Cinta Zahra

Cinta Zahra
rumah tangga dan wanita


__ADS_3

Suara merdu lantunan ayat ayat suci Al-Qur'an telah terdengar dari masjid, menandakan waktu mendekati subuh. Zahra terbangun melihat Rahman yang terdiri lelap di hadapannya, memegang tangannya. Zahra tersenyum ia memahami bagaimana Rahman begitu menghargainya sebagai wanita. Terlihat wajah lelah di wajah Rahman yang membuat Zahra memandanginya beberapa saat, lalu ia melepaskan tangan Rahman perlahan-lahan, Zahra pergi menuju dapur untuk untuk memasak nasi menggunakan Magicom. Ia berfikir sementara nasi nya matang ia akan membersihkan tubuh nya dulu. Lalu saat waktu sekitar tinggal 20-15 menit lagi akan adzan subuh, Zahra membangunkan Rahman untuk shalat berjamaah.


"Assalammualaikum warrahmatullah.. Assalammualaikum warrahmatullah..,"


Zahra berdoa dipimpin oleh Rahman lalu membaca surah Yasin bersama, setelah membaca surah Yasin barulah Zahra menyalami tangan Rahman.


"ka mau di masakin apa sekarang?," Tanya Zahra.


"apa aja yang penting semuanya suka, tanya mama aja dulu," ucap Rahman lalu membuka pakaian Koko nya.


Kini satu keluarga sedang berada di ruang makan, mereka akan menyantap makanan bersama.


"Rahman, ayah sudah menghubungi arsitek yang akan merenovasi rumah kamu nanti, nanti kamu urus sendiri biayanya. Dan sementara kalian tinggal disini dulu sampai rumah kalian jadi ya, tapi rumah itu harus atas nama Zahra ayah yang meminta," ucap Andrean.


"iya ayah," jawab Rahman dengan lembut tanpa mempermasalahkan sesuatu apapun. Sementara itu Zahra tercengang mendengar pembicaraan antara ayah dan anak ini.


segampang itukah mereka berbicara masalah harta?.


"Ayah kenapa Kaka tidak tinggal dengan kita aja, kan jadinya Memei bisa bersama sama kak Zahra?," Tanya Memei sambil merengek.


"sayang kamu tidak mengerti, seorang anak lelaki yang sudah menikah alangkah lebih baiknya jika berpisah rumah dengan orang tuanya, karena mereka harus mandiri dan memiliki masalah pribadi yang tidak seharusnya kita ketahui. Setidaknya jika orang tua terlalu sayang bisa membuat rumah bertetangga dengan orang tua asalkan tidak menjadi satu," jelas Andrean mengelus kepala Memei.


"yah ga asik deh," Memei memajukan bibirnya tanda ia kesal.


"haha anak mamah, cepetan habisin sarapannya nanti telat masuk sekolahnya loh," ucap Yeni tersenyum pada Memei.


"kak Zahra gak kuliah? ga ada kelas?," Tanya Memei pada Zahra


"Kaka izin tiga hari sayang," jawab Zahra.


"mh, ka Zahra nanti bikin cake cokelat lumer ya, pas Memei pulang sekolah, Memei suka cake buatan ka Zahra,"


"iya, nanti kita belanja keperluan bersama yah, Memei sekarang habisi sarapan dulu terus sekolah,"


"Oke,"


.....

__ADS_1


"Hallo Assalammualaikum Riska?," Sapa Zahra pada Riska melalui telepon.


"waalaikummussalam Zahra! si pengantin baru ekhem bagaimana semalam," Ledek Memei.


"Heish kamu ini apa apaan sih, gimana kabar kamu,"


"Baik, lo udah hubungi keluarga Lo belum?,"


"sudah, baru saja aku mengobrol sama mamah dan Kaka adikku. Kamu lagi apa?,"


"Ini mau mulai kelas, nanti sore mau jalan sama ka Reza, hehe,"


"hmmh, jawab Zahra dengan merendahkan suaranya.


"kenapa?,"


"ga apa apa yang penting kamu jaga diri aja ya Riska, eh udah dulu ya aku mau beres beres,"


"Oke sayang, bye"


***


Diperjalanan pulang Zahra terkejut melihat Reza yang sedang berpelukan dengan Riska dan sempat bercumbu. Rahman yang mengetahui apa yang dilihat Zahra sehingga raut wajah Zahra berubah mengepal tangannya, merasa sedikit cemburu karena Zahra masih memperhatikan lelaki lain.


Zahra sedang berada di dalam kamarnya untuk mencari pakaian yang nyaman untuk di gunakan, Rahman memasuki kamar dan berjalan mendekati Zahra dengan wajah ber aura dingin, Zahra yang melihatnya ketakutan, ia berjalan menjauh namun langkah kaki Rahman begitu cepat hingga Zahra terpojok, bahkan sekarang posisi tangan Rahman berada di pinggang Zahra.


"apa sih ka? kenapa?," Tanya Zahra dengan nada sedikit bergetar, dan memalingkan wajahnya.


"Kamu yang kenapa!?," Rahman memegang wajah Zahra agar menghadapnya.


"Kamu itu istri aku, aku menghargai kamu tapi bukan berarti kamu boleh untuk memperhatikan lelaki lain. Kamu marah huh! marah karena dia bersama wanita lain? aku sudah bilang ada aku, yang selalu ada kapanpun kamu butuh," bentak Rahman dengan suara sedikit mengeras.


"hah? maksudnya ka Reza?, nih ya kaka itu suami aku, aku sedang meng Istiqomah kan hati aku untuk kaka. Di hari pertama saja Kaka sudah begini bagaimana kedepannya? mengapa aku kesal tadi, karena dia bersama sahabat ku, sahabat yang paling aku sayang, dia menyentuhnya dengan tangan kotornya. Aku ga rela begitu saja wanita menjadi turun kehormatannya Dimata Allah hanya karena lelaki yang serba kekurangan. Jika di awal saja mereka seperti itu lalu bagaimana dengan kedepannya? itulah yang aku takutkan, paham ka?," Zahra kesal lalu melepaskan tangan Rahman dari pinggangnya dan pergi meninggalkan Zahra.


Rahman terdiam mendengar kata kata Zahra, ia berfikir apakah ia telah keterlaluan pada istrinya, seharusnya saling mempercayai tetapi kini malah ia meragukan istri tercintanya itu.


apakah ini yang dimaksud ayah?, ternyata rumah tangga itu rumit, tidak segampang yang dibayangkan. Ucap Memei yang ternyata sedari tadi mendengarkan Zahra dan Rahman bertengkar dengan bersembunyi di balik tembok.

__ADS_1


......


Kini Zahra telah mulai masuk kelas kuliahnya, Zahra menunggu Riska di depan ruang kelas Riska, ia terduduk dan menunduk, masih memilih kata kata yang yang akan ia keluarkan agar sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan Riska.


"Wuih ada apakah ini? siapa ini? nungguin gua terlebih dahulu tepat di depan kelas gua lagi?," Tanya Riska yang mendapati Zahra yang telah menunggu.


"hmmh, aku kangen banget sama kamu," Zahra menarik lengan Riska dan memeluk Riska dengan erat.


"eh iya lo kan baru masuk yak, ahahah ko gua ga sadar ya?," ledek Riska


"ih, apaan sih Riska masa iya ga menghiraukan aku, kejam memang kamu ini ah,"


"ya udah, pasti Lo ke sini bukan karena ga ada apa apa kan, ini itu adalah kebiasaan ko dari kecil, cepat bilang ada apa?," Tanya Riska yang mengerti maksud Zahra


"Riska kamu agak jaga jarak ya sama ka Reza, pelase." mohon Zahra


"what? why?, why not?," ucap Riska bertanya dengan heran


"aku hanya ingin kamu yang baik baik saja,"


"haha, kan udah gua kasih tau kalau gua bisa jaga diri gua juga.,"


"bukan begitu maksud aku Riska, kemarin aku melihat kalian bersama, di tempat umum melakukan sesuatu hal yang menurutku itu gak boleh,"


"apaan sih, Lo ngikutin gua sama ka Reza?," Tanya Riska dengan kesal


" bukan begitu Ris kebetulan aku tuh sama ka Rahman lagi ke supermarket terus nemuin kamu di jalan sama ka Reza. Aku merasa itu gak pantas loh Ris," ucap Zahra dengan penuh kasih sayang


"Alah bilang aja Lo cemburu kan lihat gua bisa bersama ka Reza sedangkan lu dulu gak pernah kaya begitu,"


"bukan begitu Riska justru aku lebih bangga karena tidak bersentuhan dengan seorang lelaki,"


"oh, jadi lu ngatain gua murahan gitu?," Suasana kini menjadi suram, sama sama saling mengeluarkan arwah panas, dan perdebatan pun terjadi, memicu perhatian orang orang disekitar yang melewati mereka.


"bodo, ah la ya Ra, Lo mau ngomong apa aja, gua malas, gua balik kelas dulu lu jaga diri baik baik ya Ran, bye," Riska lalu pergi tanpa melihat Zahra sedikitpun.


"Riska!,"

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2