
Arnius merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sedangkan mentari menangis sejadi-jadinya melihat keadaan Arnius. Mentari begitu sangat menyayangi Arnius, bagi mentari arnius adalah kakak yang paling disayanginya, mentari terus memeluk Arnius sambil menangis.
"sudah jangan menangis, dasar cengeng," ledek arnius dengan sedikit tertawa, sambil membelai kepala mentari.
"kakak nggak apa-apa?," mentari sangat khawatir, arnius memandang mentari lekat.
"tentu saja, kuat dong! kalau mentari ada kakak nggak mungkin lemah," ucap Arnius dengan lemas.
sering terpikirkan oleh mereka untuk kabur dari tempat orang tua angkat mereka, namun setiap niatnya ingin terlaksana kan pasti rencana mereka selalu gagal, dan saat mereka dipergoki akan kabur maka tidak ada lagi kata ampun untuk Arnius, tentu saja mereka akan memukuli arnius dengan kejam seperti biasanya.
"sekarang kita mau tidur di mana? Ibu sudah tutup pintu," ucap mentari dengan setengah menangis.
arnius melihat ke sekelilingnya, lalu ia pergi berjalan membawa mentari, arnius melihat ada beberapa kardus yang tidak terpakai yang bisa digunakan sebagai alas untuk tidur, arnius menggunakan itu untuk tertidur bersama dengan mentari, disamping itu juga ada para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sama susahnya seperti mereka berdua.
"hai nak, kamu tidak apa-apa kenapa wajahmu seperti itu?" tanya salah satu ibu-ibu yang tidur di pinggir jalan.
"tidak apa-apa Bu, saya hanya terjatuh tadi saat satpol PP mengejar saya," ucap arnius dan mentari yang hanya membiarkan arnius berbicara, mentari mengikuti apa kata arnius, lalu ia ikut tertidur di samping arnius.
"entah apa yang telah mereka lalui, tetapi setahuku mereka telah memiliki orang tua angkat, seharusnya begitu tetapi mengapa mereka seperti disiksa oleh orang tua angkat mereka?," gumam ibu-ibu yang berada di dekat arnius dan mentari.
keesokan harinya, arnius dan mentari terbangun karena mereka mendengar ada suara keributan di sekitar mereka.
"mmh Ada apa ini?," ucap mentari sambil terkantuk.
__ADS_1
"kakak bangun kak!," ucap mentari yang membangunkan arnius secara paksa.
"mmh," gumam arnius dengan lemas.
"kak lihat ada yang bagi-bagi makanan! cepat bangun kak nanti kita nggak kebagian," ucap mentari berteriak membangunkan arnius.
arnius terkejut, ternyata mereka semua terbangun dan menjadi ribut karena ada seseorang yang sedang membagi-bagikan makanan kepada mereka.
"hai nak ini bagianmu," ucap ibu-ibu yang bersama Arnius semalam, ibu-ibu itu memberikan se kresek makanan. Arnius mengambil kresek makanan itu lalu membukanya mereka terkejut, karena isinya tiga kotak nasi yang full dengan lauk dan buah buahan, begitu juga dengan cemilan yang banyak.
"wah banyak banget, kita bisa makan enak sekarang kak, syukurlah sekarang kita bisa makan dengan kenyang kak," ucap maentari yang berteriak karena kegirangan melihat kresek makanan itu yang memang benar-benar bisa di makan sepuasnya oleh mentari dan arnius.
arnius terheran, karena ada orang sebaik itu yang mau membagikan makanan yang cukup banyak kepada orang-orang yang tidak berada, namun tanpa pikir panjang karena keadaannya yang lapar, Arnius mulai memakan makanan itu bersama dengan mentari.
apakah orang yang memberi kami makanan ini tahu bagaimana keadaan ku sekarang? meskipun aku tidak tahu ini obat apa karena aku tidak bisa membaca, tapi aku yakin firasatku berkata bahwa ini adalah obat untuk ku,. gumam arnius dalam hatinya.
"kenapa kak?," tanya mentari dengan heran. namun arnius hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, lalu arnius melihat ke sekelilingnya, begitu banyak orang-orang yang sangat senang karena mendapatkan makanan dari orang yang tak dikenal itu Bahkan mereka semua mendapatkannya dengan sama rata.
"sungguh baik ya orang itu kak? kalau satu hari mentari jadi orang kaya mentari juga akan baik seperti ini, bahkan kalau bisa mentari akan buatkan satu rumah yang besar buat mereka berteduh agar tidak tertidur di pinggir jalan lagi seperti ini, semoga saja orang baik itu selalu di berikan kesehatan dan keselamatan ya kak" ucap mentari dengan senyuman yang lebar sesuai dengan namanya yang memberikan cahaya pada dunia, begitulah arti mentari di dalam hidup arnius, arnius yang awalnya adalah seseorang yang kesepian semenjak ada mentari hidup arnius menjadi sangat berwarna meskipun banyak cobaan yang harus mereka lalui.
arnius teringat, bahwa dulu saat mentari pergi dari kediaman paman dan bibinya ia bersama dengan kakak lelakinya, kakak lelakinya sangat menyayanginya, namun bibinya harus mendapatkan KDRT dari suaminya, sedangkan matahari dan kakaknya adalah anak yatim piatu yang dititipkan kepada paman dan bibinya. saat bibinya ingin membawa mentari dan kakaknya kabur dari rumah, mereka dipergoki oleh suami bibinya yang sedang mabuk, dan karena bibinya hanya bisa membiarkan mentari dan kakaknya kabur bibinya mendapatkan KDRT hingga meninggal dunia, kakak mentari yang melihat bibinya dipukul dengan sangat kejam oleh suaminya, berniat untuk membantu sang bibi, sedangkan mentari pergi berlari terlebih dahulu sesuai yang diminta oleh kakaknya untuk bersembunyi setidaknya agar tidak diketahui oleh pamannya yang kejam.
namun keesokan harinya saat mentari kembali mencoba untuk mencari kakaknya, mentari melihat beberapa polisi yang sedang lalu lalang di depan rumah paman dan bibinya serta ambulance yang mengangkut, dua orang mayat yang tak lain adalah kakak dan bibinya, itulah yang membuat mentari sangat terpukul dan kesepian namun semenjak saat itu mentari bertemu dengan bapak dan Ibu angkat arnius yang membawanya pergi dari tempat itu dan mengurusnya bersama dengan arnius hingga saat ini.
__ADS_1
tetapi mentari adalah anak yang tulus meskipun ia tidak mengingat namanya, tapi dirinya adalah anak yang begitu ceria, bahkan keceriaannya menyinari diri orang lain, dan ketulusannya memberikan kasih sayang yang lengkap kepada orang lain, itulah mentari oleh karena itu arnius memberikan nama mentari pada si gadis kecil.
....
"Kaka?," mentari mengejutkan arnius yang sedang melamun memandang mentari.
arnius menggelengkan kepalanya, lalu ia tersenyum dan membelai kepala mentari. Lalu mereka bersama sama melanjutkan sarapan paginya yang baginya adalah makanan yang sempurna, makanan terenak yang pernah dirasakan nya saat itu, makanan pertama yang menurutnya adalah benar benar makanan, bukan seperti nasi nasi yang biasa mereka makan, ataupun nasi yang hanya masih beberapa sendok makan hingga harus dibiarkan membengkak untuk bisa dimakan oleh Arnius dan Mentari.
Dari kejauhan, di dalam mobil terdapat sesosok anak yang sedang mengamati mereka dari jauh.
"bagaimana tuan? apakah kita bisa pergi?," tanya seorang pengawal sekaligus sopir pada anak itu
"mereka memakannya dengan lahap, apakah mereka menyukainya? ataukah mereka memang tidak pernah makan?,"
"kehidupan memang seperti itu tuan, di luar sana banyak orang yang rela mencari makanan di bak sampah hanya demi menyambung kehidupan," ucap pengawal itu.
"hmmh antarkan aku setiap hari seperti ini untuk melihat keadaan mereka semua,"
"baik tuan,"
ternyata yang membagi makanan dan juga mengamati mereka semua terutama Arnius dan Mentari adalah Rahman.
bersambung...
__ADS_1