Cinta Zahra

Cinta Zahra
step 2


__ADS_3

"langkah 2 ; perlakuan dengan cara yang lemah lembut, penuh kehangatan, sehingga dia pun tidak dapat membedakan mana lembutnya kain sutra dan lembutnya sifatmu tuan" Perintah Tini yang kini pikiran nya sudah tak karuan membayangkan bagaimana adegan adegan romantis yang akan terjadi setelahnya.


Aria memandang zahra lembut, ia harus mencoba langkah langkah dari Tini, karena baginya Tini lebih mengerti tentang cinta oleh karena itulah Tini mendapatkan julukan master oleh Aria.


yah begitulah adanya, apalah dayaku yang hanya pintar memperdaya uang masalah cinta? aku hampir bodoh seutuhnya hingga hampir me nyia nyiakan wanita yang begitu berharga dalam hidupku. batin Aria


"ko mas tau alamat menuju ke kontrakan Tini?, dan tau darimana juga kalau aku tinggal disini di kontrakan Tini Yeni?" kejut Zahra. Saat menyadari dirinya telah sampai.


" ohhh itu, anu.. hey apa sih yang ngak ngak bisa di ketahui oleh suamimu ini, kamu aja belim menghilang selama sebulan, bagiku gampang untuk menemukan kamu " dengan sombong nya Aria berbicara dan turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Zahra, Aria melepaskan sabuk pengaman dari Zahra. disaat itulah wajah mereka berpapasan dan saling memandang satu sama lain. Namun Zahra memilih mengalihkan pandangan dan sedikit mendorong Aria untuk menjauh.


"assalamualaikum wr.wb mas, terimakasih banyak atas tumpangan nya, " Zahra berpamitan dan pergi meninggalkan Aria tanpa harus ber basa basi mengajaknya mampir.


"ra besok aku jemput ya, aku yang antar kamu untuk bekerja" tawar Aria yang meminta izin Zahra.


"memang mas mau antar aku kemana?, aku tanya dulu sekarang, coba jawab, kafe orang udah diacak acak begitu, " gerutu Zahra sedikit kesal


"hehehe iya ya aku lupa, kafe nya aja yang udah tua makanya ceper hancur berantakan , " Aria menggaruk kepalanya.


ko Zahra jadi galak amet yah, biasanya dia tuh lembut, emang bahaya nih kalau udah kecewa sekali, mati aku bu!!. batin Aria


****


"assalamualaikum wr.wb, " salam Zahra yang sudah memasuki rumah kontrakan para sahabat nya


"mama,!" Azan senang melihat ibu tersayang pulang, dalam digendongan Yeni yang sembari memainkan mainan nya.


"yen ini mainan dari mana, ini mainan mahal loh," tanya Zahra pada yeni.


"gak tau tuh," Yeni menunjuk Tini yang membeli berbagai macam barang baru, dan bermerek. Dan Yeni juga memberikan Azan pada Zahra.


"tini itu dapat dari mana,?" tanya Zahra dengan penuh instruksi penekanan.


"uhhh sahabat tersayang pulang yah, ini aku ada bisnis baru keuntungan buaaaaanyak banget,"

__ADS_1


hehehe suami tajirmu itulooh Atm berjalan ku.batin Tini


"emng bisnis apa?, sampe segitu banyak nya kamu dapat keuntungan perasaan kemarin masih biasa biasa aja" imbuh Zahra yang masih tak percaya bahwa bisnis Tini dapat memberikan keuntungan sampai segitu banyak nya.


"biasalah tentang memulihkan masalah, aku kan ahlinya kalau masalah itu," jawab Yeni dengan bangganya sembari menaikkan alisnya


"ohhh begitu," jawab Zahra polos tanpa curiga. Kecurigaan nya langsung menghilang begitu saja setelah mendapat kan jawaban dari Tini yang bisa masuk di akal.


keesokan harinya..


"Ra udah siang gak pergi kerja?," tanya Yeni, yang terheran biasanya pagi pagi sekali Zahra sudah sibuk untuk bersiap siap dan membersihkan Azan terlebih dulu


"eh itu..."


"gimana mau kerja orang kafe tempat bekerja udah berabe," potong Tini sebelum Zahra sempat menyelesaikan kalimatnya.


"ko kamu bisa tau?," tanya Zahra terkejut heran


"eh itu..mmh.. yah biasalah gosip gosip, kamu tau kan gosip sekarang cepat menyebar seperti apa, belum lagi ada banyak sosmed tempat setiap orang berbagi kisah" jelas Tini menutupi kebohongan nya


tok tok tok


Zahra curiga pada Tini, namun sebelum menyelesaikan kalimat nya ada seseorang yang datang.


"eh ada yang datang tuh hehe," sambar tini. "aku buka pintu dulu yah," Tini berlari menuju pintu, ia berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kecurigaan Zahra.


hampir aja ketahuan, masalah keluarga Adiwijaya kan siapa yang berani menggosipkannya coba gila ya aku ini ya ampun!!, jika masih ingin hidup dengan tenang maka tidak ada yang boleh ikut campur masalah keluarganya. Untung sahabatku begitu polos dan percaya pada sahabat nya, maaf Ra ini kan demi kebaikan kamu juga, but isi perut ATM ku juga hehe. Tini mengelus dadanya pelan, ia mengkhawatirkan jika saja rencananya gagal pasti uangpun hilang. Meskipun sebenarnya semua ini ia lakukan demi sahabat tersayang nya.


"hah tuan Aria!!," kejut Tini, lalu tertawa. "ekhem silahkan masuk, nona Zahra ada didalam haha," Ejek Tini yang merasa dirinya sok formal.


Aria hanya memandang muka Masam lalu masuk kedalam, Tini melihat keluar dan terkejut.


"woaaaahhh pergi kesini juga harus dengan pengawal ya," Tini melihat satu persatu pengawal yang gagah dan tubuh yang terlatih itu, ditambah dengan siap siaganya.

__ADS_1


"ngak capek apa kalau berdiri terus kaya begini?," Tini menyapa namun tidak ada yang menjawab.


"mau dibuatin minum ngak?,"


masih tidak ada jawaban. "heeyyy percuma badan gede otot gede kalok tuh mulut gak bisa digunakan!!," teriak Tini kesal, lalu ada dua salah satu pengawal menghadap tini memandang tak suka, tini yang melihatnya takut.


"eh marah ya, hehe yaudah bodo amatlah, aku mau masuk,"


***


"heeyyy tuan kaya, kenapa cuma masuk sama sekretarisnya doang ngak nawarin tuh pengawal, mereka pada bisu ya," Tini dengan santainya mengeluarkan nada kesal nya, lalu melihat Zahra yang sedang duduk disofa bersama dengan Azan dan Aria disofa sebelah sedangkan Yus berdiri disamping Aria serta Yeni yang sedang memberikan minuman. mereka semua memandang Yeni dengan mata Tajam.


"eh aku salah lagi ya, ada apa siiihhhh ya allah...." kesal Tini namun Zahra masih menatapnya." iya iya aku masuk kedalam," Tini berjalan masuk kekamar. "mau mati rasanya aku kalau ditatap macam begitu," gerutu Tini menuju kamar.


"mmmh silakan diminum minumannya," Tawar Yeni dengan senyuman, ia beranjak ingin pergi.


"yen tetap disini," ucap Zahra, Yeni mengerti dan duduk didekat Zahra.


setelah beberapa saat hanya ada keheningan Yeni dan Yus geram sehingga memilih memulai pembicaraan.


"eh azan ngak rindu sama papahnya?, " kata Yeni dan Yus bersamaan.


"eh.." senyum Yeni karena tak tau kalau mereka akan berbicara bersamaan, namun Yus tak melihat sedikit pun wajah Yeni dengan wajah dinginnya.


"pa_pah, " azan mengulurkan tangannya ingin menuju Aria.


"sini nak," senyum Aria menyapa Azan, Zahra membiarkan Aria dan Azan melepas rindu bersama, bermain bersama, sembari sesekali Aria memandang zahra yang melihat mereka namun Zahra malah mengalihkan pandangannya.


"pergi beli mainan yuk," ajak Aria pada azan.


"ra ikut?," ajak Aria lagi pada Zahra.


"ngak mas masih banyak kerjaan, " senyum Zahra, entah mengapa Zahra tak bisa dendam.

__ADS_1


Aria yang sudah dapat melihat senyuman Zahra begitu bahagia, lalu pergi untuk berbelanja dengan Azan.


bersambung....


__ADS_2