ini.
Zahra pergi kebelakang untuk membuatkan minuman hangat untuk menenangkan pikiran ibu Riska, memang Zahra sudah merasa seperti rumah sendiri jika di rumah Riska oleh karena itu ia bisa melakukan apapun tanpa kesusahan.
Ibu Riska menyetel kaset yang berupa rekaman dirinya keluarganya, Riska dan juga Zahra, bahkan kenang kenangan Riska masih kecil. Ibu Riska menangis dan tertawa sesekali melihat rekaman yang menyenangkan namun menangis dengan penuh rindu.
Zahra yang datang membawa air minum ikut bersedih melihat kembali rekaman rekaman yang diputar oleh ibu Riska.
Bapak Riska datang dan terkejut melihat rekaman yang diputar oleh ibu Riska.
"apa yang kalian lakukan!," bentak bapak.
"pak ibu mohon!," ucap ibu Riska lalu berlari menuju kamar dan mengunci pintu.
Bapak Zahra menunduk dan menangis juga melihat rekaman yang di putar oleh ibu Riska.
lalu menghampiri ibu Riska.
"Bu, maaf kan bapak," ucap bapak Riska dibalik pintu, namun masih tidak ada jawaban dari ibu Riska.
"kalau begitu besok kita cari Riska ya?," ucap bapak Riska yang berhasil membuat ibu Riska membuka pintu.
"benarkah?,"
"iya," Riska yang melihat keduanya pun tersenyum.
.....
"Riska?," panggil ibu yang membantu Riska, namun tidak ada jawaban dari Riska sehingga mencoba mencari Riska namun masih tidak ada, akhirnya saat di dalam kamar Riska barang barang Riska sudah tidak ada, dan menemukan amplop surat dan uang yang berisikan ucapan terima kasih, ibu itu terharu dan meneteskan buliran air matanya.
"mungkin ini yang terbaik untukmu nak," gumam ibu itu lalu menghubungi Alfie dan memberi tahu bahwa Riska telah pergi.
"Apa?!," Alfie terkejut dan mencoba untuk menghubungi kekediaman Riska namun masih juga tidak ada kabar dari Riska dengan kata lain Riska memang tidak ada di kediamannya sendiri. Semua menjadi panik, dan saling menyalahkan dirinya sendiri.
seandainya ibu bisa jauh memperhatikan kamu dan membelamu nak. Ibu Riska.
bapak minta maaf nak karena belum bisa membimbing kamu menjadi anak yang lebih baik. Bapak Riska.
Riska aku minta maaf karena di saat saat kamu membutuhkan ku aku malah tidak ada untuk kamu. Zahra
Riska aku harap kamu tidak mengambil tindakan yang gegabah, jangan kemana mana, aku sayang kamu kita akan pulang bersama tunggu aku Riska, jangan kemana mana please. I can't life without you. Alfie
Maaf karena telah membuat kalian semua kesusahan akan diriku, aku rasa aku harus menghilang dari kalian semua dan merawat anak ku sendiri, ku harap dia bisa tumbuh dengan baik dan kalian bisa bahagia. Bapak, ibu, Zahra ka Alfi, dan ya ka Reza aku sayang kalian semua. Riska
__ADS_1
bersambung....