
"hmmh kamu bahkan sekarang tersenyum, apakah kamu tau seberapa merindingnya aku, huuhh lihat serasa ada gunung es di sekitarku tau," ledek Rahman namun Arnius hanya tetap terfokus pada makanannya.
"hmmmh lihatlah dia, tubuh mungilnya yang rentan, kini sedang berbaring pulas di atas kasur," ucap Rahman melihat ke arah istri tercinta nya yang sedang terbaring dengan sekujur tubuh yang lemah.
"nona adalah wanita yang kuat," ucap Arnius.
"hmmh," melihat ke arah Arnius dengan mengangkatkan dahinya
"that's true, my wife is everything," ucap Rahman lalu melanjutkan makannya.
"dialah yang terbaik, hanya dia yang ada di dalam hatiku," imbuh Rahman.
"aku yakin tuhan pasti kuat, nona adalah orang yang kuat dan kalian adalah pasangan yang serasi," ucap Arnius menenangkan Rahman.
"mmm, sekalinya kamu berbicara ternyata kamu juga bijaksana bagaimana kalau kamu menjadi pegawai di perusahaan ku? aku akan memberikan rekomendasi jabatan yang bagus buat kamu," ucap Rahman menawarkan.
"maaf tapi saya tidak berminat," jawab Arnius dengan wajah datar.
"hei kamu pikir tidak berapa gajinya itu di perusahaanku, mereka semua mendapatkan gaji 5 kali lipat daripada di perusahaan yang biasanya kau tahu itu," sahut Rahman.
"tetapi dengan menjadi tangan kanan tuan saya sudah lebih bahagia, masukkan pekerjaan sederhana ini," jawab Arnius.
"sudah-sudah jangan bicara lagi aku lebih suka dirimu yang tidak banyak bicara daripada yang sekarang ini, kau menyebalkan," pintar Rahman dan benar saja arnius sudah tidak berbicara lagi.
"lihat lihat dirimu itu sangat patuh bahkan sekarang kamu tidak berbicara lagi hanya karena instruksi ku yang meminta mu tidak berbicara dasar tidak seru!," entah apa yang didapatkan oleh Rahman, tapi kali ini memang benar-benar merasa terhibur karena kehadiran Arnius di dalam dirinya.
terima kasih banyak dari dulu kamu tidak pernah mengecewakan ku, kamu adalah salah satu orang yang paling ku percayai karena kamu menganggap diriku sebagai nyawamu sendiri, entah apakah kamu bodoh atau aku yang terlalu beruntung intinya aku sangat berterima kasih kepadamu. ucap Rahman dalam hatinya dengan memandang Arnius lekat.
......
kini waktu malam telah tiba, Rahman memandang wajah Zahra yang sedang terbaring lemah dengan bantuan selang di tubuhnya agar ia bertahan hidup.
"kamu kapan bangun sih aku rindu," ia memegangi tangan Zahra lalu tertidur disamping Zahra.
"aku mohon cepat bangun ya," Rahman lalu mengambil air wudhu nya melaksanakan salat sunnah nya sebelum ia tertidur, lalu ia mendekat kearah Zahra, memegang tangan azzahra dan tertidur sambil memegang tangan Zahra.
setelah beberapa saat kemudian Memey datang bersama dengan Yeni dan Andrean.
Memey melihat arnius yang sedang tertidur di sofa, lalu ia mencari Rahman dan mendapati Rahman yang sedang tertidur sambil memeluk tangan Zahra.
kalian nampak lelah aku harap kalian baik-baik saja, sehat-sehat selalu karena kak Zahra membutuhkan kalian. gumam ini dalam hatinya
"jangan berisik ya kak Rahman lagi tidur," ucap meme terhadap arnius, karena Aries terbangun melihat kedatangan Memey.
Arnius mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Memei.
Memey pun membalas arnius dengan senyuman.
Yeni menaruh makanan yang di bawanya di atas meja, lalu ia membelai kepala Rahman yang sedang tertidur di dekat Zahra.
"ini adalah cobaan dari Allah agar kamu bisa lebih kuat lagi jadi ibu harap kamu bisa, menjalani ini semua demi rumah tangga yang baik untuk kalian berdua," ucap Yeni dengan lirih dan bersedih melihat keadaan rumah tangga anaknya.
"ayah keluar dulu ya sebentar, Ayah ingin berbicara dengan dokter," ucap Andrean yang ingin keluar.
"iya yah Mama juga ikut, sekalian mau nanyain bagaimana keadaannya Zahra dan apakah ada perkembangan yang bisa diperoleh selama ini," sahut Yeni lalu mengikuti Andrean di belakangnya.
"iya ma ayo kita sama-sama," ajak Andrean
" Memei diam di sini ya," ucap Andrean memberitahu memei.
"iya mah ayah," jawab mengangguk dan memberikan senyuman kepada kedua orangtuanya.
setelah Andrean dan Yeni pergi, Memei pergi mendekati arnius yang sedang terduduk dan diam di atas sofa.
"kak arnius sudah makan?," tanya Memei pada arnius.
Arnius hanya membalasnya dengan memberikan sedikit tatapan lalu mengalihkan tatapannya setelah itu.
"kakak masih kayak dulu ya, disaat aku tanya dia kalau aku kasih kakak mau paling cuma ngambil hanya sesekali saja aku melihat kakak berbicara, terkadang kakak tersenyum pun aku hampir nggak pernah lihat," ucap memei lalu terduduk.
"Ya udah ini makan dulu ya tadi Memei buat sendiri loh, meme belajar masak tadi dari mamah, in shaa allah enak kok, nggak akan mati kok makan masakan Memei," ucap memei memberikan sebuah makanan kepada Arnius.
"ini ayo makanlah, nggak coba nyesel loh," meme memaksa arnius untuk memakan masakan Memey.
__ADS_1
arnius pun mengambil makanan yang dimasak oleh memei, sempat ia tersenyum kecut melihat makanan Memei yang telah dihias rapi, lalu ia mulai mencicipi masakan memei.
"gimana enak nggak?," tanya Memei dengan antusias, lalu arnius hanya melihat Memei, dan memakan masakan mie mie dengan lahap.
"wah pasti enak dong kalau Kaka makanya salah apa itu, Memey seneng deh kapan-kapan membuatkan lagi ya," ucap Memey dengan tersenyum ceria.
nona ketulusanmu inilah yang sangat berharga untukku, selain tuan nyonya besar dan bos besar lelah orang yang paling tulus setelah tuan Rahman kepadaku. ucap arnius dalam hati lalu ia kembali teringat dengan masa lalu masa-masa iya saat ia belum bertemu dengan Rahman.
~flashback on,~
"hei anak pungut!," ucap seorang wanita paruh baya terhadap arnius ya tidak memiliki nama kala itu.
"kalau kerja jangan bengong lu bodo amat sih jadi anak, ngamen sana biar dapat uang banyak, kalau mau masih tinggal di sini atau nama masih hidup kerja itu yang benar," ucap wanita paruh baya itu dengan kejam.
Arnius kalau itu hanya terdiam dan pergi untuk mengamen di jalanan.
ia pergi minta minta ke sana sini, setiap lampu merah pasti arnius sudah mengelilingi setiap kendaraan yang berhenti karena itu hanya untuk mendapatkan uang hasil mengamen nya.
setelah sore hari tiba Arnius pulang ke rumah orang yang yang merawat dia.
"adik kamu udah makan belum?," tanya ardios pada seorang wanita yang umurnya sekitar 5 sampai 6 tahun.
"belum," jawab anak kecil itu, dia bernama mentari, mentari adalah nama yang diberikan arnius kepada anak kecil itu, karena mereka tidak pernah diberikan nama oleh orang tua angkat mereka.
"kita cari makanan yuk," ajak serius lalu ia menggenggam dengan keras uang rp2.000.
"hei hei, lu mau ke mana hah gue liat itu ada duit kan ditangan lu, sini balikin lu masih kecil aja udah mau nyolong apalagi udah gedenya nanti ngajarin yang bener makin kagak bener aja nih anak," ucap pria paruh baya yang merawat arnius kala itu.
"sini balikin nggak apa sih lihat-lihat di anak kagak ada kerjaan banget,"ucap lelaki itu
"tapi mentari lapar," ucap si kecil.
"lu lapar? terus hasil lu ngamen mana?," tanya lelaki itu.
"kan udah diambil sama bapak," jawab mentari dengan mata tertunduk.
"udah cuma gitu aja lu pikir itu cukup apa buat makan sehari-hari terus lu pikir gue nggak pakai duit gitu untuk beli makanan," tanya lelaki itu lalu merampas uang rp2.000 dari tangan arnius.
"makan di dalam noh masih ada sisa kerupuk sama nasi bekas gua makan tadi cepat makan sono," ucap pria paruh baya itu.
menteri dengan senang lalu ia berlari kedalam
mentari terkejut yang melihat sisa makanan yang hanya beberapa sendok nasi dan sepotong kerupuk.
"kak makan yuk kita makan sama-sama," ajak mentari namun arnez hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada mentari. mentari bukanlah adik kandung arnius melainkan mereka berdua sama-sama menjadi anak yang terbuang oleh kedua orangtua kandungnya dan diangkat oleh dua orang paruh baya yang termasuk tidak ada hatinya.
"ini cukup kok buat mentari sama kakak mentari nggak akan habis nanti, ini kebanyakan kak," ucap tari lalu mengambil air dan garam lalu dituang ialah air dan garam itu ke nasi yang tersisa hanya beberapa sendok dan diaduk-aduk nyalah nasi itu.
"tuh kan nasinya sekarang udah banyak udah ada airnya juga, kalau karius enggak makan sekarang kita bisa tunggu sampai nanti nanti nasinya membesar kok kak mentari sudah pernah melihatnya saat mentari dikasih nasi basah sama bapak," ucap mentari dengan polosnya, Arnius masih terheran dengan apa yang dikatakan oleh mentari lalu mereka pun sepakat untuk menunggu nasi itu beberapa lama, dan ya nasi itu membesar karena bengkak. Arnius lalu makan bersama dengan mentari.
setelah makan mereka masih berdasarkan lapar namun mereka sama-sama menyembunyikannya satu sama lain.
"kak kita main yuk, siapa tahu upah kita kali ini bisa dikasih makan lagi sama bapak," ajak mentari lalu mereka pun pergi mengamen.
di tengah jalan mereka mendengar suara teriakan dari bapak-bapak dan banyak yang berlarian di pinggir jalan, suara orang yang mengejar itu tak lain adalah satpol PP. Arnius ketakutan lalu ia membawa mentari untuk berlari, ia ingat bahwa terakhir kali mereka tertangkap adalah ancaman untuk mereka dipukul hampir mati oleh bapak angkat mereka.
"kak mentari capek mentari nggak kuat lari lagi," rengiat mentari yang memegangi kakinya.
"naik ke punggung kakak cepat!," arnius pun berusaha sebisa mungkin untuk berlari sangat kencang, lalu Aries menemukan semak-semak dan ia bersembunyi di balik pohon semak-semak itu.
"ssst," Arnius menggerakkan kakinya dengan pelan, karena di kakinya terdapat banyak semut merah yang menggigit kakinya, namun arnius berusaha sekuat tenaganya untuk menggendong mentari dan menahan rasa sakit di kakinya.
"cepat cari kesana," ucap salah satu bapak satpol PP yang berlari mencari ke berlawanan arah di tempat Arnius bersembunyi, arnius terus menahan rasa sakit di kakinya, setelah mereka merasa benar-benar yakin kalau sudah tidak ada satpol PP, mereka keluar dari semak-semak tersebut, dan memutuskan untuk pulang.
di perjalanan pulang Rahman kecil terlihat sedang membuang sisa makanan ke dalam bak sampah, sempat ia melihat arnius namun tidak di perdulikannya, dan Rahman pun pergi melewati Arnius.
"uuuh anak ayah pinter banget buang sampah pada tempatnya, ayok kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Andrean yang memeluk Rahman dan menggendongnya bersama Yeni.
Rahman melihat arnius yang menatapnya dari jauh sambil menggenggam erat tangan mentari.
"kakak apakah itu orang tuanya? kenapa bapak kita tidak seperti itu?," ucap mentari namun arnius hanya melihat mentari, dan pergi menghampiri bak sampah tempat Rahman membuang sampah.
"mmh, " Arnius memberikan sisa makanan yang telah dibuang oleh Rahman kepada mentari.
__ADS_1
"bolehkah kita makan ini?," ucap mentari.
"mmmh," angguk arnia selalu membuka makanan itu di bawah lantai, dan memperlihatkan isinya kepada mentari bahwa makanan itu masih sangat bagus untuk dimakan.
"wah wah ini pasti enak," ucap mentari dengan girang lalu memulai memakan makanan itu itu dengan Arnius.
mentari terlihat memakan makanan ringan itu itu dengan sangat lahap sedangkan arnius memilih untuk mengalah, hanya memakan sedikit saja dan memberikan bagian yang lebih banyak untuk mentari.
"ayah?," Panggil Rahman dengan lirih kepada Andrean.
"mmmh iya nak," sahut Andrean kepada Rahman.
"dia memakan makanan yang Rahman buang yah," ucap Rahman menunjuk ke arah arnius dan mentari yang sedang makan.
"ah?," Rahman terheran begitupun dengan Yeni yang mendengar perkataan Rahman. dan Adrean juga Yeni melihat kearah arnius.
"apakah kamu mau ke sana?," tanya Yeni yang dijawab anggukan oleh Rahman.
Andrean pun menurunkan Rahman dan membiarkan Rahman menghampiri arnius.
"!!!" arnius terkejut dan merasa terancam, lalu ia membawa makanan itu dan membawa mentari berlari menjauh.
"hei tunggu aku, kalau kamu mau aku masih punya makanan lagi!," teriak Rahma namun sudah tidak didengar oleh arnius.
"sudah la nak tidak apa-apa mungkin mereka takut, lain kali kalau ketemu kita ajak dia makan bersama ya? begitulah kehidupan kamu harus bersyukur karena kamu bisa hidup dengan gampang dan tenang, ya," ucap Andrean menasehati Rahman
"iya Ayah," lalu Rahman kembali berjalan pulang sambil digendong di punggung Adrean
Arnius berjalan pulang bersama dengan mentari sambil menggenggam sisa makanan Rahman tadi yang belum sempat dimakan habis oleh mentari.
"hei kalian abis dari mana aja? mana hasil kalian mengamen?," tanya lelaki paruh baya itu kepada arnius dan juga mentari.
"maaf kami enggak dapet Pak," jawaban Tari dengan lirik.
"apa! lu bilang apa barusan? enggak dapat leu bilang? terus kerjaan lu apa aja? masa gitu doang nggak becus, udah dari tadi lu gak ada lagi di rumah," ucap lelaki paruh baya itu dengan membentak, lalu melihat ke arah tangan arnius yang terdapat bekas makanan yang masih digenggamnya.
"sini coba gua lihat," pinta lelaki paruh baya itu lalu arius menyembunyikan makanan itu di belakang tubuhnya dengan menggenggam erat.
"coba lihat gua bilang!," teriak lelaki paruh baya itu namun Arnius tidak ingin menyerah. dan dirampas lah makanan itu oleh lelaki paruh baya yang hanya dilihati oleh wanita paruh baya di sebelahnya.
"wah makanan nih ini kan makanan enak lu dapat dari mana pasti lu pakai uang hasil ngamen kan ngaku deh," ucap lelaki paruh baya itu yang mulai memukuli kepala arnius.
"bukan Pak, tadi kami dikejar oleh laki-laki yang berseragam, makanya kami nggak dapet mengamen Pak, dan itu makanan kami dapat dari bak sampah Pak," ucap mentari.
"apa lu bilang lu dikejar satpol PP lagi, emang kurang ingat elu apa kemarin!," ucapnya yang mulai memukuli dan mencubit mentari.
Arnius geram melihat lelaki paruh baya itu memukuli mentari, lalu didorong oleh lelaki paruh baya itu hingga hampir terjatuh oleh arnius.
"oh besar juga ya tenaga lu!," teriak lelaki tua itu lalu mulai memukuli arnius tanpa ampun.
"udah Pak udah kakak ga salah!," teriak mentari sambil menangis, dan mencoba menahan tangan lelaki paruh baya itu yang sudah memukuli arnius seperti seseorang yang telah kehilangan kesadarannya.
"diam lo!," teriak lelaki itu lalu melempar mentari dengan sebelah tangannya.
"huuuuu, kakak! bapak jangan pak mentari mohon jangan pukul kakak! kakak gak salah huu," ucap mentari sambil memeluk kaki lelaki paruh baya itu berharap agar lelaki itu berhenti memukuli Arnius. namun sebaliknya arius malah tak gentar Bahkan ia tak terlihat ingin menangis sedikitpun saat sedang dipukul oleh lelaki paruh baya itu.
"eh lu kalau nggak mau mati nggak usah ikut campur sini-sini, lu tahu kan kalau bapak udah marah kayak gimana makanya jangan macam-macam," ucap wanita paruh baya itu dan menarik mentari untuk menjauh.
Bukk
suara hantaman keras mengenai wajah Arnius.
"Pak lu udah gila ya? itu kalau mati anak orang gara-gara lu siksa dia bisa berabe jadinya Pak, yang ada kita yang masuk penjara, mau untung malah buntung lu tahu kan," ucap wanita paruh baya itu yang menghentikan suaminya.
"cuih, awas lu ya," ucap lelaki paruh baya itu selalu menyempatkan dirinya untuk menendang Arnius sebelum ia pergi memasuki rumahnya.
mentari bergegas berlari menuju arnius, dipeluknya arnius yang sedang terbaring di lantai sambil terbatuk-batuk.
"kakak!," mentari menangis melihat keadaan arnius, lalu arnius terbangun melihat keadaan mentari, dan melihat tubuh matahari yang sedikit terluka akibat terjatuh oleh dorongan lelaki paruh baya yang mengurus mereka.
"dasar bodoh! jangan mendekat jika dia sedang marah, aku sudah bilang kan," ucap arius dengan suara lemasnya karena ia tidak ingin melihat mentari terluka.
bersambung....
__ADS_1