
Zahra terkejut suasana menjadi hening, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia merasa khawatir, bahkan bisa dibilang juga sakit hati.
apa yang sedang aku fikirkan?, itu kebahagiaan sahabatku, dan seperti dugaan ku sebenarnya selama ini Riska juga menyukai ka Reza. Asalkan Riska baik baik saja maka aku juga begitu. Zahra menjernihkan fikiran nya.
"Apa lo ga suka Ra?," Tanya Riska yang melihat ekspresi Zahra.
"Sebenarnya sih aku ga masalah sama hubungan kalian asalkan kalian baik baik saja, terutama sama kamu aku ga mau kamu kenapa napa," ucap Zahra memeluk bantal.
"Tenang saja gua ga apa apa ko," Riska meyakinkan Zahra dengan penuh senyuman.
"oh iya kapan kalian mulai pacaran?,"
"Tadi pagi hehe,"
"Lalu bagaimana dengan ka Alfie, dia sepertinya menyukai kamu," Zahra melihat lekat dalam diri Riska.
"Ah, ga kita cuma bersahabat, dia memang baik akan susah menebak emosinya yang terlalu terbuka, gua sayang dia dan dia juga, jadi kita bisa saling ngerti, akhir akhir ini dia juga sibuk dengan pekerjaannya,"
"hmmh,"
"Hei! sedang membicarakan aku ya?," Alfie datang dengan membawa makanan.
"astaghfirullah terkejut aku," Zahra langsung terbangun dari tidurnya dan memperbaiki pakaian dan jilbabnya.
"woah ka Alfie, bawa apa?,"
"cemilan, Kentucky, air dingin dll," Senyum Alfie menunjukkan barang bawaannya.
Mereka mulai menikmati makanan mereka bersama, mulai dari obrolan biasa yang tercampur baur dengan canda gurau.
"ih iya Ra boleh ga nanti saat hari pernikahan Lo gua ajak ka Reza, siapa tau aja jadi jodoh haha," ucap Riska dengan ceplas ceplosnya
deg
Riska ga menyadari perasaan ka Alfie ya? jelas jelas wajahnya berubah menjadi pucat kasihan dia. Zahra memperhatikan reaksi Alfie yang langsung membuang mukanya. Suasana menjadi hening Riska terheran dengan reaksi kedua sahabatnya itu.
"kenapa? emang ada yang salah ya?," Tanya Riska terheran.
"Riska ka Alfie udah tau kamu pacaran sama ka Reza?," Tanya Zahra yang seketika saat itu Alfie langsung melihat ke arah Riska.
"oh, haha maaf gua belum sempat ngomong sama ka Alfie, jangan marah ya ka Alfie," Riska memegang tangan Alfie, Alfie membalasnya dengan senyuman dan mengelus kepala Riska.
"iya ga apa apa, dasar bodoh," Alfie mencubit pelan pipi Riska.
"yee ga bodo bodo amat ko," Riska memanyunkan bibirnya, membentuk wajah yang cemberut.
"oh, ya tuhan lucunya," ucap Reza mencubit lagi kedua pipi Riska.
"aku ada urusan, aku pergi ya, Zahra tolong jaga Riska ya, dia anaknya agak bodoh," ucap Alfie lalu ingin beranjak pergi.
"Siap komandan, perintah dilaksanakan," jawab Zahra dengan memberi sikap hormat.
"cepet sekali ka, Lo gak main lamaan dikit kek, buru buru amat, udah malam juga kali," celetuk Riska
"kenapa kangen?, makanya gak mau aku pergi haha, kamu mana ngerti urusan bisnis, membujuk kamu biar mau jadi guru olahraga aja susah banget baru bisa nurut, ya udah ya dadah," Alfie melambaikan tangan lalu pergi.
"nak Alfie cepat sekali," ucap ibu Riska yang melihat Alfie pergi lebih cepat dari biasanya.
"iya Bu pak, Alfie pergi dulu ya," Pamit Alfie pada kedua orang tua Riska
"iya, terima kasih buah tangannya ya?," ucap bapak Riska.
"iya pak sama sama,"
Riska asalkan kamu bahagia aku juga bahagia, tapi sebelum memastikan kebahagiaan kamu aku masih belum bisa tenang. Alfie menggenggam kunci mobilnya dengan begitu erat.
.....
"Riska kamu gak ngerasa apa apa ke, untuk ka Alfie gituh?," Tanya Zahra yang melihat Riska menggerutu karena Alfie pergi dengan cepat.
"ga, bodo amat, gua ngantuk ah,"
__ADS_1
"ya udah selamat malam," ucap Zahra lalu membereskan bekas Riska memakan makanan, dan melihat Riska yang memejamkan matanya meskipun sepertinya dia tidak tertidur.
Setelah Zahra selesai, ia membaringkan tubuhnya di sebelah Riska dan mematikan lampu, bersiap untuk tidur.
"Ra?," ucap Riska
"iya?,"
"Lo ga apa apa, Lo kan ga cinta Ama ka Rahman, terus gua malah pacaran Ama ka Alfie Lo ga marah Ama gua, ga ngira gua tikung Lo?"
"untuk apa aku mengira kamu menikung aku?, pertama aku udah ga ada apa apa dan ka Reza jadi wajar kalau dia sama kamu, kecuali aku masih ada hubungan saling berharap sama ka Reza baru aku marah. Dan masalah ka Rahman Allah sudah menentukan, aku percaya sama Allah jodohku itu ga pernah salah ataupun tertukar," ucap Zahra memberikan senyuman pada Riska lalu tertidur.
***
Kini hari pernikahan Zahra telah tiba, Zahra dengan perasaan hati penuh dengan berdebar debar akan melakukan ijab Qobul yang setelahnya dilangsungkan dengan resepsi pernikahan.
"Riska, jantungku berdegup kencang," Zahra memegang tangan Riska yang berada di dekatnya untuk menemani Zahra.
"Hmmh tentu saja, Lo bentar lagi akan menjadi seorang istri, woah gua kagum banget sama Lo secepat itu Lo jadi wanita dewasa. Gua sebagai sahabat Lo sangat sangat bangga sama Lo, meskipun orang kata Lo nikah muda bagi gua ga apa apa, asalkan Lo bahagia,"
"Terima kasih banyak ya Riska,"
"wah ka Zahra cantik banget, tapi terlihat lebih dewasa hehe, tapi beneran cantik banget," ucap Memei yang masuk kedalam ruang tata rias Zahra bersama dengan Tini.
"subhanallah anak ku, tidak terasa kamu tumbuh secepat ini rasanya baru kemarin mama memangku di pangkuanku," ucap Tini yang mulai menjatuhkan buliran air mata.
"Mamah jangan sedih, Zahra kan jadi ikut sedih,"
"ini adalah air mata kebahagiaan sayang,"
"oo, ayolah jangan bersedih, ini hari yang bahagia," Riska merangkul Zahra dengan mencoba menghibur.
"hei ka Riska ini gaun mahal tau entar yang ada jelek gara gara ka Riska yang lecek in," Ledek Memei dengan membulatkan matanya dan menjauhkan tangan Riska dari gaun Zahra.
"a elah pelit amat,"
.....
"Wah kaka tampan juga ya sekarang," ucap Raditya pada Rahman.
"haha lalu bagaimana dengan mu?,"
"hei aku yang akan menjadi walinya Zahra, jadi ka Rahman ga bisa apa apa kali ini haha," ucap Raditya dengan mengejek.
"haha iya ya, untung juga punya adik perempuan yang cantik, menikah dengan orang yang lebih tua, jadi berasa kaya kita yang lebih tua ya?," ucap Alfie yang juga mendampingi Rahman.
"kalian berdua ini apa apaan sih, ingin datang untuk mengejek?," geram Rahman pada sahabat dan rekan bisnisnya itu.
"oh tidak aku kesini cuma mau bilang bahwa Kaka nya Zahra tampan juga hahaha," ledek Alfie dengan puas mempermainkan rekan bisnisnya itu.
"hahaha sudah sudah, kasihan dia lihat wajahnya sudah memerah, biarkan dia tenang, lagi pula kan dia akan menikah sekarang," sahut Raditya.
"iya ya betul juga," Alfi merangkul Raditya.
"hei kalian ini," ucap Rahman dengan kesal namun langsung disambut dengan tertawa bersama.
....
Kini waktu melakukan ijab qobul telah tiba, Rahman merasa gugup begitu gugup untuk yang pertama kali nya, ia merasakan gugup yang seperti ini. Begitu juga dengan Zahra, jantungnya berdetak tak karuan, air mata nya sulit untuk di tahan, sedih bercampur haru menjadi satu, suasana yang begitu indah, dengan puluhan saksi manusia dunia, satu Tuhan ya itu Allah dan ribuan saksi malaykat yang melihat dua orang hamba Allah yang sedang melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah. Sedang melaksanakan sumpah janji suci, yang bukan sebuah permainan sehingga bisa di lakukan dengan seenaknya, melainkan sebuah tanggung jawab dunia akhirat bagi dua orang insan.
semua telah mengambil posisi pada tempat masing masing, terlebih dahulu mereka memasuki Masjid karena di sanalah mereka akan melakukan ijab qobul, tak lupa dengan Rahman yang segera ber wudhu, Lalu meraih tangan Rahman di depan pak penghulu.
Dan ikrar janji suci terucap.
"Saya nikah kan kamu...," Mulai lah Raditya mengawali ikrar itu.
__ADS_1
*H**ari teristimewa bagi seorang wanita ialah hari ini, hari dimana para malaikat dan Allah menjadi saksi, saksi nyata yang ghaib yang tidak pernah berbohong. Yang menyatukan kami, yang mengasihi kami, yang menyiptakan kami, dan yang membuat tulang rusukku milik imam ku.
salah satu alasan mengapa hari ini begitu berharga dan berbahagia adalah, ketika seorang wanita menjadi status seorang istri, yang dimana puluhan orang dan ribuan malaikat mendoakan yang terbaik untuk pasangan yang menikah, terlebih lagi di saat sang ayah dapat menjadi Wali yang putri yang memimpin ucapan ikrar janji suci itu*.
Tetapi hari ini adalah hari bahagiaku yang kurang lengkap, yang membawa rasa sedih pada diriku juga, papah apakah papah melihatku disana? aku baik baik saja, sesuai keinginan papah seorang pria di sisiku saat ini adalah orang yang papah inginkan. Meskipun begitu menyesakkan hati ini tapi aku masih begitu beruntung karena aku masih memiliki seorang kakak yang bisa menggantikan papah sebagai pelengkap ku seandainya dirimu yang di hadapanku saat ini mungkin tidak ada yang bisa menandingi rasa bahagia ini.
Zahra mulai menjatuhkan buliran air matanya, menyaksikan sumpah janji suci itu telah terucap hingga sampai ke langit ketujuh. Bukan hanya Zahra namun Tini, Yeni dan semua orang yang menyayangi ikut terharu dan menangis seolah olah mereka juga menyaksikan cahaya syurga yang menunggu hamba hamba yang taat pada perintah Allah.
Zahra menyalami tangan Rahman untuk pertama kalinya mereka bersentuhan secara langsung, Rahman memulai kan do'a nya. Do'a yang terbaik untuk istri, mereka berdua kini saling berhadapan Rahman mulai menaruh tangan kanannya di kepala Zahra dan mengucapkan doa.
"Allahhumma Inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
(Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan nya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya.)"
Rahman mengecup pelan kening Zahra, yang disambut dengan senyuman oleh Zahra.
Seharusnya kamu menjadi milikku, tapi entah kenapa aku rela melihat kamu bahagia, tapi aku juga masih marah atas takdir ini. Ucap Reza dalam hati dari kejauhan yang duduk bersebelahan dengan Riska dengan mengepalkan tangannya.
Orang orang memberikan ucapan selamat pada Zahra dan Rahman mereka mendoakan yang baik baik, kebahagiaan menyertai mereka.
"wah beruntung ya kamu, bisa menikah dengan orang kaya raya, selamat deh ya," ucap Tante Maya sedikit tidak suka karena ada rasa iri.
"Tante salah, aku yang beruntung karena Allah memberikan aku jodoh sebaik dia, karena jarang ada wanita setulus dia, kebanyakan orang yang iri dengki di dunia dan tidak tau berterima kasih atas apa yang di dapatkannya," Rahman merangkul Zahra dan membelanya tak suka atas apa yang Maya ucapkan.
"!!" Maya terkejut dan merasa tersindir lalu ia pergi meninggalkan Zahra dan Rahman.
Zahra tersenyum melihat ke arah Rahman, ia memang sedikit kesal pada tantenya itu, dan ia bersyukur karena Allah sendiri yang membalasnya.
Di tempat lain, Reza malah gelisah membayangkan bagaimana Zahra dan Rahman melewati malam nanti bersama, Reza tidak sanggup membayangkan semuanya, ia kesal sendiri hingga tidak begitu menghiraukan Riska yang berada di dekatnya.
"Kaka kenapa?," Tanya Riska
"Ga apa apa, akhir pekan ada waktu ga, jalan yuk?," Ajak Reza.
"Boleh," Riska dengan senang hati memberikan senyuman yang begitu melebar pada Reza.
.....
Kini hari sudah larut Resepsi pernikahan telah usai, semua sudah rapi dan beres, Zahra menyayangkan gaun yang ia kenakan hanya bisa di pakai sekali, dan berfikir kenapa Rahman harus membelinya kenapa tidak menyewa saja?.
Zahra sedang menyisir rambutnya didepan cermin, ia sedikit malu karena nanti ia akan membiarkan Rahman melihat rambutnya yang tanpa berbalutkan kerudung. Zahra berbalik dan melihat kamarnya yang begitu luas dua kali lebih luas dari pada kamar di rumah orang tuanya.
Ia juga tertunduk karena melihat tempat tidur yang telah tersusun rapi, dengan balutan serba putih dan taburan bunga mawar semuanya tersusun dengan sempurna.
"Rahman yang baru saja selesai membersihkan diri, dan mengganti pakaian terdiam melihat Zahra yang terlihat begitu cantik dengan menguraikan rambutnya. Rahman terduduk di samping kasur dengan rasa gugup, Zahra dengan diam juga menghampiri kasur dan duduk di samping yang berlawan dengan Rahman hingga membelakangi tubuh Rahman.
"ka?" Zahra memanggil Rahman dengan lembut.
" iya," mereka kini berhadapan, Rahman menelan saliva nya memandang wajah Zahra yang Anggun.
"Ka maaf sebelumnya, aku tau aku adalah istri Kaka dan ini adalah kewajiban ku untuk melayani Kaka, tapi aku belum siap,"
"??," Rahman sedikit bertanya dan terkekeh mendengar Zahra.
"Maaf tapi aku masih ingin berfokus pada kuliahku, dan menikah muda juga jauh dari perkiraan ku, bisakah Kaka menungguku hingga aku siap?," Zahra menjelaskan dengan menunduk, Rahman mengerti apa maksud Zahra dan tersenyum.
"Dasar bodoh, lalu apa gunanya aku menikahimu huh!," Rahman setengah berteriak yang membuat Zahra terkejut dan memejamkan matanya dengan takut.
"Haha bodoh kenapa takut aku cuma bercanda, sudahlah cepat tidur pasti lelah kan, aku juga ga punya tenaga untuk meladeni," Rahman mengambil posisi tidurnya dan membelakangi Zahra lalu mengepalkan tangannya.
"heish kenapa Kaka suka sekali meledekku, menyebalkan," Zahra dengan kesal lalu mengambil posisinya untuk tidur.
Tapi terima kasih banyak karena telah mengerti diriku ka. Zahra tersenyum melihat punggung Rahman yang membelakanginya.
Setelah beberapa saat sekiranya Zahra telah tertidur pulas, Rahman berbalik hadap dan memandang wajah Zahra, ia memegang pipi Zahra, dan menggenggam tangan Zahra yang berada di depan wajahnya.
kapan kamu akan melupakan dia?, hatiku juga bisa sakit jika kamu terus seperti ini, tapi aku tidak akan melepaskan kamu, aku tunggu hingga hari dimana kamu siap.
Bersambung...
Hi semua disini author terima kasih banyak telah mampir ke cerita Cinta Zahra, terima kasih banyak juga untuk like nya, karena satu like dari kalian sangat berarti untukku.
__ADS_1
Terus setia dan tetap menyimak ya🤗, dan kemungkinan akan memicu pada kisah Zahra dan Riska di episode episode selanjutnya, mohon dukungan nya ya😉