Cinta Zahra

Cinta Zahra
Si buah hati, dan Ayahnya


__ADS_3

Disaat saat ter gugup untuk Alfie, sebuah sesuatu yang ia ucapkan dengan sepenuh hatinya dan sesuai dengan seluruh isi hatinya, mengungkapkan satu kalimat namun mewakili semua yang ingin dia sampaikan. Kata kata yang ia ucapkan setelah selesai menunaikan shalat berjamaah pada sore hari, yang terlebih lagi ia ucapkan di rumah Allah, di depan rumah Allah lah ia berhasil mengumpulkan keberanian nya untuk mengungkapkan perasaan nya pada seorang insan Allah SWT. Disaat itulah ia memberanikan diri meskipun ia masih belum mendapatkan jawaban yang ingin ia dengar ataupun jawaban yang tidak ia inginkan namun tetap saja ia mengucapkan kalimat.


"Maukah kamu menikah dengan ku?,"


.....


"hmmmh!!!," Riska mengerang karena merasa sakit di perutnya, mulas serta tak tertahankan namun ia mencoba untuk bertahan dan tidak berteriak.


Riska sedang berada di rumah sakit ada selang infus di lengan nya namun ia masih belum melahirkan karena masih pembukaan awal pada dirinya.


"ga apa apa? apakah sakit? apa hang bisa aku bantu? apa yang harus aku lakukan?," Alfie khawatir pada Riska ia berusaha untuk membantu Riska sebisa mungkin. Terlebih lagi Riska terduduk dan kadang berbaring di tempat berbaring di ruangan dengan nafas berat, dan keringat yang bercucuran.


"Hallo? Zahra?," Alfie menelpon Zahra karena ia panik dan bingung harus seperti apa, dan hal ini memang harus diberitahukan kepada yang lain.


"iya ka ada apa?,"


"Riska melahirkan, tolong beri tahu ibu juga,"


"ah? serius?! ya ka Kaka Di rumah sakit mana? nanti SMS ya aku akan segera kesana dengan ka Rahman lalu memberitahu ibu juga. Kaka tetap disana ya jangan kemana mana Kaka harus jagain Riska,"


"iya, kamu cepetan ke sini ya,"


"iya ka tunggu aku di sana aja,"


......


Alfie sedang memegang tangan Riska yang mencoba untuk berjalan agar lebih cepat melahirkan karena itulah saran dokter.


"heish, apakah benar dokter ini menyuruh seperti ini, haih ingin rasanya dokter Amerika aku datangkan tetapi apakah daya jika baru ku telepon mungkin yang datang besok atau lusa," Alfie dengan geram karena Riska tampak begitu kelelahan dan mengeluarkan tenaga yang begitu besar.


"hmmh ga apa apa Ka," sahut Riska yang sedang berpegangan pada Alfie agar lebih kuat menopang dirinya sendiri.


setelah beberapa saat Riska duduk dengan bersandar di dada Alfie, dengan posisi Alfie dibelakangnya dan menjadi pegangan Riska, Itulah perintah dokter ternama karena berfikir Alfie adalah ayah dari kandungan Riska.


Alfie tidak mempersalahkan apapun ia langsung saja duduk di belakang Riska dan menjadi sandaran Riska, Alfie mengelap keringat Riska berkali kali oleh tangan sebelahnya dan sebelahnya lagi memegang tangannya Riska.


"kamu kuat Riska aku yakin kau kuat, kamu adalah wanita yang begitu kuat Riska, aku tau itu." Alfie tidak berhenti hentinya mengucapkan ucapan semangat ditelinga Riska, dia bahkan senantiasa mengucapkan Zikir dan doa di telinga Riska dengan setengah berbisik, agar Riska tetap kuat dan atas izin Allah Riska bisa baik baik saja.


Wanita diberi anugerah yang begitu besar, kelebihan nya begitu banyak, melalui air matanya yang melambangkan kasih sayang, sehingga menjadi wanita lemah lembut. Melalui kandungan nya yang bisa membuat nyawa manusia lain nya bersemayam (hamil). Dan masih banyak lain nya. Tetapi maaf karena aku bahkan belum menjadi lelaki yang shaleh. Alfie bergumam dalam hatinya, ia meneteskan air mata, merasa bahwa ini lah perjuangan seorang wanita, seorang ibu yang rela merasa sakit agar anaknya bisa lahir ke dunia, meskipun anak itu belum tentu nantinya akan menjadi apa, apakah menjadi anak yang sukses atau tidak?, ataukah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua atau tidak?, ataukah berumur panjang atau tidak?. Yang terpenting bisa melahirkan seorang nyawa kedua selebihnya di serahkan kepada Allah dengan berdoa yang sebaik baik nya.


Terdengar suara ibu, Zahra serta Rahman di luar ruangan, mereka baru saja tiba ke RS tempat Riska akan melahirkan.


"huuuh huuh," Suara nafas yang Riska tarik dan keluarkan begitu terdengar, Riska terus berusaha mencoba mencari posisi yang benar agar rasa mulas di perutnya tidak terlalu terasa.


"kenapa? haus? mau aku ambilkan air minum?," ucap Alfie, Riska menganggukkan kepalanya.


"Nak coba berjalan kaki sayang, agar lebih cepat prosesnya," ucap ibu Riska, yang datang dengan mencucurkan air mata.


"tidak apa apa Bu, tidak usah khawatir anak biasa pada umumnya jika di lahirkan secara normal memang akan sangat lama bahkan sampai memakan waktu 9-12 jam," Ucap sang Dokter menjelaskan pada Zahra dan ibu Riska.


"oh seperti itu ya, saya tidak tahu mungkin karena dulu saya operasi sesar,"


"iya ibu, jadi jangan khawatir ya, tenang saja," Ucap dokter lalu mencari air untuk mengelap tubuh Riska, karena memang pelayanan disini sangatlah baik, mengutamakan kenyamanan dan keamanaan pasien meskipun memang biasa disini relatif mahal.


Zahra mendengar menjelaskan dokter yang harus merasa sakit hingga begitu lamanya, Zahra menelan ludah dah memegang perutnya.


Begitu juga dengan Rahman ia bahkan membulatkan matanya dan melihat ke arah Zahra.


Apakah aku akan sanggup membuatnya menjadi seorang ibu? tetapi bagaimana aku akan menjadi ayah jika Zahra tidak melahirkan? lalu apakah ibuku sesakit itu dulu?. Pertanyaan yang begitu membuat Rahman bingung dan juga terharu muncul di benaknya.


Rahman pun memasuki ruangan, menemukan posisi Alfie yang di belakang Riska menjadi tempat Riska bersandar, sedangkan Riska seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit menarik dan membuang nafas lalu begitu banyak keringat yang bercucuran dan selang infus sebagai pembantu agar tenaga bisa terisi.

__ADS_1


Glek


*K*enapa terlihat begitu sakit?. Rahman tidak menyangka bisa merasakan rasa khawatir saat mengunjungi seseorang yang akan melahirkan. Entah dari mana rasa khawatir itu datang intinya ia merasakan rasa khawatir di setiap orang orang yang menyayanginya.


"apakah ini yang dimaksud dengan seorang ibu sampai mempertaruhkan nyawanya untuk anak?," ucap Zahra karena ia baru pertama kali melihat seorang wanita melahirkan secara langsung, berhubung ia dengan Ramadhani hanya memiliki beda umur 2 tahun jadi tidak mengetahui apa apa tentang Tini yang melahirkan Ramadhani.


Zahra lalu melawati Rahman yang masih berdiam diri mematung melihat pemandangan didepannya.


"ah? mempertaruhkan nyawa?," Rahman teringat bahwa tak jarang seorang wanita meninggal karena melahirkan atau meninggal sesaat setelah melahirkan.


"Riska kamu butuh apa?, bilang saja aku akan menyuruh bawahan ku untuk membawakannya," ucap Rahman yang ikut menghampiri Riska karena merasa khawatir.


"ga ada ka Rahman, cuma bisakah ka Rahman menunggu diluar karena aku malu," Riska melihat dirinya yang dengan posisi terduduk dan menyandarkan kepala pada Alfie, lalu mengangkat kaki dan membukanya, yang hanya tertutup kain tanpa celana.


"hah?," ucap Rahman padahal ia ingin menanyakan bagaimana rasa sakit saat sedang melahirkan.


"kak Rahman Kaka menunggu di luar saja ya, Kaka beli nasi bisa? jangan terlalu banyak berbumbu, dan juga penuh dengan protein untuk Riska memulihkan tenaganya, dimana mana makanan rumah sakit tidak seenak makanan diluar," ucap Zahra berbisik dan mengerti akan maksud Riska.


"hmmh, baiklah" ucap Rahman lalu pergi keluar dari ruangan.


"sebentar aku kan punya asisten lalu kenapa harus aku yang keluar sendiri untuk membeli makanan sedangkan aku bisa menyuruh saja?," Rahman seakan akan merasa akan mematuhi sendiri apapun yang disuruh kan kepadanya saat itu. Tetapi Rahman hanya mengangkat alis dan pergi mematuhi perintah Zahra.


.....


9 jam sudah berlalu...


Riska sedang di tangani beberapa dokter di dalam, bersama dengan Alfie dan juga ibu Riska.


Zahra, Rahman juga Yeni dan Memei yang baru datang setelah Zahra ikut menunggu diluar.


Riska memegangi tangan Alfie dan juga ibunya. Ruangan Riska telah tertutup, membuat yang diluar bertanya tanya apa yang terjadi di dalam ruangan.


"mmh," Riska mulai mengenjan dengan pelan, sesuai perintah dokter.


Pasti sakit kan?, Alfie meneteskan Air matanya.


Subhanallah, Allah hu Akbar, begitu besar kuasa mu ya Allah. ucap Alfie dalam hatinya.


Riska semakin mengeraskan pegangannya pada Alfie yang masih sebagai sandaran nya dan juga ibunya yang sambil mengipasinya, sedangkan Alfie mengelap keringat nya.


"hmmmh mmmmm aaaaaa," Riska mengenjan panjang karena sudah tidak kuat dengan rasa mulasnya.


blush


"mm owek owek," seorang bayi laki laki kini telah lahir ke dunia membuat yang berada disana merasa bahagia, tapi belum berakhir meskipun Riska melahirkan dengan sangat baik lebih baik daripada normalnya wanita pada umumnya, Riska membuat sedikit sobekan karena saat mengenakan terakhir ia memberi sedikit tekanan.


"bentar ya Bu, suster cari kain agar ibu ini bisa menggigitnya," perintah sang dokter.


"??," Alfie , Riska dan ibu Riska bertanya tanya.


"Tidak apa apa, tenang saja," ucap dokter itu menenangkan lalu Riska mulai menggigit kain yang diberikan suster.


"??" Riska dengan rasa sedikit khawatir melihat ke arah ibunya dan Alfie, namun keduanya hanya menggelengkan kepala dan menenangkan Riska. Lalu yang terjadi adalah.


"aaaaaaaaaaaa," meskipun mulut Riska tersumpal kain tetapi tetap saja suara kerasnya terdengar sampai luar karena teriakan yang kencang. Riska sedang di jahit oleh dokter pada **** ********** nya, meskipun hanya ada dua jahitan tetapi masih begitu sangat terasa sakit karena wanita yang baru melahirkan tidak boleh di bius di takutkan resiko yang tidak diinginkan.


Alfie hanya memejamkan mata tidak berani melihat begitupun dengan ibu Riska. Terasa tubuh Riska yang bergetar dan dan menahan sakit juga perlahan lahan lemas.


Sedang di luar ruangan Zahra, Memei dan Rahman terkejut mendengar Riska berteriak, lalu melihat ke arah Yeni, mereka melihat ke arah Yeni seolah olah bertanya "apakah saat mamah melahirkan juga seperti itu?," Yeni memejamkan mata dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan anak anaknya itu. Zahra berasa dirinya bergegas dan lemas, sehingga Rahman menahan tubuh Zahra yang berdiri di dekatnya lalu mendudukkan tubuh Zahra di kursi. Zahra menggenggam tangan Rahman dan merasa lemas membayangkan bagaimana rasa sakitnya saat itu. Rahman memeluk Zahra dan juga membalas genggaman tangan Zahra seolah olah berkata " aku mengerti bagaimana rasa khawatir nya dirimu saat ini,".


setelah ada sekitar 30 menit setelah Riska berteriak, dokter keluar dari ruangan, dan memperbolehkan yang lain masuk ruangan.

__ADS_1


saat mereka memasuki ruangan terlihat Riska sedang memainkan tangan si kecil buah hati, dengan wajah yang lelah terlihat jelas kebahagiaan yang begitu besar ada diri Riska.


"Aaa lucunya bayi yang tak berdosa ini," Zahra menghampiri Riska dan melihat Si kecil, Riska tersenyum melihat Zahra dan juga memandang Alfie yang sudah terduduk di sebelah Riska bukan di belakang Riska lagi.


"terima kasih banyak karena kalian selalu ada untukku," ucap Riska lirih, mereka semua menjawab dengan senyuman yang tulus dan membahagiakan.


keesokan harinya.....


Zahra sudah bagaikan seorang ibu untuk Riska pagi pagi sekali ia sudah merepotkan Rahman dengan merengek manja agar diantar ketempat Riska, untuk melihat si kecil.


"nanti kamu sudah boleh pulang kan?," Tanya Zahra pada Riska yang sedang duduk dan disuapi oleh ibu Riska, terlihat jelas juga Alfie yang kelelahan.


"haha kenapa kamu sudah seperti seorang ibu Fie? capek bener tu muka," Raditya yang baru saja datang dengan Tini dan Dhani meledek Alfie.


"kasihan ka Alfie jangan meledek nya begitu, ASI ku belum keluar, kata dokter itu wajar setelah tiga hari biasanya keluar, tapi karena itulah ka Alfie jadi kelelahan harus bolak balik mencari air hangat dan kebutuhan lainnya, bahkan dia yang paling sering terbangun untuk membuatkan susu formula," cerita Riska pada semuanya.


"wahh hebat kamu ya, cocok menjadi seorang ayah," ucap Rahman menghampiri Alfie dan menepuk pundak Alfie.


"nanti juga kalian akan tau rasanya," jawab Alfie.


"aaaa lucunya sayang, sini biar mama Zahra gendong," ucap Zahra pada si kecil


"Ma angkatin dong, Zahra belum bisa hehe," ucap Zahra pada Tini meminta bantuan.


"makanya kamu kapan punya anak, mama juga mau punya cucu," ucap Tini meledek Zahra.


"aaa mamah..,"


.....


Satu Minggu berlalu..


Riska sedang menggendong Si kecil sambil berjalan pelan menjemur si kecil. Hari ini adalah hari upacara pemberian nama pada si kecil, kegiatan yang menyibukkan telah terjadi di rumah Riska karena akan ada acara syukuran juga di rumah Riska.


"kamu namakan dia siapa Riska?," tanya Zahra pada Riska.


"Aku menamakannya Muhammad Yusuf,"


"subhanallah begitu indah namanya, sama seperti dia yang begitu imut dan lucu," Zahra tertawa dengan senang hati pada Riska


setelah beberapa saat orang orang sudah ramai berkumpul di rumah Riska. Yang mengejutkan adalah Reza yang datang di acara itu, saat Riska ingin menghindari Reza ibu Riska mencegahnya dan berkata.


"kamu ga boleh begitu bagaimana pun dia adalah ayah dari anak ini,"


Mendengar kata ibunya Riska tersenyum dan membiarkan Reza hadir bahkan sempat tersenyum pada Riska, Alfie yang melihat Reza dan Riska merasa sedikit kecewa, belum lagi Reza sedang mencoba untuk mendekati Riska, dan menghampiri Muhammad Yusuf.


"Dia lucu ya, sangat manis," ucap Reza pada Riska.


"iya," ucap Riska tersenyum


"boleh aku menggendong nya?," tanya Reza yang diberi jawaban anggukan oleh Riska.


Orang orang disana berbisik bertanya bukankah Reza adalah ayah dari anak itu?, ayah yang tidak bertanggung jawab pada Riska bahkan hilang kabar meninggalkan Riska.


Reza mendengar perkataan orang disana, lalu melihat kearah ibunya dan dibalas anggukan oleh ibunya.


"Pak?," panggil Reza pada bapak Riska.


"aku ingin menebus kesalahanku, dan aku akan bertanggung jawab atas segala kelakuanku, aku ingin menikahi putri bapak," Ucap Reza, yang membuat suasana menjadi hening, Bahkan orang orang terdekat Riska menjadi begitu terkejut, terutama Alfie yang merasa dirinya hilang harapan lagi, namun ia tetap tersenyum dan memegang erat kotak cincin yang ada padanya saat itu.


Sedangkan bapak Riska yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sembari menepuk pelan bahu Reza.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2