
Zahra kini tengah berada didalam pesawat, perjalanannya menuju negara asalnya. sepanjang perjalanan dipesawat Zahra melamun, meresapi apa yang telah terjadi.
sungguh beginikah rasanya sakit hati, hanya karena melihat ia berkhianat, dia yang begitu ku percayai namun berhasil menjatuhkan ku dengan mempermainkan kepercayaan ini. tak tersadar airmata jatuh dari pelupuk mata Zahra
...
"Zahra mari, kita sudah sampai," Tari mengejutkan Zahra dari lamunannya, Zahra tersadar dan menghapus air mata nya." baik bu,"
***
Zahra kini sedang memangku Azan yang kini bersama Tari berada di sebuah restoran, begitupun dengan Aria, dimana mereka memang sudah berjanji untuk bertemu membahas sebuah pernikahan di tempat ini.
"ada apa bu?," Aria sudah mendapatkan firasat apa yang dimaksudkan Tari membuatnya bertemu dengan wanita dengan seorang anak dipangkuannya.
"ibu sudah tua nak, usiamu juga sebentar lagi akan menginjak 30 tahun.."
"lalu?," belum selesai Tari berbicara, Aria langsung memotong kalimatnya itu, tak ingin berbasa basi.
Tari yang mengerti akan anaknya pun juga tak ingin berbasa basi.
"ibu ingin kamu menikah dengan nya," ucap Tari seraya memegang tangan Zahra
"apa ibu ingin aku menikah dengan seseorang yang memiliki anak?," tanya Aria meremehkan
"dia memang memiliki anak, tapi usianya masih muda,"
"jadi dia ibu ibu muda hahahaha," tawa Aria terasa begitu kejam
"Aria jaga sikapmu!," Tari yang sudah merasa malu akan sikap Aria, sedangkan Zahra yang sudah tak enak hati dengan dua orang yang berada dihadapannya ini.
" ibu ingin aku lebih memilih wanita ini,?" tunjuk Aria, yang merasa tak pantas.
" itu lebih baik daripada dengan Angel, dia wanita yang buruk untuk kamu,"
"lalu dia? hah!" Aria mulai meninggikan suaranya sehingga mereka kini menjadi pusat perhatian orang orang disana." bu ibu pikir Angel buruk?, lalu dia apa, dia hanya wanita muda yang menjadi ibu tanpa suami, bukankah itu artinya dia bukan wanita yang baik?, hahaha dia pastinya seseorang yang buruk sehingga memicu perceraian diusia mudanya, lalu mana keluargamu hah? apakah mereka membuangmu?, tentu saja itu pasti, mereka pasti malu memiliki anak sepertimu! " kini Aria berbicara sembari menatap Zahra meremehkan, Zahra hanya terdiam dan tertunduk dengan perkataan Aria yang menyinggung hatinya.
__ADS_1
"tuh kan lihat dia ibu!! dia bukan wanita baik baik, bahkan lebih buruk dari angel,"
Zahra semakin merasa sesak didadanya, dipeluknya azan dengan erat.
"engkau benar tuan, aku masih bisa dibilang dibuang oleh orang tuaku, bahkan aku tak pantas dibanding kan dengan lelaki terhormat sepertimu, terima kasih banyak tuan atas kesempatan kali ini," Zahra menimbali Aria dengan nada dan suara yang lembut lalu ia bangun dari duduknya memberi hormat dan pergi meninggalkan Aria. Tari pun ikut bergegas ia mengejar Zahra, meraih tangan Zahra yang kini gemetar.
"nak maafkan anak ku ya,"
"ah tidak apa apa ibu," Zahra me nimbali Tari dengan senyuman yang lembut.
"mmm azan sepertinya sudah lelah, saya pamit dulu, assalamualaikum wr.wb, " imbuh zahra
"waalaikummusslm wr.wb. "
***
tiga hari berlalu.
Tari telah mengundang Zahra ke krumah nya, ia ingin mencicipi masakan yang Zahra buat, dengan berbagai macam cara akhirnya Zahra menyetujuinya, tak lupa dengan membawa azan.
"aku pulang," Aria baru saja pulang dari kerjanya hari ini ia pulang lebih awal memang karena diminta oleh Tari tanpa mengetahui alasannya.
"nak mari makan malam, Zahra sudah memasak makanan buat kita, ini enak loh ibu sudah mencicipinya tadi,"
Aria mendekati tari mencium kendingnya, ia tersenyum pada tari tapi tidak pada orang lain disekitarnya.
"bu Aria sudah makan tadi, ibu makanlah, aku lelah," Aria berjalan menuju kamar atas.
"nak, kasihan Zahra,"
"bu aku memang sayang pada ibu, tapi ku mohon jangan memaksakan kehendak ku," entah apa yang dirasakan Aria kata katanya lembut namun menekan dan penuh makna.
Tari yang tak kuasa hanya menunduk dan menatap wajah Zahra
"tidak apa apa bu, ini sudah malam saya pamit pulang, saya makan dirumah saja, saya sudah membungkus beberapa makanan tadi, lagi pula saya juga datang hanya untuk memasak bukan untuk hal yang lain, terima kasih bu, assalamualaikum wr.wb, "
__ADS_1
***
hari hari berlalu Tari dengan diam diam membayar biaya pengobatan Azan, ia merahasiakannya dengan alasan ini hanya sumbangan untuk pengobatan orang yang tidak mampu, Tari terus mendekati Zahra, semakin dekat ia dengan Zahra semakin kuat keinginan nya memiliki menantu seperti Zahra.
Namun tidak dengan Aria, sifatnya selalu dingin dan tak berpaling dari angel.
Hingga Tari pun memutuskan untuk mogok makan, untuk membujuk Aria. namun Aria malah datang dan memaksanya untuk makan sembari marah marah
"Ibu!! apa ibu sudah gila, ibu seperti ini hanya karena dia?," Tari hanya terdiam tak menghiraukan Aria, hingga hari berlalu Tari dilarikan ke RS xx karena pinsan akibat mogok makan.
Zahra yang mengetahui nya, bergegas menuju RS, tak lupa ia membuat bubur untuk di konsumsi oleh Tari.
" ibu makanlah," tawar Zahra yang sudah siap menyuapi Tari, namun Tari hanya diam dan membuang muka.
"ibu, apakah tidak sayang pada Aria?," Tari hanya terdiam mendengar pertanyaan Zahra.
" ataukah ibu tidak sayang padaku bukan kah ibu bilang, ibu mengaglnggapku sebagai anak ibu,?"
Tari mulai melirik Zahra yang sudah siap dengan bubur ditangannya.
"ibu tau, sewaktu kecil ayahku selalu membanggakan ku, ia menyayangi ku tak sekalipun ia memberi kekerasan padaku, jika aku sakit ibuku yang memasakkan bubur untuk ku, dan ayah yang menyuapiku, dia selalu menginginkan aku menjadi seorang penulis yang sukses sehingga memamerkan namanya, jika aku menolak makan ibu tau apa yang ia katakan, "
"apa?," Tari penasaran, dengan kelanjutan cerita Zahra.
"makan dulu baru aku lanjut, " akhirnya tari menerima suapan dari Zahra, sembari mendengar cerita.
"ayah bilang, hidup adalah rahmat yang begitu besar diberikan allah swt, kita hanya makhluk rendah yang tidak bisa berbuat apa apa tanpa izinnya,lalu apakah begini cara kita menghargai pemberiannya,? seharusnya kita menghargainya, menggunakan sebaik mungkin untuk bekal di akhirat, api diberikan begitu panas......," dan Zahra pun menceritakan panjang lebar tentang akhirat yang ia ketahui, tak terasa bubur yang dimakan tari pun habis, ia kini menyodorkan minuman untuk Tari
"saya mungkin memang hamba yang memalukan bu, ya begitu hina untuk berceramah buat ibu, tapi saya hanya mengingatkan saja, dan masalah jodoh biar allah yang mengatur, allah tau yang terbaik, jangan memaksakan kehendaknya bu." lanjut Zahra.
tanpa sepengatuan mereka ternyata Aria tengah berdiri tak jauh dari mereka sudah cukup lama. setelah Zahra pergi barulah Aria masuk kedalam.
Tari masih tetap diam tak ingin menatap anaknya, Aria kini duduk didekat Tari menggenggam tangan Tari.
"bu aku bersedia menikah dengannya,"
__ADS_1
bersambung...